Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha ... [694] url asal
Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya
Banyuwangi (ANTARA) - Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha sehingga mampu memperkuat daya saing produk, memperluas akses ke pasar modern dan ekspor ke mancanegara.
Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo mengatakan pendampingan dilakukan melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi.
"PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Costand Delivery pasar modern lokal maupun luar negeri," kata Rahmat di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan penguatan kapasitas petani tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperluas peluang usaha berbasis buah naga melalui pengembangan rantai pasok dan produk turunannya.
"Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan pendampingan tersebut membantu kelompok tani memperluas akses pemasaran yang sebelumnya hanya bergantung pada pasar tradisional.
"Kalau sekarang kita sudah banyak punya pasar sendiri. Pasar tradisional punya, pasar modern punya. Jadi hasil produk kita sudah punya pasar dengan harga tawar," ungkap Sumartini.
Kelompok tersebut awalnya membudidayakan cabai merah sejak 2006 sebelum beralih menanam buah naga pada 2013 akibat fluktuasi harga cabai. Pada 2016, kelompok mulai menerapkan budidaya buah naga organik sebagai upaya membangun usaha tani yang lebih berkelanjutan.
Saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe memiliki 30 anggota aktif yang mengelola lahan penanaman buah naga seluas 9,2 hektare.
"Beralihnya karena harga. Kalau cabai, sekali tanam tiga bulan panen. Setelah itu kalau sudah habis, kita kelabakan cari modal lagi. Kalau buah naga, sekali tanam tinggal dirawat dan hasilnya terus-menerus," ucap dia.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini bersama anggota kelompok membawa hasil panen buah naga organik di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Kelompok tani tersebut kini memasarkan buah naga organik ke pasar modern, hotel dan pemasok supermarket, serta pernah menyiapkan pengiriman untuk pasar ekspor bersama mitra usaha.
Bersama perusahaan pengekspor buah PT Nusa Tropical Indonesia yang beroperasi dengan merek Nusa Fresh, kelompok juga pernah menyiapkan 1,7 ton pengiriman buah naga untuk pasar ekspor ke Singapura pada 2022–2023.
Sumartini menambahkan pada 2025-2026 melalui Agro Resources Indonesia kelompok juga telah mengekspor sebesar 11,8 ton buah naga ke Singapura.
Pada 2025, kelompok tani juga mengirimkan sampel buah naga untuk pengembangan produk olahan buah naga ke Belanda.
"Kita sekarang sudah bisa kirim ke supermarket, terus ke hotel-hotel. Terus kita juga pernah menyiapkan ekspor ke Singapura dan ke Eropa," ujarnya.
Perluasan saluran pemasaran tersebut memberi petani posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan ketika hanya mengandalkan pasar tradisional.
Menurut dia, kelompok tani juga memperoleh pendampingan untuk memenuhi berbagai persyaratan usaha, termasuk sertifikasi, hak kekayaan intelektual (HAKI), dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produk lebih mudah dipasarkan.
"Kalau dulu, apa kata pasar. Walaupun harga rendah, kita petik. Kalau sekarang kita pasti punya harga tawar," tuturnya.
Koordinator Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Banyuwangi Zuri (kiri) memberikan penjelasan ke pewarta mendampingi Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini (kanan) di Packing House Buah Naga Sehat, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Program pendampingan tersebut melanjutkan pembinaan yang lebih dulu dilakukan melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran, Banyuwangi.
Koordinator Yayasan Astra-YDBA Banyuwangi Zuri mengatakan pembinaan terhadap petani buah naga bermula dari kondisi sektor buah naga Banyuwangi yang mengalami tekanan harga pada 2017-2018.
Saat itu, harga buah naga grade A hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram (kg) sehingga pembinaan awal difokuskan pada penguatan akses pasar.
Seiring pendirian cabang YDBA Banyuwangi pada 2021 dan perkembangan program, pendampingan kemudian diperluas hingga mencakup aspek budidaya dan penguatan kapasitas petani.
"Kendalanya ternyata tidak hanya di harga, tetapi juga di aspek budidayanya, bahkan petani yang membudidayakan juga membutuhkan pembinaan," kata Zuri.
Melalui program tersebut, petani memperoleh pelatihan mengenai budidaya, manajemen usaha, administrasi kelompok, hingga tata kelola pascapanen yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern.
Petani kakao di Desa Watunggong, Manggarai Timur, NTT, kini lebih sejahtera berkat pendampingan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang meningkatkan kualitas dan nilai jual kakao. [669] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Kakao dan warga Manggarai Timur punya hubungan yang istimewa. Di banyak desa, kakao ditanam turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Namun selama bertahun-tahun, perkebunan kakao dikelola seadanya dan dipanen seperlunya. Alhasil, cuan yang diperoleh dari menjual produk kakao tak pernah sungguh-sungguh menyejahterakan para petani, hanya sekadarnya.
Melihat potensi besar dari komoditas kakao di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memutuskan untuk melakukan pendampingan pada 2023. Misi mereka sederhana, tetapi luhur yaitu membuat para petani kakao lebih sejahtera dari pemberian Tuhan melalui alam.
Banyak petani tidak tahu cara menangani hama buah kakao atau melakukan fermentasi yang meningkatkan nilai jual biji saat dipanen. Sering kali, hasil panen hanya berakhir di tengkulak dengan harga jauh di bawah nilai pasar.
Siang yang cerah menyambut Bisnis bersama tim dari YDBA di Desa Watunggong, tepatnya di kediaman Marsun. Senyum semringah tersungging di wajah para petani kakao yang berkumpul di sana.
Marsun yang merupakan koordinator UMKM Kakao binaan YDBA menyampaikan bahwa saat ini ada 18 UMKM aktif yang dibina Astra dengan luasan lahan mencapai sekitar 17 hektare (ha).
Seorang petani akan memetik buah kakao di Desa Watunggong, Kecamatan Tanarata, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/2/2025)./ BISNIS - Aprianus Doni Tolok
"Dari 2023 sampai 2025 ini, UMKM Kakao telah menerima beberapa pelatihan seperti pembukuan sederhana, budidaya sampai dengan pengendalian hama," ujarnya di Desa Watunggong, Kecamatan Tanarata, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/2/2025).
Pendampingan tersebut, sambungnya, sangat dibutuhkan oleh para petani kakao karena saat itu kebun yang ada saat ini dalam kondisi kritis karena sudah melewati usia produktif yakni 25 tahun.
"Jadi umur tanaman ini sudah melewati usia produktif, lebih dari 25 tahun. Sehingga produksinya itu bisa dibilang sudah tidak maksimal, sudah diserang hama penyakit," katanya.
Penyakit yang kerap melanda perkebunan kakao di NTT di antaranya adalah blackpod atau busuk buah, jamur, hingga terserang hama. Pengelolaan yang tepat dapat meminimalisir risiko tanaman terserang penyakit dan hama tersebut.
Kami Tanam, Nanti Tuhan Tolong
Masyarakat Manggarai Timur percaya bahwa Tuhan memberikan manusia banyak anugerah, termasuk tanaman kakao yang bisa tumbuh dan hidup di bumi NTT.
Selama puluhan tahun, para petani kakao lebih banyak berpasrah pada hasil panen yang tidak menentu. Mereka hanya bergantung pada kondisi alam, minim tangan manusia.
Sebelum mendapatkan pendampingan dari YDBA, tak banyak yang bisa dilakukan para petani kakao untuk membuat tanamannya tumbuh optimal. Bukan tidak mau, tetapi tidak tahu caranya.
"Dulu itu hanya tanam kalau tumbuh ya syukur. Kalau bahasa kami itu NTT, nanti Tuhan tolong," ujarnya.
Marsun mengatakan bahwa setelah dilakukan pembinaan dan pendampingan dari YDBA, hasil panen kakao bernilai lebih tinggi. Biji kakao, katanya, kini laku dijual hingga Rp170.000 per kilogramnya dari sebelumnya hanya di kisaran Rp100.000 hingga Rp150.000.
Lebih lanjut, Marsun juga berterima kasih kepada YDBA karena pendampingan dan pembinaan yang dilakukan berhasil mengubah mentalitas para petani yang semakin mengarah ke wirausaha, selain peningkatan kualitas produk panenan.
Isi buah kakao / BISNIS - Aprianus Doni Tolok
Meskipun demikian, budidaya kakao di Desa Watunggong bukan tanpa tantangan. Peremajaan tanaman hingga Harga jual yang fluktuatif menjadi pekerjaan rumah para petani kakao.
Tak patah arang, konsistensi dalam pengelolaan kebun untuk menghasilkan produk berkualitas terus dilakukan para petani. Perubahan paradigma yang semula pasrah pada keadaan menjadi titik balik penting bagi para petani UMKM kakao di sana.
"Jadi sekarang kami berusaha semaksimal mungkin, tentu Tuhan [tetap] menolong," kata Marsun.
Adapun, menyitat data Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) per 31 Juli 2025, luas areal Tanaman Menghasilkan (TM) Kakao terus meningkat setiap tahun. Pada 2022, luasan areal TM Kakao mencapai 33.134 ha, berkembang menjadi 33.270 ha pada 2023, dan melesat sampai 34.225 ha pada 2024.
Lebih jauh, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor kakao Indonesia pada 2024 lebih baik dari tahun sebelumnya, dengan volume mencapai 348,09 ribu ton dan nilai sekitar US$2,65 miliar.
Kakao bukan sekadar tanaman bagi para petani di Desa Watunggong, Manggarai Timur, NTT. Lebih jauh, kakao memberikan harapan besar untuk menaikkan taraf hidup menjadi lebih baik. Bahkan, menjadi warisan berharga bagi generasi selanjutnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56