PANDEMI Covid-19 telah mengubah banyak hal. Di satu sisi, pagebluk ini menyisakan luka dan pengorbanan yang sangat besar. Tapi, di sisi lain, muncul inovasi dan teknologi yang menjadi jembatan manakala kita tak bisa berinteraksi secara langsung. Pada masa ini pula banyak aplikasi digital yang muncul dan mengubah hidup banyak orang, termasuk cara kita bekerja.
Sejumlah perusahaan berbasis digital, seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Grab, Halodoc, dan Ruangguru, menuai popularitas lantaran membantu banyak orang mengakses berbagai layanan saat mobilitas fisik dibatasi.
Untuk menunjang aktivitas kerja dengan cara work from home (WFH), ada aplikasi Zoom Meeting dan Google Meet. Aplikasi semacam ini yang kemudian menciptakan tren teleworking, bekerja dari jarak jauh atau tanpa batas ruang. Ketika masa pandemi berakhir, tren ini masih berlanjut dan diadopsi oleh banyak perusahaan besar karena lebih efisien dan fleksibel.
Tren ini kemudian memancing munculnya aplikasi-aplikasi penunjang kinerja korporasi, khususnya untuk berkomunikasi dan urusan administrasi. Google, misalnya, kian populer dengan aplikasi GMeet dan GDocs untuk berbagi dokumen.
Microsoft Teams, platform kolaboratif buatan raksasa teknologi Microsoft, juga bangkit setelah tidur panjang setelah peluncurannya pada 2017. Sedangkan Zoom, yang awalnya menguasai pasar, kini harus berbagi dengan banyak platform sejenis, terutama yang menyediakan layanan gratis.
Lark. TEMPO/Nita Dian
Berdasarkan proyeksi Global Market Insights Inc (GMI), perusahaan riset pasar dan konsultan manajemen global, pertumbuhan layanan teleworking dan aplikasi digital penunjang pekerjaan bisa mencapai 21,8 persen per tahun pada 2024 hingga 2034.
Pada 2024, menurut GMI, nilai pasar layanan bisnis semacam ini mencapai US$ 30,5 miliar secara global dan akan mencapai US$ 203,9 miliar pada 2034. Ada sejumlah faktor pendukung, antara lain, meningkatnya model kerja hybrid, permintaan akan aplikasi kolaborasi yang aman, adopsi perangkat lunak berbasis cloud computing, hingga pilihan untuk bekerja dan tetap produktif dari jarak jauh.
Namun prospek cerah ini bukan berarti tak menghadapi tantangan. Menurut GMI, pertumbuhan bisnis aplikasi digital teleworking atau platform kerja kolaboratif bisa terganjal oleh maraknya serangan siber serta infrastruktur digital yang tidak memadai, terutama di negara berkembang.
Meski begitu, banyak perusahaan menganggap kondisi ini sebagai celah yang menarik untuk dimanfaatkan. Apalagi peluang pertumbuhan aplikasi digital di negara berkembang bisa jadi lebih besar ketimbang negara maju yang sudah lebih dulu mengadopsi berbagai perangkat berbasis teknologi tinggi.
Salah satu yang hendak menjajal pasar negara berkembang, khususnya Indonesia, adalah Lark. Lark adalah platform kolaborasi dan produktivitas dari ByteDance, perusahaan asal Cina yang populer melalui aplikasi media sosial TikTok. Lark, yang diluncurkan di Cina pada 2019, kini menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama di kawasan Asia-Pasifik untuk pertumbuhan bisnis mereka.
Salah satu targetnya adalah perusahaan retail yang memiliki operasi skala besar dan melibatkan banyak orang dalam jejaring kerja yang kompleks. Lark berupaya menjembatani kebutuhan komunikasi hingga administrasi perusahaan semacam itu.
Menurut General Manager Lark Asia-Pacific Mark Dembitz, aplikasi ini telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan besar di Indonesia, seperti GoTo, Traveloka, haus!, dan Tanamera. Adapun PT Matahari Putra Prima Tbk, operator retail modern Hypermart, menjadi pengguna terbaru setelah meneken kesepakatan kerja sama pada 20 Oktober 2025.
“Kami siap mendampingi perjalanan transformasi digital Hypermart dan bisnis retail lain untuk mendorong daya saing dan pertumbuhan jangka panjang,” kata Dembitz.
Seperti apa strategi bisnis Lark di Indonesia? Anda bisa membacanya dalam wawancara Tempo dengan Dembitz di artikel “Kami Membantu Perusahaan Berimajinasi Mengembangkan Bisnis”. ●