Fakta-fakta Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Laik Mengudara?

Fakta-fakta Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Laik Mengudara?

Pesawat ATR 42-500 jatuh di Sulawesi Selatan, penyebab belum diketahui. Investigasi oleh KNKT sedang berlangsung. Pesawat dan awak dinyatakan laik.

(Bisnis.Com) 20/01/26 10:40 108199

Bisnis.com, JAKARTA - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesimpulan resmi terkait penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Seluruh proses investigasi sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pihaknya belum berada pada tahap untuk menarik kesimpulan atas faktor penyebab kecelakaan. Menurutnya, seluruh aspek investigasi, termasuk kondisi teknis pesawat, cuaca, hingga faktor operasional, akan dianalisis secara menyeluruh oleh KNKT dan diumumkan secara resmi sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan informasi awal, kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi sedikit berawan. Meski demikian, Lukman menegaskan bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu aspek yang akan dianalisis lebih lanjut dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Pada tahap ini, belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian. Kondisi cuaca merupakan salah satu aspek yang akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT,” ujar Lukman dalam keterangan resmi, Senin (19/1/2026).

Awak Pesawat Dinyatakan Laik Kesehatan

Kemenhub juga memastikan bahwa seluruh awak pesawat dalam kondisi laik secara medis saat bertugas. Berdasarkan data Medical Examination (MEDEX) terakhir, seluruh awak dinyatakan FIT dan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan sesuai ketentuan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67. Seluruh sertifikat kesehatan awak pesawat masih berlaku pada saat kejadian.

Pilot pesawat, Andy Dahananto, tercatat memiliki sertifikat kesehatan Kelas 1 dengan pemeriksaan terakhir pada 28 Juli 2025 dan berlaku hingga 31 Januari 2026. First Officer Yudha Mahardika juga memiliki sertifikat kesehatan Kelas 1 yang masih berlaku hingga 15 Februari 2026. Sementara Hariadi selaku Flight Operations Officer memiliki sertifikat kesehatan Kelas 3 yang berlaku hingga Juli 2026. Dua awak kabin, Florencia Lolita dan Esther Aprilita Pinarsinta Sianipar, masing-masing memiliki sertifikat kesehatan Kelas 2 yang masih aktif.

“Dengan demikian, tidak terdapat catatan medis yang menunjukkan awak pesawat tidak laik secara kesehatan pada saat bertugas,” tegas Lukman.

Pesawat Dinyatakan Laik Terbang

Dari sisi teknis, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT juga dinyatakan memenuhi persyaratan kelaikudaraan. Berdasarkan catatan Kemenhub, ramp check terakhir dilakukan pada 19 November 2025 di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Inspeksi perpanjangan Sertifikat Kelaikudaraan dilakukan pada 3 September 2025, sementara perawatan terakhir oleh operator dilaksanakan pada 25 Desember 2025 sesuai program perawatan berkala.

“Data tersebut menunjukkan bahwa pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin serta pengawasan kelaikudaraan secara berkala dan sesuai dengan ketentuan,” ujar Lukman.

Fakta-fakta Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

  • Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak pada Sabtu siang, 17 Januari 2026, saat fase pendekatan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
  • Lokasi hilangnya pesawat berada di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
  • Pesawat membawa 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang.
  • Serpihan dan bagian utama pesawat ditemukan di puncak Gunung Bulusaraung oleh tim SAR gabungan.
  • Tim SAR menemukan satu jasad korban laki-laki di jurang sedalam sekitar 200 meter di sekitar lokasi bangkai pesawat.
  • Operasi SAR melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, serta Tim SAR Universitas Hasanuddin, dengan medan terjal dan cuaca ekstrem sebagai tantangan utama.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Donny Pramono mengungkapkan bahwa operasi pencarian menghadapi kondisi berat berupa angin kencang, kabut tebal, dan hujan. Meski demikian, tim SAR tetap melanjutkan pencarian dengan dukungan peralatan modern, termasuk drone, sistem komunikasi Starlink, serta perlengkapan mountaineering.

Kemenhub mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak berspekulasi, serta menunggu hasil resmi investigasi dari KNKT. Operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dipastikan tetap berjalan normal.

#kecelakaan-pesawat #atr-42-500 #indonesia-air-transport #pegunungan-bulusaraung #penyebab-kecelakaan #investigasi-knkt #cuaca-buruk #awak-pesawat-sehat #laik-terbang #ramp-check #hilang-kontak #operas

https://www.bisnis.com/read/20260120/638/1945458/fakta-fakta-kecelakaan-pesawat-atr-42-500-laik-mengudara