Industri Manufaktur 2025 Tumbuh 5,15%, Celios: Ditopang Hilirisasi, Padat Karya Kontraksi

Industri Manufaktur 2025 Tumbuh 5,15%, Celios: Ditopang Hilirisasi, Padat Karya Kontraksi

Industri manufaktur Indonesia tumbuh 5,15% pada 2025, didorong hilirisasi, sementara sektor padat karya seperti kayu dan karet mengalami kontraksi.

(Bisnis.Com) 09/02/26 17:41 130932

Bisnis.com, JAKARTA — Industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan positif, mencapai 5,15% pada 2025, atau tertinggi sejak pandemi Covid-19. Pertumbuhan ini ditopang proyek hilirisasi, sementara sektor padat karya justru mengalami kontraksi.

Ekonom Celios Nailul Huda menilai sejumlah industri menunjukkan pertumbuhan produksi signifikan, misalnya industri logam dasar yang tumbuh 15,71% dan industri mesin serta perlengkapan yang naik 13,98%.

“Industri logam dasar meningkat karena program hilirisasi pemerintah, salah satunya nikel. Kita tahu semua industri ini memiliki dampak lingkungan tinggi dan tidak berkelanjutan,” ujar Nailul kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).

Sementara itu, industri mesin dan perlengkapan tumbuh positif karena didorong oleh impor mesin yang meningkat sepanjang 2025.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) naik 17,22% menjadi US$31,88 miliar pada Januari–Desember 2025. Secara volume, impor naik 25,44% menjadi 2,20 juta ton.

Selain itu, impor mesin dan peralatan mekanis (HS84) naik 7,75% menjadi US$36,64 miliar, dengan volume meningkat 7,29% menjadi 4,71 juta ton.

“Kedua sektor ini juga bukan sektor padat karya. Justru industri padat karya mengalami penurunan, seperti industri kayu, karet, dan alat angkutan,” tutur Nailul.

Berdasarkan catatan BPS, ketiga industri tersebut tercatat mengalami kontraksi pada 2025. Industri kayu dan barang dari kayu terkontraksi -3,29% yoy, industri karet -4,07% yoy, dan industri alat angkutan -2,64% yoy.

“Padahal ketiganya merupakan sektor padat karya. Maka dari itu, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur relatif rendah. Penyerapan tenaga kerja terbesar justru di sektor penyediaan makanan dan minuman melalui program MBG,” tambah Nailul.

Diberitakan sebelumnya, BPS mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% (year-on-year/yoy) pada 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% yoy.

Industri pengolahan juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada 2025.

“Jika dilihat dari kontribusi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif pada 2025, dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi selama empat tahun terakhir,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis resmi statistik, Kamis (5/2/2026).

Amalia menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman, misalnya, tumbuh 6,39% didukung oleh peningkatan produksi beras, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, serta kapasitas produksi yang terjaga.

#manufaktur-tumbuh #industri-manufaktur #pertumbuhan-industri #hilirisasi-nikel #industri-logam-dasar #impor-mesin #industri-mesin #industri-perlengkapan #padat-karya #industri-kayu #industri-karet #in

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260209/257/1951456/industri-manufaktur-2025-tumbuh-515-celios-ditopang-hilirisasi-padat-karya-kontraksi