Ancaman Mis-Selling Masih Mengintai Bancassurance di Balik Peluang Digital

Ancaman Mis-Selling Masih Mengintai Bancassurance di Balik Peluang Digital

Bancassurance tumbuh di era digital, namun risiko mis-selling tetap ada. Kolaborasi jujur antara bank dan asuransi penting untuk menghindari kesalahpahaman produk.

(Bisnis.Com) 20/02/26 10:11 141727

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah pesatnya perkembangan keuangan digital, peluang pertumbuhan bancassurance dinilai semakin terbuka lebar. Perbankan sebagai mitra distribusi dianggap menjadi industri yang paling mapan dalam transformasi dan infrastruktur layanan keuangan digital.

Dosen Asuransi Syariah UIN Banten sekaligus anggota komunitas penulis asuransi Indonesia (Kupasi) Wahju Rohmanti berpendapat hal itu seharusnya dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk meningkatkan kerja sama dengan perbankan.

“Namun harus disertai kejujuran dalam penjualannya agar tidak lagi terjadi mis-selling dan mis-understanding bahwa produk asuransi bancassurance ini bukan produk perbankan,” ucapnya kepada Bisnis, Kamis (19/2/2026).

Menurutnya, kanal bancassurance pernah dievaluasi dalam beberapa tahun ke belakang. Pasalnya, ada kasus-kasus pengaduan nasabah yang dipicu oleh kerancuan pemahaman antara produk asuransi dengan produk perbankan.

“Nasabah bank mengira produk yang dibeli adalah tabungan, dan premi yang dibayarkan adalah uang tabungan sehingga mengharapkan dananya dapat ditarik setiap saat, utuh beserta bunga dan atau hasil investasi,” bebernya.

Adapun bagi Wahju, perusahaan asuransi yang merupakan anak usaha ataupun perusahaan saudara (sistercompany) dari perbankan memiliki keunggulan tersendiri untuk mengambil pasar bancassurance, dibandingkan dengan perusahaan asuransi yang berdiri sendiri (standalone).

Perlu diketahui, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat kanal distribusi bancassurance masih mendominasi pendapatan sebanyak 41,5% pendapatan premi pada kuartal III/2025.

Menurut Wahju, dominasi tersebut tidak serta-merta imbas dari peningkatan transaksi, tetapi kemungkinan karena kanal distribusi lain menurun, terutama kanal penjualan langsung melalui agen.

“Selain itu juga didukung dengan kemudahan pembelian asuransi melalui m-banking ataupun internet banking, sehingga kinerja bancassurance yang fair dapat dibandingkan dengan cara membandingkan periode per periode,” tegasnya.

Menilik data AAJI, pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025, pendapatan premi dari kanal distribusi bancassurance mencapai Rp55,28 triliun. Angka ini turun 4,2% (year-on-year/YoY) dari Rp57,70 triliun.

Apabila menilik periode 2023 ke 2024, pendapatan premi dari kanal bancassurance naik 2,9% YoY dari Rp56,08 triliun menjadi Rp57,70 triliun.

#bancassurance #keuangan-digital #mis-selling #produk-asuransi #perbankan #transformasi-digital #kerja-sama-asuransi #nasabah-bank #premi-asuransi #distribusi-bancassurance #pendapatan-premi #kanal-dis

https://finansial.bisnis.com/read/20260220/215/1954294/ancaman-mis-selling-masih-mengintai-bancassurance-di-balik-peluang-digital