Transaksi E-Commerce Ramadan-Lebaran Diprediksi Naik 50%, Harga Pangan Jadi Tantangan
Transaksi e-commerce Ramadan-Lebaran 2026 diprediksi naik 50% dibanding hari biasa, meski harga pangan menjadi tantangan.
(Bisnis.Com) 21/02/26 01:00 142688
Bisnis.com, JAKARTA — Transaksie-commercepada momentum Ramadan dan Lebaran berpotensi meningkat hingga 50% dibandingkan dengan hari biasa.
Namun, jika dibandingkan secara tahunan, peningkatannya diperkirakan tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara umum.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan kenaikan transaksie-commercepada periode Ramadan–Lebaran merupakan fenomena yang lazim terjadi karena adanya tambahan pendapatan masyarakat.
“Kenaikannya bisa mencapai 50% jika dibandingkan dengan hari biasa,” kata Huda saat dihubungiBisnis, Jumat (20/2/2025).
Meski demikian, Huda menilai apabila dibandingkan secara tahunan, lonjakan transaksi tersebut umumnya sejalan dengan peningkatan konsumsi rumah tangga. Dia menambahkan, pada tahun ini pola pertumbuhannya diperkirakan masih serupa.
Secara periodik, transaksie-commercetetap berpotensi meningkat lebih dari 50% dibandingkan hari biasa. Bahkan, pertumbuhannya dinilai akan lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Menurut Huda, konsumsi rumah tangga tahun ini akan terdorong oleh meningkatnya keyakinan konsumen. Oleh sebab itu, lanjut Huda, konsumsi rumah tangga seharusnya tetap tumbuh positif.
“Adanya THR dan kenaikan UMR juga mempengaruhi dari sisi pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Tantangan dari Harga Bahan Pangan
Namun, dia juga mengingatkan adanya potensi tekanan dari kenaikan harga bahan pangan yang dapat menahan belanja masyarakat die-commerce.
Menurutnya, harga bahan pangan cenderung meningkat pada periode Ramadan–Lebaran 2026. Dia mencontohkan harga telur yang telah mengalami kenaikan.
“Ditambah ada permintaan bahan pangan dari MBG yang tidak libur di bulan Ramadan-Lebaran. Alhasil inflasivolatile foodakan meningkat dan pendapatan yang tadinya bisa dibelanjakan die-commerceakan menurun proporsinya,” katanya.
Sebelumnya, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memproyeksikan pendapatan industrie-commercepada momentum Ramadan dan Lebaran 2026 tumbuhdouble digitsecara tahunan.
Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, periode Ramadan–Lebaran secara konsisten menjadi musim puncak ataupeak seasonbagi industrie-commerce. Pola peningkatan kinerja relatif sama, dengan trafik dan transaksi mulai naik sejak awal Ramadan dan mencapai puncak pada rentang H-7 hingga H-3 Lebaran.
Meski laju pertumbuhan tidak lagi setinggi masa pandemi, Budi menilai tren industrie-commercetetap solid dan lebih sehat. Kondisi itu ditopang oleh perilaku belanjaonlinemasyarakat yang semakin matang, meningkatnya penetrasi pembayaran digital, serta penguatan integrasi kanalonlinedanoffline.
“Untuk Ramadan–Lebaran 2026, kami melihat prospeknya tetap positif dan optimistis industri masih bisa tumbuh double digit secara tahunan,” kata Budi kepadaBisnis, Jumat (20/2/2026).
Namun, Budi menegaskan proyeksi tersebut tetap bergantung pada terjaganya kondisi makroekonomi dan daya beli masyarakat. Dari sisi kategori, produk yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan antara lainfashiondanmodest wear, makanan dan minuman termasukhampersserta bahan pangan, produkbeauty and personal care, elektronik kecil dan gawai, serta produk rumah tangga.
Menurut Budi, pertumbuhan tersebut didorong oleh kombinasi faktor musiman, seperti meningkatnya kebutuhan menjelang Lebaran dan pencairan THR, serta strategi pelaku usaha melalui kampanye tematik Ramadan, promo dan bundling, hingga pemanfaatanlive commercedanshort videoyang semakin efektif mendorong konversi penjualan.
Adapun tantangan utama pada periode puncak meliputi kesiapan logistik dan layananlast mile delivery, pengelolaan stok dan rantai pasok, kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang, serta dinamika daya beli dan kondisi makroekonomi.
Budi menambahkan, idEA berperan memfasilitasi koordinasi antara pelaku industri dengan kementerian dan lembaga terkait guna memastikan kesiapan infrastruktur, kelancaran distribusi, serta kepatuhan terhadap regulasi.
“Kami juga terus mendorong literasi dan kesiapan UMKM agar dapat memanfaatkan momentum Ramadan secara optimal, baik dari sisi promosi, manajemen stok, maupun pelayanan konsumen,” kata Budi.
#e-commerce-ramadan #transaksi-e-commerce #kenaikan-transaksi #konsumsi-rumah-tangga #harga-pangan #pertumbuhan-konsumsi #pendapatan-masyarakat #inflasi-volatile-food #peak-season-e-commerce #belanja-o