Tekanan Rupiah & Sentimen Moody's Tak Surutkan Minat Korporasi Terbitkan Obligasi
Korporasi Indonesia gencar terbitkan obligasi hingga Juni 2026 meski tekanan rupiah dan sentimen Moody's, didorong kebutuhan modal kerja dan refinancing.
(Bisnis.Com) 23/02/26 15:05 144428
Bisnis.com, JAKARTA – Aksi emiten untuk menerbitkan instrumen surat utang diprediksi akan semarak hingga setidaknya Juni 2026. Kebutuhan akan modal kerja serta banyaknya surat utang jatuh tempo pada periode ini diprediksi membuat kian ramainya penerbitan EBUS hingga semester I/2026.
Indikasi ramainya emiten menerbitkan surat utang tampak dari realisasi penerbitan EBUS oleh korporasi sepanjang 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 20 Februari 2026, mencatat sedikitnya telah terdapat 20 penerbitan surat utang dari 13 penerbit, dengan nilai mencapai Rp15,71 triliun.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah penerbit dan surat utang yang diterbitkan, bertumbuh. Pada 2025 misalnya, hanya terdapat 16 penerbitan dari 12 emiten, tetapi dengan nilai yang lebih besar Rp18,39 triliun. Sementara itu, hingga Februari 2024, hanya terdapat 12 emisi surat utang dari 11 emiten dengan nilai mencapai Rp11,88 triliun.
Belum lagi, di dalam pipeline penerbitan EBUS tahun ini, terdapat sekitar 30 emisi surat utang dari 21 penerbit yang tengah mengantre untuk meminta dana.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin, menilai fenomena ini didorong oleh sedikitnya empat faktor utama. Pertama, biaya pendanaan atau yang lebih rendah lantaran posisi yield masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Artinya, kendati posisi yield acuan surat utang Tanah Air saat ini tengah berada di level 6,45%, tetapi posisi tersebut jauh lebih rendah ketimbang 6,76% pada 24 Februari 2025. Dus, momentum ini menjadi peluang emiten untuk memperoleh biaya pendanaan yang lebih rendah.
”Kemudian dari sisi kebutuhan modal kerja dan ekspansi. Jadi kemarin kan ada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kan relatif lebih tinggi ya. Kalau pertumbuhan ekonomi bagus, berarti kan permintaan terhadap produk-produk bisnis dari sektor bisnis juga akan solid,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Belum lagi, kondisi pasar saham tengah pulih secara perlahan selepas penyedia indeks global MSCI membekukan rebalancing terhadap saham Tanah Air. Hal itu membuat investor mencari instrumen investasi dengan imbal hasil kompetitif dan risiko yang cenderung rendah.
Terakhir, surat utang korporasi yang jatuh tempo pada awal tahun disebut masih cukup besar. Data BEI menyebut bahwa sedikitnya terdapat 6 surat utang yang jatuh tempo hanya pada Februari 2026. Dengan begitu, aksi refinancing atas surat utang jatuh tempo berpotensi terjadi.
Ahmad memprediksi, semaraknya penerbitan surat utang korporasi akan terjadi pada kuartal II/2026. Hal itu mengingat terdapat surat utang jatuh tempo hingga Rp63,9 triliun pada kuartal setelahnya, yang membuat emiten mempersiapkan diri melakukan refinancing.
”Nah itu biasanya, mereka [emiten] biasanya agak maju karena kan sebelum jatuh tempo mereka harus ngumpulin duit dulu untuk refinancing pas jatuh tempo,” katanya.
Sementara itu, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, memprediksi semaraknya penerbitan surat utang korporasi akan terjadi hingga paruh pertama 2026. Hal itu menyusul data pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup positif, sehingga mendorong optimisme swasta mencari pendanaan guna ekspansi.
Di satu sisi, likuiditas pasar dalam negeri diprediksi masih cukup solid untuk mampu menyerap penerbitan anyar surat utang korporasi.
”Dan pasar sendiri secara likuiditas, memang likuiditas kita masih cukup baik untuk pasar surat utang. Jadi perbankan juga masih aktif di government bond kita dan pasar reksadana, pasar asuransi, perlu instrumen-instrumen untuk menopang portfolio mereka,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Selain itu, Ramdhan menyoroti ihwal suku bunga acuan yang telah turun cukup rendah sehingga menekan biaya pendanaan. Ramdhan membandingkannya dengan kondisi suku bunga 3—5 tahun lalu, saat korporasi menerbitkan surat utang semula.
Dengan begitu, terdapat kebutuhan korporasi untuk melakukan refinancing dan modal kerja secara jangka panjang.
”Jadi kondisi sekarang ini dibandingkan beban utang mereka sebelumnya juga agak lebih rendah. Dari situ saya lihat penerbitan di awal tahun ini cukup marak jadinya,” katanya.
#berita-obligasi #emiten-surat-utang #penerbitan-obligasi #obligasi-korporasi #pasar-surat-utang #refinancing-obligasi #yield-surat-utang #modal-kerja-emiten #pertumbuhan-ekonomi-indonesia #likuiditas