Depresiasi Rupiah dan Sentimen Moody's Tak Gentarkan Emisi Obligasi Korporasi
Penerbitan obligasi korporasi di Indonesia diprediksi meningkat hingga Juni 2026, didorong kebutuhan modal kerja, obligasi jatuh tempo, dan biaya pendanaan rendah.
(Bisnis.Com) 23/02/26 15:15 144429
Bisnis.com, JAKARTA – Aksi emiten untuk menerbitkan instrumen surat utang diprediksi akan semarak hingga setidaknya Juni 2026. Kebutuhan akan modal kerja serta banyaknya obligasi jatuh tempo pada periode ini diprediksi membuat kian ramainya penerbitan EBUS hingga semester I/2026.
Indikasi ramainya emiten menerbitkan surat utang tampak dari realisasi penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) oleh korporasi sepanjang 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 20 Februari 2026, mencatat sedikitnya telah terdapat 20 penerbitan surat utang dari 13 penerbit, dengan nilai mencapai Rp15,71 triliun.
Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah penerbit dan surat utang yang diterbitkan, bertumbuh. Pada 2025, misalnya, hanya terdapat 16 penerbitan dari 12 emiten, tetapi dengan nilai yang lebih besar Rp18,39 triliun.
Sementara itu, hingga Februari 2024, hanya terdapat 12 emisi surat utang dari 11 emiten dengan nilai mencapai Rp11,88 triliun. Belum lagi, di dalam pipeline penerbitan EBUS tahun ini, terdapat sekitar 30 emisi surat utang dari 21 penerbit yang tengah mengantre untuk menggalang dana publik.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai fenomena ini didorong oleh sedikitnya empat faktor utama. Pertama, biaya pendanaan atau yang lebih rendah lantaran posisi yield masih lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Artinya, kendati posisi yield acuan surat utang Tanah Air saat ini tengah berada di level 6,45%, tetapi posisi tersebut jauh lebih rendah ketimbang 6,76% pada 24 Februari 2025. Dengan demikian, momentum ini menjadi peluang emiten untuk memperoleh biaya pendanaan yang lebih rendah.
”Kemudian dari sisi kebutuhan modal kerja dan ekspansi. Jadi kemarin kan ada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kan relatif lebih tinggi ya. Kalau pertumbuhan ekonomi bagus, berarti kan permintaan terhadap produk-produk bisnis dari sektor bisnis juga akan solid,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Belum lagi, kondisi pasar saham tengah pulih secara perlahan selepas penyedia indeks global MSCI membekukan rebalancing terhadap saham Tanah Air. Hal itu membuat investor mencari instrumen investasi dengan imbal hasil kompetitif dan risiko yang cenderung rendah.
Terakhir, surat utang korporasi yang jatuh tempo pada awal tahun disebut masih cukup besar. Data BEI menyebut bahwa sedikitnya terdapat enam surat utang yang jatuh tempo hanya pada Februari 2026. Dengan begitu, aksi refinancing atas surat utang jatuh tempo berpotensi terjadi.
Ahmad memprediksi, semaraknya penerbitan surat utang korporasi akan terjadi pada kuartal II/2026. Hal itu mengingat terdapat surat utang jatuh tempo hingga Rp63,9 triliun pada kuartal setelahnya, yang membuat emiten mempersiapkan diri melakukan refinancing.
”Nah itu biasanya, mereka [emiten] biasanya agak maju karena kan sebelum jatuh tempoh mereka harus ngumpulin duit dulu untuk refinancing pas jatuh tempo,” katanya.
Sementara itu, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, memprediksi semaraknya penerbitan surat utang korporasi akan terjadi hingga paruh pertama 2026. Hal itu menyusul data pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup positif, sehingga mendorong optimisme swasta mencari pendanaan guna ekspansi.
Di satu sisi, likuiditas pasar dalam negeri diprediksi masih cukup solid untuk mampu menyerap penerbitan anyar surat utang korporasi.
”Dan pasar sendiri secara likuiditas, memang likuiditas kita masih cukup baik untuk pasar surat utang. Jadi perbankan juga masih aktif di government bond kita dan pasar reksa dana, pasar asuransi, perlu instrumen-instrumen untuk menopang portfolio mereka,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Selain itu, Ramdhan menyoroti ihwal suku bunga acuan yang telah turun cukup rendah sehingga menekan biaya pendanaan. Ramdhan membandingkannya dengan kondisi suku bunga 3—5 tahun lalu, saat korporasi menerbitkan surat utang semula.
Dengan begitu, terdapat kebutuhan korporasi untuk melakukan refinancing dan modal kerja secara jangka panjang.
”Jadi kondisi sekarang ini dibandingkan beban utang mereka sebelumnya juga agak lebih rendah. Dari situ saya lihat penerbitan pada awal tahun ini cukup marak jadinya,” katanya.
#berita-pelemahan-rupiah #sentimen-moody-039-s #emiten-surat-utang #penerbitan-obligasi #obligasi-korporasi #bursa-efek-indonesia #fixed-income-analyst #yield-surat-utang #pertumbuhan-ekonomi-indonesi