PLN Hidupkan Kembali PLTP Mataloko melalui Geotermal di Ngada
Sumber energi PLTP Mataloko berasal dari enam sumur geotermal yang dibor antara tahun 1990 hingga 2000 oleh Kementerian ESDM.
(Bisnis Tempo) 24/10/25 19:39 14995
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko telah menjadi kebanggaan warga Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2010. Pembangkit dengan kapasitas 2,5 megawatt (MW), listrik dari uap bumi ini mampu menyuplai hampir 60 persen kebutuhan listrik wilayah Bajawa dan sekitarnya.
Rumah-rumah yang dulunya gelap kini terang benderang, warung kopi pun bisa buka hingga larut malam, dan listrik menjadi simbol kemajuan. Namun, harapan itu tak bertahan lama.
Sumber energi PLTP Mataloko berasal dari enam sumur geotermal yang dibor antara tahun 1990 hingga 2000 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sayangnya, kedalaman sumur yang hanya sekitar 600 meter tak cukup menahan tekanan uap bumi secara stabil.
“Dari kapasitas 2,5 MW, akhirnya tinggal 1,5 MW yang bisa jalan. Lama-lama tekanannya menurun dan tidak bisa lagi produksi,” kenang Bobby Robson Sitorus, Manajer Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Jumat, 24 Oktober 2025.
Pada 2015, pembangkit itu resmi berhenti total. Sejak itu, listrik Ngada kembali bergantung pada sistem interkoneksi Flores, yang disuplai dari PLTMG Rangko (20 MW) di Labuan Bajo dan PLTMG Maumere (40 MW).
Sepuluh tahun setelahnya, PLN kembali menyalakan bara harapan itu. Proyek PLTP Mataloko 2×10 MW kini tengah dibangun di lokasi sekitar 15 kilometer dari Kota Bajawa, dan ditargetkan beroperasi pada Desember 2031.
Empat titik pengeboran — Wellpad A, B, C, dan D — disiapkan dengan kedalaman mencapai 2.000 meter. “Kami sudah di tahap konstruksi sekitar 85 persen. Setelah ini masuk pengeboran sumur produksi, yang diharapkan tuntas sebelum 2028,” kata Taufik Iskandar, Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Mataloko.
Tahun 2016, pemerintah menugaskan kembali proyek ini kepada PLN untuk dikembangkan menjadi pembangkit yang lebih besar. Hingga April 2025, progres fisik proyek baru mencapai 79,57 persen.
Selain itu, PLN menggelar berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) seperti layanan kesehatan gratis, pelatihan UMKM, dan pemberdayaan warga sekitar lokasi pengeboran.
Meski mayoritas warga mendukung proyek ini, tak semua pihak sependapat. Sejumlah kelompok masyarakat menolak eksplorasi panas bumi dengan alasan kekhawatiran terhadap dampak gas HS (hidrogen sulfida) yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan dan mencemari lingkungan.
Brosur dan selebaran anti-geotermal sempat beredar, menuduh proyek ini berbahaya bagi manusia dan alam.
Menanggapi hal itu, Agradi Ariatama, Officer Komunikasi dan TJSL PLN UIP Nusra, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan lebih dari 40 kali sosialisasi menggunakan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC). “Kami terbuka. Semua kajian lingkungan sudah dilakukan dan disampaikan ke masyarakat. Kami ingin geotermal ini dipahami sebagai solusi, bukan ancaman,” ujarnya.
#pltp #pln #ntt #geotermal #panas-bumi
https://tempo.co/ekonomi/pln-hidupkan-kembali-pltp-mataloko-melalui-geotermal-di-ngada-2082976