Awas! Stres Berkepanjangan Bisa Picu Autoimun

Awas! Stres Berkepanjangan Bisa Picu Autoimun

Stres berkepanjangan dapat memicu autoimun dengan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Pengelolaan stres penting untuk mencegah perburukan penyakit ini.

(Bisnis.Com) 02/03/26 11:10 151650

Bisnis.com, JAKARTA — Stres yang berlangsung lama dan tidak terkelola dengan baik dapat memicu penyakit autoimun karena tekanan berkepanjangan mampu mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh meski kerap dianggap sepele.

Secara medis, stres muncul ketika tubuh merasa terancam, baik karena masalah nyata maupun tekanan pikiran. Dalam kadar wajar stres dapat memacu semangat, tetapi jika berlebihan justru berdampak buruk bagi fisik dan mental.

Saat menghadapi situasi yang dianggap mengancam, tubuh mengaktifkan respons “fight or flight”. Detak jantung meningkat, napas menjadi cepat, tekanan darah naik, dan hormon stres dilepaskan ke aliran darah.

Dr. Michelle Dossett, spesialis penyakit dalam dan pengobatan integratif Universitas California, menjelaskan persepsi terhadap suatu peristiwa menentukan respons tubuh. Otak terlebih dahulu menilai apakah situasi terasa menekan, lalu mengaktifkan jalur yang melepaskan hormon stres seperti norepinefrin, epinefrin, dan kortisol.

“Hormon-hormon stres ini berdampak pada seluruh organ dan jaringan tubuh kita serta dapat memengaruhi fungsi usus, fungsi kardiovaskular, dan sistem kekebalan tubuh,” ujarnya dikutip dalam laman resmi Global Autoimmune Institute, Selasa (24/2/2026).

Jika terjadi terus-menerus, stres dapat mengganggu keseimbangan sistem imun hingga keliru menyerang jaringan sehat. Kondisi inilah yang menjadi dasar munculnya penyakit autoimun.

Dalam publikasi di National Library of Medicine disebutkan hingga 80% pasien melaporkan mengalami tekanan emosional berat sebelum penyakit autoimun muncul. Studi terhadap lebih dari 100.000 orang dengan gangguan terkait stres juga menunjukkan risiko diagnosis autoimun lebih tinggi dibanding populasi umum.

Peneliti melihat adanya hubungan dua arah antara stres dan autoimun. Stres dapat memicu penyakit, sementara penyakit kronis itu sendiri menjadi sumber tekanan baru bagi penderitanya.

Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat karena salah mengenali ancaman. Akibatnya, peradangan muncul dan organ tertentu dapat mengalami gangguan fungsi.

Mengutip Global Autoimmune Institute, sejumlah penyakit yang sering dikaitkan dengan stres antara lain:
- Rheumatoid Arthritis (RA) yang menyebabkan nyeri dan kaku sendi, dimana stres dapat memperparah rasa sakit.
- Multiple Sclerosis (MS) yang menyerang sistem saraf pusat dan dilaporkan memburuk setelah paparan tekanan berat.
- Inflammatory Bowel Disease (IBD) seperti Crohn dan kolitis ulseratif yang frekuensi kambuhnya dipengaruhi stres.
- Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang dapat menyerang berbagai organ dan gejalanya meningkat saat tekanan emosional tinggi.
- Graves’ Disease, Psoriasis, serta Diabetes tipe 1 yang juga menunjukkan hubungan dengan hormon stres.

Keterkaitan ini terjadi karena stres mempengaruhi kerja sistem imun secara langsung. Tekanan berkepanjangan dapat memicu peradangan dan memperburuk gejala yang sudah ada.

Secara biologis, stres dapat memperparah autoimun melalui beberapa proses, seperti:
- Meningkatkan produksi zat pro-inflamasi yang memicu peradangan.
- Mengganggu regulasi sistem imun.
- Merusak pola tidur yang penting bagi pemulihan sel.
- Mempengaruhi kesehatan pencernaan yang berperan besar dalam keseimbangan imun,
- Menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mengatur metabolisme dan energi.

Melihat dampaknya, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi tetap stabil. Mengutip dari Sanitas Medical Center, berikut cara mengatur stress:
1. Mengenali pemicu stres dan mencatat pola gejala
2. Melakukan relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga
3. Mencari dukungan psikologis termasuk terapi CBT
4. Menetapkan prioritas yang realistis agar tidak kewalahan
5. Berbagi cerita dengan keluarga atau teman
6. Berkonsultasi dengan tenaga profesional bila diperlukan
7. Cukup istirahat dan tidur
8. Menjaga pola makan sehat dan asupan cairan
9. Serta rutin berolahraga ringan untuk membantu menurunkan hormon stres

Pengelolaan yang tepat serta kesadaran mengenali pemicunya membantu menekan stres sehingga risiko perburukan autoimun berkurang dan kesehatan jangka panjang lebih terjaga.

#stres-berkepanjangan #autoimun #stres-dan-autoimun #hormon-stres #sistem-kekebalan-tubuh #penyakit-autoimun #tekanan-emosional #peradangan #rheumatoid-arthritis #multiple-sclerosis #inflammatory-bowel

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260302/106/1956749/awas-stres-berkepanjangan-bisa-picu-autoimun