Perhitungan Purbaya soal Ekonomi RI di Tengah Perang Iran vs AS-Israel

Perhitungan Purbaya soal Ekonomi RI di Tengah Perang Iran vs AS-Israel

Menteri Keuangan Purbaya optimis ekonomi RI tetap kuat meski perang Iran-AS-Israel mempengaruhi harga minyak. Tax collection tumbuh, defisit APBN terkendali.

(Bisnis.Com) 04/03/26 03:45 154079

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan terkait dengan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah kondisi perang Iran dengan AS-Israel.

Hal tersebut disampaikan Purbaya setelah mengikuti agenda pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan mantan Presiden dan Wakil Presiden pada Selasa (3/3/2026) di Istana Negara. Menurut Purbaya, dalam pertemuan tersebut dibahas juga terkait dengan kondisi krisis geopolitik saat ini.

Kemudian, dibahas terkait dampaknya terhadap ketahanan ekonomi dalam negeri. Sebab, perang antara Iran dengan Israel-AS membawa dampak penutupan Selat Hormuz. Negara-negara Asia pun akan merasakan dampak cukup signifikan dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global.

"Kalau analisa kita yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi enggak ada masalah. Karena tax collection kita juga membaik, Januari-Februari kan tumbuhnya 30%," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan pada Selasa (3/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa capaian tax collection saat ini tumbuh signifikan. Artinya, terdapat perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku masyarakat, pajak, serta bea cukai.

"Pokoknya kita hitung simulasi harga minyak level tertentu. Ya [tahan] setahun, untuk anggaran setahun ini. Jadi masih bisa di-absorb kalau harga minyak naik, kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang," ujarnya.

Purbaya juga mengklaim defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2026 tetap terjaga meski harga minyak mentah menembus angka US$92 per barel.

“Kan channel-nya melalui ekspor ataupun harga minyak. Harga minyak sudah ke US$80 (dolar AS), saya hitung sampai US$92 pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujarnya.

Purbaya mengakui, apabila kondisi global memburuk dan harga impor energi melonjak tajam, tekanan terhadap defisit anggaran bisa meningkat. Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.

“Kalau impor makin parah kan, harganya mahal, mungkin akan menekan defisit. Kita pastikan aja pertama tax collection kita, pengumpulan pajak kita dan cukai nggak ada yang bocor. Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit,” jelasnya.

Menurutnya, setelah kondisi penerimaan negara terjaga, pemerintah akan menghitung kembali dampak lanjutan sebelum mengambil kebijakan tambahan.

“Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” tambahnya.

Terkait pernyataan mengenai cadangan BBM dan gas LPG, Purbaya juga menjelaskan bahwa kontrak pembelian energi umumnya dilakukan dalam skema tahunan.

“Kan itu harga setahun kan, kalau kita belinya setahun. Yang 20 hari itu kalau nggak ada supply sama sekali, berantakan. Tapi biasanya nggak seperti itu. Kita pasti dapat suplai. Mungkin harganya lebih tinggi,” katanya.

Lebih lanjut, dia menegaskan, selama asumsi harga masih dalam rentang perhitungan pemerintah, defisit tetap dapat dikendalikan.

"Saya bisa hitung dengan asumsi tadi, kita masih bisa kendalikan defisit kita. Kita masih bisa atur, nggak masalah,” ujarnya optimistis.

Purbaya juga menekankan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh permintaan domestik menjadi bantalan utama menghadapi gejolak global.

“Kalaupun globalnya di atas, selama kita bisa jaga domestic demand yang 90 persen kontribusinya ke ekonomi kita, juga masih bisa survive,” pungkasnya.

#ekonomi-indonesia #perang-iran-as-israel #ketahanan-ekonomi #dampak-selat-hormuz #tax-collection-indonesia #harga-minyak-global #defisit-apbn-2026 #impor-energi-indonesia #cadangan-bbm-indonesia #harg

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260304/9/1957519/perhitungan-purbaya-soal-ekonomi-ri-di-tengah-perang-iran-vs-as-israel