Perubahan Hormon Dapat Pengaruhi Kecantikan Kulit, Begini Kata Dokter
Perubahan hormon memengaruhi kesehatan kulit wanita, seperti jerawat dan kerutan. Perawatan kulit harus menyeluruh, mencakup aspek dermatologi dan ginekologi.
(Bisnis.Com) 17/03/26 13:33 167112
Bisnis.com, JAKARTA - Kecantikan kulit sering kali dikaitkan dengan penggunaan berbagai produk perawatan atau skincare. Padahal, kondisi kulit tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang diaplikasikan dari luar.
Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika Maria Clarissa Wiraputranto mengatakan kulit yang sehat dan bercahaya sebenarnya juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh dari dalam.
Kondisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan tubuh dari dalam, termasuk keseimbangan hormon yang pada perempuan sering berperan besar terhadap kesehatan kulit.
Menurutnya, kemunculan jerawat misalnya tidak selalu dipicu oleh faktor eksternal. Dalam banyak kasus, masalah kulit tersebut juga dapat berasal dari faktor internal tubuh. Karena itu, kondisi kulit kerap dianggap sebagai cerminan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.
"Pada kulit terdapat berbagai reseptor hormon, di antaranya estrogen, progesteron, dan androgen. Perubahan hormon-hormon tersebut dapat memengaruhi kondisi kulit dan memicu berbagai masalah dermatologis," katanya dalam acara grand opening Aesthetic Gynecology Center by YPK Mandiri Health Care x Health 360 Indonesia di Jakarta, Kamis, (12/3/2026)
Dokter Maria menilai perubahan kondisi kulit yang dipengaruhi faktor hormonal masih belum banyak mendapat perhatian. Padahal, perubahan tersebut memerlukan penanganan dan perawatan yang lebih spesifik.
Sepanjang hidupnya, perempuan juga melalui berbagai fase yang dapat memunculkan kondisi kulit yang berbeda-beda. Menjelang menstruasi, misalnya, peningkatan hormon progesteron dan androgen dapat merangsang produksi minyak berlebih sehingga kulit menjadi lebih berminyak dan rentan muncul jerawat.
Perubahan kondisi kulit juga dapat terjadi setelah persalinan. Usai melahirkan, penurunan kadar hormon kerap memicu berbagai perubahan, seperti rambut rontok sementara, kulit menjadi lebih sensitif, hingga munculnya jerawat hormonal.
Sementara itu, menjelang menopause, penurunan hormon estrogen dapat berdampak pada berkurangnya produksi kolagen. Kondisi ini membuat kulit menjadi lebih kering, lebih tipis, serta lebih rentan mengalami kerutan.
Lalu, selama kehamilan, peningkatan hormon juga dapat memicu perubahan pada kulit. Kondisi ini kerap ditandai dengan munculnya hiperpigmentasi, seperti melasma atau garis gelap pada area perut yang dikenal sebagai linea nigra.
Pada kondisi tertentu, lanjutnya, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), kadar hormon androgen yang lebih tinggi dapat memicu berbagai masalah kulit. Di antaranya jerawat yang menetap, produksi minyak berlebih pada kulit, hingga pertumbuhan rambut yang lebih banyak di beberapa bagian tubuh.
"Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pada kulit tidak selalu disebabkan oleh faktor eksternal seperti skincare atau lingkungan, tetapi juga oleh kondisi hormonal di dalam tubuh," imbuhnya.
Oleh karena itu, menurutnya, perawatan kesehatan kulit sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Saat ini, berbagai layanan perawatan bagi perempuan mulai menggabungkan aspek dermatologi dan ginekologi untuk menangani masalah kulit yang berkaitan dengan kondisi hormonal.
Saat ini bahkan mulai berkembang sistem perawatan estetika non-invasif, seperti BTL Exion dari BTL Aesthetics, yang memadukan teknologi Fractional Radiofrequency (RF), microneedling, serta dukungan berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi tersebut bekerja dengan merangsang produksi kolagen dan hyaluronic acid, sehingga membantumengencangkan kulit, memperbaiki tekstur, serta mengurangi lemak pada area tertentu.
Dokter spesialis neurologi Alifa Dimanti mengatakan meski jarang disadari, tidur juga memainkan peran krusial dalam mengatur berbagai hormon, utamanya yang mempengaruhi metabolisme, pertumbuhan, stres, hingga kesehatan kulit.
Saat seseorang tidur, otak menjalankan berbagai proses penting, seperti meningkatkan kemampuan berpikir dan konsentrasi, membersihkan sisa metabolisme di otak, membantu memperbaiki suasana hati, serta mengonsolidasikan memori dari jangka pendek menjadi jangka panjang.
Tidur juga menjadi waktu puncak bagi tubuh untuk memperbaiki kerusakan jaringan, memproduksi kolagen
"Selain itu, tidur juga berperan dalam mengatur hormon," katanya.
Gangguan tidur dapat memberikan dampak yang luas terhadap kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berupa kesulitan untuk tidur, tetapi juga kualitas tidur yang buruk, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan kulit maupun kondisi tubuh secara keseluruhan.
Menurutnya, saat ini kecantikan dan kesehatan perlu dipandang berbarengan. Terlebih, kecantikan sejati pada masa kini juga tidak lagi hanya diukur dari penampilan fisik. Kesehatan mental dan keseimbangan emosi juga berperan besar, karena ketika seorang perempuan merasa sehat secara psikologis, kepercayaan diri akan tumbuh dan memancarkan pesona yang lebih alami.
#perubahan-hormon #kecantikan-kulit #hormon-dan-kulit #kesehatan-kulit #jerawat-hormonal #hormon-estrogen #hormon-progesteron #hormon-androgen #kulit-berminyak #kulit-sensitif #kulit-kering #produksi-k