Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Pemerintah optimis capai target pertumbuhan ekonomi 5,5% di Q1 2026 berkat Ramadhan dan Lebaran. Inflasi diperkirakan naik, namun subsidi energi siap jaga stabilitas.

(Kompas.com) 21/03/26 15:45 170262

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 bisa tercapai di tengah potensi peningkatan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto optimistis, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok di level 5,5 persen dapat dicapai.

Airlangga mengatakan, geliat ekonomi sepanjang Ramadhan dan Lebaran 2026 ini diperkirakan mampu memberikan kontribusi ke pertumbuhan ekonomi.

SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kelihatannya target 5,5 persen bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin," kata Airlangga ketika ditemui usai shalat Idul Fitri di Masjid Salahuddin, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Meskipun demikian, Airlangga memproyeksikan tingkat inflasi bisa lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Hal ini lantaran tahun ini tidak ada kebijakan diskon tarif listrik yang tak diberlakukan.

"Nanti kita lihat, inflasi kan perhitungannya lebih cepat. Jadi kita lihat saja sampai akhir dari Lebaran. Tetapi, base-nya tahun kemarin rendah," imbuh dia.

"Jadi, dan tahun kemarin kan sampai bulan Februari itu ada (diskon) listrik ya. Jadi, itu yang membuat inflasi tahun kemarin kan untuk dari segi listriknya deflasi," terang Airlangga.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,7 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Angka itu dinilai cukup baik di tengah gejolak global saat ini.

"Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7 persen, kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah, di tengah gejolak global sekarang," ujar dia pada kesempatan yang sama.

KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Purbaya mengungkapkan, gejolak global yang salah satunya ditimbulkan oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, terus diupayakan pemerintah agar dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat.

Purbaya bilang, dampak dari konflik Timur Tengah itu diserap pemerintah dengan memastikan pemberian subsidi energi tetap berjalan.

Ia bilang, pemerintah akan terus menjaga agar masyarakat dapat beraktivitas secara normal.

"Dampak global saat ini masih belum terasa karena di-absorb (diserap) oleh pemerintah. Jadi kita menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal, semaksimal mungkin ke depan akan dijaga seperti itu," ucap dia.

Setelah periode Lebaran, Purbaya bilang, pemerintah akan berfokus menjaga permintaan domestik sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Hal itu mencakup penguatan sektor swasta serta daya beli masyarakat.

Pemerintah juga berkomitmen menjaga harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya yang bersubsidi, agar tetap stabil di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Selain itu, belanja pemerintah akan digenjot agar terealisasi tepat waktu sesuai kebutuhan.

"Kita akan pastikan belanja-belanja pemerintah yang emang harus dibelanjakan, dibelanjakan tepat waktu," tutup Purbaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#purbaya-yudhi-sadewa #subsidi-energi #gejolak-global #inflasi #pertumbuhan-ekonomi-2026 #airlangga-hartarto

https://money.kompas.com/read/2026/03/21/154530026/geliat-ramadhan-dan-lebaran-dorong-pertumbuhan-ekonomi-55-persen