Inflasi Jangka Panjang Berisiko Terimbas Gejolak Harga Ayam dan Telur
Fluktuasi harga ayam dan telur di Indonesia berisiko memicu inflasi jangka panjang akibat ketidakseimbangan produksi dan tekanan biaya, meski pasokan mencukupi.
(Bisnis.Com) 15/04/26 19:11 192480
Bisnis.com, JAKARTA — Fluktuasi harga ayam dan telur di tengah pasokan yang relatif mencukupi mengungkap persoalan struktural di sektor perunggasan. Ketidakseimbangan produksi hingga tekanan biaya di sektor ini berisiko mendorong inflasi pangan secara lebih persisten.
Pergerakan harga yang tidak lagi sepenuhnya mengikuti pola musiman menunjukkan bahwa stabilitas pasar unggas belum sepenuhnya terbentuk. Meski harga di tingkat konsumen sempat turun, tekanan dari sisi hulu dan aspek permintaan berisiko membuat volatilitas berlangsung dalam jangka panjang.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok bahan makanan, termasuk telur ayam ras, menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Maret 2026. Inflasi tahunan tercatat 3,48% dan secara bulanan 0,41%.
Di sisi lain, data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan harga daging ayam ras per 15 April 2026 berada di level Rp38.361 per kg, turun tipis dari hari sebelumnya. Harga telur ayam ras juga melemah menjadi Rp29.658 per kg.
Kondisi ini mencerminkan dinamika yang tidak sejalan antara produksi dan harga. Pasokan yang mencukupi tidak serta-merta menjamin stabilitas harga di pasar
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Hary Suhada mengatakan pemerintah terus berupaya memperkuat koordinasi lintas pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas tersebut.
“Kami terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan,” ujarnya, dikutip Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, termasuk melalui penyesuaian perencanaan produksi berbasis data.
Salah satu instrumen utama adalah implementasi National Stock Replacement (NSR) yang mulai dijalankan sejak awal 2026. Kebijakan ini mengatur waktu pemasukan dan distribusi bibit agar produksi lebih terkendali.
“Perencanaan dan realisasi pemasukan GPS terus kami sinkronkan dengan kebutuhan nasional, sehingga pengaturan produksi dapat berjalan lebih optimal,” kata Hary.
Penguatan tata kelola ini juga didukung oleh diversifikasi sumber impor bibit dari negara seperti Australia dan Inggris. Beragamnya pasokan diharapkan memperkuat ketersediaan pasokan di dalam negeri.
Namun, pelaku usaha masih berkutat pada persoalan siklus kelebihan pasokan yang berulang.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Mukhlis Wahyudi menilai penurunan harga ayam hidup (livebird) saat ini dipicu oleh kondisi oversupply yang terjadi pasca-Lebaran.
“Kondisi ini tidak hanya karena oversupply, tetapi juga pola pasar yang berulang setiap tahun setelah Lebaran. Meskipun pasokan mulai terkendali, harga belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa intervensi di sisi produksi belum sepenuhnya mampu meredam siklus fluktuasi tahunan.
Sejalan dengan itu, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Dawami menilai stabilitas harga sangat bergantung pada ketepatan pengelolaan produksi.
“Dengan pengaturan produksi yang baik, stabilitas harga dapat tetap terjaga sehingga memberikan kepastian bagi peternak dan konsumen,” ujarnya.
Meski demikian, tekanan dari sisi biaya mulai menjadi faktor dominan yang membentuk harga ke depan.
Direktur Utama Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai fluktuasi harga ayam dan telur tidak lagi semata dipicu faktor musiman, tetapi juga kenaikan biaya produksi akibat gangguan rantai pasok global.
“Kenaikan harga bukan hanya karena musiman, tetapi juga dari sisi pakan ternak, biaya operasional, logistik, dan distribusi yang semuanya naik,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan biaya tersebut dipicu oleh dinamika geopolitik yang mengganggu pasokan bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai, yang merupakan komponen utama pakan ternak.
Selain itu, peningkatan permintaan dari program makan bergizi gratis (MBG) juga berpotensi memperketat pasokan di pasar.
“Ini memicu perebutan pasokan karena program tersebut mengambil dari produsen dan distributor utama,” katanya.
Dia memperkirakan kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat ritel dan memperbesar tekanan inflasi pangan. Inflasi tahunan diestimasi dapat meningkat 1% hingga 2% dibandingkan tren sebelumnya, seiring dengan tekanan biaya dan kebijakan energi.
Bhima menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas, terutama melalui pengamanan pasokan bahan baku pakan dan pengendalian biaya energi.
“Harus ada langkah untuk memastikan pasokan bahan baku, terutama jagung dan pakan ternak, serta menahan biaya distribusi,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, tantangan juga datang dari risiko iklim seperti El Nino yang dapat mengganggu produksi jagung dan berdampak pada biaya pakan.
Dengan demikian, stabilitas harga ayam dan telur tidak hanya bergantung pada pengaturan produksi, tetapi juga pada kemampuan mengelola tekanan biaya dan permintaan secara simultan. Tanpa perbaikan struktural di seluruh rantai pasok, fluktuasi harga berisiko menjadi fenomena yang berulang dan makin persisten.
#inflasi-pangan #harga-ayam #harga-telur #sektor-perunggasan #produksi-ayam #produksi-telur #stabilitas-harga #pasokan-ayam #pasokan-telur #biaya-produksi #rantai-pasok #kebijakan-energi #permintaan-pa