Kasus OCD Meningkat, Akses Layanan Kesehatan Mental Masih Terbatas

Kasus OCD Meningkat, Akses Layanan Kesehatan Mental Masih Terbatas

Kasus OCD meningkat di Indonesia sejak 2020, menggeser BPD. Akses layanan kesehatan mental masih terbatas dan mahal, meski kesadaran meningkat.

(Bisnis.Com) 16/04/26 15:20 193425

Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan kasus gangguan obsesif kompulsif atau OCD dalam beberapa tahun terakhir menandai pergeseran pola masalah kesehatan mental di Indonesia, sekaligus menyoroti keterbatasan akses layanan psikologis yang masih bersifat eksklusif.

Indonesiapsycare mencatat pergeseran signifikan dalam profil pasien sejak 2020, dengan OCD menjadi diagnosis paling dominan, menggeser gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD) yang sebelumnya lebih banyak ditemukan.

Founder Indonesiapsycare Edo Sebastian Jaya mengungkapkan bahwa berdasarkan data internal terakhir pada 2024, sekitar 26% pasien yang datang mendapatkan diagnosis OCD. Sementara itu, BPD menempati posisi kedua dengan proporsi mendekati 20%.

“Kami melihat kasus OCD meningkat signifikan dan bertahan sampai sekarang,” ujarnya dalam diskusi saat grand opening klinik utama IndoPsyCare di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Peningkatan ini tidak semata mencerminkan lonjakan kasus baru, tetapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Edukasi yang masif, terutama melalui media sosial, membuat lebih banyak individu mengenali gejala yang sebelumnya tidak teridentifikasi.

Namun, tingginya kesadaran tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan akses layanan yang memadai. Layanan kesehatan mental masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder dengan biaya relatif mahal, sehingga belum terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Mayoritas pasien yang datang ke Indonesiapsycare berasal dari kelompok usia 25 hingga 34 tahun. Kelompok ini dinilai memiliki kemampuan finansial lebih baik serta tingkat paparan informasi yang tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

“Layanan kesehatan mental di Indonesia saat ini masih cenderung menjadi luxury. Jadi yang datang biasanya mereka yang sudah punya kemampuan finansial untuk self-care,” kata praktisi Steffi Hartanto.

Di sisi lain, kompleksitas kasus juga meningkat. OCD tidak lagi terbatas pada perilaku repetitif seperti mencuci tangan atau menjaga kerapian, melainkan berkembang ke ranah relasi sosial hingga hubungan personal.

Menurut Steffi, salah satu bentuk yang banyak ditemukan adalah kecemasan berlebih terhadap hubungan, yang mendorong perilaku kompulsif dalam mencari kepastian dalam sebuah hubungan antarindividu.

Adapun dalam fase pemulihan, selain faktor klinis, lingkungan sosial juga menjadi penentu keberhasilan terapi. Peran keluarga dan orang terdekat dinilai krusial, baik sebagai pendukung maupun potensi pemicu kondisi pasien.

“Kalau trigger di lingkungan tidak diperbaiki, proses terapinya akan jauh lebih sulit,” katanya.

#ocd #kesehatan-mental #layanan-kesehatan-mental #gangguan-obsesif-kompulsif #akses-layanan-psikologis #edukasi-kesehatan-mental #kesadaran-kesehatan-mental #biaya-kesehatan-mental #layanan-psikologis

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260416/106/1966820/kasus-ocd-meningkat-akses-layanan-kesehatan-mental-masih-terbatas