#30 tag 24jam
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
Sambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) perkuat kualitas sumber daya manusia Polri melalui pendekatan kesehatan mental... | Halaman Lengkap [596] url asal
#polda-ntt #hut-bhayangkara #kesehatan-mental #polres-manggarai-barat #anggota-polisi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/06/26 18:22
v/259916/
NTT - Sambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) perkuat kualitas sumber daya manusia Polri melalui pendekatan kesehatan mental dan pengelolaan emosi. Salah satunya melalui latihan Ultimate The Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique (USEFT) atau Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique.Ratusan personel Polda NTT tampak mengikuti latihan tersebut secara massal di Lapangan Bhayangkara Mapolda NTT, Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Polda NTT dalam membangun personel yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki keseimbangan tubuh, pikiran, jiwa, serta kesiapan mental dalam menjalankan tugas.
Kegiatan yang digelar setelah apel pagi tersebut dipandu oleh Coach Ipda Risa Malelak bersama tim konselor USEFT Polda NTT. Para personel mengikuti rangkaian latihan dengan penuh antusias melalui teknik relaksasi, afirmasi positif, serta pendekatan psikologi energi yang bertujuan membantu menciptakan keseimbangan diri, mengelola tekanan, menjaga stabilitas emosi, dan memperkuat kesiapan mental dalam menghadapi berbagai dinamika tugas kepolisian yang semakin kompleks.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan, tantangan tugas anggota Polri saat ini semakin kompleks dan dinamis. Karena itu, kesiapan personel tidak cukup hanya dibangun dari kemampuan fisik, tetapi juga harus diperkuat dengan kesehatan mental dan pengelolaan emosi yang baik.
“Bagi saya, menjaga kondisi psikologis anggota merupakan bagian penting dalam membentuk personel Polri yang profesional, humanis, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Irjen Pol Rudi mengatakan, personel Polri menghadapi berbagai dinamika setiap hari yang membutuhkan kesiapan tidak hanya dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan diri. Karena itu, penting bagi setiap anggota untuk membangun kekuatan dari dalam melalui keseimbangan Body (tubuh), Mind (pikiran), dan Soul (jiwa serta spiritual).
Lihat video: BREAKING! REFORMASI POLRI! Jimly Asshiddiqie: Kompolnas Bakal Diperkuat, Kapolri Tetap Lewat DPR
“Dengan kondisi mental yang sehat serta emosi yang lebih terkendali, anggota akan lebih siap menghadapi tantangan tugas sekaligus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat,” ucapnya.
Irjen Pol Rudi menyebut USEFT atau Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique merupakan metode yang dikembangkan oleh Kapolda NTT bersama tim riset dari SBMS Institute. Metode ini berbasis pendekatan psikologi energi dengan mensinkronkan aspek body, mind, dan soul serta spiritual untuk membantu menciptakan keseimbangan diri, mengelola tekanan emosional, serta meningkatkan kualitas kesehatan mental dan ketahanan diri.
Di sisi lain, semangat HUT ke-80 Bhayangkara juga diwujudkan Polda NTT melalui program NTT Penuh Kasih dengan memperluas manfaat terapi kepada masyarakat. Tidak hanya menyasar internal personel, Polres Manggarai turut menghadirkan terapi kesehatan mental USEFT bagi 150 warga binaan di Rutan Kelas IIB Ruteng sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap kesehatan psikologis masyarakat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, terapi USEFT ini menjadi salah satu langkah Polda NTT dalam menjaga kesehatan mental personel di tengah tuntutan tugas kepolisian yang semakin kompleks dan dinamis.
“Kami percaya bahwa anggota yang memiliki keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan tugas serta mampu memberikan pelayanan yang lebih optimal, humanis, dan profesional kepada masyarakat,” katanya.
Pengembangan USEFT bersama SBMS Institute menjadi salah satu inovasi Polda NTT dalam menghadirkan pendekatan baru untuk memperkuat kualitas personel dan masyarakat. Melalui metode yang mengedepankan keseimbangan Body, Mind, dan Soul ini, diharapkan semakin banyak individu yang mampu mengelola emosi, menjaga ketenangan diri, serta meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
“Melalui momentum HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT membuktikan pengabdian Polri tidak hanya diwujudkan melalui aspek keamanan dan penegakan hukum, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kualitas sumber daya manusia. Dengan membangun personel yang lebih kuat dari dalam melalui pendekatan USEFT, Polda NTT terus menghadirkan Bhayangkara yang humanis, dekat dengan masyarakat, serta membawa energi positif dan kebaikan bagi Nusa Tenggara Timur,” paparnya.
Cara Mengatasi Trauma Akibat Tindak Kekerasan
Artikel ini membahas cara mengatasi trauma akibat kekerasan, termasuk mengenali emosi, membangun dukungan, welas asih diri, dan mencari bantuan profesional. [409] url asal
#trauma-kekerasan #mengatasi-trauma #kesehatan-mental #ptsd-kekerasan #dukungan-emosional #terapi-trauma #pemulihan-trauma #kekerasan-rumah-tangga #efek-trauma #kecemasan-kronis #depresi-penyintas #pts
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/06/26 20:45
v/258958/
Bisnis.com, JAKARTA - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami oleh perempuan di Bandung oleh pasangannya membuat heboh.
Dari kasus penganiayaan itu, wajah korban hingga tidak bisa dikenali.
Kekerasan tidak hanya membahayakan kita secara fisik tetapi juga sangat memengaruhi kesejahteraan emosional dan psikologis kita.
Banyak penyintas kekerasan dalam rumah tangga mengalami kecemasan, depresi, PTSD (Gangguan Stres Pasca Trauma), dan masalah kesehatan mental lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa trauma psikologis dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik, terutama jika tidak ditangani (Herman, 1992). Memahami dampak trauma adalah langkah pertama menuju penyembuhan.
Dampak Utama Kekerasan Dalam Rumah Tangga terhadap Kesehatan Mental dilansir dari headroom.co.za
Kecemasan dan Ketakutan : Hidup dalam ketakutan yang terus-menerus dapat menyebabkan kecemasan kronis, sehingga sulit untuk mempercayai orang lain atau merasa aman.
Depresi : Para penyintas sering merasa tidak berdaya atau terjebak, yang dapat menyebabkan perasaan sedih dan putus asa yang mendalam.
Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD) : Kilas balik, mimpi buruk, dan kewaspadaan berlebihan adalah gejala umum PTSD pada penyintas kekerasan dalam rumah tangga.
Tips Penting : Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, sangat penting untuk mencari bantuan profesional. Pemulihan trauma bukanlah sesuatu yang seharusnya dihadapi seseorang sendirian.
Berikut Tips Mengatasi Dampak Trauma Kekerasan
1. Mengenali dan Memproses Emosi Anda
Bagi para penyintas kekerasan dalam rumah tangga, menekan emosi adalah hal yang umum untuk mengatasi pelecehan tersebut. Namun, emosi yang tidak ditangani dapat menyebabkan trauma psikologis yang berkepanjangan. Mengakui dan memproses perasaan Anda—baik melalui menulis jurnal, terapi, atau berbicara dengan kelompok dukungan dapat membantu Anda memulai proses penyembuhan.
2. Membangun Jaringan Dukungan
Para penyintas kekerasan dalam rumah tangga sering merasa terisolasi dan kesepian. Membangun jaringan dukungan yang kuat dari teman-teman tepercaya, anggota keluarga, atau kelompok dukungan dapat membantu mengurangi isolasi ini. Dukungan emosional sangat penting dalam membantu para penyintas membangun kembali kepercayaan diri dan harga diri mereka.
3. Mempraktikkan Welas Asih Diri
Belas kasih terhadap diri sendiri sangat penting dalam menghadapi trauma psikologis. Para penyintas mungkin merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri atas pelecehan tersebut. Penting untuk diingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukanlah kesalahan korban. Mempraktikkan belas kasih terhadap diri sendiri—bersikap baik kepada diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan mengakui kekuatan diri—dapat sangat menyembuhkan.
4. Mencari Bantuan Profesional
Terapi dan konseling merupakan alat penting dalam pemulihan dari trauma. Para profesional kesehatan mental dapat menyediakan mekanisme penanggulangan, dukungan emosional, dan ruang aman untuk memproses pengalaman Anda. Terapi perilaku kognitif (CBT), terapi yang berfokus pada trauma, dan EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) adalah semua pengobatan berbasis bukti untuk trauma.
Lil Nas X Siapkan Musik Baru Usai Hiatus dan Fokus Pulihkan Kesehatan Mental
Lil Nas X kembali ke musik usai hiatus untuk pulihkan kesehatan mental, dengan karya baru yang diprediksi rilis akhir 2026 atau awal 2027. [359] url asal
#lil-nas-x #musik-baru #kesehatan-mental #hiatus-lil-nas-x #comeback-lil-nas-x #old-town-road #bipolar-disorder #terapi-lil-nas-x #proyek-musik-lil-nas-x #rehabilitasi-lil-nas-x #industri-musik #monter
(Bisnis.Com - Terbaru) 20/06/26 20:08
v/255352/
Bisnis.com, JAKARTA — Penyanyi dan rapper Lil Nas X mengisyaratkan akan segera kembali ke industri musik setelah menjalani masa hiatus yang cukup panjang.
Melalui video berdurasi sekitar tiga menit yang diunggah di Instagram pada 17 Juni 2026, pelantun Old Town Road itu mengonfirmasi bahwa karya baru sedang dipersiapkan. Kabar tersebut langsung disambut antusias oleh para penggemarnya yang telah menantikan proyek musik terbaru dari sang musisi.
Dalam video tersebut, Lil Nas X mengatakan bahwa terdapat "musik baru yang akan datang" dan "musik baru di horizon". Namun, dia belum mengungkapkan jadwal perilisan secara rinci.
Musisi bernama asli Montero Lamar Hill itu menjelaskan bahwa fokus utamanya saat ini belum sepenuhnya kembali ke musik. Karena itu, belum ada kepastian kapan karya terbarunya akan dirilis.
Meski demikian, pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa musik baru Lil Nas X kemungkinan akan hadir pada akhir 2026 atau awal 2027, seiring dengan proses pemulihan dan persiapan yang masih dijalaninya.
Kabar comeback tersebut datang setelah Lil Nas X menjalani rehabilitasi selama beberapa bulan dan menerima diagnosis bipolar disorder. Dalam video yang sama, dia mengaku kondisi mentalnya kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Lil Nas X mengatakan dirinya kini memiliki rasa takut yang lebih sedikit dan merasa lebih nyaman setelah menjalani terapi secara rutin bersama terapis pribadinya.
Perjalanan kesehatan mental tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah musikalitas karya terbarunya. Banyak penggemar menilai proyek comeback kali ini berpotensi menghadirkan tema yang lebih personal dan reflektif dibandingkan karya-karya sebelumnya.
Sebelum kembali aktif di dunia musik, Lil Nas X memilih untuk memprioritaskan proses pemulihan diri. Dia mengungkapkan tengah berupaya menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang, membangun kembali keseimbangan, serta menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa comeback kali ini akan dilakukan secara bertahap, berbeda dengan pola perilisan agresif yang pernah mewarnai fase awal kariernya.
Dari sisi industri, kembalinya Lil Nas X menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Peraih dua Grammy Awards tersebut dikenal melalui sejumlah lagu hit global seperti Old Town Road, Montero (Call Me By Your Name), dan Panini.
Meski sempat vakum akibat persoalan kesehatan mental dan sejumlah tantangan pribadi, Lil Nas X masih dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di industri musik populer saat ini.
Hilangkan Stigma Penyandang Disabilitas Mental, Pemkot Malang Luncurkan Rumah Pijar
Pemkot Malang luncurkan Rumah PIJAR untuk dukung penyandang disabilitas mental, hilangkan stigma, dan perkuat layanan kesehatan jiwa inklusif. [441] url asal
#disabilitas-mental #rumah-pijar #stigma-disabilitas #layanan-kesehatan-mental #pemerintah-kota-malang #pendampingan-disabilitas #kesehatan-jiwa #psikolog-klinis #puskesmas-malang #inovasi-sosial #kelu
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/06/26 16:15
v/254638/
Bisnis.com, MALANG — Pemerintah Kota Malang terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan untuk penyandang disabilitas mental dengan meluncurkan Program Rumah PIJAR (Rumah Peduli Jiwa dan Rasa).
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, mengapresiasi inovasi yang diinisiasi Dinas Sosial P3AP2KB tersebut. Rumah PIJAR merupakan wujud nyata kehadiran Pemerintah Kota Malang dalam memberikan pelayanan untuk kelompok rentan. Terlebih, sambungnya, inovasi ini menjadi sejalan dengan Dasa Bakti Ngalam Tahes dan Ngalam Ngopeni.
"Arah pembangunan kami tidak memilih dan memilah, seluruh masyarakat di Kota Malang berhak merasakan arah pembangunan inklusif tanpa membedakan. Tentu ini menjadi tanggung jawab kami dalam memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas mental yang berada di tengah keluarga," ucap Wawali Ali pada peluncuran Rumah Pijar, Kamis (18/6/2026).
Ia menegaskan penanganan masalah kesehatan jiwa memerlukan kolaborasi lintas sektor agar penyandang disabilitas mental dan keluarganya memperoleh pendampingan yang menyeluruh.
Melalui Rumah PIJAR, para penyandang disabilitas mental kembali dihimpun untuk mendapatkan layanan kesehatan fisik, mental, spiritual, dan sosial dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah hingga pemerintah wilayah setempat. Selain itu, masyarakat juga diminta melaporkan warga yang membutuhkan pendampingan agar dapat segera ditindaklanjuti.
Selain itu, Wawali Ali juga mengusulkan penguatan layanan psikolog klinis di setiap puskesmas.
"Untuk mempermudah masyarakat berkonsultasi terkait kesehatan mental. Di perkotaan, persoalan kesehatan mental sudah menjadi masalah yang umum. Tentu ini menjadi masukan sekaligus kebutuhan yang kami lihat, agar masyarakat mendapatkan layanan pendampingan dan konsultasi yang layak serta dapat diakses secara gratis," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas SosialPemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana P2AP3KB Kota Malang, Donny Sandito, inisiator Rumah PIJAR, menyebut program ini mengedepankan pendekatan pendampingan berbasis keluarga sebagai upaya mendukung pemulihan penyandang disabilitas mental (PDM) sekaligus mengurangi stigma negatif yang masih berkembang di masyarakat.
Menurutnya, program ini lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan layanan yang lebih komprehensif bagi PDM melalui penguatan keluarga.
"Data Dinas Kesehatan menunjukkan masyarakat yang berobat ke layanan kejiwaan sekitar 3.700 orang, kemudian yang mendapatkan obat lanjutan sebanyak 1.600 orang. Dari data tersebut kami mengasumsikan ada sekitar 1.600 penyandang disabilitas mental di Kota Malang," jelasnya.
Menurutnya. h satu tantangan dalam penanganan penyandang disabilitas mental adalah masih kuatnya stigma masyarakat serta tidak sedikit keluarga yang menutup kondisi anggota keluarganya karena menganggapnya sebagai aib. Sehingga akses terhadap pelayanan dan bantuan pemerintah menjadi tidak optimal.
Melalui Rumah PIJAR, pemerintah berupaya menghilangkan stigma tersebut dengan mengintervensi keluarga terlebih dahulu agar kebutuhan PDM dapat dipetakan dan intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran.
"Secara kewenangan, pemerintah daerah menangani penyandang disabilitas mental yang terlantar. Namun melalui Rumah PIJAR kami menarik intervensi lebih awal, yaitu dengan memperkuat keluarganya. Harapannya, mereka tetap memperoleh hak-haknya melalui keluarganya, dan tidak sampai berada dalam kondisi terlantar atau agresif," ucapnya.
5 Kiat Jaga Mental Tetap Sehat di Tengah Tekanan Bisnis dan Ekonomi
ekanan bisnis bisa memengaruhi kesehatan mental. Simak 5 cara menjaga mental tetap sehat agar tetap produktif dan mampu mengambil keputusan terbaik. [509] url asal
#kesehatan-mental-pebisnis #cara-menjaga-kesehatan-mental #tips-bisnis #mental-entrepreneur #burnout-pengusaha #stres-bisnis #kesehatan-mental-kerja #produktivitas-bisnis #pengusaha-sukses #ma
Jakarta: Menjalankan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya penjualan menurun, biaya operasional naik, pasar berubah cepat, hingga ketidakpastian ekonomi global membuat banyak pelaku usaha harus bekerja ekstra keras.Di tengah tekanan tersebut, kesehatan mental sering kali menjadi aspek yang terlupakan. Padahal, kondisi psikologis yang stabil justru menjadi modal penting bagi pengusaha untuk tetap fokus, produktif, dan mampu mengambil keputusan yang tepat.
Saat mental terjaga, pebisnis akan lebih siap menghadapi tantangan, beradaptasi dengan perubahan, dan menemukan peluang baru meski kondisi pasar sedang tidak ideal.
Mengapa kesehatan mental penting bagi pebisnis?
Menjaga kesehatan mental bukan hanya soal kesejahteraan pribadi. Dampaknya juga sangat besar terhadap performa bisnis.Melansir laman BCA Prioritas, Sabtu, 13 Juni 2026, sebuah studi yang dipublikasikan Frontiers in Psychology terhadap 217 pengusaha menemukan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan positif dengan efisiensi dan operasional usaha.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan PubMed menunjukkan bahwa tekanan mental yang tinggi dapat menurunkan produktivitas, kualitas pengambilan keputusan, hingga performa kerja secara keseluruhan.
Artinya, menjaga kesehatan mental bukan lagi sekadar kebutuhan pribadi, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
1. Kenali sumber stres sejak awal
Menjadi pemilik bisnis berarti harus siap menghadapi berbagai risiko, mulai dari masalah keuangan, persaingan pasar, hingga tekanan operasional sehari-hari.Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali sumber stres yang paling sering muncul.
Dengan memahami apa yang menjadi pemicu tekanan, kamu bisa menyusun solusi yang lebih rasional dan terukur dibanding bereaksi secara emosional.
2. Tetapkan batas antara kerja dan waktu pribadi
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah bekerja tanpa mengenal waktu.Padahal, penelitian menunjukkan bahwa batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat dapat membantu mengurangi risiko burnout sekaligus meningkatkan produktivitas.
Meski bisnis sedang menghadapi tekanan, usahakan tetap memiliki waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan aktivitas yang disukai.
3. Jaga pola hidup sehat
Tubuh yang sehat akan membantu pikiran tetap stabil saat menghadapi tekanan bisnis. Penelitian dari Aston University menemukan bahwa pengusaha yang memiliki pola hidup sehat cenderung memiliki daya tahan mental atau resilience yang lebih baik dibandingkan mereka yang mengabaikan kesehatan fisik.4. Bangun lingkaran dukungan yang positif
Menjalankan bisnis sendirian sering kali membuat seseorang merasa terisolasi. Karena itu, penting untuk memiliki mentor, komunitas bisnis, atau teman diskusi yang bisa menjadi tempat bertukar pikiran saat menghadapi tantangan.Dukungan sosial terbukti mampu membantu menjaga kestabilan mental dan memberikan perspektif baru terhadap masalah yang sedang dihadapi. Tidak jarang solusi terbaik justru muncul dari pengalaman orang lain yang pernah mengalami situasi serupa.
5. Jangan samakan nilai diri dengan hasil bisnis
Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan pengusaha adalah menganggap kegagalan bisnis sebagai kegagalan pribadi. Padahal, naik turunnya performa usaha merupakan bagian alami dari perjalanan bisnis.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pebisnis yang mampu memisahkan identitas diri dari hasil bisnis cenderung lebih tenang, objektif, dan cepat bangkit ketika menghadapi kegagalan.
Ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, menjaga kesehatan mental bisa menjadi investasi yang sama pentingnya dengan mengelola keuangan atau strategi pemasaran. Mental yang kuat membantu pengusaha tetap fokus, adaptif, dan mampu melihat peluang di tengah tekanan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)
Pemprov Kepri Siapkan Program Dukungan Kesehatan Mental Pekerja
Pemprov Kepri berencana memperkuat dukungan kesehatan mental pekerja dengan program edukasi dan kolaborasi, termasuk kerja sama dengan IDI, untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan. [426] url asal
#kesehatan-mental-pekerja #dukungan-kesehatan-mental #perlindungan-tenaga-kerja #produktivitas-tenaga-kerja #kesehatan-mental-kepri #program-kesehatan-mental #layanan-kesehatan-mental #konsultasi-psiko
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/06/26 08:40
v/240665/
Bisnis.com, BATAM - Kasus gangguan psikologis yang menimpa sejumlah pekerja mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri memperluas perlindungan ketenagakerjaan, tidak hanya melalui SMK3 tetapi juga dengan menyiapkan dukungan kesehatan mental bagi tenaga kerja.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berkomitmen memperkuat perlindungan tenaga kerja dengan tidak hanya berfokus pada aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), tetapi juga kesehatan mental para pekerja di daerah tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepri Diki Wijaya mengatakan kesehatan mental menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi produktivitas tenaga kerja dan keberlangsungan dunia usaha.
Menurut dia, pekerja yang memiliki kondisi mental yang sehat akan mampu bekerja lebih optimal sehingga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
"Pekerja yang sehat secara mental merupakan kunci produktivitas yang tinggi dan kemajuan ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah hadir untuk memastikan hak-hak kesejahteraan psikologis tenaga kerja juga mendapatkan perhatian yang baik," kata Diki belum lama ini.
Ia mengatakan Pemprov Kepri terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan pekerja melalui berbagai program edukasi serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Diki menilai persoalan kesehatan mental di lingkungan kerja tidak boleh dipandang sebelah mata. Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, hingga masalah pribadi dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang dan berdampak pada kinerja maupun keselamatan kerja.
Karena itu, selain menguatkan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), pemerintah juga mulai membahas langkah-langkah untuk meningkatkan layanan kesehatan mental bagi pekerja di Kepri.
Menurut dia, salah satu opsi yang sedang dikaji adalah menjalin kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepulauan Riau guna menghadirkan layanan konsultasi dan pendampingan psikologis bagi tenaga kerja.
"Kami sedang membahas kemungkinan bekerja sama dengan IDI Kepri, termasuk apakah nantinya diperlukan layanan atau klinik khusus untuk membantu pekerja yang mengalami masalah kesehatan mental," ujarnya.
Diki mengatakan layanan tersebut diharapkan dapat diakses secara mudah oleh pekerja sehingga mereka memiliki ruang untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi tekanan psikologis.
Ia menegaskan kesehatan mental yang terjaga akan berdampak langsung terhadap kualitas pekerjaan, produktivitas perusahaan, serta keselamatan di tempat kerja.
"Kalau seseorang mengalami stres berkepanjangan dan kesehatan mentalnya terganggu, tentu hasil kerjanya juga tidak akan optimal. Karena itu persoalan ini perlu menjadi perhatian bersama," katanya.
Menurut Diki, sejumlah peristiwa yang diduga berkaitan dengan tekanan mental, termasuk kasus pekerja yang mengalami gangguan psikologis hingga berujung pada tindakan yang membahayakan diri sendiri, menjadi pengingat pentingnya sistem dukungan kesehatan mental yang lebih kuat.
"Bahkan ada yang sampai loncat dari jembatan Barelang karena stres kerja," kata dia.
Untuk itu, Pemprov Kepri berencana menjadikan isu kesehatan mental pekerja sebagai salah satu agenda pembahasan bersama para pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha, organisasi profesi, dan instansi terkait.
AI dan Kesehatan Mental
Studi ungkap anak muda Indonesia banyak alami quarter-life crisis dan mengandalkan chatbot AI sebagai teman bicara untuk menjaga kesehatan mental mereka. [909] url asal
#kesehatan-mental #artificial-intelligence #ai #media-sosial #chatbot-ai #anak-muda #indonesia-ai-report-2025 #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 22/05/26 06:05
v/228382/
Setiap malam, jutaan anak muda membuka layar bukan untuk menghubungi orang lain melainkan untuk berbicara dengan mesin. Mereka mencurahkan perasaannya kepada chatbot AI: berbagi kesepian, kecemasan, dan keputusasaan kepada pendamping digital yang selalu ada dan tidak pernah menghakimi.
Di Indonesia, gejalanya tidak berbeda. Indonesia AI Report 2025 mencatat 69% pengguna AI di kota-kota besar berinteraksi dengan chatbot lebih dari tiga kali dalam sepekan.
Angka itu terlihat biasa sampai dibaca bersama temuan lain. Studi Robinson (2025) yang melibatkan 2.247 anak muda dari delapan negara menemukan bahwa tiga dari empat anak muda Indonesia pernah mengalami quarter-life crisis angka tertinggi di antara semua negara yang diteliti, termasuk India, Brasil, dan Turki.
Yang lebih penting dari angkanya adalah karakternya: tiga emosi yang paling dominan dalam krisis anak muda Indonesia adalah kebingungan dan ketidakpastian (29,8%), kecemasan (30,7%), dan evaluasi diri negatif (28,8%). Ini adalah profil orang yang kebingungan dan bisa jadi tersesat.
Dan AI, dengan seluruh kemampuannya merangkai kata, adalah mesin yang paling mahir berpura-pura punya jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh siapa pun kecuali diri sendiri.
Mesin yang Selalu Menjawab
AI adalah mesin perangkai kata. Cara kerjanya sederhana: membaca miliaran kalimat manusia, lalu merangkainya kembali sesuai pola pertanyaan yang masuk.
Ketika seseorang mengetikkan “aku merasa sendirian,” AI tidak merasakan apa pun. Ia hanya mengenali pola dan merespons dengan kata-kata yang secara statistik paling sering mengikuti kalimat seperti itu. Itulah yang membuatnya berbahaya sekaligus menarik.
AI selalu menjawab. Tidak pernah lelah. Tidak pernah menghakimi. Tidak pernah meminta giliran bicara. Bagi 15,5 juta remaja Indonesia yang mengalami masalah kesehatan mental (I-NAMHS, 2022) sementara hanya 2,6% dari mereka yang benar-benar mengakses layanan konseling sebuah mesin yang selalu menjawab terasa seperti berkah.
Di Amerika Serikat, hampir separuh anak muda usia 18–25 tahun dengan kebutuhan kesehatan mental tidak mendapatkan penanganan apa pun tahun lalu. Di Indonesia, dengan keterbatasan layanan yang jauh lebih dalam, angkanya bisa lebih buruk. Berkah itu nyata tapi ia bekerja seperti pereda nyeri: meredam gejala cukup lama hingga kita lupa bahwa lukanya belum diobati.
Survei APJII (2025) menunjukkan kontradiksi yang mengkhawatirkan: 43,7% pengguna AI di Indonesia adalah Gen Z kelompok tertinggi di antara semua generasi sementara indeks literasi AI mereka hanya 49,96 dari 100, masuk kategori buruk.
Ketua APJII Muhammad Arif Angga menyatakan masalahnya secara langsung: banyak pengguna hanya bisa memakai AI, tetapi tidak bisa membedakan antara keputusan AI dan keputusan manusia (APJII, 2025).
Tanpa pemahaman tentang cara kerja AI, pengguna tidak bisa mengenali batas antara alat dan teman. Dan AI, yang dirancang untuk merespons secara personal, dengan cepat mengisi ruang itu bukan sebagai alat, melainkan sebagai konselor, bahkan pengganti hubungan manusia.
Kekosongan yang Diisi Mesin
AI memiliki dua kelemahan yang jarang disadari penggunanya: ia rentan halusinasi, dan ia dirancang untuk terus-menerus menyenangkan bukan menantang. Kombinasi keduanya menciptakan ketergantungan yang tinggi dan tidak sehat. Mesin yang tidak pernah berkata "tidak" tidak akan pernah bisa membantu seseorang tumbuh.
Di Amerika Serikat, kematian Adam Raine, remaja 16 tahun yang menjalin komunikasi intens dengan platform AI selama berbulan-bulan sebelum mengakhiri hidupnya memicu gugatan hukum terhadap provider AI dan perdebatan nasional tentang tanggung jawab platform AI. Rasanya Indonesia belum sampai di sana.
Indonesia masih meregulasi AI di level konten mengawasi apa yang dikatakan, bukan bagaimana sistem dirancang untuk berkata. Padahal sebagian besar risiko tidak lahir dari konten yang lolos sensor, melainkan dari desain sistem yang sejak awal dioptimasi untuk membuat pengguna terus kembali.
Dari 8.700 responden yang disurvei APJII, banyak pelajar sudah menjadikan chatbot sebagai tempat curhat: bukan karena AI lebih baik dari manusia, tapi karena manusia yang seharusnya ada, tidak tersedia. Dan ketika negara tidak hadir, mesin yang mengisi kekosongan itu tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban karena kita belum punya hukum untuk melakukannya.
Masalah ini bukan tentang melarang AI. Masalahnya ada pada kekosongan yang menyebabkan AI menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir. Ada tiga yang perlu diisi bersamaan.
Pertama, kekosongan layanan. Pemerintah perlu mempercepat target 50 persen puskesmas dengan layanan kesehatan jiwa sebuah target yang diakui menghadapi tantangan besar karena 60–70 persen psikolog dan psikiater terkonsentrasi di Jakarta, bahkan ada provinsi yang hanya memiliki satu psikolog (Antara, 2024). Selama layanan hanya tersedia di kota besar, remaja akan terus memilih mesin yang selalu tersedia.
Kedua, kekosongan literasi. Generasi yang tidak bisa membedakan keputusan AI dari keputusan manusia adalah generasi yang paling rentan dimanipulasi secara emosional oleh sistem yang dirancang untuk menyenangkan, bukan untuk membantu bertumbuh. Literasi AI harus masuk kurikulum bukan sebagai mata pelajaran teknologi, melainkan sebagai soft skill berpikir kritis.
Ketiga, kekosongan regulasi. Rancangan Perpres tentang AI yang ditargetkan terbit September 2025 hingga April 2026 masih menunggu penandatanganan di Sekretariat Negara (Komdigi, 2026). Yang lebih mengkhawatirkan: dalam draf yang sudah selesai itu, chatbot empatik tidak disebut. Ia terlalu rendah risikonya untuk diatur secara khusus tapi terlalu dekat dengan kehidupan remaja untuk diabaikan.
Penutup
Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal berapa banyak unicorn yang lahir atau berapa persen pertumbuhan ekonomi yang dicapai tetapi juga tentang generasi yang sehat. Tapi data bercerita sebaliknya: jutaan remaja membutuhkan layanan kesehatan mental, hanya 2,6 persen yang mengaksesnya, dan yang paling banyak menjangkau mereka justru AI.
Bukan karena AI lebih baik. Tapi karena kita belum selesai membangun hal yang jauh lebih tua dari AI: sistem yang membuat manusia merasa cukup dilihat, cukup didengar, dan cukup didampingi untuk bisa tumbuh.
Regulasi AI belum terbit. Layanan kesehatan jiwa belum merata. Literasi digital masih di bawah rata-rata. Tiga kekosongan, satu generasi, dan waktu yang terus berjalan.
Zero Post Jadi Tren Baru Gen Z di Tengah Tekanan Media Sosial
Tren "zero post" di kalangan Gen Z muncul akibat tekanan media sosial, membuat mereka lebih memilih menjaga privasi dan mengurangi unggahan pribadi untuk kesehatan mental. [524] url asal
#zero-post #tren-zero-post #generasi-z #tekanan-media-sosial #aktivitas-pribadi #privasi-media-sosial #kesehatan-mental #posting-zero #kyle-chayka #media-sosial-global #penurunan-penggunaan #tekanan-in
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/05/26 02:50
v/227063/
Bisnis.com, JAKARTA — Tren zero post di media sosial mulai banyak dilakukan generasi Z yang memilih mengurangi aktivitas membagikan kehidupan pribadi di media sosial. Kondisi ini muncul ketika banyak pengguna mulai merasa lelah dengan tekanan untuk terus tampil aktif, menarik, dan sempurna di internet.
Meski media sosial masih digunakan setiap hari, aktivitas mengunggah foto, cerita, atau pembaruan kehidupan kini mulai menurun. Banyak pengguna memilih hanya melihat konten tanpa lagi rutin membagikan aktivitas pribadinya kepada publik.
Perubahan kebiasaan tersebut perlahan memengaruhi cara generasi Z berinteraksi di internet. Jika sebelumnya media sosial menjadi tempat untuk membagikan hampir seluruh aktivitas sehari-hari, kini sebagian anak muda justru mulai merasa lebih nyaman menjaga privasi dan membatasi eksposur diri.
Menurut laporan Financial Times, penggunaan media sosial global turun hingga 10 persen. Survei terhadap 250.000 pengguna internet di 50 negara itu menunjukkan penurunan paling besar terjadi pada kelompok usia muda, termasuk generasi Z yang selama ini dikenal paling aktif di dunia digital.
Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan istilah “zero post”. Istilah ini diperkenalkan penulis Kyle Chayka melalui kolom Infinite Scroll di majalah The New Yorker untuk menggambarkan menurunnya kebiasaan orang membagikan kehidupan pribadi secara terbuka di media sosial.
Kyle Chayka menilai media sosial saat ini sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Linimasa yang sebelumnya dipenuhi unggahan sederhana dari teman kini lebih banyak berisi iklan, konten viral berulang, hingga unggahan buatan kecerdasan buatan atau AI.
“Kita mungkin sedang menuju Posting Zero, ketika orang biasa mulai berhenti membagikan hidup mereka di media sosial karena lelah dengan kebisingan dan tekanan di internet,” tulis Kyle, dikutip Senin (18/5/2026).
Kondisi tersebut juga dinilai berkaitan dengan kesehatan mental generasi Z yang semakin banyak mendapat tekanan dari media sosial. Tidak sedikit pengguna muda merasa harus selalu terlihat produktif, bahagia, sukses, dan menarik demi mendapatkan perhatian serta validasi dari orang lain.
Tekanan untuk terus tampil sempurna itu membuat sebagian generasi Z mulai merasa lelah secara emosional. Akibatnya, banyak pengguna memilih lebih pasif di media sosial agar tidak terus-menerus merasa dibandingkan dengan kehidupan orang lain di internet.
Psikolog klinis sekaligus pendiri Sentier Wellness Mumbai, dr. Rimpa Sarkar, menyebut posting zero merupakan keputusan sadar seseorang untuk tidak lagi membagikan kehidupan pribadinya di media sosial. Meski begitu, pengguna tetap bisa aktif melihat konten atau berkomunikasi secara pribadi.
“Banyak orang merasa lelah secara mental karena terus harus membentuk citra diri di internet,” ujarnya.
Psikoterapis asal Delhi, Yuvika Dutta, mengatakan sebagian pengguna bahkan mulai mengunggah konten kosong seperti layar putih, video tanpa suara, atau unggahan tanpa keterangan sebagai bentuk ekspresi emosional. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi cara sebagian orang untuk menunjukkan perasaan tanpa harus menjelaskan apa yang sedang dialami.
“Kadang seseorang hanya ingin diam dan bernapas sejenak tanpa harus menjelaskan semuanya di media sosial,” ujarnya.
Fenomena posting zero juga disebut berkaitan dengan meningkatnya keinginan generasi muda untuk menjaga privasi dan kesehatan mental. Banyak orang mulai merasa hidup terasa lebih tenang ketika tidak lagi terus-menerus membagikan aktivitas pribadi kepada publik.
Meski dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan akibat tekanan media sosial, ahli mengingatkan tren tersebut tetap perlu dilakukan secara sehat. Posting zero dinilai baik jika menjadi cara untuk beristirahat dari tekanan digital, bukan sebagai bentuk menarik diri dari kehidupan sosial.
Survei: Gen Z dan Milenial Ingin Tempat Kerja Fleksibel dan Bermakna
Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang fleksibel. [1,377] url asal
#dunia-kerja #lingkungan-kerja #milenial #kesehatan-mental #gen-z #indepth
(Kompas.com - Money) 19/05/26 08:18
v/224475/
JAKARTA, KOMPAS.com - Gen Z dan milenial semakin mengubah cara pandang dunia kerja.
Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang memberi fleksibilitas, mendukung kesehatan mental, memiliki tujuan yang jelas, dan memungkinkan keseimbangan hidup.
Temuan itu tergambar dalam Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
MAGNIFIC/TEKSOMOLIKA Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Survei tersebut menunjukkan generasi muda kini memandang karier dengan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Deloitte mencatat, Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai ketidakpastian, mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya biaya hidup, perubahan teknologi yang cepat, hingga meningkatnya risiko burnout di dunia kerja. Situasi itu membentuk ekspektasi baru terhadap tempat kerja ideal.
Chief People & Purpose Officer Deloitte Global Elizabeth Faber mengatakan, Gen Z dan milenial kini memilih jalur karier yang dianggap lebih berkelanjutan dibanding sekadar mengejar ambisi tanpa batas.
“Mereka memilih apa yang berkelanjutan, bukan sekadar performatif, dan menyelaraskan pilihan hidup dengan kondisi realistis dibanding timeline tradisional,” ungkap Faber dalam laporan tersebut.
Work-life balance jadi prioritas
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari cara Gen Z dan milenial memandang kesuksesan karier. Kenaikan jabatan cepat tidak lagi menjadi tujuan utama.
Dalam survei Deloitte, hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih perkembangan karier yang stabil dan seimbang.
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih menyukai kemajuan karier yang stabil.
Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang memilih pertumbuhan cepat lewat promosi dan kenaikan jabatan.
Bahkan sekitar 20 persen responden mengaku bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi memperoleh pengalaman yang dianggap penting untuk kesuksesan jangka panjang.
Integrated Marketing and Communications Executive sekaligus Adjunct Professor untuk Texas Christian University dan University of Dallas Megan Korns Russell menilai generasi muda kini tidak ingin hidupnya hanya berpusat pada pekerjaan.
“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell.
Pandangan serupa juga muncul dari responden survei. Seorang responden Gen Z bernama Nita mengatakan dirinya ingin pekerjaan yang bermakna tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.
“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” tutur dia.
Burnout bikin generasi muda enggan jadi pemimpin
Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa banyak Gen Z dan milenial memandang posisi kepemimpinan identik dengan tekanan kerja berlebihan.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaSebanyak 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial menyebut stres dan burnout sebagai alasan utama mereka tidak memprioritaskan posisi kepemimpinan.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai tanggung jawab yang terlalu besar menjadi hambatan untuk mengejar posisi tersebut.
Kekhawatiran soal keseimbangan hidup dan pekerjaan juga menjadi faktor penting. Sebanyak 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial mengaku enggan mengejar jabatan tinggi karena takut kehilangan work-life balance.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan generasi muda sebenarnya tetap tertarik menjadi pemimpin, tetapi dengan syarat lingkungan kerja mendukung kualitas hidup mereka.
“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” papar Canning.
Meski demikian, minat menjadi pemimpin dalam jangka panjang masih tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi kepemimpinan senior di masa depan.
Namun, mereka ingin jalur menuju posisi tersebut lebih jelas dan fleksibel. Faktor yang dianggap dapat meningkatkan minat terhadap posisi kepemimpinan antara lain kompensasi lebih tinggi, fleksibilitas kerja, dan kejelasan jalur karier.
Senior Vice President sekaligus Global Head of SAP Next Gen SAP Soledad Alvarado Ganzhorn mengatakan Gen Z dan milenial ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri.
“Mereka ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri,” terang Ganzhorn.
Lingkungan kerja harus punya makna
Selain fleksibilitas, rasa memiliki tujuan atau purpose menjadi elemen penting dalam lingkungan kerja ideal bagi generasi muda.
Sebanyak 96 persen Gen Z dan 97 persen milenial mengatakan memiliki tujuan dalam pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
PEXELS/IVAN S Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Bahkan sekitar 40 persen responden mengaku pernah menolak calon pemberi kerja karena tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi mereka.
Selain itu, 68 persen Gen Z dan 72 persen milenial merasa pekerjaan mereka saat ini memungkinkan mereka memberi kontribusi bermakna bagi masyarakat.
Deloitte menilai generasi muda kini semakin mempertimbangkan nilai dan tujuan perusahaan dalam mengambil keputusan karier.
“Tujuan tetap menjadi inti,” tulis Deloitte dalam laporan tersebut.
Relasi sosial di kantor juga penting
Lingkungan kerja ideal bagi Gen Z dan milenial juga mencakup hubungan sosial yang sehat di tempat kerja.
Sekitar dua pertiga responden dari kedua generasi mengatakan mereka memiliki setidaknya satu teman dekat di tempat kerja. Temuan Deloitte menunjukkan hubungan sosial di kantor berpengaruh terhadap loyalitas karyawan.
Di kalangan Gen Z, mereka yang memiliki pertemanan dekat di kantor 15 poin lebih mungkin bertahan di perusahaan lebih dari lima tahun dibanding yang tidak memiliki teman dekat di tempat kerja. Pada kelompok milenial, selisihnya mencapai 18 poin.
Menurut Deloitte, koneksi sosial kini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan pekerja muda.
Kesehatan mental jadi perhatian utama
Meski kondisi kesehatan mental generasi muda menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya, stres masih menjadi pengalaman sehari-hari bagi banyak pekerja muda.
freepik Ilustrasi kesehatan mental di tempat kerjaSebanyak 63 persen Gen Z dan 66 persen milenial menilai kesehatan mental mereka dalam kondisi baik atau sangat baik, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun, sekitar sepertiga responden masih mengaku merasa cemas atau stres hampir sepanjang waktu.
Tekanan finansial dan jam kerja panjang menjadi pemicu utama stres tersebut. Selain itu, kelelahan digital juga makin umum terjadi.
Lebih dari separuh Gen Z, yakni 58 persen, serta 54 persen milenial mengaku mengalami digital fatigue akibat terlalu banyak notifikasi dan penggunaan berbagai platform digital secara bersamaan.
Deloitte mencatat bahwa kompleksitas digital justru sering memperbesar tekanan kerja dibanding mengurangi beban pekerjaan.
Fleksibilitas dan pembelajaran jadi daya tarik
Gen Z dan milenial juga menginginkan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran berkelanjutan.
Dalam survei tersebut, kemampuan yang paling ingin mereka kembangkan meliputi public speaking, kepemimpinan, kemahiran AI, komunikasi, dan kreativitas.
Deloitte menilai generasi muda kini memandang kemampuan beradaptasi sebagai strategi penting untuk bertahan di dunia kerja yang terus berubah.
“Kemampuan beradaptasi telah menjadi kemampuan inti,” tulis Deloitte.
Perusahaan pun dinilai perlu menciptakan budaya belajar yang terus berjalan dalam aktivitas kerja sehari-hari, bukan sekadar pelatihan sesekali.
Selain itu, fleksibilitas kerja tetap menjadi salah satu faktor utama yang dicari generasi muda. Deloitte menyebut biaya tempat tinggal, ongkos transportasi, dan tanggung jawab pengasuhan membuat fleksibilitas kerja semakin penting dalam menentukan pilihan karier.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.Survei ini menunjukkan, bagi Gen Z dan milenial, lingkungan kerja ideal adalah tempat yang memungkinkan mereka berkembang tanpa kehilangan keseimbangan hidup, memiliki tujuan yang jelas, memperoleh dukungan kesehatan mental, serta memberi ruang untuk terus belajar dan beradaptasi.
Survei Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan terhadap lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
Responden terdiri dari generasi Z yang lahir pada 1995-2007 dan milenial yang lahir pada 1983-1994.
Selain survei kuantitatif, laporan ini juga dilengkapi wawancara kualitatif dengan para pemimpin bisnis di berbagai negara untuk menangkap pandangan mengenai dunia kerja, kepemimpinan, dan perubahan ekspektasi tenaga kerja muda.
Deloitte menyebut survei ini merupakan edisi ke-15 sejak pertama kali diluncurkan dengan nama “The Voice of Millennials”.
Awalnya, riset tersebut berfokus pada masuknya generasi milenial ke dunia kerja dan bagaimana mereka mulai mengubah hubungan antara pekerja dan perusahaan. Ketika Gen Z mulai memasuki pasar kerja beberapa tahun kemudian, Deloitte memperluas cakupan survei untuk memasukkan perspektif generasi tersebut.
Dalam laporan tahun 2026 ini, Deloitte menyoroti bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, kehidupan pribadi, kepemimpinan, kesehatan mental, penggunaan AI, hingga tujuan hidup di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan teknologi yang cepat.
Survei juga memetakan perubahan ekspektasi generasi muda terhadap lingkungan kerja, termasuk kebutuhan akan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan makna dalam pekerjaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Gen Z dan milenial justru lebih memilih jalur karier yang dianggap lebih realistis, sehat, dan berkelanjutan. [1,245] url asal
#karier #milenial #kesehatan-mental #indepth #gen-z #tujuan-karier #biaya-hidup
(Kompas.com - Money) 17/05/26 14:56
v/222918/
JAKARTA, KOMPAS.com - Cara generasi muda memandang karier mulai berubah.
Jika dulu kesuksesan identik dengan jabatan tinggi dan kenaikan posisi yang cepat, kini banyak pekerja Gen Z dan milenial justru lebih memilih jalur karier yang dianggap lebih realistis, sehat, dan berkelanjutan.
Laporan Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, generasi muda kini lebih berhati-hati dalam menentukan arah karier di tengah tekanan biaya hidup, perubahan teknologi, hingga kekhawatiran soal kesehatan mental.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi karier, kesuksesan karier.Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan bahwa banyak anak muda tidak lagi menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka.
Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi leadership sebagai tujuan karier utama.
Sebaliknya, mayoritas kedua generasi tersebut lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat.
Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku lebih memilih “steady progress” alias progres stabil dalam karier.
Sementara yang menginginkan pertumbuhan cepat dengan promosi dan kenaikan jabatan hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial.
Selain itu, sekitar 20 persen responden bahkan bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi mendapatkan pengalaman yang dianggap lebih sesuai untuk jangka panjang.
Karier kini diukur dari work-life balance
Dalam laporan tersebut, Deloitte menyebut generasi muda mulai mendefinisikan ulang arti kemajuan karier.
hobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karierKesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa tinggi atau cepat seseorang naik jabatan, tetapi apakah perjalanan karier itu dapat dijalani secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.
Integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor Texas Christian University (TCU) dan University of Dallas Megan Korns Russell mengatakan, Gen Z dan milenial kini melihat hidup lebih luas daripada sekadar mengejar posisi di kantor.
“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell dalam laporan tersebut.
Hal senada juga tercermin dari pengakuan para responden survei.
“Saya ingin pekerjaan yang membuat saya merasa terpenuhi. Saya tidak harus selalu mendapatkan promosi untuk merasa puas. Saya ingin bisa pulang, menjalani hidup, dan punya pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” ujar Nita, responden Gen Z.
Responden lain, Zeina, juga menyebut definisi sukses baginya kini lebih banyak terkait keseimbangan hidup.
“Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” terang dia.
Jabatan tinggi dianggap dekat dengan burnout
Meski tidak menolak kepemimpinan sepenuhnya, banyak Gen Z dan milenial menganggap posisi manajerial identik dengan tekanan besar dan kehidupan yang tidak seimbang.
Survei Deloitte menunjukkan, alasan utama generasi muda enggan mengejar posisi leadership adalah stres dan burnout. Faktor ini disebut oleh 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai posisi pemimpin membawa terlalu banyak tanggung jawab.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.Kekhawatiran soal work-life balance juga menjadi alasan bagi 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial.
Global Future of Work Leader Deloitte Nic Scoble-Williams mengatakan, rendahnya minat terhadap posisi leadership bukan berarti generasi muda tidak ingin memimpin.
“Menarik sekali bahwa hanya sedikit yang memprioritaskan kepemimpinan, tetapi saya tidak berpikir itu berarti ‘tidak ada yang ingin memimpin.’ Hanya saja, itu bukan satu-satunya hal yang penting bagi mereka,” ujar dia.
Menurut dia, banyak pekerja muda kini tidak lagi melihat posisi manajerial sebagai satu-satunya cara untuk memberikan dampak atau mendapatkan pengakuan.
Meski demikian, minat jangka panjang terhadap posisi leadership sebenarnya masih cukup tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi eksekutif atau senior leadership di masa depan.
Sementara 80 persen Gen Z dan 73 persen milenial tertarik mengambil peran supervisor atau manajerial dalam perjalanan karier mereka.
Namun, mereka ingin posisi tersebut hadir dengan kondisi kerja yang lebih fleksibel dan sehat.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan, generasi muda kini mempertimbangkan rasa aman dan kualitas hidup sebelum memutuskan mengambil posisi leadership.
“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” sebut Canning.
Tekanan biaya hidup pengaruhi pilihan karier
Laporan survei Deloitte tersebut juga menunjukkan, tekanan ekonomi menjadi faktor besar yang membentuk keputusan karier generasi muda.
Biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial selama lima tahun terakhir. Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menyebut biaya hidup sebagai isu yang paling mengkhawatirkan.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi biaya hidup.Tekanan finansial ini membuat banyak generasi muda menunda berbagai keputusan besar dalam hidup.
Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengaku menunda keputusan seperti menikah, punya anak, membuka bisnis, atau melanjutkan pendidikan karena kondisi finansial mereka.
Selain itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah.
Kondisi tersebut juga memengaruhi cara mereka memandang stabilitas karier dan pekerjaan.
“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat,” ujar Mel, responden milenial dalam survei tersebut.
Menurut dia, banyak pekerjaan yang menawarkan gaji yang tidak lagi sebanding dengan biaya hidup di kota tempat tinggal mereka.
AI jadi hagian strategi bertahan di dunia kerja
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja, Gen Z dan milenial juga semakin aktif mengembangkan keterampilan baru.
Deloitte mencatat, kemampuan beradaptasi kini menjadi strategi utama generasi muda untuk menjaga relevansi karier mereka.
Keterampilan yang paling banyak ingin dikembangkan oleh Gen Z antara lain public speaking, kepemimpinan, AI, kemampuan komunikasi, dan kreativitas.
Sementara pada milenial, kemampuan AI menjadi keterampilan yang paling banyak ingin dipelajari.
Penggunaan AI juga meningkat tajam dalam dunia kerja. Sekitar 74 persen Gen Z dan milenial kini menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.
AI tidak hanya dipakai untuk produktivitas kerja, tetapi juga untuk pengembangan karier dan pembelajaran.
F5 Ilustrasi AI.Sebanyak 79 persen responden menggunakan AI untuk mencari peluang belajar dan pengembangan diri, sementara sekitar 70 persen memanfaatkannya untuk mencari nasihat karier.
Chief People Officer Eightfold AI Meghna Punhani mengatakan, kemampuan paling penting di masa depan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga rasa ingin tahu dan kemauan terus belajar.
“Keterampilan yang paling penting untuk masa depan adalah rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kelincahan untuk terus belajar,” ucap Punhani.
Bagi banyak Gen Z dan milenial, perubahan dunia kerja yang cepat membuat mereka tidak lagi mengandalkan stabilitas jangka panjang seperti generasi sebelumnya.
“Mengapa saya harus mengharapkan stabilitas? Saya hanya perlu menciptakan jalan saya sendiri,” ujar Russell menggambarkan cara pandang generasi muda saat ini.
Sebagai informasi, survei ini merupakan bagian dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang telah memasuki edisi ke-15.
Deloitte menghimpun pandangan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, yang terdiri dari generasi Z dan milenial.
Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai responden yang lahir pada 1995 hingga 2007, sementara milenial merupakan mereka yang lahir pada 1983 hingga 1994.
Selain survei kuantitatif terhadap responden lintas negara, Deloitte juga melengkapi laporan ini dengan wawancara kualitatif bersama para pemimpin bisnis di berbagai pasar.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk menangkap pandangan generasi muda mengenai dunia kerja, kehidupan pribadi, kepemimpinan, hingga perubahan akibat perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Deloitte menyebut survei ini bertujuan melihat bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, stabilitas finansial, kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta arah karier mereka di tengah tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, dan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangSendiri di Kafe, Ramai di Kepala
Solo Table Theory yang viral di TikTok mengangkat aktivitas biasa seperti makan sendiri menjadi simbol kemandirian dan upaya berdamai dengan kesendirian di era yang selalu terhubung. [1,132] url asal
#kafe #kesehatan-mental #media-sosial #tren-sosial #solo-table-theory #tiktok #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 16/05/26 07:05
v/222204/
Solo Table Theory tampak ringan. Seseorang datang ke kafe, memilih meja, memesan makanan, lalu duduk sendiri. Ia tidak menunggu teman. Ia tidak mencari alasan. Ia makan, minum, membaca, menulis, atau hanya diam. Di TikTok, adegan semenjana ini berubah menjadi pernyataan psikologis. Banyak orang menyebutnya latihan mencintai diri sendiri, bukti kemandirian, bahkan tanda bahwa seseorang sudah berdamai dengan kesendirian.
Tren ini menarik karena muncul pada masa ketika manusia hampir tidak pernah benar-benar sendirian. Ponsel selalu menyala. Pesan masuk setiap saat. Orang dapat berada di kamar sendiri, tetapi pikirannya tetap terseret ke komentar, unggahan, dan percakapan orang lain. Oleh karena itu, meja untuk satu orang terlihat seperti aksi kecil yang menantang zaman. Ia berkata dengan tenang bahwa seseorang boleh hadir di ruang publik tanpa rombongan, tanpa pasangan, tanpa validasi.
Akan tetapi media sosial punya satu kecenderungan yang perlu dicurigai. Ia sering mengubah pengalaman biasa menjadi teori besar. Ia mengubah kebiasaan menjadi identitas. Ia mengubah luka menjadi konten. Makan sendiri lalu dipotret sebagai tanda keberanian. Duduk bersama orang lain lalu tampak seperti ketergantungan. Padahal hidup batin manusia tidak bergerak secepat video pendek.
Sendiri Tidak Selalu Sepi
Psikologi membantu kita membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan: sendiri dan kesepian. Sendiri adalah keadaan. Kesepian adalah pengalaman emosional. Seseorang bisa duduk sendiri dan merasa tenang. Seseorang juga bisa berada di tengah keluarga, teman kantor, atau keramaian kampus, tetapi merasa tidak terlihat.
Weinstein, Hansen, dan Nguyen mendedah bahwa orang dewasa rata-rata menghabiskan hampir sepertiga waktu terjaganya dalam keadaan sendiri. Mereka juga menunjukkan bahwa waktu sendiri dapat membantu relaksasi, pemulihan energi, pemecahan masalah, pengaturan emosi, kreativitas, dan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri serta orang lain (Weinstein, Hansen, & Nguyen, 2024, hlm. 3).
Di sini Solo Table Theory punya manfaat. Ia mengurangi rasa monyos yang sering menempel pada orang yang melakukan sesuatu sendirian. Ia membantu seseorang menyadari bahwa makan sendiri tidak sama dengan ditinggalkan. Ia memberi latihan untuk tidak selalu meminjam kehadiran orang lain agar merasa bernilai.
Namun manfaat itu hanya muncul ketika kesendirian dipilih dengan sadar. Weinstein, Hansen, dan Nguyen menegaskan bahwa memilih kesendirian karena seseorang menganggapnya bermakna dapat menjadi hal positif (Weinstein et al., 2024, hlm. 105). Pilihan menjadi kata kunci. Kesendirian yang dipilih untuk istirahat berbeda dari kesendirian yang muncul karena takut ditolak.
Meja yang Sama, Alasan yang Berbeda
Satu meja dapat menyimpan banyak cerita. Ada orang yang duduk sendiri karena ingin membaca sepuluh halaman buku setelah hari yang bising. Ada yang datang sendiri karena jadwalnya tidak cocok dengan siapa pun. Ada yang ingin menikmati makanan tanpa harus menjelaskan apa-apa. Semua itu wajar.
Walakin ada juga orang yang duduk sendiri karena takut menghubungi teman. Ada yang merasa tidak pantas ditemani. Ada yang makin lama makin menarik diri karena pengalaman ditolak, ditertawakan, atau tidak dianggap. Dari luar, semua tampak sama. Dari dalam, bedanya jauh.
Coplan dan Bowker menjelaskan bahwa dampak kesendirian sangat bergantung pada motivasi. Orang dapat mencari kesendirian karena ingin privasi, menikmati waktu luang, mengejar pengalaman religius, atau menghindari situasi yang mengganggu. Kesendirian yang dipilih dapat memulihkan. Namun bagi orang yang sebenarnya ingin terhubung, tetapi mundur karena cemas dan takut, kesendirian dapat meningkatkan kesepian, kekhawatiran, dan depresi (Coplan & Bowker, 2017, hlm. 291).
Oleh sebab itu, pertanyaan pentingnya bukan “apakah saya berani makan sendiri?” Pertanyaan yang lebih jujur ialah “mengapa saya memilih sendiri?” Bila jawabannya karena ingin tenang, meja itu bisa menjadi ruang pemulihan. Bila jawabannya karena takut manusia lain, meja itu mungkin sedang menyembunyikan masalah yang lebih dalam.
TikTok dan Bahasa Baru untuk Kegelisahan Lama
Solo Table Theory memberi bahasa baru untuk pengalaman lama. Orang sejak dulu makan sendiri, berjalan sendiri, bekerja sendiri, dan pulang sendiri. Bedanya, TikTok membuat pengalaman itu terlihat elok, rapi, dan laik ditiru. Kamera menyorot kopi, piring, buku, earphone, dan wajah yang tampak damai. Penonton melihat kemandirian. Ia tidak melihat rasa berwalang hati sebelum berangkat. Ia tidak melihat pesan yang tidak berani dikirim. Ia tidak melihat malam setelah konten selesai.
Bahasa baru kadang menolong. Ia membuat orang yang semula malu merasa punya nama untuk pengalamannya. Akan tetapi bahasa baru juga bisa menipu. Istilah yang terdengar psikologis tidak selalu menghadirkan pemahaman psikologis. Orang dapat memakai Solo Table Theory untuk bertumbuh. Orang juga dapat memakainya untuk membenarkan isolasi.
Bergmann dan Hippler menunjukkan bahwa budaya kesendirian selalu memuat dua sisi. Kesendirian dapat menjadi jalan pembebasan. Ia juga dapat menjadi gejala masyarakat yang sakit (Bergmann & Hippler, 2017, hlm. 25). Solo Table Theory bergerak di antara dua sisi itu. Ia membebaskan bila membantu orang berhenti takut pada ruang sendiri. Ia bermasalah bila membuat kebutuhan akan orang lain tampak seperti kelemahan.
Kesehatan Mental Membutuhkan Keseimbangan
Kesehatan mental tidak lahir dari pemujaan terhadap kemandirian. Manusia perlu bisa sendiri. Manusia juga perlu bisa kembali. Ia perlu ruang untuk mendengar dirinya sendiri. Ia juga perlu relasi yang membuatnya merasa aman.
Weinstein, Hansen, dan Nguyen meneroka bahwa manusia membutuhkan keseimbangan antara diri yang sendiri dan diri yang sosial. Mereka melihat kesendirian dan kebutuhan untuk terhubung sebagai dua bagian hidup yang saling melengkapi (Weinstein et al., 2024, hlm. 7). Hal ihwal ini pelajaran penting bagi generasi yang sering diajari memilih kubu: mandiri atau manja, kuat atau rapuh, sendiri atau bergantung.
Padahal orang yang sehat secara emosional tidak selalu kuat dalam pengertian populer. Ia tahu kapan perlu diam. Ia tahu kapan perlu meminta tolong. Ia bisa makan sendiri tanpa merasa kalah. Ia juga bisa menghubungi teman tanpa merasa ruai.
David Vincent menambahkan sudut sejarah yang berguna. Di era digital, manusia mencari cara untuk sendiri sekaligus tetap terhubung. Telepon genggam, internet, dan perangkat digital membantu sebagian orang menjaga jarak aman antara kesendirian dan kesepian, terutama ketika alat itu dipakai untuk mempertahankan hubungan dengan keluarga dan teman (Vincent, 2020, hlm. 365). Masalahnya bukan teknologi itu sendiri. Masalahnya ialah cara kita memakainya. Ponsel dapat menjadi jembatan. Ia juga dapat menjadi dinding.
Latihan Kecil
Solo Table Theory sebaiknya dipakai sebagai latihan kecil. Cobalah makan sendiri tanpa segera membuat konten. Duduklah. Perhatikan napas. Rasakan makanan. Dengarkan pikiran yang muncul. Apakah ada tenang. Apakah ada malu. Apakah ada takut dilihat orang. Jangan buru-buru menilai diri sendiri. Cukup kenali.
Setelah itu, lihat akibatnya. Bila waktu sendiri membuat tubuh lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan relasi dengan orang lain membaik, teruskan. Bila waktu sendiri menjadi alasan untuk menghindari pesan, menolak pertemuan, dan menjauh dari orang yang peduli, hentikan pola itu. Hubungi seseorang. Buat janji. Katakan keadaan dengan sederhana.
Stern menulis bahwa kesepian bukan emosi nan sederhana, tetap, dan mudah dikenali. Ia menyebutnya sebagai emosi yang kompleks dan berubah-ubah (Stern, 2024, hlm. viii). Karena itu, meja untuk satu orang tidak boleh dibaca terlalu cepat. Ia bisa menjadi tempat seseorang pulih. Ia juga bisa menjadi tempat seseorang bersembunyi.
Nilai meja itu tidak ditentukan oleh kamera. Nilainya ditentukan oleh alasan seseorang datang, kondisi batinnya saat duduk, dan keberaniannya untuk kembali terhubung setelah selesai makan. Solo Table Theory menjadi berguna tatkala ia mengajarkan keberanian yang sederhana: berani sendiri tanpa membenci kebersamaan, berani bersama tanpa takut kehilangan diri.
Saatnya Negara Memperkuat Profesi Psikolog Klinis
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering muncul dalam percakapan publik di Indonesia. Kita mendengarnya dalam diskusi keluarga, dalam... | Halaman Lengkap [874] url asal
#psikologi #psikolog #kesehatan-mental #psikiater
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/05/26 13:59
v/220173/
Robert O. Rajagukguk, Psikolog Klinis, Anggota Kolegium Psikologi KlinisDalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering muncul dalam percakapan publik di Indonesia. Kita mendengarnya dalam diskusi keluarga, dalam ruang kelas, dalam media sosial, bahkan dalam percakapan santai di tempat kerja.
Banyak orang mulai berani mengatakan bahwa mereka sedang cemas, tertekan, atau merasa kehilangan arah hidup. Dari mulai anak-anak, remaja, orang dewasa tidak jarang menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Beberapa bahkan mengungkapkan "diagnosis klinis" yang dialami atau diamati pada orang lain. Fenomena ini menandai perubahan penting dalam kesadaran masyarakat: kesehatan mental tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Namun meningkatnya kesadaran ini juga membuka kenyataan lain yang tidak kalah penting. Ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya kesehatan mental, sistem pelayanan kesehatan mental kita ternyata belum sepenuhnya siap menjawab kebutuhan tersebut.
Banyak orang yang membutuhkan bantuan profesional, tetapi tidak tahu harus mencari pertolongan ke mana. Ada pula yang sudah berusaha mencari bantuan, tetapi akses terhadap tenaga profesional masih terbatas.
Sebagian masyarakat belum bisa membedakan profesi psikiater, psikolog klinis, psikolog (umum), konselor; belum lagi beberapa profesi yang semakin membuat bingung masyarakat seperti life coach, hypnotherapist, healers.
Artikel ini secara khusus ingin membahas mengenai profesi psikolog klinis, sebagai salahsatu profesi yang menjadi bagian penting dari upaya kesehatan jiwa di Indonesia.
Psikolog klinis adalah tenaga profesional yang secara khusus dilatih untuk memahami dinamika perilaku manusia khususnya masalah dan gangguan yang dialami, melakukan asesmen psikologis baik secara umum maupun gangguan psikologis (psikopatologis), serta memberikan intervensi psikologis bagi individu yang mengalami tekanan emosional maupun gangguan mental.
Mereka membantu orang menghadapi kecemasan, depresi, trauma, konflik relasi, kesulitan penyesuaian diri, hingga berbagai bentuk penderitaan psikologis yang seringkali tidak terlihat dari luar.
Di banyak negara, psikolog klinis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan. Mereka bekerja berdampingan dengan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan layanan yang kolaboratif dan komprehensif bagi masyarakat.
Di rumah sakit modern, layanan kesehatan mental tidak lagi dianggap sebagai layanan tambahan, melainkan bagian penting dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Sayangnya, sistem pelayanan kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Salah satu tantangan yang paling nyata adalah keterbatasan jumlah tenaga profesional kesehatan mental, termasuk psikolog klinis. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kebutuhan terhadap tenaga psikolog klinis tentu tidak kecil. Namun jumlah tenaga profesional yang tersedia saat ini masih belum memadai untuk menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan layanan.
Selain persoalan jumlah, distribusi tenaga profesional juga masih belum merata. Sebagian besar tenaga psikolog terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerah seringkali harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan mental. Kondisi ini tentu menimbulkan kesenjangan akses yang sangat besar.
Di sisi lain, sistem pendidikan profesi psikolog juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi nasional di bidang pendidikan tinggi dan kesehatan.
Saat ini pendidikan profesi psikolog berada dalam sistem pendidikan tinggi, sementara praktik psikolog klinis berlangsung dalam sistem pelayanan kesehatan. Kedua sistem ini belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal. Meski sudah ada upaya untuk kerja sama antar kementerian terkait.
Sering muncul berbagai pertanyaan mendasar: bagaimana seharusnya pendidikan psikolog klinis dirancang? Bagaimana standar kompetensi profesional ditetapkan? Bagaimana psikolog klinis dapat terintegrasi secara lebih kuat dalam sistem pelayanan kesehatan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita memerlukan langkah pembaruan yang lebih serius dalam penguatan profesi psikolog klinis. Perlu dilakukan reformasi pendidikan profesi psikolog klinis. Reformasi profesi psikolog klinis tidak semata-mata menyangkut perubahan administratif atau penyesuaian nomenklatur pendidikan.
Reformasi ini berkaitan dengan bagaimana negara membangun sistem pelayanan kesehatan mental yang lebih kuat, lebih profesional, dan lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Salah satu langkah penting adalah memperkuat sistem pendidikan profesi psikolog klinis agar lebih terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Pendidikan profesi tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga pengalaman praktik klinis yang memadai.
Mahasiswa profesi perlu mendapatkan kesempatan belajar langsung dalam konteks pelayanan kesehatan yang nyata, seperti di rumah sakit, puskesmas, atau layanan kesehatan mental komunitas.
Selain itu, diperlukan pula standar kompetensi nasional yang jelas bagi psikolog klinis. Standar ini penting untuk memastikan bahwa setiap tenaga profesional yang memberikan layanan kepada masyarakat memiliki kompetensi yang memadai serta bekerja berdasarkan prinsip-prinsip etika profesional yang kuat.
Reformasi profesi psikolog klinis juga memerlukan dukungan regulasi yang jelas dan konsisten. Regulasi yang baik tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi tenaga profesional, tetapi juga memberikan perlindungan bagi masyarakat sebagai penerima layanan.
Lebih jauh lagi, penguatan profesi psikolog klinis harus dilihat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia Indonesia. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki infrastruktur yang baik atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Negara yang kuat juga adalah negara yang memperhatikan kesejahteraan mental warganya.
Dalam masyarakat modern yang penuh tekanan, kesehatan mental menjadi fondasi penting bagi kehidupan yang produktif dan bermakna. Ketika masyarakat memiliki ketahanan mental yang baik, mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan hidup, membangun relasi yang sehat, serta berkontribusi secara positif bagi lingkungan sosialnya.
Karena itu, memperkuat profesi psikolog klinis bukan hanya kepentingan kelompok profesi tertentu. Ini adalah kepentingan masyarakat luas. Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang lebih sehat secara mental, lebih tangguh secara sosial, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Sudah saatnya kita memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. Dalam upaya itulah, negara perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap penguatan profesi psikolog klinis sebagai salah satu pilar utama pelayanan kesehatan mental di Indonesia.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56