Rosan Sebut Restrukturisasi Whoosh Selesai Dibahas, Tinggal Bicara ke China

Rosan Sebut Restrukturisasi Whoosh Selesai Dibahas, Tinggal Bicara ke China

Danantara Indonesia memastikan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh telah rampung.

(Kompas.com) 23/04/26 16:49 200750

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memastikan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh telah rampung.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, penyelesaian utang Whoosh sudah dibahas bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo.

Solusi penyelesaian utang Whoosh yang sudah ditemukan oleh Danantara bersama pemerintah itu pun akan ditindaklanjuti dengan pihak China.

"Jadi solusinya sudah ada, dan itu akan ditindaklanjuti oleh tim untuk bicara dengan pihak Chinanya. Solusinya sudah ada, dan kemarin kita juga sudah sounding. Insya Allah ini bisa segera selesai," ujar Rosan ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Kendati begitu, ia enggan membeberkan skema restrukturisasi yang diputuskan. Rosan hanya bilang, detail skema tersebut nantinya akan disampaikan langsung oleh Menko IPK Agus Harimurti.

"Skemanya ini sedang di fine tuning (penyempurnaan), tetapi memang nanti disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra, lebih enaknya. Tapi sudah, sudah ada ininya (solusi restrukturisasi)," ucap dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan proses restrukturisasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh telah rampung. Pemerintah tinggal menunggu waktu untuk mengumumkan hasilnya secara resmi.

“Sudah-sudah kelar tinggal diumumkan,” ujar Purbaya usai acara Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Ia mengaku telah bertemu dengan Menteri Keuangan China. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan keputusan restrukturisasi sudah diambil pemerintah Indonesia, sehingga China sebagai mitra proyek tidak perlu khawatir.

Menurut dia, kepercayaan internasional menjadi faktor penting, terutama untuk proyek strategis yang melibatkan investor asing.

Namun Purbaya belum bersedia mengungkap detail hasil restrukturisasi. Ia meminta penjelasan lebih lanjut ditunggu setelah pengumuman resmi.

"Nanti setelah diumumkan Pak AHY. Saya pikir saya gak berhak ngomongin sekarang ya. Nanti tanya Pak AHY begitu diumumkan nanti. Tapi yang jelas sudah putus, cuma belum saatnya diumumkan," kata Purbaya.

Untuk diketahui, Kereta Cepat Whoosh saat ini dioperasikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Perusahaan ini merupakan joint venture antara konsorsium Indonesia dan China.

Konsorsium Indonesia diwakili PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan saham 60 persen. Sementara konsorsium China lewat Beijing Yawan HSR Co. Ltd menggenggam 40 persen.

PSBI sendiri dari empat BUMN, yaitu KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII.

Adapun KAI jadi pemegang saham mayoritas KCIC dengan kepemilikan saham 51,37 persen.

Berdasarkan catatan terakhir, pada semester I-2025, KCIC mencatatkan kerugian Rp 1,6 triliun. Dari jumlah itu, KAI harus menanggung Rp 1,42 triliun sebagai pemegang saham terbesar di PSBI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#rosan #utang-kereta-cepat #danantara #utang-whoosh

https://money.kompas.com/read/2026/04/23/164910626/rosan-sebut-restrukturisasi-whoosh-selesai-dibahas-tinggal-bicara-ke-china