Penyebab Pertumbuhan Premi Asuransi Umum-Reasuransi Melambat Jadi 1,77%
Pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi melambat menjadi 1,77% YoY pada kuartal I/2026, dipengaruhi normalisasi pertumbuhan dan kondisi ekonomi.
(Bisnis.Com) 08/05/26 14:14 215579
Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi pada kuartal I/2026 melambat. Meski masih mencatatkan kenaikan, laju pertumbuhannya turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh sebesar 1,77% (year on year/YoY) pada kuartal I/2026.
“Premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77% YoY dengan nilai sebesar Rp41,24 triliun,” ucapnya dalam konferensi pers daring RDK OJK April 2026, Selasa (5/5/2026).
Menilik tren pertumbuhan premi sejak awal 2026, pada kuartal I/2026 ini preminya tumbuh melambat. Pasalnya, pada Januari 2026 premi tumbuh 17,92% YoY menjadi Rp18,42 triliun. Kemudian, pada Februari 2026 pertumbuhannya 7,41% YoY menjadi Rp29,98 triliun.
Adapun, Risk Based Capital (RBC) industri asuransi umum dan reasuransi masih berada pada level yang aman, yakni di atas ambang batas (threshold) sebesar 120%.
“Industri asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital [RBC] sebesar 316,32%,” ucapnya.
Di lain sisi, OJK pernah menuturkan bahwa ke depannya, pertumbuhan premi diharapkan didorong oleh inovasi produk, penguatan distribusi, serta peningkatan literasi masyarakat.
Oleh sebab itu, Ogi menyebut pihaknya melihat prospek industri asuransi tetap positif dengan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Didukung oleh keseimbangan antara segmen individu dan kumpulan, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah dinamika pasar dan tantangan global,” sebutnya dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Kamis (7/5/2026).
Bukan Pelemahan Fundamental
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai perlambatan pertumbuhan premi pada kuartal I/2026 adalah bagian dari dinamika pertumbuhan industri. Dengan demikian, bukan sebagai pelemahan fundamental.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan beberapa faktor yang dapat memengaruhi hal itu adalah normalisasi pertumbuhan setelah periode sebelumnya, kondisi daya beli, perkembangan pembiayaan kendaraan dan kredit.
“Aktivitas sektor properti dan korporasi, serta sikap perusahaan asuransi yang semakin selektif dalam underwriting,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Kendati demikian, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama tersebut tidak menampik memang terlihat adanya perlambatan laju pertumbuhan secara tahunan pada kuartal I/2026. Meskipun, preminya memang masih tumbuh positif.
Budi berpendapat bahwa perlambatan ini perlu dibaca secara hati-hati karena datanya bersifat akumulatif dan sangat dipengaruhi oleh pola pencatatan premi, siklus pembaruan polis, serta basis pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dalam industri asuransi umum, produksi premi tidak selalu bergerak merata setiap bulan, terutama untuk polis korporasi, properti, kendaraan bermotor, kredit, proyek, dan lini komersial lainnya,” sebutnya.
Meski begitu, AAUI optimis prospek premi asuransi umum dan reasuransi hingga semester I/2026 masih berpeluang tumbuh positif, tetapi kemungkinan akan tetap moderat.
Dikatakan Budi, optimistis itu didasarkan pada fondasi kinerja 2025 yang masih positif, sehingga industri memiliki ruang untuk melanjutkan pertumbuhan pada 2026.
Pasalnya, data AAUI pada kuartal IV/2025 menunjukkan premi dicatat asuransi umum masih tumbuh 5,5% dengan beberapa lini yang tumbuhnya kuat seperti properti, asuransi kredit, engineering, suretyship, miscellaneous, marine hull, aviation, dan liability.
“Namun, arah pertumbuhan pada semester I/2026 akan sangat dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, pembiayaan, sektor properti, penjualan kendaraan, proyek infrastruktur, perdagangan, serta permintaan proteksi dari sektor korporasi dan ritel,” tegas Budi.
Budi menyebut bagi industri saat ini yang penting adalah menjaga agar pertumbuhan tetap berkualitas. Artinya, premi yang tumbuh harus dibarengi dengan underwriting yang prudent, rasio klaim yang terkendali, permodalan yang memadai, serta inovasi produk yang menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Strategi Dongkrak Pendapatan Premi
Dia menambahkan, strategi utama industri asuransi untuk mendongkrak pendapatan premi adalah menjaga pertumbuhan premi yang sehat dan berkelanjutan, sehingga bukan hanya mengejar volume premi.
Perusahaan asuransi umum dan reasuransi, katanya, perlu memperkuat disiplin underwriting, memperbaiki kualitas portofolio, serta mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
“Beberapa area yang masih dapat didorong antara lain perluasan asuransi properti dan bencana, asuransi kendaraan dengan skema yang lebih fleksibel, asuransi kredit yang lebih prudent, marine, engineering, liability, cyber insurance, serta produk yang melekat pada ekosistem lain atau embedded insurance, seperti pembiayaan, perjalanan, logistik, properti, dan platform digital,” bebernya.
PT Asuransi Asei Indonesia turut menyampaikan sederet cara yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan premi hingga semester I/2026. Cara ini adalah memperkuat bisnis inti yang memiliki historical profitability baik dan memperluas ekosistem distribusi dan digital channel.
“Kemudian, memperkuat kolaborasi dengan perbankan, BUMN, dan pelaku ekspor, serta memperbesar penetrasi pada sektor-sektor yang masih bertumbuh seperti perdagangan, logistik, infrastruktur, dan supply chain ecosystem,” kata Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe ucapnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, imbuh Dody, perusahaan juga mulai fokus pada cross selling, penguatan captive market, peningkatan service level, dan pemanfaatan data analytics untuk underwriting yang lebih presisi.
Dia meneruskan bahwa di tengah kondisi pasar saat ini, strategi pertumbuhan yang paling relevan bukan agresivitas volume semata, tetapi profitable growth dan risk-adjusted growth.
“Karena dalam kondisi industri yang semakin risk-sensitive, kualitas premi akan menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar pertumbuhan nominal premi,” ujarnya.
Adapun, Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Azuarini Diah Parwati berpendapat strategi yang dapat dilakukan perusahaan antara lain memperluas distribusi digital, menghadirkan inovasi produk, serta meningkatkan penetrasi ke segmen retail dan UMKM.
Di sisi lain, dia menyoroti tantangan utama industri asuransi meliputi tekanan klaim, persaingan harga, ketidakpastian ekonomi global, serta risiko bencana alam dan rendahnya literasi asuransi.
Kendati demikian, Azuarini tetap memandang premi industri asuransi umum dan reasuransi prospeknya masih positif hingga semester I/2026. Hal ini karena didukung aktivitas ekonomi domestik dan meningkatnya kebutuhan proteksi.
“Namun, pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat karena industri masih menghadapi tekanan eksternal dan cenderung lebih selektif dalam ekspansi bisnis,” pungkasnya.
#asuransi-umum #pertumbuhan-premi #reasuransi #premi-asuransi #ojk #risk-based-capital #industri-asuransi #inovasi-produk #distribusi-asuransi #literasi-masyarakat #underwriting #asuransi-properti #asu