Bos BI Ramal The Fed Bakal Kerek Suku Bunga Akibat Inflasi di AS
Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi kenaikan suku bunga The Fed akibat inflasi AS, menarik investor ke aset AS dan menahan aliran modal ke pasar berkembang.
(Bisnis.Com) 18/06/26 14:19 253299
Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Federal Funds Rate (FFR) masih berpotensi meningkat ke depan seiring tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda di negara tersebut.
Prospek kenaikan suku bunga AS itu, menurut Perry, menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor global masih memilih menempatkan dana di aset-aset negara maju, khususnya Amerika Serikat, dibandingkan pasar negara berkembang (emerging market).
"Ke depan Fed Fund Rate akan naik akibat inflasi di AS," kata Perry, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut turut tercermin dari tingginya imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury). Per 7 Juni, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,49%, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,18%.
Menurut Perry, tingginya yield US Treasury tidak hanya dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter The Fed, tetapi juga oleh membengkaknya defisit fiskal AS. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat instrumen keuangan AS tetap menarik bagi investor global.
Akibatnya, aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, masih belum menguat. Investor cenderung menahan dana di pasar keuangan AS yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi dengan risiko yang dinilai relatif lebih rendah.
"Kondisi ini membuat investor global belum kuat masuk ke emerging market dan memilih negara maju, terutama AS," ujarnya.
Selain mencermati arah kebijakan The Fed, BI juga mewaspadai perkembangan geopolitik global. Perry menilai dinamika hubungan Iran dan AS masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia.
Meski demikian, Perry menegaskan perekonomian domestik tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik, terutama melalui peningkatan konsumsi pemerintah yang didorong oleh percepatan realisasi belanja negara.
Menurut dia, pembayaran gaji ke-13 dan penyaluran bantuan sosial menjadi faktor yang mendukung konsumsi pemerintah sehingga membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
#suku-bunga #the-fed #perry-warjiyo #bank-indonesia #federal-funds-rate #inflasi-amerika-serikat #investor-global #emerging-market #yield-us-treasury #kebijakan-moneter #defisit-fiskal-as #aliran-modal