Usai Kesepakatan AS-Iran, 3 Kapal Tanker Arab Saudi Lewati Selat Hormuz
Tiga kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi mulai melintasi Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan.
(Kompas.com) 18/06/26 22:26 253924
LONDON, KOMPAS.com – Tiga kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi mulai melintasi Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Pergerakan kapal-kapal tersebut menjadi salah satu sinyal awal aktivitas pengiriman minyak di jalur pelayaran paling vital dunia itu perlahan mulai pulih.
Dikutip dari CNBC, Kamis (18/6/2026), data perusahaan intelijen perdagangan global Kpler menunjukkan, tiga kapal tanker milik Arab Saudi yang mengangkut total 6 juta barrel minyak mentah telah melintasi Selat Hormuz.
AFP Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026.Ketiga kapal itu adalah very large crude carrier (VLCC) atau kapal tanker berkapasitas sangat besar yang masing-masing dapat membawa hingga sekitar 2 juta barrel minyak.
Meski demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.
Pelaku industri pelayaran dan asuransi masih bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian keamanan dan implementasi kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Kapal tanker Arab Saudi mulai bergerak
Kapal tanker Arab Saudi tersebut kembali menyalakan transponder atau alat pelacak posisinya di Teluk Oman pada Kamis, setelah lebih dari dua bulan menyembunyikan lokasi pelayaran mereka.
Langkah ini dilakukan sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz.
Kapal tanker Shaden diketahui berlayar menuju Kiire, Jepang, sedangkan Awtad bergerak ke Ulsan, Korea Selatan. Sementara itu, tujuan akhir kapal Jaham belum diketahui.
ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith mengatakan, aktivitas kapal memang mulai bergerak, tetapi belum menunjukkan lonjakan signifikan.
"Pintu belum terbuka, belum ada eksodus massal," kata Smith.
Menurut dia, perusahaan pelayaran masih tampak ragu untuk kembali melintasi Selat Hormuz secara masif.
Sebelum konflik Iran pecah, lebih dari 100 kapal, termasuk puluhan kapal tanker, melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Namun selama perang berlangsung, banyak kapal menghindari jalur tersebut karena risiko keamanan yang tinggi.
Arab Saudi sebelumnya mengalihkan ekspor minyak
Laporan Reuters menyebutkan, keberangkatan tiga kapal tanker Saudi itu menjadi yang terbanyak dalam beberapa pekan terakhir.
Selama konflik berlangsung, Arab Saudi sebagai produsen terbesar di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) lebih banyak menggunakan terminal minyak Yanbu di Laut Merah untuk mengekspor minyak.
Strategi tersebut dilakukan karena Selat Hormuz praktis tidak dapat digunakan secara normal selama perang, sehingga ratusan juta barel minyak tertahan di pelabuhan-pelabuhan kawasan Teluk.
Perusahaan pelayaran Arab Saudi, Bahri, yang mengelola ketiga kapal tanker tersebut belum memberikan komentar terkait perkembangan terbaru.
Selain tiga kapal tanker Saudi, aktivitas pengapalan minyak juga mulai terlihat di luar Selat Hormuz.
Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan, tiga kapal tanker lain tengah memuat minyak di sekitar pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), yang berada di luar Selat Hormuz.
Dua di antaranya bahkan sudah berlayar menuju Eropa membawa muatan minyak mentah.
PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.Fujairah sebelumnya juga sempat menjadi sasaran serangan Iran selama perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel menyerang Iran.
Kapal LNG Qatar dan tanker lain ikut melintas
Selain kapal tanker Saudi, sejumlah kapal lain juga mulai kembali melintasi Selat Hormuz.
Data LSEG menunjukkan, kapal tanker Aframax berbendera Hong Kong, Tong Lin Wan, berhasil melintasi selat tersebut pada Kamis.
Kapal itu sebelumnya memuat nafta dari kilang Ruwais di Abu Dhabi pada awal Maret dan bertahan di kawasan Teluk selama berbulan-bulan.
Sementara itu, kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Mraikh yang dikendalikan QatarEnergy juga tercatat melintasi Selat Hormuz pada hari yang sama.
Berdasarkan data Kpler dan LSEG, kapal tersebut mengangkut LNG dari Ras Laffan pada 12-13 Juni dan dijadwalkan mengirimkan muatannya ke Port Qasim, Pakistan, pada 18 Juni 2026.
Selain itu, kapal tanker berukuran medium-range Ye Chi juga terlihat berlayar melewati Pulau Larak milik Iran. Namun, kapal itu kemudian berhenti di kawasan Selat Hormuz.
Tong Lin Wan dan Ye Chi diketahui dikelola oleh perusahaan pelayaran China, COSCO Shipping Energy Transportation.
Iran mulai mengirim kapal keluar Teluk Oman
CNBC melaporkan, sedikitnya lima kapal Iran telah melintasi garis blokade AS sejak 16 Juni 2026.
Tiga di antaranya merupakan kapal tanker minyak milik negara yang berhasil keluar dari Teluk Oman.
Kesepakatan antara AS dan Iran juga membuka peluang baru bagi ekspor minyak Iran.
SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.Seorang pejabat senior AS mengatakan, Washington akan mengizinkan Iran segera kembali menjual minyak dan bahan bakar berdasarkan nota kesepahaman (MOU) yang disepakati kedua negara.
Namun, rincian teknis terkait pelaksanaan kesepakatan tersebut masih terus dibahas.
Trump bahkan mengingatkan AS dapat kembali melakukan serangan dan membunuh pejabat Iran apabila Teheran tidak mematuhi isi kesepakatan.
Industri pelayaran masih berhati-hati
Meski sejumlah kapal mulai bergerak, pelaku industri pelayaran dan asuransi menilai situasi di Selat Hormuz masih jauh dari normal.
Asosiasi pemilik kapal tanker independen dunia, INTERTANKO, menyatakan industri membutuhkan kejelasan mengenai keamanan navigasi sebelum arus kapal benar-benar pulih.
INTERTANKO meminta proses pembersihan ranjau laut segera dilakukan dan wilayah yang masih berbahaya diumumkan secara terbuka.
Selain itu, kapal-kapal juga perlu mendapat jaminan bahwa mereka tidak lagi menjadi target serangan.
"Tentu saja, beberapa kapal akan mulai bergerak. Itu wajar," kata Managing Director INTERTANKO Tim Wilkins.
Wilkins menambahkan, pergerakan awal kapal merupakan hal yang wajar setelah tercapainya kesepakatan damai, tetapi industri masih membutuhkan kepastian keamanan yang lebih kuat.
Kehati-hatian serupa juga disampaikan Chief Executive Officer Lloyd’s Market Association Sheila Cameron.
Menurut Cameron, selain ancaman ranjau, pelaku industri masih membutuhkan kejelasan terkait sanksi, aturan antiterorisme, hingga pembayaran biaya pelayaran.
"Jalan menuju pemulihan di Teluk akan panjang dan rumit," tutur Cameron.
Ia menilai, butuh waktu berbulan-bulan hingga aktivitas pelayaran internasional kembali normal karena posisi kapal yang terlanjur berpindah dan rantai pasok global yang sudah mengalami gangguan selama perang.
"Dibutuhkan waktu berbulan-bulan agar keadaan normal kembali ke pelayaran internasional, mengingat kapal-kapal berada di tempat yang salah dan rantai pasokan terganggu," ujar Cameron.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#arab-saudi #minyak-mentah #ekspor-minyak #kapal-tanker #selat-hormuz