BIG Economic Insights 2026: Airlangga Sebut Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian
Menko Airlangga menyebut perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global berkat fundamental ekonomi makro yang kuat.
(Bisnis.Com) 24/06/26 16:50 258673
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah meyakini kondisi perekonomian Indonesia masih terjaga dengan ditopang fundamental ekonomi yang masih baik di tengah ketidakpastian global dan eskalasi geopolitik.
Dalam pemaparan di Bisnis Indonesia Group (BIG) Economic Insights 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa fundamental ekonomi makro nasional terbukti tangguh dalam menghadapi situasi global yang serba tidak pasti.
Airlangga menjelaskan bahwa di awal mula konflik geopolitik di Timur Tengah pecah akhir Februari lalu, pemerintah telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang untuk rentang waktu 5 bulan, 6 bulan, hingga 10 bulan.
"Alhamdulillah kemarin pembicaraan perang antara dua presiden, Iran dan Amerika sudah. Presiden Trump sudah menandatangani di G7. Tinggal teknis yang masih legal drafting belum selesai di Swiss," ujar Airlangga.
Mantan menteri perindustrian ini pun mengaku bahwa posisi Indonesia relatif lebih aman dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada, ditopang oleh keberhasilan pemerintah dalam menekan ketergantungan pasokan energi.
Menurutnya, ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah kini hanya berada di level 20%. Langkah diversifikasi pasokan telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon.
Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Dari sisi domestik, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,61%. Angka ini, sambung Airlangga, berada di atas rata-rata negara G20 maupun pertumbuhan ekonomi global.
Ketahanan makro juga tercermin dari posisi cadangan devisa yang bertengger di level US$144,9 miliar per akhir Mei 2026, realisasi investasi yang mencapai angka Rp498,8 triliun pada kuartal I/2026, serta Purchasing Managers\' Index (PMI) Manufaktur yang masih tertahan di zona ekspansi marjinal pada level 50.
Di balik capaian tersebut, Airlangga memberikan catatan khusus terkait kinerja neraca perdagangan. Meski berhasil mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut, tren surplus tersebut kian menyusut.
"Kita juga harus awas karena neracanya semakin tipis menjadi US$0,09 miliar [pada April 2026]. Dengan kondisi yang semakin menipis, kita terus perlu untuk menggenjot sektor-sektor yang bisa menghasilkan devisa. Salah satunya adalah pariwisata yang menjadi low hanging fruit," jelasnya.
Lebih lanjut, tantangan stabilitas moneter juga menjadi perhatian utama seiring dengan nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga melampaui Rp18.000 per dolar AS, meski saat ini telah menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah ditutup pada level Rp17.955 per dolar AS pada penutupan pasar pada 23 Juni 2026. Sebelumnya, kurs rupiah sempat berada di posisi terburuk sepanjang sejarah di level Rp18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026.
Airlangga mengatakan Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin dalam dua bulan terakhir ke level 5,75% demi menstabilkan nilai tukar rupiah.
"Ini tentu perlu resep yang mujarab agar memang tujuan dari kenaikan BI Rate ini bisa sejalan dengan untuk mencegah agar rupiah tidak terlalu turun tetapi terus bisa dijaga di level yang stabilisasi," jelasnya.
#ekonomi-indonesia #ketidakpastian-global #fundamental-ekonomi #konflik-geopolitik #impor-minyak-indonesia #diversifikasi-pasokan-energi #pertumbuhan-ekonomi-indonesia #cadangan-devisa-indonesia #reali