Tabungan Kelas Menengah Susut, Tergerus Kebutuhan atau Berburu Imbal Hasil?

Tabungan Kelas Menengah Susut, Tergerus Kebutuhan atau Berburu Imbal Hasil?

Penurunan simpanan kelas menengah di Indonesia disebabkan oleh tekanan daya beli dan peralihan dana ke instrumen investasi dengan imbal hasil lebih tinggi.

(Bisnis.Com) 30/06/26 09:55 263470

Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan simpanan masyarakat pada kelompok nominal Rp500 juta—Rp5 miliar mulai memunculkan pertanyaan mengenai kondisi keuangan kelas menengah.

Di satu sisi, fenomena ini mengindikasikan meningkatnya tekanan terhadap daya beli dan likuiditas rumah tangga maupun pelaku usaha menengah. Di sisi lain, sebagian dana juga diduga mengalir ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Data distribusi simpanan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Mei 2026 menunjukkan simpanan pada tier Rp500 juta–Rp1 miliar dan Rp2 miliar–Rp5 miliar sama-sama mengalami penurunan sejak awal tahun, masing-masing sebesar 0,3% dan 0,8% (year to date/YtD).

Penurunan tersebut juga diikuti berkurangnya jumlah rekening pada kedua kelompok tersebut. Tercatat simpanan tiering nominal Rp500 juta—Rp 1 miliar dan Rp2 miliar—Rp5 miliar ikut turun masing-masing sebesar 0,1% dan 0,4% YtD.

Sebaliknya, simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar justru tumbuh 4,1% YtD, disertai peningkatan jumlah rekening. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan dana perbankan semakin ditopang oleh deposan besar.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai penurunan simpanan pada kelompok menengah tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dari satu faktor.

Menurutnya, sebagian masyarakat kelas menengah atas menggunakan tabungannya untuk mempertahankan konsumsi, membayar cicilan, memenuhi kebutuhan usaha, maupun mengimbangi kenaikan biaya hidup. Sebagian lainnya, lanjut dia, mulai mengalihkan dana ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Ini bukan semata-mata karena mereka semakin miskin, tetapi juga bukan murni karena mereka semakin aktif berinvestasi. Fenomena ini mencerminkan dua kondisi yang terjadi secara bersamaan,” kata Josua kepada Bisnis, dikutip pada Senin (29/6/2026).

Josua mengatakan kelompok nasabah dengan simpanan Rp500 juta—Rp5 miliar umumnya merupakan rumah tangga kelas menengah atas, kalangan profesional, hingga pemilik usaha kecil dan menengah yang memiliki pilihan investasi lebih beragam.

Ketika suku bunga pasar meningkat, imbal hasil surat berharga menjadi lebih menarik dan nilai tukar bergejolak, kelompok ini cenderung lebih aktif melakukan penyesuaian portofolio.

Dia menuturkan, tren tersebut juga didukung oleh meningkatnya jumlah investor di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor bertambah 1,26 juta hingga Mei 2026 sehingga secara keseluruhan tumbuh 36,27% sepanjang tahun berjalan menjadi 27,75 juta investor.

“Ini mendukung dugaan bahwa sebagian dana simpanan berpindah ke instrumen investasi,” ungkapnya.

Meski demikian, Josua menilai tekanan terhadap daya beli tetap tidak boleh diabaikan. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 123,0 menjadi 120,9 pada Mei 2026.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga melemah dari 116,5 menjadi 112,2 dan penjualan eceran masih diperkirakan terkontraksi 3,2% secara tahunan.

“Artinya, walaupun sebagian masyarakat menengah mulai lebih aktif berinvestasi, ruang untuk menabung juga tidak sekuat sebelumnya,” ujarnya.

Tiering Nominal SimpananNominal (Rp Triliun)Perubahan YtD (%)
≤ Rp100 juta1.143,26-0,1
> Rp100 juta – Rp200 juta473,600,3
> Rp200 juta – Rp500 juta752,470,3
> Rp500 juta – Rp1 miliar641,96-0,3
> Rp1 miliar – Rp2 miliar563,321,4
> Rp2 miliar – Rp5 miliar728,58-0,8
> Rp5 miliar6.026,754,1

Data: LPS

Risiko di Balik Dominasi Deposan Besar

Sementara itu, Josua mengingatkan perubahan komposisi simpanan tersebut juga membawa konsekuensi bagi industri perbankan. Masih merujuk data LPS, simpanan tiering nominal di atas Rp5 miliar mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,1% YtD, diikuti pertumbuhan rekening 0,7% YtD per Mei 2026.

Menurut Josua, meningkatnya ketergantungan terhadap deposan besar membuat struktur pendanaan bank menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun kondisi pasar. Pasalnya, deposan besar cenderung lebih aktif memindahkan dana ketika terdapat instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Selain itu, simpanan di atas Rp2 miliar juga hanya dijamin sebagian oleh LPS sehingga nasabah besar lebih memerhatikan tingkat risiko masing-masing bank.

Dia menyebut, apabila dana besar berpindah dalam waktu singkat, tekanan likuiditas dapat muncul meskipun kondisi likuiditas industri secara keseluruhan masih memadai.

Pada saat yang sama, bank juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya dana (cost of fund) karena harus menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi untuk mempertahankan dana nasabah besar.

Tekanan tersebut, lanjut Josua, pada akhirnya dapat mengurangi margin keuntungan bank dan berpotensi mendorong kenaikan bunga kredit baru maupun memperketat persetujuan kredit.

“Karena itu, bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah berbasis transaksi, seperti rekening payroll, layanan digital, pengelolaan kas, dan meningkatkan loyalitas nasabah ritel, bukan hanya mengandalkan kenaikan bunga deposito,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjaga daya beli masyarakat kelas menengah agar kemampuan menabung tidak terus melemah. Dia menilai, stabilitas simpanan masyarakat luas tetap menjadi fondasi penting bagi stabilitas sistem perbankan dan pembiayaan ekonomi nasional.

Tiering Nominal SimpananJumlah RekeningPerubahan YtD (%)
≤ Rp100 juta674.640.0992,5
> Rp100 juta – Rp200 juta3.369.7830,3
> Rp200 juta – Rp500 juta2.367.6560,5
> Rp500 juta – Rp1 miliar895.428-0,1
> Rp1 miliar – Rp2 miliar399.1441,6
> Rp2 miliar – Rp5 miliar229.367-0,4
> Rp5 miliar155.4380,7

Data: LPS

Belum Ada Perubahan Signifikan

Dari sisi industri, sejumlah bank mengaku belum melihat perubahan signifikan terhadap perilaku nasabah affluent.

Direktur Community Financial Services PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) Bianto Surodjo mengatakan saldo rata-rata nasabah affluent maupun mass affluent di Maybank Indonesia masih relatif stabil hingga semester I/2026.

Meski demikian, Bianto mengakui terdapat sedikit perubahan preferensi investasi nasabah.

“Kami melihat ada pergeseran kecil di mana produk investasi seperti obligasi pemerintah dan reksa dana mengalami permintaan yang lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkap Bianto kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Pandangan serupa juga disampaikan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan jumlah rekening nasabah segmen menengah hingga Mei 2026 masih mencatatkan pertumbuhan yang sehat.

Menurut Hera, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sangat dipengaruhi berbagai faktor makroekonomi, baik global maupun domestik.

“Pada umumnya, pertumbuhan simpanan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) akan bergantung pada sejumlah variabel makroekonomi,” ujar Hera kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Secara konsolidasi, DPK BCA mencapai Rp1.292,4 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 8,3% secara tahunan (year on year/YoY). Dana murah atau (current account saving account/CASA) tumbuh 11,2% menjadi Rp1.089 triliun dan berkontribusi sekitar 85,2% terhadap total DPK.

#tabungan-kelas-menengah #penurunan-simpanan #daya-beli-menurun #investasi-imbal-hasil #simpanan-lps #simpanan-menengah-turun #deposan-besar #suku-bunga-pasar #investor-pasar-modal #daya-beli-masyaraka

https://finansial.bisnis.com/read/20260630/90/1984296/tabungan-kelas-menengah-susut-tergerus-kebutuhan-atau-berburu-imbal-hasil