Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Data Berenergi Bersih

Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Data Berenergi Bersih

Berdasarkan proyeksi dari Bank Dunia, pertumbuhan permintaan akan pusat data di Indonesia mmencapai hingga 16,8 persen per tahun.

(Bisnis Tempo) 05/11/25 22:01 29011

CENTRE for Strategic Studies and International Studies (CSIS) bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Tenggara Strategics, UMBRA, dan para peneliti dari Universitas Prasetiya Mulya menyampaikan bahwa kebutuhan Indonesia akan pusat data dan poptensi serapan energi bersih merupakan momentum emas bagi Indonesia untuk dapat menjadi hub pusat data (data center) di regional Asia Tenggara. Selama ini Indonesia masih bergantung pada data center di Singapura dan Malaysia untuk memenuhi kebutuhan digital masyarakatnya.

Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mira Tayyiba menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi dari Bank Dunia, pertumbuhan permintaan akan pusat data di Indonesia bisa mencapai hingga 16,8 persen per tahun. Saat ini para pemilik data center juga mendorong semua pihak terkait untuk menggunakan energi bersih dalam pengoperasian data center. Hal ini disampaikan langsung oleh Mira pada acara “Advancing Green Data Centers in Indonesia” yang digelar di Jakarta pada hari Rabu, 5 November 2025.

“Berdasarkan proyeksi Bank Dunia (World Bank), pertumbuhan permintaan pusat data di Indonesia mencapai hingga 16,8 persen per tahun. Artinya, pemanfaatan dari penggunaan data center ini menjadi isu utama saat ini. Namun seiring meningkatnya permintaan data center, tentu ada keinginan dari para pemilik data center untuk menggunakan energi yang lebih bersih” ujar Mira.

Berdasarkan paparan dari para peneliti, terdapat lima daerah yang memiliki potensi menjadi lokasi pembangunan data center berenergi bersih di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Batam, Jakarta, Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Sulawesi Utara. Kelima lokasi ini dianggap berpotensi akibat letaknya yang dinilai strategis dan memiliki potensi serapan energi bersih seperti energi surya, air, geotermal, angin, dan biomassa yang besar.

Peneliti ekonomi senior dari Tenggara Strategics Intan Salsabila mengatakan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para para investor, terdapat empat kebijakan dalam bidang digital (digital policy) yang harus menjadi fokus, di antaranya adalah pembangunan infrastruktur digital, sumber daya manusia dengan kemampuan digital yang memumpuni, inovasi digital, dan digitalisasi pelayanan institusi dan pemerintah.

Intan juga menambahkan bahwa konsep Data Embassy juga merupakan hal yang sangat krusial apabila Indonesia ingin menjadi hub data center. Data Embassy merupakan pusat data fisik maupun virtual yang dikelola oleh pemerintah suatu negara namun berlokasi di negara lain, seperti sebuah kedutaan suatu negara. Intan juga menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk memiliki lembaga perlindungan data pribadi dalam dunia digital saat ini.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi dan konsumsi digital tertinggi di Asia Tenggara. Namun hal tersebut tidak sebanding dengan kondisi ketersediaan dan kemampuan infrastruktur digital di Indonesia dalam menghadapi permintaan dan pertumbuhan digital saat ini. Total kapasitas pusat data di Indonesia masih berada di bawah 500 Mw. Sebagai perbandingan, saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 283 juta jiwa penduduk dengan kapasitas data center hanya sebesar 456 Mw. Sedangkan Malaysia dengan penduduk sekitar 35 juta jiwa memiliki kapasitas data center sebesar 1,218 Mw dan Singapura dengan penduduk yang jauh lebih sedikit (6 juta jiwa) mampu memiliki kapasitas data center sebesar 1,022 Mw.

#pusat-data #data-center #csis #bank-dunia #digital

https://tempo.co/ekonomi/indonesia-berpotensi-jadi-pusat-data-berenergi-bersih-2086782