Zulhas Sebut Nelayan, Peternak, dan Petambak Masih Miskin
Zulhas menilai kondisi nelayan, peternak ayam, petelur, dan petambak masih memprihatinkan. Ia menyebut kelompok tersebut masih hidup miskin.
(Kompas.com) 06/11/25 17:12 30037
KARAWANG, KOMPAS.com - Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menilai kondisi nelayan, peternak ayam, petelur, dan petambak masih memprihatinkan. Ia menyebut kelompok tersebut masih hidup miskin.
Menurut Zulhas, situasi itu berbeda dengan nilai tukar petani (NTP) yang terus meningkat. Saat ini NTP mencapai 124, naik dari 116 pada tahun lalu.
Nilai tukar menunjukkan perbandingan antara indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar petani.
“Itu nelayan masih miskin. Nelayan nilai tukarnya masih 106, 110, sama peternak, petelur, peternak ayam, petambak, itu belum,” kata Zulhas dalam sosialisasi harga pupuk subsidi di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/11/2025).
Pemerintah menyiapkan langkah untuk memperbaiki kondisi tersebut. Salah satunya dengan membangun 20 ribu hektar tambak di pesisir Jawa Barat.
Zulhas menambahkan, pemerintah juga berencana membangun 2 ribu kampung nelayan di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Program itu akan mencakup ekosistem peternakan ayam, petelur, dan sektor pendukung lain.
“Di Pantura, Pantura, pantai-pantai, kita akan bangun 2 ribu kampung nelayan, besar-besaran ini akan dibangun,” ujar Zulhas.
Rencana pembangunan tersebut berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dimulai tahun depan. Program itu diperkirakan menjangkau 82,9 juta anak-anak, balita, dan ibu hamil.
Kebutuhan pasokan pangan dari program itu juga menjadi alasan pemerintah mencetak 1 juta hektar sawah baru di Merauke, Papua.
“Kita lagi bangun lagi sawah banyak di Merauke, 1 juta. Di bawah Pak Presiden Pak Prabowo insyaallah masa depan Indonesia cerah,” kata Zulhas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras dalam negeri periode Januari-Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton, naik 13,54 persen dari tahun lalu.
Kementerian Pertanian menyebut, kenaikan produksi itu memberi peluang bagi Indonesia untuk tidak mengimpor beras tahun ini.
“Biasanya data BPS itu tingkat kepastiannya tinggi. Jadi, insya Allah tahun ini kita tidak ada impor beras,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam keterangan resminya, Senin (3/11/2025).
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang