Pertumbuhan Ekonomi Thailand Cuma 1,2 Persen, Dampak Pariwisata Lesu

Pertumbuhan Ekonomi Thailand Cuma 1,2 Persen, Dampak Pariwisata Lesu

Ekonomi Thailand melambat lantaran melemahnya ekspor dan sektor pariwisata di tengah kontraksi belanja pemerintah, konstruksi, dan output manufaktur.

(Kompas.com) 18/11/25 07:00 41314

BANGKOK, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Thailand melemah pada kuartal III 2025.

Ekonomi Thailand melambat lantaran melemahnya ekspor dan sektor pariwisata di tengah kontraksi belanja pemerintah, konstruksi, dan output manufaktur.

Dikutip dari Xinhua, Selasa (18/11/2025), pertumbuhan ekonomi Thailand pada periode Juli hingga September 2025 melambat menjadi 1,2 persen.

shutterstock.com/Nott+Sutthipong Kuil Wat Arun yang terletak di Bangkok, Thailand.

Angka ini turun dari ekspansi 2,8 persen pada kuartal sebelumnya, menurut Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand (NESDC).

Secara kuartalan, PDB Thailand menyusut 0,6 persen yang disesuaikan secara musiman pada kuartal III 2025, menunjukkan penurunan kuartalan pertama dalam hampir tiga tahun, kata NESDC.

Selama periode Januari sampai September 2025, ekonomi Thailand tercatat 2,4 persen.

IMF prediksi pertumbuhan ekonomi Thailand tumbuh 1,6 persen pada 2026

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Thailand mencapai 1,6 persen pada tahun 2026, di tengah tantangan ekonomi yang terus berlanjut, meskipun pelonggaran kebijakan moneter akan memberikan sedikit dukungan.

Dikutip dari Vietnam Plus, ekonomi Thailand diproyeksikan akan melemah pada semester II 2025 dan berlanjut pada tahun 2026.

Pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih tersebut diperkirakan sebesar 2,1 persen pada tahun 2025 dan 1,6 persen pada tahun 2026.

Dikatakan bahwa ekonomi Thailand menghadapi tekanan yang semakin besar.

Kompas.com/Caroline Saskia Tanoto Pemandangan malam dan gedung Terminal 2 di kota Bangkok, Thailand menggunakan kamera telefoto 50 MP zoom 3,7x di Huawei Pura 80 Ultra

Masalah struktural yang sudah berlangsung lama dan dampak pandemi yang berkepanjangan, termasuk tingginya utang rumah tangga, telah menghambat pertumbuhan ekonomi untuk beberapa waktu.

Kerentanan ini sekarang diperparah oleh gelombang guncangan baru.

Meskipun Amerika Serikat (AS) memangkas tarif yang diusulkan untuk ekspor Thailand menjadi 19 persen dari angka awal 36 persen, ketidakpastian tetap tinggi.

Kedatangan turis mancanegara telah melemah dan pergantian pemerintahan yang tak terduga telah menambah kekhawatiran, yang diperkirakan akan membebani prospek ekonomi Thailand tahun depan.

IMF mengatakan kondisi keuangan yang ketat kemungkinan akan menekan permintaan. Inflasi diperkirakan akan tetap terkendali, dengan inflasi umum diproyeksikan rata-rata 0,1 persen pada tahun 2025 dan 0,4 persen pada tahun 2026.

IMF mengatakan Bank of Thailand masih memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif guna mendukung pemulihan.

Suku bunga acuan Thailand saat ini di level 1,5 persen setelah empat kali pemangkasan dengan total 100 basis poin sejak Oktober 2024.

Dengan risiko yang cenderung menurun, IMF menekankan pentingnya koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal, sekaligus menjaga independensi bank sentral dan mempertahankan fleksibilitas nilai tukar sebagai peredam guncangan utama.

IMF mencatat ekspansi fiskal yang moderat, yang didukung oleh sisa dana dari tahun fiskal sebelumnya, dapat memberikan dukungan jangka pendek yang penting.

"Sumber daya fiskal yang tersedia harus diarahkan pada langkah-langkah peningkatan pertumbuhan, dengan tetap memperhatikan sasaran dan implementasi yang efisien untuk memaksimalkan dampaknya," kata IMF.

UNSPLASH/ROBERT EKLUND Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand.

IMF juga menyambut baik keputusan pemerintah Thailand untuk mengalihkan transfer tunai dompet digital yang direncanakan ke proyek-proyek investasi dan meningkatkan bantuan sosial bagi pemegang kartu kesejahteraan negara.

IMF menyebut, rencana pemerintah untuk terus mendorong deleveraging utang rumah tangga secara tertib dan mendukung usaha kecil dan menengah merupakan langkah ke arah yang tepat.

Prioritas harus mencakup restrukturisasi pinjaman pribadi tanpa jaminan bernilai rendah dan memungkinkan peminjam untuk kembali ke sistem kredit formal setelah berhasil membayar kembali saldo yang dikurangi atau pengaturan angsuran, tambah IMF.

Lembaga tersebut juga merekomendasikan reformasi struktural yang mendesak untuk memperkuat ketahanan dan meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang Thailand.

Selain itu, IMF menyatakan bahwa pemerintah Thailand harus mempertimbangkan pendalaman integrasi perdagangan dan keuangan, memajukan transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan daya saing ekspor, serta memperkuat perlindungan sosial, tata kelola, dan ketahanan iklim.

Pariwisata Thailand lesu

Diwartakan The Nation, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) telah menetapkan target untuk menyambut 6,71 juta wisatawan mancanegara dalam dua bulan terakhir tahun 2025 guna mencapai target tahunan sebesar 33,4 juta pengunjung.

Target ini menyusul penurunan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 7,23 persen selama Januari hingga Oktober 2025, dengan total 26.689.071 pengunjung.

Hal ini mengakibatkan penurunan pendapatan dari pasar internasional sebesar 4,53 persen, yang mencapai 1,23 triliun baht.

SHUTTERSTOCK Kawasan perkantoran di Kota Bangkok, Thailand. Batas negara Thailand sebelah utara adalah negara Laos dan Myanmar.

10 negara asal teratas wisatawan asing yang datang ke Thailand selama Januari hingga Oktober 2025 adalah sebagai berikut.

  1. Malaysia: 3.856.816 orang
  2. China: 3.774.771 orang
  3. India: 1.984.859 orang
  4. Rusia: 1.418.101 orang
  5. Korea Selatan: 1.274.415 orang
  6. Jepang: 877.574 orang
  7. Inggris Raya: 836.907 orang
  8. Amerika Serikat: 830.539 orang
  9. Taiwan: 822.519 orang
  10. Singapura: 763.470 orang

Thanapol Cheewarattanaporn, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (ATTA), memperkirakan Thailand akan menerima sekitar 32 juta wisatawan mancanegara pada akhir tahun 2025.

Angka lebih rendah dari target pemerintah dan di bawah angka tahun 2024 sebesar 35,54 juta pengunjung.

Lima negara teratas yang diperkirakan akan menghasilkan jumlah pengunjung tertinggi ke Thailand adalah sebagai berikut.

  1. China: 4,6 juta orang
  2. Malaysia: 4,5 juta orang
  3. India: 2,2 juta orang
  4. Rusia: 1,6 juta orang
  5. Korea Selatan: 1,5 juta orang

ATTA mengaitkan perlambatan ini dengan jumlah pengunjung harian dari China yang lebih rendah dari perkiraan, dengan rata-rata kedatangan hanya sekitar 10.000 pengunjung per hari, dan terkadang turun di bawah angka tersebut.

Angka itu jauh lebih rendah daripada tingkat sebelum pandemi Covid-19.

“Pariwisata di Thailand saat ini berada pada titik terendah sejak berakhirnya pandemi Covid-19. Kami berharap kondisinya tidak memburuk, dan tentu saja, industri ini akan segera pulih," ujar Cheewarattanaporn.

Lebih lanjut, Cheewarattanaporn menyatakan, pihaknya telah melihat upaya pemerintah Thailand, yang telah mendorong instansi terkait untuk bertindak cepat guna menghindari masalah di masa mendatang atau peningkatan pengawasan.

Unsplash Ilustrasi lalu lintas di kota Bangkok, Thailand, Pemerintah Thailand Gratiskan Transportasi Umum untuk Kurangi Polusi Udara

"Sektor swasta tetap berharap bahwa masa depan yang lebih baik akan datang, meskipun terjadi perlambatan saat ini,” tutur Cheewarattanaporn.

Sebagai informasi, pariwisata adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi Thailand.

Sektor pariwisata menyumbang 14,71 persen dari PDB Thailand dan 11,98 persen dari total lapangan kerja pada tahun 2024.

Menurut warta Bangkok Post, TAT memperkirakan Thailand akan menyambut 33,4 juta wisatawan mancanegara tahun ini, turun 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat kontraksi dari pasar Asia Tenggara dan Asia Timur.

TAT memprediksi Thailand akan menyambut 2,62 juta wisatawan pada Oktober 2025. Kemudian, 3,07 juta pada November 2025, dan 3,63 juta pada Desember 2025.

TAT memproyeksikan kedatangan wisatawan dari Asia Timur akan menyusut 25 persen, terutama karena penurunan tajam dari China, sementara kedatangan wisatawan dari Asia Tenggara akan turun 8 persen.

Meski demikian, menurut TAT, kedatangan wisatawan dari Eropa diperkirakan akan tumbuh 15 persen tahun ini, Asia Selatan, Amerika, dan Oseania masing-masing sebesar 8 persen, dan Timur Tengah sebesar 4 persen.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#thailand #pertumbuhan-ekonomi #indepth #pariwisata-thailand #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand

https://money.kompas.com/read/2025/11/18/070000626/pertumbuhan-ekonomi-thailand-cuma-1-2-persen-dampak-pariwisata-lesu