#30 tag 24jam
Thailand Klaim Diuntungkan Arus Dana Asing yang Keluar dari RI
Thailand menjadi salah satu negara yang diuntungkan dari keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia. [438] url asal
#pasar-modal #investor-asing #pasar-keuangan #kebijakan-fiskal #pasar-saham #arus-modal-asing #ekonomi-thailand #ihsg-anjlok
(Kompas.com - Money) 20/06/26 11:50
v/255119/
KOMPAS.com – Thailand menjadi salah satu negara yang diuntungkan dari keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Pemerintah Thailand menyebut investor global mulai mengalihkan dana ke negara tersebut karena dinilai memiliki fundamental fiskal yang lebih kuat dan risiko yang lebih rendah.
Dilansir dari Bloomberg, Sabtu (20/6/2026), Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas mengatakan arus modal yang masuk ke negaranya sebagian berasal dari dana yang keluar dari Indonesia.
Menurut Ekniti, investor tertarik pada disiplin fiskal Thailand serta keberlanjutan kebijakan pemerintah, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal dan keuangan Indonesia.
"Investor asing kini tertarik pada disiplin fiskal dan keberlanjutan kebijakan Thailand karena kekhawatiran atas risiko stabilitas fiskal dan keuangan yang membebani Indonesia," kata Ekniti kepada wartawan di Bangkok, Kamis (18/6/2026).
Sepanjang 2026, Thailand berhasil membukukan arus masuk dana asing sekitar 2,7 miliar dollar AS ke pasar obligasi dan saham. Sebaliknya, Indonesia mencatat arus keluar dana asing sebesar 4,2 miliar dollar AS dari pasar keuangannya.
Kekhawatiran terhadap ekonomi Indonesia
Arus keluar dana asing dari Indonesia terjadi di tengah pelemahan rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.
Selain itu, investor juga mencermati berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek fiskal dan stabilitas keuangan negara.
Perpindahan dana tersebut tercermin pada pergerakan pasar saham kedua negara.
Indeks saham acuan Thailand tercatat melonjak sekitar 26 persen sepanjang tahun ini. Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 29 persen dan menempatkan Indonesia di jajaran pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia pada 2026.
Thailand optimistis ekonomi tetap tumbuh
Di tengah meningkatnya aliran modal asing, pemerintah Thailand memperkirakan perekonomian negara itu tetap tumbuh sekitar 2 persen pada tahun ini.
Ekniti mengatakan stabilitas politik setelah pemilu menjadi salah satu faktor yang mendukung investasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi tersebut sejalan dengan penilaian S&P Global Ratings yang dirilis pekan ini. Lembaga pemeringkat itu menilai pemerintahan hasil pemilu Februari 2026 menghadirkan dinamika koalisi yang lebih stabil dan berpotensi menciptakan lingkungan kebijakan yang lebih kondusif.
Moody's Naikkan Prospek Kredit Thailand
Sementara itu, Moody’s juga merevisi prospek peringkat kredit Thailand menjadi stabil dari sebelumnya negatif.
Menurut Moody’s, perubahan tersebut didorong oleh meredanya risiko akibat tarif Amerika Serikat serta menguatnya momentum investasi domestik. Lembaga pemeringkat itu juga mempertahankan peringkat kredit Thailand pada level Baa1.
Masuknya dana asing ke Thailand dan keluarnya modal dari Indonesia menunjukkan pergeseran preferensi investor global yang saat ini lebih memilih pasar dengan persepsi risiko lebih rendah dan kebijakan fiskal yang dianggap lebih konsisten.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangThailand Pangkas Masa Bebas Visa, Turis dari 90+ Negara Hanya Bisa Tinggal 30 Hari
Thailand memangkas masa bebas visa dari 60 menjadi 30 hari bagi turis dari 90+ negara, termasuk Inggris, mulai 15 hari setelah diumumkan di Royal Gazette. [318] url asal
#thailand-bebas-visa #masa-tinggal-thailand #turis-thailand-30-hari #visa-thailand-2026 #kebijakan-visa-thailand #pariwisata-thailand #ekonomi-thailand #visa-turis-thailand #aturan-visa-thailand #thail
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/05/26 10:59
v/231112/
Bisnis.com, JAKARTA -- Thailand resmi memangkas masa tinggal bebas visa bagi wisatawan dari lebih dari 90 negara, termasuk warga United Kingdom. Kebijakan baru ini membuat turis yang ingin tinggal lebih dari 30 hari wajib mengajukan visa.
Sebelumnya, sejak Juli 2024, wisatawan dari 93 negara dapat masuk ke Thailand tanpa visa selama 60 hari. Kebijakan tersebut diterapkan pemerintah Thailand untuk mendorong pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi setelah pandemi Covid-19.
Namun, pemerintah Thailand pada Selasa lalu menyetujui revisi aturan tersebut. Masa tinggal bebas visa kini akan ditentukan berdasarkan kesepakatan masing-masing negara, dengan sebagian besar wisatawan hanya mendapat izin tinggal maksimal 30 hari tanpa visa.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan kebijakan lama perlu disesuaikan dengan kondisi terkini.
“Agar lebih sesuai dengan situasi saat ini, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan nasional,” ujarnya dikutip melalui BBC, pada Senin (25/5/2026).
Selain Inggris, negara-negara yang sebelumnya menikmati fasilitas bebas visa 60 hari antara lain Australia, China, France, Germany, India, Italy, Spain, dan United States.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyebut sebagian negara mungkin memperoleh masa bebas visa yang berbeda, tergantung perjanjian timbal balik antarnegara.
Aturan baru ini akan mulai berlaku 15 hari setelah diumumkan di Royal Gazette, media resmi pemerintah Thailand untuk publikasi regulasi dan ketentuan hukum.
Pemerintah Thailand juga menilai sistem visa sebelumnya terlalu membingungkan karena terdapat berbagai jenis pengecualian visa yang berlaku secara bersamaan bagi beberapa negara.
Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Asia, sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi Thailand. Negara itu sempat menerima hampir 40 juta wisatawan pada 2019 sebelum anjlok drastis akibat pandemi.
Kini, jumlah kunjungan wisatawan mulai pulih. Data resmi menunjukkan hampir 12 juta wisatawan telah mengunjungi Thailand sepanjang tahun ini.
Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir, otoritas Thailand juga menangani sejumlah kasus kriminal yang melibatkan warga asing, termasuk dugaan penyelundupan narkoba oleh warga Inggris serta praktik kerja ilegal di sebuah sekolah internasional tanpa izin di Bangkok.
Thailand Waspadai Perlambatan Ekonomi, Stimulus Rp 216 T Digelontorkan
Pemerintah Thailand mulai menggulirkan langkah stimulus ekonomi besar-besaran untuk menopang pertumbuhan ekonomi. [1,149] url asal
#thailand #pariwisata-thailand #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand #subsidi
(Kompas.com - Money) 22/05/26 10:10
v/228642/
BANGKOK, KOMPAS.com - Pemerintah Thailand mulai menggulirkan langkah stimulus ekonomi besar-besaran untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai tertekan akibat konflik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan melemahnya daya beli masyarakat.
Kabinet Thailand pada Mei 2026 menyetujui tambahan pinjaman baru sebesar 200 miliar baht atau sekitar Rp 108,16 triliun (asumsi kurs Rp 540,83 per baht) untuk membiayai program subsidi konsumen dan bantuan biaya hidup masyarakat.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga konsumsi domestik di tengah tekanan ekonomi global.
iStockphoto/Derek Brumby Bendera Thailand. Indonesia Perbarui Ejaan Nama Negara Asing, Thailand Jadi Tailan dan Paraguay Jadi ParaguaiMengacu pada laporan Reuters, dikutip pada Jumat (22/5/2026), Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas mengatakan, tambahan pembiayaan tersebut diperlukan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup akibat dampak perang di Timur Tengah.
Langkah itu muncul di tengah perlambatan ekonomi Thailand yang masih dibayangi tingginya utang rumah tangga dan lemahnya konsumsi domestik.
Bank sentral Thailand sebelumnya juga mempertahankan suku bunga acuan di level 1 persen, level terendah dalam lebih dari tiga tahun.
Bank of Thailand menilai perang di Timur Tengah berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan biaya bisnis dan menurunnya daya beli rumah tangga.
Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand tahun 2026 hanya mencapai 1,5 persen, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,9 persen.
Di sisi lain, inflasi diperkirakan meningkat tajam seiring lonjakan harga energi global.
Bank sentral Thailand memproyeksikan inflasi rata-rata mencapai 2,9 persen pada 2026, jauh lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 0,3 persen.
SHUTTERSTOCK/TWSTOCK Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand. Kota yang sering dikunjungi di dunia sepanjang 2025.Pertumbuhan ekonomi Thailand kuartal I 2026 melampaui perkiraan
Meski menghadapi tekanan eksternal, ekonomi Thailand pada kuartal I 2026 masih mencatat pertumbuhan di atas ekspektasi pasar.
Data National Economic and Social Development Council (NESDC) menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) Thailand tumbuh 2,8 persen secara tahunan pada periode Januari-Maret 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan pertumbuhan hanya sebesar 2,2 persen.
Secara kuartalan, ekonomi Thailand tumbuh 0,7 persen setelah disesuaikan secara musiman. Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan ekspor, konsumsi masyarakat, investasi swasta, manufaktur, dan belanja pemerintah.
NESDC menyebutkan, pertumbuhan kuartal pertama juga didorong ekspansi sektor manufaktur dan konsumsi pemerintah. Konsumsi serta investasi swasta juga masih meningkat pada awal tahun.
Namun, di balik capaian tersebut, pemerintah Thailand tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun penuh di kisaran 1,5 persen sampai 2,5 persen.
Nitithanprapas mengatakan, tekanan ekonomi diperkirakan mulai terasa lebih besar pada kuartal kedua.
“Ke depan, masih ada badai yang terbentuk, bersama kenaikan harga minyak dan inflasi yang lebih tinggi,” kata dia.
Ia mengatakan, ekspor dan daya beli masyarakat diperkirakan melemah pada kuartal kedua akibat perang di Timur Tengah.
Reuters melaporkan, tingkat pengangguran Thailand juga meningkat menjadi 0,91 persen pada kuartal pertama 2026, naik dibanding 0,70 persen pada kuartal sebelumnya.
Unsplash Ilustrasi lalu lintas di kota Bangkok, Thailand, Pemerintah Thailand Gratiskan Transportasi Umum untuk Kurangi Polusi UdaraPemerintah siapkan stimulus dan subsidi konsumen
Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah Thailand mulai menyiapkan berbagai stimulus tambahan.
Pada awal Mei 2026, pemerintah menyetujui dekrit pinjaman sebesar 400 miliar baht atau sekitar Rp 216,33 triliun.
Dana tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup sekaligus mendukung transisi energi bersih.
Selain itu, pemerintah Thailand juga akan meluncurkan program subsidi konsumen pada Juni 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menopang konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi domestik.
Reuters melaporkan, stimulus tersebut disiapkan ketika ekonomi Thailand terpukul oleh perang di Timur Tengah dan tingginya utang rumah tangga.
Dalam laporan lain, kabinet Thailand juga menyetujui program bantuan ekonomi baru di bawah kerangka anggaran sebesar 157 miliar baht atau sekitar Rp 84,91 triliun.
Program bertajuk “Thai Help Thai Plus” tersebut disebut akan mencakup pemegang kartu kesejahteraan negara dan sekitar 30 juta masyarakat umum.
Pemerintah berharap stimulus dan bantuan konsumsi dapat menjaga aktivitas ekonomi domestik ketika sektor eksternal mulai melambat.
NESDC menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 masih akan ditopang konsumsi swasta, investasi swasta, belanja pemerintah, dan program pinjaman pemerintah.
Tekanan datang dari perang dan harga energi
Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang membebani prospek ekonomi Thailand tahun ini.
SHUTTERSTOCK/CRAIG SCHULER Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand. Turis China ramai-ramai batalkan liburan ke Thailand.Kenaikan harga minyak global dinilai meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sekaligus mengurangi kemampuan belanja masyarakat.
Bank sentral Thailand menilai tekanan inflasi akibat energi akan membuat inflasi berada di atas target 1 hingga 3 persen selama empat kuartal berturut-turut mulai tahun ini.
Meski demikian, bank sentral menyebut kondisi tersebut belum mengarah pada stagflasi.
Asisten Gubernur Bank of Thailand Don Nakornthab mengatakan, kebijakan moneter selanjutnya akan bergantung pada apakah risiko inflasi atau risiko pertumbuhan ekonomi yang menjadi lebih dominan.
“Pada tahap ini, belum perlu khawatir mengenai stagflasi,” kata Nakornthab.
Bank sentral Thailand juga menilai lemahnya konsumsi domestik dan tingginya utang rumah tangga masih menjadi tantangan utama ekonomi negara tersebut.
Pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2025 sebelumnya hanya mencapai 2,4 persen, tertinggal dibanding sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Pariwisata Thailand ikut menghadapi tekanan
Selain konsumsi domestik dan ekspor, sektor pariwisata Thailand juga menghadapi tantangan tambahan.
Pemerintah Thailand merevisi target kunjungan wisatawan asing tahun 2026 menjadi 32 juta wisatawan, turun dari target sebelumnya sebanyak 35 juta wisatawan.
Penurunan target tersebut terjadi di tengah meningkatnya biaya perjalanan global dan dampak konflik geopolitik terhadap mobilitas wisatawan.
Thailand juga memperketat aturan bebas visa dengan memangkas masa tinggal bebas visa dari 60 hari menjadi 30 hari.
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah muncul kekhawatiran mengenai penyalahgunaan fasilitas bebas visa oleh sebagian warga negara asing.
SHUTTERSTOCK Kawasan perkantoran di Kota Bangkok, Thailand. Batas negara Thailand sebelah utara adalah negara Laos dan Myanmar.Pemerintah Thailand menegaskan, aturan baru tersebut ditujukan untuk mencegah penyalahgunaan sistem imigrasi dan aktivitas bisnis ilegal.
Sektor pariwisata selama ini menyumbang hingga sekitar 20 persen terhadap produk domestik bruto Thailand.
Namun, pelemahan kunjungan wisatawan pada awal 2026 membuat pemerintah mulai lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi tahun ini.
Utang pemerintah diperkirakan meningkat
Di tengah berbagai stimulus yang digelontorkan, rasio utang pemerintah Thailand diperkirakan ikut meningkat.
Reuters melaporkan, Menteri Keuangan Thailand memperkirakan rasio utang pemerintah terhadap PDB akan mencapai 68 persen pada 2026.
Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal utang pemerintah Thailand sebesar 70 persen terhadap PDB.
Pemerintah Thailand menilai tambahan pinjaman masih diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan menopang daya beli masyarakat.
Selain bantuan biaya hidup, sebagian stimulus juga diarahkan untuk mendukung transisi energi bersih.
Di sisi lain, ekspor Thailand diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi tahun ini.
NESDC memperkirakan pertumbuhan ekspor Thailand pada 2026 mencapai 9,6 persen.
Namun, tekanan geopolitik global dan harga energi dinilai tetap menjadi risiko utama yang harus diwaspadai pemerintah Thailand dalam menjaga stabilitas ekonomi dan konsumsi domestik sepanjang 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Ekonomi Thailand 2025 Tumbuh 2,4 Persen, Ditopang Investasi dan Pariwisata
Perekonomian Thailand menunjukkan ketahanan pada 2025, mencatat pertumbuhan yang melampaui perkiraan awal. [1,242] url asal
#thailand #pertumbuhan-ekonomi #indepth #pariwisata-thailand #ekonomi-thailand #perekonomian-thailand
(Kompas.com - Money) 17/02/26 13:00
v/138680/
BANGKOK, KOMPAS.com - Perekonomian Thailand menunjukkan ketahanan pada 2025, mencatat pertumbuhan yang melampaui perkiraan awal.
Investasi swasta, konsumsi domestik, serta pemulihan sektor pariwisata menjadi faktor utama yang menopang ekspansi ekonomi negara tersebut.
Di tengah ketidakpastian global, otoritas ekonomi Thailand juga melihat sektor pariwisata sebagai motor utama yang akan menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada tahun-tahun mendatang.
Kompas.com/Caroline Saskia Tanoto Pemandangan malam dan gedung Terminal 2 di kota Bangkok, Thailand menggunakan kamera telefoto 50 MP zoom 3,7x di Huawei Pura 80 UltraPertumbuhan ekonomi Thailand melampaui proyeksi awal
Dikutip dari Nation Thailand, Selasa (17/2/2026), data resmi yang dirilis oleh National Economic and Social Development Council (NESDC) menunjukkan bahwa ekonomi Thailand tumbuh 2,4 persen sepanjang 2025.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal, terutama karena peningkatan aktivitas ekonomi pada akhir tahun.
Pada kuartal IV 2025, PDB Thailand meningkat sebesar 2,5 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut merupakan percepatan signifikan dibandingkan ekspansi 1,2 persen pada kuartal sebelumnya dan melampaui perkiraan konservatif sebesar 1,7 persen.
Lonjakan pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi domestik.
Secara keseluruhan, investasi mencatat pertumbuhan 8,1 persen pada kuartal terakhir, menjadi kenaikan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Investasi swasta meningkat sebesar 6,5 persen, terutama didorong oleh pembelian mesin industri dan peralatan kantor.
Konsumsi rumah tangga juga menunjukkan ketahanan, dengan pertumbuhan sebesar 3,3 persen.
THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Salah satu pendorong utama konsumsi adalah lonjakan pembelian kendaraan, seiring berakhirnya program subsidi kendaraan listrik pemerintah.
Pengeluaran untuk barang tahan lama bahkan melonjak hingga 12,2 persen dalam tiga bulan terakhir tahun tersebut, mencerminkan meningkatnya kepercayaan konsumen dan percepatan pembelian menjelang berakhirnya insentif fiskal.
Investasi menjadi pendorong utama ekspansi
Lonjakan investasi menjadi faktor kunci yang menopang pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2025.
Selain meningkatnya pembelian peralatan industri, sektor teknologi dan manufaktur juga menunjukkan kinerja kuat.
Ekspor peralatan telekomunikasi dan komputer mencatat pertumbuhan signifikan masing-masing sebesar 83 persen dan 91 persen.
Namun, tidak semua sektor ekspor mengalami peningkatan. Ekspor produk pertanian seperti beras dan karet menghadapi tekanan akibat persaingan harga global.
Sektor otomotif juga menunjukkan kinerja yang beragam. Ekspor mobil penumpang turun tajam sebesar 36,2 persen, meskipun ekspor truk pikap dan perhiasan meningkat.
Meski demikian, Thailand tetap mencatat surplus perdagangan sebesar 23,3 miliar dollar AS sepanjang 2025.
Surplus perdagangan ini mencerminkan daya saing sektor manufaktur Thailand, meskipun terdapat tekanan pada beberapa komoditas tradisional.
Pariwisata dipandang sebagai mesin utama pertumbuhan
Selain investasi dan konsumsi domestik, sektor pariwisata dipandang sebagai faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Thailand ke depan.
Dok. Wikimedia Commons/John Harrison Ilustrasi Chatuchak Weekend Market di Thailand.Tourism Council of Thailand (TCT) memperkirakan sektor pariwisata akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi tahun ini, seiring dengan pemulihan penerbangan dan peningkatan jumlah wisatawan.
Dikutip dari Bangkok Post, pariwisata memiliki peran strategis dalam struktur ekonomi Thailand. Sebelum pandemi Covid-19, sektor ini menyumbang sekitar 12 persen terhadap PDB negara tersebut, menjadikannya salah satu sumber pendapatan utama.
Pemulihan sektor pariwisata dipandang penting untuk memperkuat aktivitas ekonomi domestik, terutama di sektor jasa, perhotelan, transportasi, dan perdagangan.
Pemulihan perjalanan internasional serta meningkatnya frekuensi penerbangan menjadi indikator penting bagi kebangkitan sektor pariwisata Thailand.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, permintaan terhadap berbagai layanan domestik juga ikut meningkat.
Konsumsi domestik tetap menjadi fondasi pertumbuhan
Selain investasi dan pariwisata, konsumsi domestik tetap menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi Thailand.
Sekretaris Jenderal NESDC Danucha Pichayanan menyatakan, pertumbuhan ekonomi ke depan akan didukung oleh beberapa faktor utama, termasuk konsumsi domestik dan pemulihan sektor jasa.
“Momentum pada tahun 2026 akan dipertahankan oleh konsumsi swasta yang berkelanjutan, pemulihan di sektor pariwisata dan jasa yang vital, serta peningkatan belanja modal pemerintah," ungkap Pichayanan.
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan otoritas ekonomi Thailand bahwa konsumsi domestik akan tetap menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, belanja modal pemerintah juga diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas ekonomi.
UNSPLASH/ROBERT EKLUND Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand.Inflasi rendah dan dukungan faktor struktural
Selain konsumsi dan investasi, stabilitas harga juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Thailand.
NESDC memperkirakan inflasi akan tetap rendah, berada dalam kisaran minus 0,3 persen hingga 0,7 persen pada tahun mendatang.
Inflasi yang rendah dapat membantu menjaga daya beli masyarakat serta mendukung stabilitas ekonomi makro.
Selain itu, kondisi cuaca yang menguntungkan dan ketersediaan air yang cukup diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian, yang merupakan sektor penting dalam perekonomian Thailand.
Pemulihan sektor pertanian dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan dan mendukung konsumsi domestik.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026
Meskipun mencatat kinerja yang lebih baik dari perkiraan pada 2025, otoritas ekonomi Thailand tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan yang moderat untuk tahun berikutnya.
NESDC menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 2 persen pada 2026, dengan kisaran proyeksi antara 1,5 persen hingga 2,5 persen.
Proyeksi ini mencerminkan pendekatan yang hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk volatilitas perdagangan internasional dan kondisi ekonomi negara-negara mitra dagang utama.
Namun, pemerintah Thailand tetap optimistis sektor domestik, terutama konsumsi, investasi, dan pariwisata, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Pariwisata sebagai katalis pemulihan ekonomi Thailand
amazingthailand.com.au Wat Arun di Bangkok, Thailand.Pemulihan sektor pariwisata tidak hanya berdampak pada sektor jasa, tetapi juga memiliki efek multiplier terhadap seluruh perekonomian.
Ketika wisatawan datang, mereka membelanjakan uang untuk berbagai layanan, termasuk transportasi, akomodasi, makanan, hiburan, dan belanja. Hal ini menciptakan permintaan yang lebih luas di berbagai sektor ekonomi.
Peningkatan aktivitas pariwisata juga membantu menciptakan lapangan kerja, terutama di sektor informal dan usaha kecil.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, aktivitas ekonomi di berbagai wilayah juga ikut meningkat, terutama di destinasi wisata utama seperti Bangkok, Phuket, dan Chiang Mai.
Peran kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan
Selain faktor pasar, kebijakan pemerintah juga memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Thailand.
Program subsidi kendaraan listrik, misalnya, terbukti berhasil meningkatkan konsumsi domestik dan mendorong investasi di sektor otomotif.
Program ini menciptakan lonjakan pembelian kendaraan listrik sebelum subsidi berakhir, yang membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, belanja modal pemerintah juga diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam mendukung aktivitas ekonomi ke depan.
Investasi pemerintah dalam infrastruktur dan proyek pembangunan dapat membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi Thailand.
Tantangan yang masih dihadapi
Meskipun menunjukkan ketahanan, ekonomi Thailand masih menghadapi sejumlah tantangan.
Dok. Freepik/tawatchai07 Ilustrasi Thailand. Per 1 Mei 2025, pelancong wajib isi Thailand Digital Arrival Card.Beberapa sektor ekspor, seperti produk pertanian dan otomotif, menghadapi tekanan akibat persaingan global dan perubahan permintaan internasional.
Selain itu, ketergantungan terhadap sektor pariwisata juga dapat menjadi risiko jika terjadi gangguan pada sektor tersebut, seperti perubahan kondisi global atau kebijakan perjalanan internasional.
Namun, pemulihan sektor pariwisata dan peningkatan investasi domestik memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi Thailand.
Struktur ekonomi yang semakin bergeser
Perkembangan ekonomi Thailand menunjukkan pergeseran struktur ekonomi menuju sektor jasa dan teknologi.
Pertumbuhan ekspor produk teknologi seperti peralatan telekomunikasi dan komputer mencerminkan transformasi ekonomi Thailand menuju sektor bernilai tambah lebih tinggi.
Selain itu, investasi di sektor industri dan teknologi juga menunjukkan bahwa Thailand berupaya memperkuat daya saingnya dalam ekonomi global.
Sektor pariwisata, yang merupakan bagian dari sektor jasa, tetap menjadi salah satu pilar utama ekonomi Thailand.
Pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global
Pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2025 menunjukkan bahwa negara tersebut mampu mempertahankan momentum pemulihan di tengah ketidakpastian global.
Investasi swasta, konsumsi domestik, dan pemulihan sektor pariwisata menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi.
Dengan proyeksi pertumbuhan yang moderat pada 2026, sektor domestik diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Thailand.
Sektor pariwisata, khususnya, dipandang sebagai faktor penting dalam mendukung pemulihan ekonomi dan memperkuat pertumbuhan jangka menengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Ekonomi Thailand Lesu, Pelaku Usaha Khawatirkan Resesi
Ekonomi Thailand diproyeksikan menghadapi ekspansi terlemah dalam hampir tiga dekade ke depan. [862] url asal
#thailand #pertumbuhan-ekonomi #indepth #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand
(Kompas.com - Money) 08/01/26 15:44
v/97338/
JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonomi Thailand diproyeksikan menghadapi ekspansi terlemah dalam hampir tiga dekade ke depan.
Komite Tetap Gabungan Bidang Perdagangan, Industri, dan Perbankan (JSCCIB) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada 2026 hanya akan berada di bawah 2 persen.
Dikutip dari Bangkok Post, Kamis (8/1/2026), proyeksi tersebut menjadi yang terendah dalam 30 tahun terakhir, di luar periode krisis besar seperti pandemi Covid-19 yang membuat PDB Thailand terkontraksi 6,1 persen pada 2020.
SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.Lemahnya ekspansi ekonomi ini terutama dipicu oleh kinerja ekspor yang lesu, tingginya utang rumah tangga, serta menurunnya daya saing Thailand di pasar global.
JSCCIB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 berada di kisaran 1,6 persen hingga 2 persen. Pada saat yang sama, ekspor diproyeksikan menyusut antara 0,5 persen hingga 1,5 persen.
Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam rentang minus 0,2 persen hingga 0,7 persen.
“Kami khawatir akan resesi ekonomi,” ungkap Kriengkrai Thiennukul, Ketua Federasi Industri Thailand sekaligus anggota JSCCIB.
Ia menekankan pentingnya langkah cepat dari pemerintah baru untuk mengubah struktur ekonomi nasional.
“Pemerintah baru harus melakukan upaya serius untuk mentransformasikan industri lama menjadi industri baru,” ujar Kriengkrai.
freepik Ilustrasi Thailand.Menurut dia, transformasi teknologi menjadi kunci untuk menghidupkan kembali mesin pertumbuhan ekonomi Thailand. Tanpa pembaruan struktural, sektor industri dinilai akan semakin tertinggal di tengah persaingan global yang kian ketat.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap ekspor diperkirakan masih akan berlanjut.
Kriengkrai menilai tarif impor Amerika Serikat (AS) serta penguatan nilai tukar baht menjadi faktor utama yang menekan daya saing perdagangan Thailand.
Mata uang baht tercatat menguat lebih dari 8 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu. Penguatan tersebut, menurut Kriengkrai, telah menggerus daya saing Thailand di pasar internasional dan menekan kinerja sektor ekspor.
Pandangan senada disampaikan Poj Aramwattananont, Ketua Kamar Dagang Thailand dan anggota JSCCIB lainnya. Ia menilai apresiasi baht berpotensi memberi dampak signifikan terhadap sektor-sektor utama perekonomian.
“Apresiasi baht akan memberikan pukulan bagi sektor ekspor, yang mendorong perekonomian Thailand bersama dengan pariwisata,” terang Poj.
Ia juga mendorong pemerintah untuk lebih cermat memantau aktivitas perdagangan emas karena pergerakan komoditas tersebut dapat memengaruhi arus valuta asing.
“Mengamati perubahan nilai baht secara lebih saksama merupakan tugas mendesak bagi pemerintah,” ujarnya.
Di dalam negeri, tekanan terhadap ekonomi Thailand juga datang dari tingginya utang rumah tangga. Pada kuartal II 2025, rasio utang rumah tangga terhadap PDB tercatat mencapai 86,8 persen.
Kondisi ini membatasi kemampuan rumah tangga untuk mengambil kredit baru dan mendorong perbankan memperketat persyaratan pemberian pinjaman.
Selain persoalan domestik, ketidakpastian global turut membayangi prospek ekonomi Thailand.
WIKIMEDIA COMMONS/CEPHOTO, UWE ARANAS Ilustrasi Thailand. Thailand akan meminta pelancong asing wajib menunjukkan bukti telah divaksinasi Covid-19 penuh sebelum terbang ke Thailand.Peringatan JSCCIB muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik menyusul serangan militer mengejutkan AS terhadap Venezuela, yang memicu kekhawatiran akan stabilitas tatanan dunia.
JSCCIB mencatat, konflik tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global dan berdampak pada sektor manufaktur Thailand.
Namun, dampak langsungnya diperkirakan relatif terbatas karena nilai perdagangan antara Thailand dan Venezuela tergolong kecil, sekitar 500 juta dollar AS per tahun.
Meski demikian, pelaku usaha menilai efek geopolitik tidak bisa dipandang remeh. Ketua Asosiasi Perbankan Thailand sekaligus anggota JSCCIB, Payong Srivanich, mengatakan ketegangan global dapat memengaruhi arus investasi internasional.
“Thailand sangat perlu beradaptasi dengan perubahan dalam politik dan ekonomi global,” kata Payong.
Di tengah tantangan global dan domestik tersebut, para pembuat kebijakan dan pelaku usaha di Thailand menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat daya saing, serta merespons dinamika global yang terus berubah.
Pertumbuhan ekonomi Thailand diprediksi lesu
Dikutip dari Nation Thailand, konsensus proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 hanya berada di kisaran 1,5 sampai 1,8 persen.
Angka pertumbuhan ekonomi Thailand tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan sekitar 2 persen pada 2025, dan menjadi yang terlemah dalam hampir tiga dekade di luar masa krisis.
Bank sentral Thailand, Bank of Thailand (BoT) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 1,6 persen pada 2026, turun dari sekitar 2,2 persen pada 2025.
Freepik/lifeforstock Ilustrasi uang baht Thailand.Proyeksi ini mencerminkan lemahnya permintaan global, dampak lanjutan kebijakan perdagangan AS, serta penguatan nilai tukar baht.
Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.
“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.
Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.
“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.
Ia menekankan, dampak lanjutan tarif AS, fragmentasi perdagangan global, serta melemahnya momentum ekspor menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Ekonomi Thailand Diprediksi Terlemah dalam Hampir 30 Tahun, Ada Apa?
Ekonomi Thailand memasuki tahun 2026 dengan bayang-bayang tantangan berat. [1,129] url asal
#thailand #pertumbuhan-ekonomi #indepth #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand
(Kompas.com - Money) 07/01/26 14:03
v/96112/
BANGKOK, KOMPAS.com - Ekonomi Thailand memasuki tahun 2026 dengan bayang-bayang tantangan berat.
Sejumlah ekonom dan lembaga keuangan sepakat bahwa perekonomian Negeri Gajah Putih berada pada fase paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir, di luar periode krisis besar.
Tekanan eksternal dan kerentanan domestik dinilai membentuk badai sempurna yang berisiko menggagalkan momentum pemulihan ekonomi.
freepik Ilustrasi Thailand.Dikutip dari The Nation Thailand, Rabu (7/1/2026), konsensus proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada 2026 hanya berada di kisaran 1,5 sampai 1,8 persen.
Angka pertumbuhan ekonomi Thailand tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan sekitar 2 persen pada 2025, dan menjadi yang terlemah dalam hampir tiga dekade di luar masa krisis.
Konsensus langka tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi Thailand
Dalam keselarasan pandangan yang jarang terjadi, lembaga-lembaga utama memberikan proyeksi yang relatif seragam.
Bank sentral Thailand, Bank of Thailand (BoT) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 1,6 persen pada 2026, turun dari sekitar 2,2 persen pada 2025.
Proyeksi ini mencerminkan lemahnya permintaan global, dampak lanjutan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS), serta penguatan nilai tukar baht.
shutterstock.com/Nott+Sutthipong Ilustrasi Thailand.Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.
“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.
Ia menekankan, dampak lanjutan tarif AS, fragmentasi perdagangan global, serta melemahnya momentum ekspor menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.
Tujuh aspek penentu arah ekonomi Thailand 2026
Para ekonom merangkum prospek ekonomi Thailand ke dalam tujuh aspek kunci yang akan menentukan apakah perekonomian mampu bertahan atau justru terperosok dalam stagnasi berkepanjangan.
1. Ketahanan ekspor di tengah perang dagang
Ekspor Thailand diperkirakan berisiko terkontraksi hingga 1,5 persen pada 2026 akibat tarif AS, meningkatnya persaingan global, serta perlambatan ekonomi dunia.
Yanyong Thaicharoen, Wakil Presiden Eksekutif SCB EIC, menyebut kombinasi kenaikan tarif AS dan penguatan baht berpotensi mendorong sejumlah komoditas ekspor Thailand ke zona kontraksi.
Sektor ekspor, yang menyumbang porsi besar terhadap PDB Thailand, menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari memudarnya efek lonjakan impor pasca-kenaikan tarif AS, meningkatnya risiko bea masuk tambahan khususnya pada produk elektronik dan barang transit, hingga persaingan ketat dari China setelah kesepakatan dagang sementara dengan AS.
Pariwisata, yang sebelumnya menjadi motor pertumbuhan ekonomi Thailand, juga dinilai belum sepenuhnya pulih.
Dok. Wikimedia Commons/John Harrison Ilustrasi Chatuchak Weekend Market di Thailand.Jumlah wisatawan asing diperkirakan meningkat menjadi sekitar 34,1 juta orang pada 2026, namun pertumbuhannya hanya sekitar 4 persen dan masih di bawah level sebelum pandemi Covid-19.
Penguatan mata uang baht, persaingan pariwisata regional, serta kekhawatiran keamanan akibat ketegangan perbatasan Thailand–Kamboja turut membebani sektor ini.
2. Beban utang rumah tangga dan konsumsi
Utang rumah tangga tetap menjadi salah satu risiko domestik terbesar bagi ekonomi Thailand. Rasio utang terhadap pendapatan masih tinggi, dengan risiko pembayaran utang meluas hingga kelompok berpendapatan menengah dan tinggi.
Survei Konsumen SCB EIC 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan rumah tangga tertinggal dari kenaikan pengeluaran, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih tinggi, mendorong rumah tangga menahan konsumsi demi mengurangi utang.
“Pengurangan utang rumah tangga merupakan kendala domestik utama yang akan meredam konsumsi swasta pada tahun 2026,” terang Thaicharoen.
3. Prospek investasi swasta di tengah ketidakpastian
Investasi swasta diperkirakan hanya tumbuh moderat pada 2026, terutama didorong investasi asing di sektor-sektor yang mendapat insentif dari Badan Investasi Thailand, seperti pusat data, peralatan listrik dan elektronik, serta otomotif yang menyasar pasar ASEAN.
Namun, para ekonom menilai manfaat domestiknya terbatas karena tingginya kandungan impor, khususnya dari China.
Di sisi lain, investasi bisnis domestik pada mesin dan konstruksi diperkirakan terus terkontraksi akibat permintaan lemah, utilisasi kapasitas rendah, serta meningkatnya beban utang.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga.4. Efektivitas pelonggaran kebijakan moneter
BoT telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen pada akhir 2025.
SCB EIC memperkirakan suku bunga masih akan dipangkas hingga 1,0 persen pada semester I 2026 guna menurunkan biaya pembiayaan, menekan penguatan baht, dan mendorong inflasi yang diperkirakan hanya sekitar 0,5 persen.
Namun, para ekonom menilai pelonggaran moneter saja tidak cukup. Akses kredit bagi rumah tangga dan UMKM diprediksi tetap terbatas karena kondisi keuangan yang rapuh dan sikap hati-hati perbankan.
“Keberhasilan langkah-langkah keuangan ini harus sejalan dengan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperkuat daya saing UKM,” ungkap para analis.
5. Dampak ketidakpastian politik
Pembubaran parlemen Thailand pada 12 Desember 2025 memicu ketidakpastian politik yang memengaruhi implementasi kebijakan fiskal.
Pencairan belanja investasi pada tahun fiskal 2026 diperkirakan lebih rendah, sementara penyusunan RUU Anggaran 2027 berpotensi tertunda.
Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) memasukkan ketidakpastian politik sebagai salah satu dari empat risiko utama 2026, bersama tarif AS, perlambatan global, dan tingginya utang swasta.
6. Dorongan reformasi struktural
Sejumlah ekonom menilai reformasi struktural semakin tak terelakkan.
Pemerintah Thailand didorong mempercepat kebijakan peningkatan produktivitas dan daya saing, termasuk melalui inisiatif Reinvent Thailand yang bertujuan menghilangkan hambatan investasi dan mendorong industri bernilai tambah.
SHUTTERSTOCK/CRAIG SCHULER Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand. Turis China ramai-ramai batalkan liburan ke Thailand.Chucherd menyebut 2026 sebagai tahun transisi yang krusial, di tengah risiko pemulihan global berbentuk “K” yang dapat memperlebar kesenjangan antara sektor ekspor dan domestik Thailand.
7. Sektor industri yang bertahan
Sektor industri Thailand diperkirakan menghadapi lima tantangan utama pada 2026, yakni volatilitas rantai pasok global, lemahnya daya beli rumah tangga, ketidakpastian kebijakan, persaingan ketat, dan tekanan megatren.
Industri manufaktur, terutama elektronik, otomotif, petrokimia, dan baja, serta real estat dinilai paling rentan.
Sebaliknya, peluang masih terbuka bagi bisnis yang mampu beradaptasi melalui inovasi teknologi, keberlanjutan, dan pemanfaatan pasar dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Sektor jasa seperti pariwisata dan ritel diperkirakan tetap tumbuh meski dibayangi ketidakpastian.
Kondisi global kurang mendukung
Tantangan domestik Thailand berlangsung di tengah perlambatan ekonomi global. SCB EIC memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 2,5 persen pada 2026 dari 2,7 persen pada 2025.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,0 persen pada 2026, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang lebih lemah.
Di AS, bank sentral Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan memangkas suku bunga sekitar 50 basis poin sebelum mempertahankan level yang relatif tinggi.
Bank Sentral Eropa (ECB) diproyeksikan menjaga suku bunga di 2 persen sepanjang 2026, sementara bank sentral Jepang (BoJ) diperkirakan melanjutkan kenaikan bertahap hingga sekitar 1,25 persen pada pertengahan tahun.
Para ekonom juga mengidentifikasi empat risiko global utama bagi Thailand pada 2026, yakni ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, potensi volatilitas pasar keuangan global akibat koreksi aset terkait AI, serta dampak perubahan iklim yang dapat mengganggu produksi dan rantai pasok.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Vietnam Diprediksi Salip Thailand Jadi Ekonomi Terbesar Kedua ASEAN
Vietnam berada di jalur untuk menyalip Thailand sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia. [713] url asal
#vietnam #asia-tenggara #ekonomi-vietnam #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-vietnam
(Kompas.com - Money) 06/01/26 19:09
v/95413/
BANGKOK, KOMPAS.com - Vietnam berada di jalur untuk menyalip Thailand sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia jika diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) nominal.
Dikutip dari The Nation Thailand, Selasa (6/1/2026), Nikkei Asia melaporkan, perubahan peta ekonomi kawasan Asia Tenggara ini diperkirakan terjadi paling cepat pada tahun ini.
Prediksi tersebut seiring dengan dorongan investasi infrastruktur berskala besar yang dipimpin negara dan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Vietnam.
PEXELS/HUGO HEIMENDINGER Ilustrasi bendera Vietnam.Pergeseran tersebut mencerminkan dinamika baru di Asia Tenggara. Di satu sisi, Vietnam menikmati pertumbuhan yang kuat dan agenda pembangunan agresif.
Di sisi lain, Thailand menghadapi tekanan dari ketidakpastian politik domestik serta ketegangan perbatasan dengan Kamboja yang membebani aktivitas ekonomi dan memperlambat pemulihan.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam dan target ambisius pemerintah
PDB riil Vietnam pada 2025 diperkirakan tumbuh sekitar 8 persen. Pemerintah Vietnam bahkan telah menetapkan target pertumbuhan lebih dari 10 persen mulai 2026 dan seterusnya.
Meski sejumlah pengamat menilai target tersebut terlalu ambisius, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan dua digit dapat dicapai.
Ia kembali menyampaikan optimisme tersebut dalam sebuah acara ekonomi pada Desember 2025 lalu.
Jika skenario pertumbuhan itu terealisasi, PDB nominal Vietnam diperkirakan dapat mencapai kisaran pertengahan 500 miliar dollar AS pada 2026 atau 2027.
Dengan capaian tersebut, Vietnam berpotensi menyalip Thailand dan menjadi ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara, setelah Indonesia.
PDB per kapita Vietnam juga diproyeksikan menembus 5.000 dollar AS, mendekati level Indonesia.
Infrastruktur jadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Vietnam
Pendorong utama akselerasi ekonomi Vietnam adalah pembangunan infrastruktur nasional. Pemerintah merencanakan lonjakan investasi publik yang signifikan.
SHUTTERSTOCK/YUTTANA CONTRIBUTOR STUDIO Ilustrasi konstruksi, proyek infrastruktur.Untuk 2026, nilai investasi publik diperkirakan meningkat sekitar 26 persen.
Kepala ekonom Bank for Investment and Development of Vietnam, Bank for Investment and Development of Vietnam, Can Van Luc, menyatakan kenaikan belanja infrastruktur tersebut dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Vietnam hingga 1,6 poin persentase.
“Rencana investasi publik untuk tahun 2026 diperkirakan akan meningkat sekitar 26 persen, yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,6 poin persentase,” kata Can Van Luc.
Dampak kebijakan ini tercermin dalam berbagai proyek strategis.
Salah satunya adalah bandara internasional baru di dekat Ho Chi Minh City yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026.
Selain itu, proyek kereta api di wilayah utara Vietnam yang didukung oleh China juga telah memasuki tahap konstruksi.
Tantangan reformasi dan hambatan investasi
Meski pembangunan fisik melaju cepat, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Reformasi hukum dan pengurangan birokrasi dinilai krusial untuk menjaga arus investasi pada fase berikutnya.
Can Van Luc mencatat masih ada lebih dari 2.000 proyek investasi yang terhambat oleh berbagai persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari perizinan hingga tumpang tindih regulasi.
Kondisi tersebut berpotensi menahan manfaat penuh dari ekspansi infrastruktur jika tidak segera ditangani.
Ekonomi Thailand melambat di tengah tekanan domestik
Sementara Vietnam melaju, prospek ekonomi Thailand menunjukkan arah yang berbeda.
freepik Ilustrasi Thailand.Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya akan mencapai 1,5 persen pada 2026, atau turun 0,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah faktor membebani ekonomi Thailand. Tingginya utang rumah tangga menekan konsumsi domestik, sementara sektor pariwisata masih pulih secara lambat.
Di saat yang sama, tarif impor Amerika Serikat (AS) menambah tekanan pada sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen otomotif global mulai mengurangi eksposurnya di Thailand.
Suzuki Motor, misalnya, telah menghentikan produksi kendaraan roda empat di negara itu, sementara Honda Motor juga memangkas kapasitas produksinya.
Ketegangan kawasan dan dampak ke Asia Tenggara
Asia Tenggara, yang dihuni sekitar 700 juta penduduk, selama ini dipandang sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan global.
Namun, dinamika geopolitik kawasan turut memengaruhi prospek tersebut.
Sejak Mei 2025, ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja meningkat dan bahkan meletus menjadi pertempuran sengit pada Desember 2025 lalu.
Eskalasi ini memperlambat perdagangan bilateral dan memukul sektor pariwisata, terutama di wilayah perbatasan.
Visiting scholar di Boston College, Kang Wu, menekankan pentingnya stabilitas geopolitik bagi pertumbuhan Asia Tenggara.
Menurut dia, konflik perbatasan Thailand–Kamboja berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati.
Ia juga memperingatkan, ketegangan tersebut dapat menarik kawasan Asia Tenggara lebih dalam ke pusaran rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China.
Ini pada akhirnya dapat memengaruhi arus investasi dan perdagangan regional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangBeda Arah dengan BI Rate, Bank Sentral Thailand Pangkas Bunga ke Level Terendah Sejak 2022
Bank Sentral Thailand memangkas suku bunga ke 1,25% untuk mendukung ekonomi yang tertekan penguatan baht dan ketidakpastian politik, berbeda dengan BI yang menahan suku bunga. [404] url asal
#bank-sentral-thailand #suku-bunga-thailand #pemangkasan-suku-bunga #ekonomi-thailand #baht-thailand #ketidakpastian-politik-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand #moneter-thailand #bank-of-thailand
(Bisnis.Com - Ekonomi) 17/12/25 17:19
v/76133/
Bisnis.com, JAKARTA — Berlawanan arah dengan keputusan Bank Indonesia hari ini yang menahan suku bunga acuan BI Rate ke level 4,75%, Bank sentral Thailand (Bank of Thailand/BOT) memutuskan memangkas suku bunga acuan ke level terendah sejak 2022. Langkah penurunan bunga ini untuk menopang ekonomi yang tertekan penguatan baht serta meningkatnya ketidakpastian politik.
Komite Kebijakan Moneter atau Monetary Policy Committee (MPC) BOT pada Rabu (17/12/2025) memutuskan secara bulat memangkas suku bunga repo satu hari sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Ini merupakan pemangkasan kelima dalam 14 bulan terakhir.
“Dengan perlambatan ekonomi yang terlihat jelas serta meningkatnya berbagai risiko, kebijakan moneter dapat dibuat lebih akomodatif untuk memastikan kondisi keuangan mendukung pemulihan ekonomi dan meringankan beban utang kelompok rentan,” ujar MPC dalam pernyataannya dilansir dari Bloomberg.
Pelonggaran moneter lanjutan dinilai krusial bagi ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu, yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi serangkaian guncangan, mulai dari dampak tarif resiprokal Amerika Serikat, banjir parah di provinsi-provinsi selatan, hingga bentrokan perbatasan yang mematikan dengan Kamboja.
Seiring dengan keputusan tersebut, bank sentral juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 1,5% dari sebelumnya 1,6%, sejalan dengan perlambatan konsumsi dan ekspor.
Nilai tukar baht memangkas penguatan sekitar 0,3% setelah pengumuman penurunan suku bunga, dan bergerak relatif stabil di level 31,51 per dolar AS pada pukul 14.15 waktu setempat.
BOT menyatakan reli baht didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS serta faktor-faktor spesifik Thailand. Meski demikian, MPC akan meningkatkan pemantauan ketat terhadap pergerakan mata uang tersebut. Komite juga akan mempertimbangkan langkah-langkah pengelolaan transaksi valuta asing yang memberi tekanan signifikan terhadap baht.
Ketidakpastian politik kembali mencuat setelah Perdana Menteri Anutin Charnvirakul membubarkan parlemen awal bulan ini, membuka jalan bagi pemilihan umum pada 8 Februari. Kondisi tersebut membuat Thailand berada di bawah pemerintahan sementara dengan ruang fiskal yang terbatas.
Pemangkasan suku bunga diharapkan dapat meredakan tekanan akibat penguatan baht yang pesat sepanjang bulan ini, yang membebani kinerja ekspor dan sektor pariwisata.
Menjelang keputusan suku bunga, baht sempat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun dan telah terapresiasi lebih dari 8% sepanjang tahun berjalan, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia.
Sementara itu, harga konsumen Thailand masih berada di wilayah negatif sejak April, terutama dipengaruhi faktor sisi penawaran. Thailand juga tercatat kesulitan menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target bank sentral sebesar 1%–3% selama sebagian besar dekade terakhir.
Krisis Koalisi Memuncak, PM Thailand Bubarkan Parlemen
PM Thailand Anutin Charnvirakul bubarkan parlemen akibat krisis koalisi, memicu pemilu lebih cepat. Konflik politik dan ekonomi jadi latar belakang keputusan ini. [622] url asal
#krisis-koalisi #pm-thailand #bubarkan-parlemen #pemilu-thailand #anutin-charnvirakul #people-s-party #konflik-perbatasan #ekonomi-thailand #mata-uang-baht #raja-maha-vajiralongkorn #tekanan-politik
(Bisnis.Com - Terbaru) 12/12/25 14:26
v/70668/
Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul membubarkan parlemen dan memicu terjadinya pemilu lebih cepat setelah partai pendukung pemerintah mengancam menarik dukungan.
Melansir Bloomberg pada Jumat (12/12/2025), Anutin menyampaikan lewat unggahan Facebook bahwa dirinya akan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat.
Beberapa jam kemudian, Raja Maha Vajiralongkorn menyetujui rekomendasi tersebut, yang secara hukum menjadi formalitas untuk membubarkan 500 anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Sesuai aturan Thailand, pemilu harus digelar dalam 45–60 hari sejak pembubaran parlemen, sehingga pemungutan suara berpotensi berlangsung mulai akhir Januari 2026.
Langkah pembubaran itu muncul di tengah spekulasi bahwa People’s Party — yang memberikan dukungan bersyarat kepada pemerintahan Anutin — akan mengajukan mosi tidak percaya.
Partai tersebut marah setelah upayanya memperkuat peran legislator terpilih dalam amandemen konstitusi kembali diblokir. Jika diajukan, mosi itu hampir pasti menggulingkan koalisi Anutin.
Ekonomi Thailand saat ini tertinggal dari negara tetangga, hanya tumbuh 1,2% pada kuartal lalu, tertekan oleh ketidakstabilan politik dan konflik perbatasan yang terus terjadi. Banjir besar di wilayah selatan dan tarif AS diperkirakan menambah beban pertumbuhan.
Tekanan makro tersebut tercermin di pasar keuangan. Potensi stagnasi kebijakan menjelang pemilu diperkirakan memperburuk arus keluar modal asing, yang sejauh ini sudah menarik lebih dari US$3 miliar dari saham Thailand sepanjang 2025.
Pemulihan indeks SET dari titik terendah pertengahan tahun mulai memudar di tengah aksi jual besar oleh investor domestik. Bursa Thailand bahkan menjadi salah satu pasar berkinerja terburuk di dunia tahun ini, dengan penurunan sekitar 13% dalam 12 bulan terakhir.
Mata uang baht tampil lebih baik, menguat lebih dari 7% terhadap dolar AS, didorong pelemahan greenback, surplus transaksi berjalan Thailand, serta korelasi kuat baht terhadap harga emas yang melonjak sepanjang 2025.
Konflik Perbatasan
Keputusan mempercepat pemilu juga terjadi di tengah memanasnya konflik perbatasan dengan Kamboja, yang telah menewaskan hampir selusin tentara Thailand dan memaksa sekitar 400.000 warga mengungsi dari daerah perbatasan.
Anutin, yang menjadi perdana menteri ketiga Thailand dalam dua tahun terakhir pada September lalu, mengambil sikap keras terhadap Kamboja untuk menggalang sentimen nasionalis yang diyakini dapat menguntungkan partainya dalam pemilu.
Dia juga mendapat kritik atas respons yang lamban terhadap banjir terburuk dalam beberapa dekade di wilayah selatan.
Menurut Titipol Phakdeewanich, pengajar ilmu politik Universitas Ubon Ratchathani, strategi mempercepat pemilu bisa menjadi keuntungan bagi Anutin.
“Dia memobilisasi dukungan melalui sentimen nasionalisme, dan popularitasnya meningkat. Jika ditunda lebih lama, momentum itu bisa memudar,” ujarnya.
Tekanan dari Trump
Namun tekanan global terhadap Thailand juga meningkat. Presiden AS Donald Trump menyatakan berencana menghubungi pemimpin Thailand dan Kamboja untuk menghentikan konflik, seperti yang ia klaim berhasil dilakukan beberapa bulan lalu dengan memanfaatkan kekuatan perjanjian dagang.
Pemilu mendatang diperkirakan menjadi pertarungan utama antara Partai Bhumjaithai pimpinan Anutin dan People’s Party yang dipimpin Natthaphong Ruengpanyawut, blok terbesar di parlemen. Taruhannya adalah apakah salah satu kubu mampu meraih mayoritas dan mengakhiri rangkaian pemerintahan berumur pendek yang menahan laju ekonomi Thailand selama bertahun-tahun.
Anutin naik ke tampuk kekuasaan melalui kesepakatan dengan People’s Party yang menuntut dukungan terhadap amandemen konstitusi serta pembubaran parlemen dalam waktu empat bulan.
Namun People’s Party kehilangan dukungan publik setelah berkoalisi dengan Anutin. Hal tersebut menjadi kemunduran besar bagi partai penerus kelompok politik yang memenangkan pemilu 2023 tetapi diblokir dari kekuasaan.
Kericuhan terjadi di parlemen pada Kamis malam ketika legislator Bhumjaithai dan senator konservatif menolak klausul yang memberi legislator terpilih peran lebih besar dalam amandemen konstitusi.
“Anutin tidak menepati kesepakatan,” ujar Natthaphong.
Anutin sendiri naik ke tampuk kekuasaan setelah Paetongtarn Shinawatra dari Pheu Thai dicopot oleh Mahkamah Konstitusi atas penanganan konflik perbatasan dengan Kamboja. Keluarga Shinawatra telah lama mendominasi politik Thailand, dengan ayah dan bibinya juga tersingkir melalui kudeta dan putusan pengadilan.
Sebagai perdana menteri, Anutin meluncurkan bantuan tunai dan stimulus ekonomi lainnya di tengah pelemahan ekonomi yang terkontraksi 0,6% pada kuartal ketiga secara kuartalan, dipicu oleh lemahnya output manufaktur dan kedatangan wisatawan.
Pertumbuhan Ekonomi Thailand Cuma 1,2 Persen, Dampak Pariwisata Lesu
Ekonomi Thailand melambat lantaran melemahnya ekspor dan sektor pariwisata di tengah kontraksi belanja pemerintah, konstruksi, dan output manufaktur. [1,135] url asal
#thailand #pertumbuhan-ekonomi #indepth #pariwisata-thailand #ekonomi-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand
(Kompas.com - Money) 18/11/25 07:00
v/41314/
BANGKOK, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Thailand melemah pada kuartal III 2025.
Ekonomi Thailand melambat lantaran melemahnya ekspor dan sektor pariwisata di tengah kontraksi belanja pemerintah, konstruksi, dan output manufaktur.
Dikutip dari Xinhua, Selasa (18/11/2025), pertumbuhan ekonomi Thailand pada periode Juli hingga September 2025 melambat menjadi 1,2 persen.
shutterstock.com/Nott+Sutthipong Kuil Wat Arun yang terletak di Bangkok, Thailand.Angka ini turun dari ekspansi 2,8 persen pada kuartal sebelumnya, menurut Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand (NESDC).
Secara kuartalan, PDB Thailand menyusut 0,6 persen yang disesuaikan secara musiman pada kuartal III 2025, menunjukkan penurunan kuartalan pertama dalam hampir tiga tahun, kata NESDC.
Selama periode Januari sampai September 2025, ekonomi Thailand tercatat 2,4 persen.
IMF prediksi pertumbuhan ekonomi Thailand tumbuh 1,6 persen pada 2026
Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Thailand mencapai 1,6 persen pada tahun 2026, di tengah tantangan ekonomi yang terus berlanjut, meskipun pelonggaran kebijakan moneter akan memberikan sedikit dukungan.
Dikutip dari Vietnam Plus, ekonomi Thailand diproyeksikan akan melemah pada semester II 2025 dan berlanjut pada tahun 2026.
Pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih tersebut diperkirakan sebesar 2,1 persen pada tahun 2025 dan 1,6 persen pada tahun 2026.
Dikatakan bahwa ekonomi Thailand menghadapi tekanan yang semakin besar.
Kompas.com/Caroline Saskia Tanoto Pemandangan malam dan gedung Terminal 2 di kota Bangkok, Thailand menggunakan kamera telefoto 50 MP zoom 3,7x di Huawei Pura 80 UltraMasalah struktural yang sudah berlangsung lama dan dampak pandemi yang berkepanjangan, termasuk tingginya utang rumah tangga, telah menghambat pertumbuhan ekonomi untuk beberapa waktu.
Kerentanan ini sekarang diperparah oleh gelombang guncangan baru.
Meskipun Amerika Serikat (AS) memangkas tarif yang diusulkan untuk ekspor Thailand menjadi 19 persen dari angka awal 36 persen, ketidakpastian tetap tinggi.
Kedatangan turis mancanegara telah melemah dan pergantian pemerintahan yang tak terduga telah menambah kekhawatiran, yang diperkirakan akan membebani prospek ekonomi Thailand tahun depan.
IMF mengatakan kondisi keuangan yang ketat kemungkinan akan menekan permintaan. Inflasi diperkirakan akan tetap terkendali, dengan inflasi umum diproyeksikan rata-rata 0,1 persen pada tahun 2025 dan 0,4 persen pada tahun 2026.
IMF mengatakan Bank of Thailand masih memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif guna mendukung pemulihan.
Suku bunga acuan Thailand saat ini di level 1,5 persen setelah empat kali pemangkasan dengan total 100 basis poin sejak Oktober 2024.
Dengan risiko yang cenderung menurun, IMF menekankan pentingnya koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal, sekaligus menjaga independensi bank sentral dan mempertahankan fleksibilitas nilai tukar sebagai peredam guncangan utama.
IMF mencatat ekspansi fiskal yang moderat, yang didukung oleh sisa dana dari tahun fiskal sebelumnya, dapat memberikan dukungan jangka pendek yang penting.
"Sumber daya fiskal yang tersedia harus diarahkan pada langkah-langkah peningkatan pertumbuhan, dengan tetap memperhatikan sasaran dan implementasi yang efisien untuk memaksimalkan dampaknya," kata IMF.
UNSPLASH/ROBERT EKLUND Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand.IMF juga menyambut baik keputusan pemerintah Thailand untuk mengalihkan transfer tunai dompet digital yang direncanakan ke proyek-proyek investasi dan meningkatkan bantuan sosial bagi pemegang kartu kesejahteraan negara.
IMF menyebut, rencana pemerintah untuk terus mendorong deleveraging utang rumah tangga secara tertib dan mendukung usaha kecil dan menengah merupakan langkah ke arah yang tepat.
Prioritas harus mencakup restrukturisasi pinjaman pribadi tanpa jaminan bernilai rendah dan memungkinkan peminjam untuk kembali ke sistem kredit formal setelah berhasil membayar kembali saldo yang dikurangi atau pengaturan angsuran, tambah IMF.
Lembaga tersebut juga merekomendasikan reformasi struktural yang mendesak untuk memperkuat ketahanan dan meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang Thailand.
Selain itu, IMF menyatakan bahwa pemerintah Thailand harus mempertimbangkan pendalaman integrasi perdagangan dan keuangan, memajukan transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan daya saing ekspor, serta memperkuat perlindungan sosial, tata kelola, dan ketahanan iklim.
Pariwisata Thailand lesu
Diwartakan The Nation, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) telah menetapkan target untuk menyambut 6,71 juta wisatawan mancanegara dalam dua bulan terakhir tahun 2025 guna mencapai target tahunan sebesar 33,4 juta pengunjung.
Target ini menyusul penurunan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 7,23 persen selama Januari hingga Oktober 2025, dengan total 26.689.071 pengunjung.
Hal ini mengakibatkan penurunan pendapatan dari pasar internasional sebesar 4,53 persen, yang mencapai 1,23 triliun baht.
SHUTTERSTOCK Kawasan perkantoran di Kota Bangkok, Thailand. Batas negara Thailand sebelah utara adalah negara Laos dan Myanmar.10 negara asal teratas wisatawan asing yang datang ke Thailand selama Januari hingga Oktober 2025 adalah sebagai berikut.
- Malaysia: 3.856.816 orang
- China: 3.774.771 orang
- India: 1.984.859 orang
- Rusia: 1.418.101 orang
- Korea Selatan: 1.274.415 orang
- Jepang: 877.574 orang
- Inggris Raya: 836.907 orang
- Amerika Serikat: 830.539 orang
- Taiwan: 822.519 orang
- Singapura: 763.470 orang
Thanapol Cheewarattanaporn, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (ATTA), memperkirakan Thailand akan menerima sekitar 32 juta wisatawan mancanegara pada akhir tahun 2025.
Angka lebih rendah dari target pemerintah dan di bawah angka tahun 2024 sebesar 35,54 juta pengunjung.
Lima negara teratas yang diperkirakan akan menghasilkan jumlah pengunjung tertinggi ke Thailand adalah sebagai berikut.
- China: 4,6 juta orang
- Malaysia: 4,5 juta orang
- India: 2,2 juta orang
- Rusia: 1,6 juta orang
- Korea Selatan: 1,5 juta orang
ATTA mengaitkan perlambatan ini dengan jumlah pengunjung harian dari China yang lebih rendah dari perkiraan, dengan rata-rata kedatangan hanya sekitar 10.000 pengunjung per hari, dan terkadang turun di bawah angka tersebut.
Angka itu jauh lebih rendah daripada tingkat sebelum pandemi Covid-19.
“Pariwisata di Thailand saat ini berada pada titik terendah sejak berakhirnya pandemi Covid-19. Kami berharap kondisinya tidak memburuk, dan tentu saja, industri ini akan segera pulih," ujar Cheewarattanaporn.
Lebih lanjut, Cheewarattanaporn menyatakan, pihaknya telah melihat upaya pemerintah Thailand, yang telah mendorong instansi terkait untuk bertindak cepat guna menghindari masalah di masa mendatang atau peningkatan pengawasan.
Unsplash Ilustrasi lalu lintas di kota Bangkok, Thailand, Pemerintah Thailand Gratiskan Transportasi Umum untuk Kurangi Polusi Udara"Sektor swasta tetap berharap bahwa masa depan yang lebih baik akan datang, meskipun terjadi perlambatan saat ini,” tutur Cheewarattanaporn.
Sebagai informasi, pariwisata adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi Thailand.
Sektor pariwisata menyumbang 14,71 persen dari PDB Thailand dan 11,98 persen dari total lapangan kerja pada tahun 2024.
Menurut warta Bangkok Post, TAT memperkirakan Thailand akan menyambut 33,4 juta wisatawan mancanegara tahun ini, turun 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat kontraksi dari pasar Asia Tenggara dan Asia Timur.
TAT memprediksi Thailand akan menyambut 2,62 juta wisatawan pada Oktober 2025. Kemudian, 3,07 juta pada November 2025, dan 3,63 juta pada Desember 2025.
TAT memproyeksikan kedatangan wisatawan dari Asia Timur akan menyusut 25 persen, terutama karena penurunan tajam dari China, sementara kedatangan wisatawan dari Asia Tenggara akan turun 8 persen.
Meski demikian, menurut TAT, kedatangan wisatawan dari Eropa diperkirakan akan tumbuh 15 persen tahun ini, Asia Selatan, Amerika, dan Oseania masing-masing sebesar 8 persen, dan Timur Tengah sebesar 4 persen.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarangManufaktur dan Pariwisata Lesu, Pertumbuhan Ekonomi Thailand Tersendat
Ekonomi Thailand melambat di Q3 2025 akibat lesunya manufaktur dan pariwisata, dengan PDB turun 0,6%. Proyeksi pertumbuhan 2026 diperkirakan hanya 1,2%. [427] url asal
#manufaktur-thailand #pariwisata-thailand #pertumbuhan-ekonomi-thailand #ekonomi-thailand-2025 #perekonomian-thailand #kunjungan-wisatawan-thailand #produk-domestik-bruto-thailand #ekspor-thailand #sek
(Bisnis.Com - Terbaru) 17/11/25 23:02
v/41212/
Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan manufaktur dan penurunan kunjungan wisatawan membuat pertumbuhan ekonomi Thailand melambat lebih dalam dari perkiraan pada kuartal III/2025.
Melansir Bloomberg pada Senin (17/11/2025), Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada periode Juli–September 2025 terkontraksi 0,6% secara kuartalan. Angka ini lebih dalam dari proyeksi survei Bloomberg yang memperkirakan penurunan 0,3%.
Kontraksi tersebut menjadi penurunan PDB kuartalan pertama sejak akhir 2022 dan yang terdalam sejak pertengahan 2021.
Secara tahunan, ekonomi Thailand tumbuh 1,2% pada kuartal III/2025, meleset dari konsensus 1,6% dan melambat dari pertumbuhan 2,8% pada kuartal sebelumnya. NESDC memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV akan melambat menjadi 0,6% secara tahunan.
Lembaga tersebut juga memperkirakan laju pertumbuhan pada 2026 dapat serendah 1,2%, turun dari proyeksi 2% pada tahun ini.
Menurut NESDC, seluruh mesin utama ekonomi Thailand tersendat pada kuartal lalu, mencakup ekspor, produksi manufaktur, konstruksi, belanja pemerintah, serta jasa pariwisata.
Data tersebut menegaskan tekanan pada ekonomi Thailand akibat tarif Amerika Serikat, kondisi ekspor global yang lebih menantang, transisi politik dalam negeri, serta melemahnya sektor pariwisata. Thailand menjadi negara kedua di kawasan setelah Filipina yang gagal memenuhi ekspektasi pertumbuhan kuartal III.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul—perdana menteri ketiga Thailand dalam dua tahun terakhir—telah meluncurkan program stimulus konsumsi senilai US$1,36 miliar. Gubernur Bank of Thailand yang baru juga berkomitmen menangani tingginya utang rumah tangga.
Kepala NESDC Onfa Vejjajiva mengatakan pihaknya tidak memperkirakan terjadinya resesi teknis, yaitu kontraksi dua kuartal berturut-turut, karena sektor pariwisata dan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih mampu menahan dampak pelemahan ekspor pada akhir tahun.
Ekonomi Thailand kini diproyeksikan tumbuh 2% pada tahun ini, dari realisasi 2,5% pada 2024. Inflasi umum yang berada di wilayah negatif selama tujuh bulan terakhir diperkirakan rata-rata minus 0,2% tahun ini, sementara surplus transaksi berjalan diproyeksikan mencapai 2,8% dari PDB.
Pada tahun depan, laju pertumbuhan diperkirakan kembali melambat dengan kisaran 1,2%–2,2%.
Arah pemulihan ekonomi Thailand juga akan bergantung pada hasil negosiasi tarif dengan AS yang kini terancam setelah Presiden AS Donald Trump menangguhkan kesepakatan damai yang sebelumnya dinegosiasikan kedua pihak.
Anutin, yang tengah berupaya memperbaiki ekonomi sekaligus memperkuat dukungan menjelang pemilu yang diperkirakan berlangsung pada Maret 2026, harus menyeimbangkan kepentingan perdagangan dan domestik yang bernuansa nasionalistik.
Ekonom Capital Economics, Shivaan Tandon, menilai pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah tren dapat mendorong Bank of Thailand memangkas suku bunga kebijakan ke level 1% dari saat ini 1,5% dalam beberapa kuartal mendatang.
“Bank sentral akan berupaya melakukan bagiannya untuk mendongkrak aktivitas ekonomi,” tulisnya.
Kalah Telak dari RI, Ekonomi Thailand Cuma Naik 1,2%-Terendah 4 Tahun
Ekonomi Thailand melambat pada kuartal III-2025, tumbuh hanya 1,2%. Tantangan makroekonomi dan gejolak politik menjadi penyebab utama. [399] url asal
#ekonomi-thailand #pertumbuhan-pdb #kuartal-ketiga-2025 #nesdc #keyakinan-ekonomi #tantangan-makroekonomi #utang-rumah-tangga #kurs-baht #proyeksi-pertumbuhan #stimulus-pemerintah
(CNBC Indonesia - News) 17/11/25 14:28
v/40569/
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Thailand menunjukkan tanda perlambatan signifikan pada kuartal III-2025. Data resmi yang dirilis hari ini menunjukkan bahwa ekonomi negara Gajah Putih tersebut tumbuh di laju paling lambat dalam empat tahun terakhir.
Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand (NESDC) melaporkan pada Senin (17/11/2025) bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand hanya tumbuh 1,2% pada kuartal Juli-September dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Angka ini meleset dari perkiraan jajak pendapat Reuters sebesar 1,6% dan jauh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 2,8% pada kuartal sebelumnya. Secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) PDB Thailand bahkan terkontraksi 0,6% atau jadi penurunan pertama dalam hampir tiga tahun terakhir.
Hasil ini jauh di bawah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 mencapai 5,04% secara yoy dan 1,43% secara qtq.
Kepala NESDC, Onfa Vejjajiva, menjelaskan bahwa perlambatan terutama disebabkan oleh lemahnya keyakinan ekonomi. Selain itu, negara tersebut juga menghadapi berbagai tantangan makroekonomi, termasuk utang rumah tangga yang tinggi, kurs Baht yang kuat, dan potensi dampak tarif AS yang tinggi.
"Di kuartal ketiga, isu utamanya adalah keyakinan ekonomi. Terdapat gejolak politik yang cukup besar, dan kemudian konflik dengan Kamboja," kata Onfa Vejjajiva dalam konferensi pers, merujuk pada pemecatan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra dan konflik perbatasan yang meletus pada Juli lalu.
Shivaan Tandon, ekonom Asia di Capital Economics, memperingatkan bahwa ekonomi Thailand kemungkinan akan menghadapi kesulitan dalam beberapa bulan mendatang.
"Kami memperkirakan perekonomian akan tumbuh pada laju di bawah tren dalam kuartal mendatang, dan bank sentral akan ingin melakukan bagiannya untuk menghidupkan kembali aktivitas," ujar Tandon.
Meskipun demikian, NESDC menyesuaikan proyeksi pertumbuhan PDB Thailand untuk keseluruhan tahun 2025 menjadi 2,0%. Pemerintah telah meluncurkan paket subsidi konsumen sebesar 44 miliar baht, setara dengan US$1,36 miliar (Rp22,76 triliun).
Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi akan tumbuh di atas 2% tahun ini. NESDC juga mencatat bahwa langkah-langkah stimulus pemerintah belum sepenuhnya tercermin dalam perkiraan mereka.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56