Bos KCIC Serahkan Masalah Utang Whoosh ke Danantara

Bos KCIC Serahkan Masalah Utang Whoosh ke Danantara

Penyelesaian utang Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Whoosh masih belum menemui titik terang dan masih dibahas Danantara.

(Kompas.com) 18/11/25 10:04 41520

KOMPAS.com - Struktur kepemilikan saham pada Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) membuat tanggungan utang Whoosh secara otomatis ikut ditanggung ke empat BUMN yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Perusahaan patungan ini menggenggam 60 persen saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sementara 40 persen lainnya dimiliki konsorsium perusahaan asal China.

Dalam tubuh PSBI sendiri, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 58,5 persen, kemudian disusul Wika 33,4 persen, Jasa Marga 7,1 persen, serta PTPN VIII sebesar 1,03 persen.

Dengan komposisi tersebut, setiap kerugian yang ditanggung PT KCIC otomatis akan memengaruhi laporan keuangan PSBI dan kerugiannya diteruskan ke masing-masing BUMN pemegang saham.

Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi, menyatakan pihaknya menyerahkan opsi restrukturisasi atau penyelesaian utang Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Dwiyana memaparkan, alasannya karena pengelolaan KCIC berada di bawah naungan Danantara. Ia menegaskan bahwa apa pun mekanisme maupun skema penyelesaian utang kereta cepat akan diserahkan sepenuhnya kepada Danantara.

"Pokoknya kalau untuk restrukturisasi kan kita serahkan ke Danantara. KCIC di bawah Danantara. Jadi apa pun mekanisme, skemanya, kita serahkan ke Danantara," katanya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian pada Senin (17/11/2025) malam.

Dwiyana menyebut KCIC akan tunduk dan patuh pada keputusan Danantara soal utang Kereta Cepat Whoosh. Adapun sebelumnya, Dwiyana juga menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan Dwiyana.

Saat dikonfirmasi, Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pertemuan tersebut hanya membahas aspek teknis operasional Whoosh, bukan terkait dengan isu utang kereta cepat tersebut yang belakangan santer diberitakan.

“KCIC (membahas) pertemuan teknis,” ungkap Airlangga.

Beban utang Kereta Cepat Whoosh

Untuk diketahui saja, empat BUMN Indonesia harus ikut menanggung kerugian PT KCIC yang nilainya triliunan rupiah setiap tahun.

Beban tersebut semakin berat karena biaya pembangunan proyek kereta cepat melampaui perhitungan awal. Total nilai proyek KCJB mencapai 6,07 miliar dollar AS atau sekitar Rp 101,17 triliun.

Dari jumlah itu, 75 persen berasal dari pinjaman Bank Pembangunan China (CDB), sedangkan 25 persen sisanya ditanggung melalui penyertaan modal para pemegang saham.

Angka ini belum termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sekitar 1,2 miliar dollar AS atau Rp 20 triliun yang disepakati pada Februari 2023.

Dengan skala utang Kereta Cepat Whoosh sebesar itu, kenaikan biaya maupun bunga pinjaman sedikit saja dapat langsung menekan kemampuan PSBI dan para BUMN pendukungnya dalam menjaga kesehatan neraca.

Secara keseluruhan, PSBI membukukan kerugian sekitar Rp 4,2 triliun sepanjang 2024. Kerugian tersebut masih berlanjut pada semester I-2025 dengan nilai rugi Rp 1,6 triliun, di mana sekitar Rp 951,5 miliar berasal dari kontribusi KAI.

Jika laju kerugian ini tak ditangani dengan skema penyelesaian utang yang jelas, BUMN-BUMN anggota PSBI terancam semakin merugi dan menyedot kas perusahaan yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan bisnis intinya.

Purbaya masih menunggu

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan, saat ini skema pembagian peran dalam menangani utang Kereta Cepat Jakarta Bandung masih terus dibahas.

Menkeu menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesimpulan terkait bentuk penyelesaian yang akan diambil pemerintah. Proses pembahasan masih terus berlangsung dan belum mencapai keputusan final.

"Cuma gini kita ada kebijakan pimpinan di atas, belum putuskan juga. Sepertinya kita memang akan cenderung membayar ke jalannya infrastrukturnya," ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenkeu.

Ia menambahkan bahwa dirinya ingin ikut serta dalam perkembangan diskusi yang dilakukan tim terkait, agar tidak hanya mengetahui hasil akhirnya tetapi juga memahami prosesnya secara menyeluruh.

Menurutnya, yang terpenting adalah mencari opsi terbaik bagi negara. Karena itu, seluruh tahapan masih terus dikaji sebelum pemerintah menentukan langkah yang akan diambil.

(Penulis: Isna Rifka Sri Rahayu, Debrinata Rizky | Editor: Sakina Rakhma Diah Setiawan, Erlangga Djumena, Teuku Valdy Arief)

Artikel ini juga bersumber dari pemberitaan di KOMPAS.com berjudul:

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#bumn #kereta-cepat-jakarta-bandung #danantara #utang-kereta-cepat-whoosh #utang-kereta-cepat-jakarta-bandung

https://money.kompas.com/read/2025/11/18/094620326/bos-kcic-serahkan-masalah-utang-whoosh-ke-danantara