Danantara Suntik KRAS, Celios: Perhatikan Dinamika di Korsel soal Baja Hijau

Danantara Suntik KRAS, Celios: Perhatikan Dinamika di Korsel soal Baja Hijau

Indonesia perlu transformasi industri baja untuk tetap kompetitif di pasar global.

(Bisnis.Com) 01/12/25 12:50 56399

Bisnis.com, JAKARTA – Keputusan Korea Selatan menghentikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dalam proses industrinya, termasuk sektor baja, menjadi sinyal penting bagi arah ekonomi di masa depan.

Pergeseran ini menandakan persaingan baru menuju pasar baja rendah emisi, yang perlu diantisipasi Indonesia dengan mentransformasi industri baja nasional. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mengatakan, transformasi yang dilakukan Korea Selatan berimplikasi langsung pada Indonesia.

Apalagi, di saat yang sama, Danantara memberikan fasilitas pinjaman modal kerja senilai Rp8,28 triliun ke PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai upaya pengembangan industri baja nasional. Menurut Bhima, langkah Danantara perlu diselaraskan dengan dinamika di Korea Selatan karena berpotensi membuka peluang besar bagi perekonomian Indonesia.

“Apalagi kebutuhan baja hijau global saat ini meningkat pesat, terutama didorong oleh permintaan industri otomotif yang tumbuh lebih cepat, melampaui kapasitas produksi baja hijau dunia,” kata Bhima dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Momentum untuk mengakselerasi baja hijau nasional juga semakin besar dengan partisipasi investor internasional yang mulai mengalihkan pembiayaan ke produsen baja rendah emisi. Contohnya, pembiayaan International Finance Corporation (IFC) untuk PT Gunung Raja Paksi Tbk US$ 60 juta guna memperluas produksi baja rendah karbon berbasis EAF.

Namun, tanpa langkah transisi energi yang tegas, Indonesia terancam kehilangan daya saing. Emisi industri baja nasional melonjak 75% hanya dalam satu tahun (2019–2020) akibat ekspansi produksi. Padahal, produk baja dengan intensitas emisi tinggi berpotensi terkena tarif penyesuaian karbon seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa.

Selama ini, Indonesia memasok batu bara metalurgi sekaligus menjadi bagian dari rantai pasok baja Asia. Namun, intensitas karbon industri baja Indonesia saat ini masih mencapai 1,6 tCO₂ per ton produk, sehingga digolongkan sebagai high-carbon steel dalam benchmark global.

Kondisi ini membuat industri baja nasional berada dalam posisi rentan ketika pasar global semakin mengutamakan material rendah karbon.

“Ketika Korea Selatan meninggalkan batu bara untuk menyelamatkan daya saing industrinya, Indonesia tidak boleh terpaku pada masa lalu. Baja hijau adalah arena baru kompetisi ekonomi Asia. Yang bertahan bukan yang paling murah, tetapi yang paling rendah emisi,” katanya.

Sebelumnya, Negeri Ginseng menyatakan resmi bergabung dengan Powering Past Coal Alliance (PPCA), sebuah aliansi global yang berupaya memajukan transisi dari PLTU menuju energi bersih.

Langkah Korea Selatan keluar dari penggunaan batu bara juga mempertegas transformasi struktural peleburan baja global dari proses blast furnace berbasis batu bara menuju teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dan Direct Reduced Iron berbasis hidrogen hijau (H-DRI) yang menghasilkan baja rendah emisi. Perubahan inilah yang harus didorong Indonesia agar industri baja nasional tetap kompetitif di pasar global.

#baja-hijau #baja-rendah-emisi #industri-baja-nasional #transformasi-baja #danantara-krakatau-steel #korea-selatan-baja #baja-hijau-global #emisi-industri-baja #baja-rendah-karbon #carbon-border-adjust

https://hijau.bisnis.com/read/20251201/652/1933131/danantara-suntik-kras-celios-perhatikan-dinamika-di-korsel-soal-baja-hijau