Refleksi Dampak Ekonomi dan Lingkungan Bencana Banjir Sumatra

Refleksi Dampak Ekonomi dan Lingkungan Bencana Banjir Sumatra

Banjir di Sumatra akibat kerusakan lingkungan menelan 400 nyawa, merugikan ekonomi hingga Rp68,67 triliun. Deforestasi dan aktivitas ekstraktif jadi penyebab utama.

(Bisnis.Com) 02/12/25 11:00 57692

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia berduka. Menjelang akhir tahun, tiga provinsi di Indonesia dilanda bencana yang meregang lebih dari 400 nyawa. Bencana banjir dan longsor ini tidak hanya memakan korban, tetapi juga membuktikan bahwa kerusakan lingkungan memberi dampak ekonomi yang dalam.

CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara membuktikan ada dua faktor utama yang menyebabkan bencana hidrometerologi tersebut.

Dia mengamini bahwa kerusakan akibat kegiatan ekstraktif besar-besaran, seperti tata guna lahan, aktivitas tambang, perkebunan, pertanian, pembangunan infrastruktur (termasuk infrastruktur energi) dilakukan dengan tidak melihat daya dukung lingkungan.

“Alam itu memulihkan diri sendiri, tetapi biaya dari pemulihan dia itu harus ditanggung manusia,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (1/12/2025).

Menurutnya, krisis iklim yang disebabkan gas rumah kaca didorong faktor dominan seperti deforestasi dan dampak pembakaran energi fosil. Di Indonesia, lanjut Fabby, keduanya memberikan kontribusi besar.

Hal itu pun dibuktikan dengan hilangnya 20% tutupan lahan dalam dua dekade terakhir. Merujuk Global Resource Institute, hutan primer tropis di Indonesia tersisa 260 ribu hektare (Ha) pada 2024 atau menurun 30.000 Ha dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Fabby mengatakan pemerintah dalam mengalokasikan lahan bagi korporasi tampak jor-joran dan tidak diikuti dengan penerapan jaring pengaman yang baik. Idealnya, untuk mencegah lingkungan, setiap aktivitas memiliki dokumen Amdal, yang sudah memperhitungkan dampak lingkungan dan mitigasi akibat operasi.

“Yang kita sering ga tahu, langkah-langkah mitigasi risiko itu seperti apa. Nah karena ini akumulasi berbagai krisis, dan dugaan terjadinya pembiaran, maka akumulasinya seperti ini,” tambahnya.

Sementara itu, Center of Economic and Law Studies (Celios) mendesak pemerintah memberlakukan moratorium izin lahan sawit dan tambang di kawasan Sumatra, terutama di wilayah yang terdampak bencana.

Berdasarkan laporan Celios, luasan hutan Indonesia terus menyusut tajam dibandingkan luas daratan. Indikator forest rent terhadap PDB turun dari 0,81% pada 2000 menjadi 0,42% tahun berikutnya.

Celios mengungkapkan, bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra telah berdampak bagi ekonomi regional dan nasional. Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengatakan secara regional, ekonomi Aceh akan menyusut sekitar 0,88% atau setara Rp2,04 triliun.

“Secara nasional, terjadi dampak penurunan Produk Domestik Bruto mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29%. Selain itu, secara nasional, dampak kepada provinsi lainnya terdapat pada arus barang konsumsi maupun kebutuhan industri yang juga melemah, terlebih Sumatra Utara merupakan salah satu simpul industri nasional di Sumatra,” katanya.

Dampak ekonomi yang disebabkan bencana di Sumatra ini juga ikut berdampak pada bisnis dan operasional industri perbankan. Sejumlah bank pun menyiapkan langkah mitigasi untuk para nasabah yang terdampak bencana tersebut.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) misalnya, saat ini sedang melakukan pendataan dan pengkajian terhadap debitur. Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi dan mitigasi risiko atas potensi terganggunya kemampuan bayar masyarakat yang wilayahnya mengalami bencana.

Adapun kebijakan ini merujuk pada POJK No. 45/POJK.03/2017 tentang Perlakuan Khusus Terhadap Kredit atau Pembiayaan Bank Bagi Daerah Tertentu di Indonesia yang Terkena Bencana Alam.

Selain itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) juga sudah menyiapkan proses dan kebijakan internal terkait crisis management untuk berbagai kondisi kedaruratan. Saat ini bank tengah melakukan asesmen terhadap para debitur yang berpotensi terdampak bencana.

Adapun PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) memperkirakan bahwa bencana di Sumatra berdampak cukup besar dan bahkan berpotensi dikategorikan sebagai bencana nasional. Sebagai bank digital dengan nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia, Allo Bank kini tengah memetakan debitur mereka di wilayah yang terkena dampak.

#banjir-sumatra #dampak-ekonomi-banjir #kerusakan-lingkungan #bencana-hidrometerologi #deforestasi-indonesia #krisis-iklim #gas-rumah-kaca #lahan-sawit-moratorium #ekonomi-aceh #produk-domestik-bruto #n-a

https://hijau.bisnis.com/read/20251202/651/1933443/refleksi-dampak-ekonomi-dan-lingkungan-bencana-banjir-sumatra