Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat mengungkap kapasitas satelit nasional yang mencapai 400 Gbps peluang sekaligus tantangan bagi industri satelit nasional. Tanpa model bisnis yang tepat, kapasitas satelit yang besar tidak akan terserap jika harganya tak terjangkau.
Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menilai kapasitas tersebut menjadi lompatan signifikan bagi konektivitas nasional, terutama untuk menutup kesenjangan digital, memperkuat ketahanan jaringan, dan menyediakan backhaul berkecepatan tinggi ke daerah yang belum terlayani serat optik.
Menurut Heru, tantangan terbesar bukan lagi pada ketersediaan kapasitas satelit, melainkan kesiapan ekosistem pendukung di darat.
Dia mengatakan tantangan utama adalah kesiapan pada ground segment, kemudian juga tentu adalah distribusi di last-mile nya, biaya perangkat, serta koordinasi operator.
“Tak ketinggalan, model bisnis yang terjangkau akan menentukan tingkat penyerapan,” imbuhnya.
Dia menambahkan, dalam konteks arsitektur satelit, peran orbit geostasioner (GEO) tetap relevan meski kehadiran satelit orbit rendah (LEO) semakin masif, terutama untuk broadcast, trunking/backhaul, enterprise VSAT, maritime/aviation, dan solusi regional berskala besar yang membutuhkan stabilitas, cakupan luas, dan QoS terjamin.
Heru juga melihat proyeksi bisnis SNL ke depan akan banyak bertumpu pada model layanan grosir serta segmen pemerintah dan korporasi.
“Kalau kita lihat, proyeksi bisnis SNL bergeser ke layanan wholesale, pemerintah, dan korporasi, serta hybrid LEO–GEO. GEO tetap relevan pada kapasitas terkelola, keandalan, dan biaya per bit yang kompetitif untuk trafik agregat tinggi,” katanya.
Sementara itu, Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Harsoyo, mengatakan SNL melayani beberapa negara dengan kapasitas total diharapkan mencapai 400 Gbps. Untuk wilayah Indonesia terdapat 101 spot beams dengan kapasitas 160 Gbps.
Menurutnya, kapasitas sebesar ini dapat melayani kebutuhan konektivitas internet dengan baik, baik di daerah 3T maupun non-3T, serta berbagai sektor seperti pendidikan dan kesehatan.
“Pada sisi komersial, pendapat saya, akan koeksisten dengan penyelenggara eksisting,” katanya.
Dia juga menilai layanan internet publik pada umumnya tidak terlalu sensitif terhadap latensi sehingga berbagai orbit satelit tetap memiliki pangsa pasar masing-masing.
Sebelumnya, SNL resmi dinyatakan tiba di orbit geostasioner pada posisi 113° Bujur Timur, tepat di atas Pulau Kalimantan, pada ketinggian sekitar 35.786 kilometer di atas permukaan bumi pada Kamis, 29 Januari 2026.
Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, mengatakan SNL merupakan satelit berteknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan total kapasitas lebih dari 160 Gbps. Satelit ini menggunakan platform Boeing 702MP dan dilengkapi 101 spot beam Ka-band yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia. SNL disebut sebagai The Most Advanced VHTS di dunia.
Adi menambahkan, SNL memiliki performa yang lebih kuat dibandingkan satelit lain di kawasan Asia. Terminal satelit (VSAT) N5 juga dirancang sangat canggih dan mutakhir. Dengan kapasitas bandwidth yang lebih besar, PSN nantinya dapat menyediakan layanan broadband tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.
Satelit ini dirancang memiliki usia operasional lebih dari 15 tahun serta mengusung teknologi digital payload yang memungkinkan pengelolaan lalu lintas data secara lebih fleksibel dan efisien.