Bisnis.com, CIREBON- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon melaporkan kinerja 18 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan atau Ciayumajakuning hingga September 2025 terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Seluruh indikator utama perbankan skala mikro tersebut bergerak naik, baik secara year on year (yoy), year to date (ytd), maupun month to month (mtm).
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyampaikan penyaluran kredit BPR mencapai Rp2,08 triliun. Angka tersebut naik 0,80% secara yoy dan 4,05% secara ytd.
Selain peningkatan kredit, kondisi kualitas pembiayaan ikut membaik. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) turun 1,08% secara yoy serta terkoreksi 1,98% secara ytd.
"Penurunan NPL mencerminkan perbaikan kualitas portofolio kredit dan kemampuan debitur menjaga arus pembayaran," kata Agus, Senin (24/11/2025).
Pada sisi aset, BPR di Ciayumajakuning mencatat apresiasi 0,18% secara yoy dan 0,35% secara ytd sehingga total aset mencapai Rp2,7 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja intermediasi serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tetap terjaga. DPK tumbuh 11,81% secara yoy dan 12,73% secara ytd dengan total Rp2,46 triliun.
Peningkatan DPK menunjukkan kepercayaan nasabah terhadap BPR masih kuat di tengah dinamika sektor keuangan.
Dari sisi rentabilitas, rasio Return on Assets (ROA) naik 2,34% sehingga secara yoy dan ytd terdapat apresiasi 4,81% dan 4,54%.
Agus mengatakan, kenaikan ROA didorong perbaikan efisiensi operasional yang tercermin dari penurunan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). BOPO turun 35,04% secara yoy menjadi 84,90%.
"Efisiensi ini memperkuat kinerja laba BPR di tengah upaya menjaga kualitas pembiayaan," kata Agus.
Indikator positif lainnya muncul dari sisi permodalan. BPR di Ciayumajakuning mencatat capital adequacy ratio (CAR) sebesar 19,04%.
Agus menegaskan rasio tersebut berada jauh di atas ketentuan minimum sehingga ruang ekspansi kredit BPR masih sangat terbuka. "Penguatan permodalan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan BPR menghadapi risiko ketidakpastian ekonomi regional maupun nasional," katanya.
Pada komposisi sektor ekonomi, terdapat lima sektor utama yang menerima porsi terbesar kredit BPR. Sektor bukan lapangan usaha-lainnya menyerap 45,83% atau Rp1,05 triliun.
Sektor perdagangan besar dan eceran menempati posisi kedua dengan porsi 34,49% atau Rp789,26 miliar. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan memperoleh 4,37% atau Rp99,93 miliar. Sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan perorangan lainnya menyerap 4,02% atau Rp91,91 miliar. Sektor konstruksi menempati porsi 3,15 persen atau Rp72,03 miliar.
Agus menjelaskan distribusi kredit tersebut mencerminkan peran strategis BPR dalam menopang kegiatan ekonomi lokal, terutama perdagangan dan aktivitas usaha mikro. Kinerja positif ini juga berkontribusi terhadap pencapaian BPR Jawa Barat.
"Per September 2025, porsi penyaluran kredit BPR Ciayumajakuning terhadap total kredit BPR di Jawa Barat mencapai 11,13%. Porsi DPK mencapai 14,24%, sementara aset berkontribusi 10,74% terhadap total aset BPR di Jawa Barat," tutur Agus.
Di sisi pengawasan, OJK Cirebon terus memperkuat implementasi regulasi perbankan daerah. Agus menegaskan seluruh BPR dalam pengawasan Kantor OJK Cirebon dimonitor secara berkala terkait penerapan POJK Nomor 12 Tahun 2024 tentang Strategi Anti-Fraud bagi Lembaga Jasa Keuangan.
Penerapan regulasi ini diharapkan meningkatkan integritas pengelolaan BPR, mengurangi risiko penyimpangan, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan mikro.
Agus menambahkan konsistensi BPR dalam menjaga tata kelola, kualitas kredit, dan efisiensi operasional akan menjadi faktor kunci menjaga stabilitas di tahun mendatang.
"Kami menilai tren positif sampai September 2025 memberi sinyal optimisme bagi penguatan ekonomi Ciayumajakuning, terutama melalui sektor UMKM yang menjadi tulang punggung perbankan mikro di daerah," kata Agus.