Bank Nationalnobu (NOBU) sudah mulai merealisasikan percepatan digitalisasi transaksi di sejumlah pasar rakyat, salah satunya Pasar Sukawati, Bali. [278] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) membidik segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penetrasi ekosistem digital.
Business Regulatory and Digital Asset Partnership Division Head NOBU Herdiani Sunarto menilai penggunaan pembayaran non tunai dapat meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus mendukung penguatan ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif.
Dia melanjutkan bahwa upaya percepatan digitalisasi transaksi di pasar rakyat sudah mulai direalisasikan di sejumlah pasar, salah satunya di Pasar Sukawati, Bali.
“Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan sistem pembayaran digital di kalangan pelaku usaha mikro dan pedagang pasar tradisional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2026).
Lebih jauh, strategi tersebut dilakukan perseroan dengan menyediakan perangkat Soundbox QRING atau QRIS Berdering secara cuma-cuma bagi para pedagang. Perangkat ini memungkinkan pedagang memperoleh notifikasi suara secara langsung setiap kali menerima pembayaran melalui QRIS.
Selain penyediaan perangkat, NOBU juga menerapkan Merchant Discount Rate (MDR) sebesar 0% selama periode program berlangsung. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mempermudah pedagang menerima pembayaran digital tanpa dikenakan biaya transaksi.
“Kami mendorong digitalisasi transaksi di pasar rakyat terus didorong melalui kolaborasi antara sektor perbankan, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia,” tuturnya.
Menurut Herdiani, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di tengah berkembangnya ekonomi digital.
“Ke depan, kami akan melanjutkan dukungannya terhadap berbagai program digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan akses layanan keuangan melalui pengembangan solusi pembayaran digital serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Adapun, bank yang sebagian kepemilikannya berada di tangan Hanwha Life Insurance Co., Ltd. tersebut membukukan laba sebesar Rp153,95 miliar pada kuartal I/2026, meningkat 39,82% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari raihan Rp110,10 miliar pada kuartal I/2025.
Bisnis.com, JAKARTA — Peta persaingan bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia semakin beragam pada kuartal I/2026. Dari tujuh bank yang beroperasi di Tanah Air, hanya sebagian yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba, sedangkan sisanya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan triwulan, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) berada di posisi pertama dengan pertumbuhan laba bersih 112,54% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp64,67 miliar pada kuartal I/2026. Bank besutan korporasi keuangan asal Korea Selatan, APRO Financial Co. Ltd. itu pada kuartal I/2025 mencetak laba senilai Rp30,43 miliar.
PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) berada di posisi kedua. Bank Nobu, yang sebagian kepemilikannya berada di tangan Hanwha Life Insurance Co., Ltd. dengan porsi 40% saham, membukukan laba sebesar Rp153,95 miliar, meningkat 39,82% YoY dari Rp110,10 miliar pada kuartal I/2025.
Kemudian, ada PT Bank KEB Hana Indonesia alias Hana Bank mencetak laba bersih sebesar Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026. Realisasi itu meningkat 23,84% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp162,13 miliar.
Capaian ini menempatkan perseroan sebagai bank milik investor Korea Selatan dengan raihan laba bersih tertinggi di antara bank-bank asal Negeri Ginseng lainnya.
Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan menyampaikan, perseroan pada tahun ini menargetkan laba bersih sebesar Rp650,11 miliar. Dengan demikian, realisasi laba pada awal tahun sudah sekitar 30,88% dari total laba yang ditargetkan Hana Bank pada 2026.
Adapun perseroan optimistis dapat mencapai target 2026 dengan target laba bersih sebesar Rp650,11 miliar, aset, kredit Rp43,30 triliun, DPK Rp29,50 triliun, dan aset sebesar Rp56,65 miliar. Untuk mencapai target tersebut, Hendri mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui jaringan kantor cabang.
“Kami fokus mendorong pertumbuhan aset, pertumbuhan pendapatan operasional bruto, efisiensi dan produktivitas, serta memperkuat tata kelola di cabang,” kata Hendri beberapa waktu lalu.
Sementara itu, tidak semua bank yang berada dalam genggaman investor Korea Selatan yang membukukan keuntungan pada awal 2026. PT Bank Shinhan Indonesia misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 12,69% YoY menjadi Rp54,25 miliar hingga Maret 2026, setelah pada periode yang sama tahun lalu meraup laba Rp62,14 miliar.
Laba bersih PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) milik Woori Bank juga menyusut 30,78% YoY dari Rp154,33 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp106,82 miliar pada kuartal I/2026. PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) yang dikendalikan oleh Industrial Bank of Korea turut mencatatkan penurunan laba sebesar 31,90% YoY menjadi Rp37,17 miliar dari Rp54,58 miliar pada kuartal I/2025.
Di antara bank-bank tersebut, laba bersih PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) mencatatkan penurunan terdalam. Hingga Maret 2026, KB Bank membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,67 miliar, turun 96,97% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp352,12 miliar.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyampaikan, pihaknya menyadari masih terdapat ruang untuk perbaikan, utamanya dalam kualitas kredit, fundamental bisnis secara keseluruhan, serta penguatan struktur permodalan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Fokus kami ke depan adalah menjaga momentum ini melalui pertumbuhan berkualitas, pengelolaan risiko yang disiplin, serta penguatan sinergi dengan KB Financial Group,” ujar Kunardy dalam keterangan resminya, dikutip pada Senin (1/6/2026).
Rasio Profitabilitas Bank Korsel di Indonesia
Dilihat dari tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE), Bank Nobu menempati posisi teratas di antara bank-bank milik investor Korea Selatan.
Sebagai catatan, rasio ini menunjukkan tingginya keuntungan yang dihasilkan oleh bank dari setiap nilai yang diinvestasikan pemegang sahamnya. Semakin tinggi nilai ROE, semakin baik kinerja bank dalam menghasilkan laba bersih melalui modalnya.
Hingga Maret 2026, bank dengan kode saham NOBU itu membukukan ROE sebesar 15,47%, mengungguli ROE Hana Bank 6,91%, OK Bank 6,78%, Bank Shinhan 4,35%, Bank Woori Saudara 4,01%, IBK 2,60%, dan KB Bank 0,16%.
Sementara itu dari sisi tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA), OK Bank menjadi yang terdepan. Rasio ini mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Semakin tinggi ROA, semakin efisien bank dalam mendayagunakan asetnya untuk mencetak keuntungan.
Pada kuartal I/2026, OK Bank membukukan ROA sebesar 2,42%, disusul Hana Bank 1,93%, Bank Nobu 1,91%, Bank Shinhan dan Bank Woori Saudara 0,97%,, IBK 0,80%, dan KB Bank 0,02%.
Transformasi Belum Seragam
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, perbedaan kinerja laba bank-bank Korea di Tanah Air pada periode ini lebih mencerminkan perbedaan tahap transformasi dan kualitas fundamental masing-masing bank daripada faktor kepemilikan.
“Bank yang mampu menjaga kualitas kredit, menekan biaya dana, dan meningkatkan efisiensi operasional cenderung mencatat pertumbuhan laba,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, tercermin pada Hana Bank yang membukukan laba bersih Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026, tumbuh 23,84% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja itu ditopang oleh rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang rendah sebesar 0,72% serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11,78%.
Di sisi lain, sejumlah bank masih menghadapi tekanan dari tingginya biaya pencadangan, proses penyehatan portofolio kredit, hingga biaya transformasi bisnis yang belum sepenuhnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Kondisi tersebut pada akhirnya menekan kemampuan bank dalam membukukan pertumbuhan laba.
Trioksa menilai fenomena tersebut menunjukkan proses transformasi bank-bank Korea di Indonesia belum berlangsung secara seragam. Sebagian bank telah memasuki fase pemanenan hasil (harvesting) setelah menjalankan berbagai upaya perbaikan bisnis dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan sebagian lainnya masih berada pada tahap konsolidasi dan penguatan fundamental.
Ke depan, Trioksa menyebut bahwa kemampuan menjaga kualitas aset dan efisiensi pendanaan akan menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan profitabilitas bank-bank tersebut. Terlebih, industri perbankan saat ini dihadapkan pada kondisi likuiditas yang semakin ketat dan persaingan penghimpunan dana yang kian intens.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai strategi bisnis turut memengaruhi perbedaan kinerja bank Korea Selatan.
Dia menuturkan, bank yang fokus pada niche market seperti ekosistem perusahaan Korea, supply chain industri, atau pembiayaan korporasi cenderung lebih stabil dibanding bank yang terlalu agresif masuk ke segmen retail berisiko tinggi atau digital lending tanpa mitigasi risiko kuat.
Di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya suku bunga, menurutnya strategi ekspansi yang terlalu agresif justru dapat meningkatkan tekanan NPL dan kebutuhan pencadangan.
“Artinya, kondisi saat ini memperlihatkan bahwa kemampuan manajemen risiko menjadi faktor yang semakin menentukan daya tahan profitabilitas bank,” jelas Rizal kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa proses transformasi dan ekspansi sejumlah bank Korea di Indonesia memang nampak belum sepenuhnya menghasilkan profitabilitas optimal.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia menjelaskan bahwa investor Korea cukup agresif melakukan akuisisi, digitalisasi, hingga injeksi modal besar di Indonesia. Kendati begitu, transformasi perbankan membutuhkan waktu panjang karena harus diikuti pembentukan basis nasabah, penguatan dana murah, efisiensi operasional, serta kualitas kredit yang sehat.
Karena itu, dia menilai bank Korea yang berpotensi bertahan dan tumbuh bukan hanya yang agresif berekspansi, tetapi yang mampu membangun model bisnis yang efisien, fokus, dan resilien terhadap tekanan likuiditas maupun volatilitas ekonomi global.
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah konglomerat pemilik bank menempati jajaran orang terkaya di Indonesia berdasarkan Forbes The Real-Time Billionaires List terbaru.
Nama seperti R. Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, pemegang saham utama Bank Central Asia (BCA), kembali menempatkan diri di jajaran orang terkaya di Tanah Air dengan total kekayaan masing-masing mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS), menegaskan peran sektor perbankan sebagai salah satu pendorong kekayaan pribadi terbesar di Indonesia.
Selain Hartono bersaudara, nama-nama seperti Dato Sri Tahir, Chairul Tanjung, Mochtar Riady, Hary Tanoesoedibjo, dan Eddy Kusnadi Sariaatmadja juga masuk dalam daftar ini.
Berikut deretan konglomerat perbankan Indonesia beserta total harta kekayaan menurut data Forbes Real Time Billionaires:
Hartono Bersaudara
Hartono bersaudara menempati posisi pertama dalam daftar konglomerat pemilik bank terkaya di Indonesia. Forbes melaporkan Robert Budi Hartono memiliki kekayaan bersih mencapai US$21,5 miliar atau setara Rp361,93 triliun (kurs JISDOR per 9 Januari 2026 Rp16.834,00), menempatkannya sebagai orang terkaya ke-3 di Indonesia.
Michael Hartono, saudaranya, berada tepat di posisi selanjutnya dengan total kekayaan bersih mencapai US$20,6 miliar atau setara Rp346,78 triliun hingga Januari 2026.
Untuk diketahui, Hartono bersaudara melalui PT Dwimuria Investama Andalan yang merupakan Pemegang Saham Pengendali PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Melansir laman resmi BCA, per 31 Desember 2024, PT Dwimuria Investama Andalan menggenggam 67,72 miliar saham atau setara 54,94% saham BBCA.
Dato Sri Tahir
Tepat di bawah Hartono bersaudara, bertengger nama Tahir dan keluarga dengan total kekayaan bersih mencapai US$10,7 miliar atau setara Rp180,12 triliun. Dengan total kekayaan tersebut, Dato Sri Tahir berada di urutan ke-2 dalam daftar ini dan menempati posisi ke-5 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Dato Sri Tahir merupakan pemilik PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA). Dia berbagi kepemilikan kepemilikan struktur pengendali saham Bank Mayapada dengan perusahaan asal Taiwan, yaitu Cathay Insurance.
Melansir laman resmi Bank Mayapada, Dato Sri Tahir menguasai 19,34% saham MAYA, sedangkan anaknya Jonathan Tahir menggenggam 5,76% saham Bank Mayapada.
Chairul Tanjung
Forbes melaporkan harta kekayaan bersih Chairul Tanjung meningkat US$14,5 juta atau 0,33% menjadi US$4,48 miliar atau setara Rp75,42 triliun. Dengan total kekayaan yang mencapai Rp75,42 triliun, CT berada di posisi ke-3 sebagai konglomerat pemilik bank terkaya di RI.
Melalui PT Mega Corpora, CT menguasai sejumlah bank di Tanah Air yakni PT Bank Mega Tbk. (MEGA), PT Bank Mega Syariah, dan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI).
CT melalui Mega Corpora juga tercatat menguasai sejumlah saham bank daerah seperti PT BPD Sulawesi Utara Gorontalo sebesar 24,82% saham dan 26,00% saham di PT BPD Sulawesi Tengah.
Mochtar Riady
Di urutan ke-4, bertengger nama Mochtar Riady dan keluarga. Forbes melaporkan total harta kekayaan bersih keluarga ini mencapai US$3,3 miliar atau setara Rp55,55 triliun.
Untuk diketahui, keluarga Mochtar Riady memiliki bank bernama PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) yang merupakan bagian dari Lippo Group. Melalui PT Putera Mulia Indonesia, keluarga Riady diketahui memiliki 23,97% saham Bank Nobu, sebelum akhirnya dilepas sebesar 19,46% kepada Hanwha Life. Saat ini, PT Putera Mulia Indonesia diketahui menggenggam 336.745.124 saham atau setara 4,50%.
Hary Tanoesoedibjo
Posisi selanjutnya ada Hary Tanoesoedibjo dengan total kekayaan bersih mencapai US$1,5 miliar atau setara Rp25,25 triliun, menjadikan pemilik MNC Group sebagai orang terkaya ke-5 dalam daftar ini.
Melansir situs resmi perusahaan, PT Bank MNC Internasional Tbk (MNC Bank) yang merupakan bagian dari MNC Group, lahir usai grup tersebut mengakuisisi PT. Bank ICB Bumiputera Tbk.
Eddy Kusnadi Sariaatmadja
Nama salah satu pendiri Emtek dan juga pemilik PT Super Bank Indonesia (Superbank) ini berada di urutan ke-6 dalam daftar ini. Forbes melaporkan, total kekayaan Eddy Kusnadi Sariaatmadja per Januari 2026 mencapai US$1,2 miliar atau setara Rp20,20 triliun.
Superbank yang awalnya merupakan Bank Farma kemudian beralih kepada Grup Emtek yang diwakili oleh PT Elang Media Visitama dan PT Nusantara Berkat Agung.
Dilanjutkan dengan bergabungnya Grab melalui A5-DB Holdings Pte Ltd dan Singtel melalui Singtel Alpha Investment Pte Ltd sebagai pemilik saham untuk mendukung transformasi Bank Fama menjadi bank dengan layanan berbasis digital. Melalui anak usahanya, PT Elang Media Visitama (EMV), Eddy Kusnadi menggenggam 27,60% saham Superbank per 2025.
Sepanjang 2025, investor asing seperti Bank of Singapore, Hanwha Life, dan Kasikornbank memperkuat investasi di bank Indonesia, menandai prospek sektor keuangan yang atraktif. [640] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sepanjang 2025, perbankan nasional masih diminati investor asing. Sejumlah institusi keuangan global tercatat menambah eksposur di industri perbankan Indonesia, seiring prospek sektor keuangan yang dinilai masih atraktif di tengah stabilitas ekonomi domestik. Beberapa investor asing yang aktif masuk ke saham bank antara lain Bank of Singapore, Hanwha Life Insurance, serta Kasikornbank.
Baru-baru ini, Bank of Singapore Limited resmi masuk sebagai pemegang saham PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) melalui skema repurchase agreement (repo) tanpa mengambil alih kendali perseroan.
Masuknya Bank of Singapore menandai masih diminatinya sektor perbankan nasional oleh institusi keuangan global, sekaligus melengkapi daftar bank asing yang berinvestasi di Indonesia sepanjang 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), entitas asal Singapura tersebut menggenggam sebanyak 2,8 miliar saham BACA atau setara 14,03% hak suara setelah transaksi pada 19 Desember 2025. Sebelumnya, Bank of Singapore belum tercatat sebagai pemegang saham Bank Capital.
Transaksi repo tersebut dilakukan secara tidak langsung melalui GIA Ventures Pte Ltd dengan harga pelaksanaan Rp168 per saham dan dikategorikan sebagai married trade, sehingga tidak melalui mekanisme pasar reguler.
Hanwha Life Akuisisi Bank Nationalnobu
Selain itu, Hanwha Life Insurance Co., Ltd. resmi menguasai sekitar 40% saham PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) setelah tujuh pemegang saham melepas kepemilikannya kepada perusahaan asuransi jiwa asal Korea Selatan tersebut.
Hanwha Life merupakan perusahaan asuransi jiwa terbesar dan tertua di Republik Korea yang berdiri sejak 9 September 1946 dan tercatat di Bursa Korea sejak Maret 2010.
“Dengan ini kami, Bank Nobu, mengumumkan hasil pengambilalihan oleh Hanwha Life Insurance Co. Ltd. melalui kepemilikan 2,99 miliar saham yang mewakili 40% saham dari modal ditempatkan dan disetor Bank Nobu,” tulis manajemen Bank Nobu.
Merujuk pengumuman resmi Bank Nobu yang diterbitkan Harian Bisnis Indonesia pada Selasa (1/6/2025), pengambilalihan dilakukan melalui pembelian saham dari PT Putera Mulia Indonesia, PT Prima Cakrawala Sentosa, PT Star Pacific Tbk., PT Inti Anugerah Pratama, PT Ciptadana Capital, PT Lenox Pasifik Investama Tbk., serta PT Multipolar Tbk.
Pengambilalihan ini telah mengantongi seluruh persetujuan dari OJK, sebagaimana tertuang dalam Surat OJK No. S-11/PB.02/2025 tanggal 24 Januari 2025, Surat No. SR-107/PB.02/2025 tanggal 21 April 2025, serta Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK No. KEPR-29/D.03/2025.
Izin tersebut mencakup persetujuan Hanwha Life sebagai pemegang saham pengendali dan Seung Youn Kim sebagai ultimate shareholder Bank Nobu. Manajemen menyebutkan pengambilalihan efektif berlaku pada 30 Juni 2025, bertepatan dengan diterimanya pemberitahuan oleh Menteri Hukum Republik Indonesia.
Sebelumnya, para pemegang saham Bank Nobu telah menyetujui rencana akuisisi tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (25/3/2025).
Kasikornbank Perbesar Kepemilikan Bank Maspion
Sementara itu, Kasikornbank (KBank) resmi meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) menjadi 89,48%. Langkah ini menegaskan komitmen KBank dalam memperluas jaringan bisnis regional sekaligus memperkuat posisinya di kawasan Asia Tenggara.
KBank menilai Indonesia sebagai pasar strategis di kawasan Asean, dengan produk domestik bruto (PDB) lebih dari US$1,4 triliun dan populasi sekitar 285 juta jiwa, di mana lebih dari 70% berada pada usia produktif.
Kondisi tersebut didukung arus investasi asing langsung (FDI) sebesar Rp208 triliun atau sekitar US$12,5 miliar yang ditopang konsumsi domestik, pembangunan infrastruktur, serta kebijakan pemerintah yang pro-investasi jangka panjang.
“Peningkatan kepemilikan saham KBank di Bank Maspion menjadi 89,48% mencerminkan visi strategis KBank untuk memasuki pasar dengan potensi ekonomi tinggi,” ujar Direktur Utama Bank Maspion Indonesia Kasemsri Charoensiddhi.
Melalui investasi berkelanjutan dan kolaborasi, KBank mendukung Bank Maspion dalam menyediakan solusi keuangan terintegrasi bagi klien korporat, khususnya yang terlibat dalam perdagangan dan investasi lintas negara di kawasan AEC+3.
Sebelumnya, KBank membeli sebanyak 983,73 juta saham BMAS atau setara 5,43% kepemilikan pada 11 September 2025 dengan harga Rp500 per saham, senilai Rp491,8 miliar.
Melalui strategi A Regional Bank of Choice, KBank berfokus pada layanan bagi nasabah korporat dan komersial di Thailand dan Indonesia.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56