Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mengumumkan telah mendapatkan izin menjalankan simpanan emas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 10 November 2025.
"Alhamdulillah per 10 November kami, tepatnya dua hari yang lalu BSI telah mendapat izin untuk menjalankan kegiatan simpanan emas, terima kasih OJK," kata Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta dalam Bullion Connect 2025, Rabu (12/11/2025).
Bob menyebut bahwa bisnis emas ini menjadi mesin pertumbuhan utama BSI. Sebagaimana diketahui BRIS saat ini telah memiliki izin Kegiatan Usaha Bulion untuk perdagangan emas serta penitipan emas.
"Yang ketiga juga ada gadai, izin kami belajar dari pegadaian bagaimana kami juga bisa memberikan layanan kepada masyarakat untuk gadai dan di konteks ini OJK cukup mengawasi kami dengan ketat, membatasi jumlah dan juga jangka waktu," tuturnya.
Adapun, izin yang diperoleh BRIS untuk layanan perdagangan dan penitipan emas dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat Nomor S-53/PB.22/2025 tanggal 12 Februari 2025 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion PT Bank Syariah Indonesia Tbk untuk Kegiatan Penitipan Emas dan Perdagangan Emas.
Sebelumnya BSI mencatatkan bahwa sejak peluncuran layanan bulion oleh pemerintah 26 Februari 2025, bisnis emas BSI tumbuh melesat 72,82% (YoY) mencapai Rp18,76 triliun yang terdiri atas Cicil Emas Rp10,32 triliun tumbuh 106,36% (YoY), dan Gadai Emas Rp8,44 triliun tumbuh 44,19% (YoY).
Selain pembiayaan emas, BSI juga mencatatkan pertumbuhan Tabungan E-mas dengan saldo kelolaan 1,15 ton, penjualan 1,69 ton dan CIF rekening emas mencapai 200.000.
Melesatnya pembiayaan emas juga mendorong pembiayaan Konsumer BSI naik 15,02% dengan outstanding Rp167,62 triliun. Adapun sektor-sektor produktif yang menopang pembiayaan wholesale BSI yakni pada sektor telekomunikasi, agrobisnis, dan transportasi.
Adapun BRIS mencatatkan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,57 triliun, naik 9,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,11 triliun.
Kenaikan laba tersebut sejalan dengan meningkatnya pendapatan dari penyaluran dana. Hingga September 2025, pendapatan dari penyaluran dana tercatat sebesar Rp22,23 triliun, tumbuh 15,24% dari Rp19,29 triliun pada kuartal III/2024.
Secara rinci, pendapatan dari piutang naik 13,26% menjadi Rp12,14 triliun dibandingkan Rp10,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan dari bagi hasil tumbuh lebih tinggi, yakni 29,27% menjadi Rp7,45 triliun dari sebelumnya Rp5,76 triliun.