#30 tag 24jam
Menjaga Denyut Rokan: Menyelamatkan yang Tua, Melahirkan yang Baru
Pertamina menjaga Blok Rokan dengan strategi inovatif, mengatasi penurunan produksi alami, dan mengeksplorasi minyak non-konvensional untuk kemandirian energi Indonesia. [1,907] url asal
#blok-rokan #pertamina-hulu-rokan #produksi-minyak #eksplorasi-migas #swasembada-energi #enhanced-oil-recovery #chemical-eor #infill-drilling #batch-drilling #shale-oil-indonesia #migas-non-konvensiona
(Bisnis.Com - Terbaru) 31/10/25 17:05
v/23082/
Bisnis.com, PEKANBARU-- Menjaga Blok Rokan ibarat merawat orang tua, meski usia telah lanjut, di tubuhnya masih mengalir kekuatan yang memberi kehidupan bagi banyak orang.
Dengan strategi berlapis yang dijalankan secara disiplin, Pertamina terus menjaga agar energi dari lapangan tua tak lekas padam, sambil menyiapkan generasi baru lewat eksplorasi minyak non-konvensional yang mulai tumbuh sebagai harapan baru bangsa.
Upaya itu sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia menuju kemandirian dan swasembada energi, di mana setiap tetes minyak dari bumi sendiri menjadi simbol kedaulatan.
Selama lebih dari tujuh dekade, di jantung Provinsi Riau, di antara hamparan rig yang tak pernah benar-benar tidur, Blok Rokan berdiri sebagai saksi sejarah energi nasional.
Ketika Pertamina lewat PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) resmi mengambil alih pengelolaan Blok Rokan dari operator sebelumnya pada Agustus 2021, skeptisisme sempat muncul. Namun tiga tahun berlalu, data berbicara sendiri, PHR tidak hanya mampu menjaga produksi, tetapi juga memperbaikinya.
Blok Rokan kini menjadi tulang punggung utama ketahanan energi nasional, dengan produksi di kisaran 159.000 hingga 161.000 barel per hari (BOPD) dan menyumbang sekitar 26% dari total lifting nasional.
Namun, dibalik kontribusinya yang besar, ia juga menyimpan tantangan paling berat dalam industri migas Indonesia, yakni laju penurunan alamiah produksi minyak atau natural decline rate.
Bagi para Perwira PHR, mengelola Rokan berarti menghadapi hukum alam setiap hari. Tanpa intervensi apa pun, produksi dari lapangan-lapangan tua bisa merosot hingga 35% per tahun. Bahkan dengan well service dan perawatan rutin tanpa pengeboran baru, laju penurunannya tetap sekitar 11% per tahun.
Angka itu menunjukkan betapa beratnya mempertahankan lifting di lapangan tua yang sudah lama beroperasi, tetapi disinilah inovasi menemukan jalanya.
“Kami berhadapan dengan decline rate alami yang tinggi. Karena itu, inovasi bukan pilihan, tapi keharusan. Setiap teknologi yang kami terapkan bertujuan satu, memastikan energi negeri ini tetap mengalir,” ujar Andre Wijanarko, General Manager PHR Zona Rokan baru-baru ini.
Strategi Berlapis: Dari Efisiensi ke Inovasi
Program base optimization menjadi langkah pertama dan paling mendasar dari seluruh strategi PHR. Prinsipnya sederhana,memastikan setiap sumur eksisting bekerja seefisien mungkin. Namun pelaksanaannya jauh dari sederhana, melibatkan ratusan tim teknik, teknologi sensor digital, serta pengawasan operasi 24 jam penuh.
Semua itu dikendalikan melalui Digital & Innovation Center for Excellence (DICE), yaitu pusat pengendali berbasis data yang memungkinkan ribuan sensor lapangan bekerja secara terintegrasi dan real-time.
Lewat DICE, tim operasional dapat memantau tekanan, suhu, dan laju aliran minyak secara presisi. Bila dulu keputusan teknis diambil setelah laporan manual datang dari lapangan, kini tindakan bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit.
“Dengan sistem digital, kami tidak lagi menunggu sumur bermasalah. Kami bisa memprediksi lalu memperbaiki sebelum gangguan terjadi,” jelas Andre.
Namun menjaga yang ada saja tidak cukup. PHR harus mampu menggali potensi baru dari perut bumi Riau yang masih menyimpan energi tersisa. Di sinilah strategi infill drilling memainkan peran penting.
Melalui pemetaan ulang menggunakan data seismik 3D dan simulasi reservoir berbasis kecerdasan buatan, tim geosains menemukan “kantong-kantong minyak” yang belum pernah tersentuh sebelumnya.
Program infill drilling ini dilakukan untuk mengebor sumur-sumur tambahan di antara sumur lama, sehingga minyak yang masih terperangkap di antara lapisan tipis bisa terangkat ke permukaan.
Aktivitas pengeboran masif ini tentu menuntut efisiensi tinggi.
Karena itu, PHR memperkenalkan metode batch drilling, yaitu pengeboran beberapa sumur dalam satu lokasi (pad) secara simultan dengan tahapan kerja berulang.
Metode ini memungkinkan rig bekerja secara sistematis, sehingga seluruh sumur di satu lokasi dibor tahap awal (surface section) bersamaan, lalu berlanjut ke tahap menengah (intermediate section), dan terakhir tahap produksi (production section). Pendekatan ini menurunkan waktu siklus pengeboran hingga 30% lebih cepat dan menekan biaya operasional hingga 25%, tanpa mengurangi standar keselamatan kerja.
“Batch drilling mempercepat pekerjaan tanpa kompromi terhadap keselamatan. Inilah cara kami menjaga efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan operasi di saat yang bersamaan,” kata Andre.
Menyelamatkan yang Tua
Menjaga produksi lapangan tua ibarat seni mempertahankan kehidupan di bawah tanah. Di saat tekanan alamiah menurun dan minyak semakin kental, teknologi menjadi satu-satunya jalan untuk membuat energi terus mengalir.
Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjawab tantangan itu melalui tiga pendekatan utama di bawah permukaan: Enhanced Oil Recovery (EOR), Chemical EOR (CEOR), dan Low Quality Reservoir (LQR).
Ketiganya menjadi bukti bahwa inovasi bisa menghidupkan kembali lapangan tua, bahkan di titik yang dulu dianggap tidak mungkin lagi berproduksi.
Di Lapangan Duri misalnya, teknologi steamflood atau injeksi uap panas menjadi tulang punggung keberlanjutan produksi.
Setiap hari, ribuan barel air dipanaskan hingga lebih dari 300°C dan disuntikkan kembali ke dalam formasi reservoir, memanaskan minyak berat yang kental agar lebih mudah mengalir ke permukaan. Proses ini tidak hanya meningkatkan viskositas minyak, tetapi juga menjaga tekanan reservoir tetap stabil.
Pada Februari 2025, PHR mencatat sejarah baru dengan memulai injeksi steamflood pertama di area North Duri NDD-14, lebih cepat dari jadwal yang ditargetkan. Program ini diharapkan menambah produksi sebesar 2.000–3.000 barel per hari, sekaligus memperpanjang umur produksi Lapangan Duri lebih dari satu dekade ke depan.
Sementara itu di Lapangan Minas, strategi yang digunakan berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu menambah umur lapangan tua. Sebagai informasi, lapangan Minas dulu dikenal sebagai lapangan minyak paling produktif di Asia Tenggara, kini menghadapi kenyataan baru, yakni watercut mencapai 99,5%.
Artinya, dari setiap 100 liter fluida yang diproduksi, hanya 0,5 liter di antaranya adalah minyak, sisanya air. Namun, di balik angka yang tampak suram itu, masih tersimpan potensi cadangan raksasa hingga separuh dari total 8,6 miliar barel minyak yang belum terangkat.
Melihat hal tersebut, PHR menerapkan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Metode CEOR bekerja dengan prinsip sederhana, yakni mengurangi tegangan antara air dan minyak di dalam batuan reservoir agar minyak yang terperangkap bisa “lepas” dan mengalir ke permukaan.
Prosesnya dilakukan dengan menyuntikkan campuran kimia khusus yaitu Alkali, Surfactant, dan Polymer (ASP) ke dalam reservoir pada kedalaman sekitar 2.000 kaki.
“Kalau kita bayangkan, minyak di dalam batuan itu seperti kopi yang menempel di butiran boba. Tanpa sabun, air tidak bisa melepaskannya. Tapi ketika surfactant masuk, minyak mulai lepas dari pori batuan dan ikut mengalir ke atas,” terang Senior Petroleum Engineering PHR, Medika Wilsa.
Simulasi lapangan menunjukkan potensi tambahan produksi hingga 2.000 BOPD dan penambahan cadangan sekitar 2,1 juta barel minyak. Medika mengatakan, keberhasilan CEOR di Minas mendorong penerapan uji coba serupa di lapangan lain.
Di Balam South, tim PHR menggunakan metode Simple Surfactant Flood, yang terbukti menambah produksi 40–70 barel per hari per pola injeksi.
Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Jika EOR dan CEOR adalah cara untuk menambah napas pada lapangan tua, maka Low Quality Reservoir (LQR) adalah seni membangkitkan yang lemah.
Reservoir dengan permeabilitas rendah dan tekanan tak stabil selama ini dianggap tak ekonomis untuk dikembangkan. PHR mengubah pandangan itu melalui penerapan teknologi fracturing dan horizontal drilling berpresisi tinggi yang mampu membuka kembali jalur minyak dari formasi keras.
Hingga September 2025, tercatat 376 sumur LQR aktif di Blok Rokan, dengan kontribusi tambahan produksi mencapai 9.046 barel per hari. Formasi seperti di Kotabatak dan Minas kini menjadi laboratorium inovasi bawah permukaan PHR.
Salah satu pencapaian monumental adalah keberhasilan multi-stage fracturing horizontal pertama di Indonesia melalui sumur Kotabatak KB525,yang menghasilkan produksi awal hingga 580 barel per hari (BOPD).

Melahirkan yang Baru
Sementara inovasi di lapangan tua menjadi upaya merawat energi yang sudah ada, di sisi lain, Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah menapaki perjalanan yang lebih berani, yakni melahirkan energi baru dari kedalaman bumi.
Di bawah lapisan batuan lempung (shale) yang selama ini dianggap tak mungkin ditembus, tersimpan harapan baru yaitu Migas Non-Konvensional (MNK). Langkah PHR menjelajahi lapisan shale bukan hanya bagian dari eksplorasi, tapi juga wujud nyata dari transformasi strategi energi nasional.
Program MNK Blok Rokan dimulai dengan dua sumur pionir, yaitu Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1, keduanya berada di area North Aman, Kabupaten Rokan Hulu. Tahapan awal meliputi akuisisi data geologi, pengambilan core sample, serta uji rekahan terbatas (limited fracturing test).
Hasilnya menggembirakan, minyak berhasil keluar dari lapisan yang selama ini dianggap terlalu rapat dan keras. Temuan ini menandai keberhasilan pertama eksplorasi MNK di Indonesia yang sepenuhnya dikelola oleh anak bangsa.
“Kalau migas konvensional itu ibarat makan di restoran, semuanya sudah tersaji, tapi di nonkonvensional, kita harus masuk ke dapurnya dan mengolah sendiri bahan mentahnya,” ujar Ahli Geologi Eksplorasi MNK PHR, Purwantoko Mahagyo.
Keberhasilan ini membawa proyek MNK Rokan memasuki tahap berikutnya: Appraisal Stage (2025–2027). Tahap ini menjadi momen krusial karena di sinilah pembuktian konsep dilakukan untuk menentukan apakah minyak dari lapisan shale benar-benar bisa diproduksikan secara ekonomis.
“Tahap appraisal menjadi momen pembuktian bagi PHR. Kalau berhasil, kita bukan hanya menemukan minyak, tapi juga membuka model eksplorasi baru untuk Indonesia,” jelas Purwantoko.
Mengembangkan MNK bukan pekerjaan satu entitas. PHR bekerja erat dengan SKK Migas, Kementerian ESDM, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pertamina, dan Universitas Islam Riau (UIR) untuk menciptakan ekosistem riset dan teknologi dalam negeri.
Kolaborasi ini melahirkan pendekatan baru dalam memahami karakter batuan shale Indonesia yang berbeda dengan Amerika Serikat atau Argentina. Lapisan shale Rokan dikenal keras, padat, dan tidak permeabel, artinya minyak di dalamnya tidak bisa mengalir bebas seperti di lapangan konvensional.
Untuk menembusnya, PHR menggunakan kombinasi dua teknologi paling canggih dalam industri migas modern, yakni long horizontal drilling dan multi-stage hydraulic fracturing (MSHF).
Di Rokan, panjang lateral setiap sumur bisa mencapai 2.500 meter, dengan delapan titik rekahan buatan di sepanjang lintasan. Sementara MSHF menciptakan jalur-jalur baru di batuan padat, membuat minyak bisa mengalir menuju sumur produksi.
“Setiap rekahan adalah peluang baru bagi minyak untuk keluar, kami bekerja di kondisi high pressure, high temperature (HPHT) dengan tekanan lebih dari 10.000 psi dan suhu mencapai 180 derajat Celsius,” tutur Purwantoko.
Seluruh proses dikendalikan secara digital dari ruang DICE di Rumbai, menjadikan operasi MNK di Rokan sebagai salah satu proyek digitally integrated drilling pertama di Indonesia. Pengembangan supply chain lokal juga dilakukan, agar peralatan, bahan kimia, dan jasa pendukung dapat dipasok dari dalam negeri.
“Dengan pendekatan ini, kami menargetkan penurunan biaya pengeboran dari US$12 juta per sumur menjadi sekitar US$8 juta, biar keekonomisanya tercapai,” ujar Purwantoko.
Berdasarkan studi internal, lapisan shale di wilayah Rokan memiliki potensi sumber daya hingga 724 juta barel setara minyak (BOE). Angka ini menjadikan Blok Rokan sebagai salah satu area dengan potensi MNK terbesar di Asia Tenggara.
Jika tahap appraisal dan demonstrasi berjalan sesuai rencana, proyek ini akan memasuki fase pengembangan (development stage) pada 2030. Tahap itu akan menjadi tonggak sejarah baru,yang artinya Indonesia memproduksi minyak dari lapisan shale-nya sendiri.
Proyek MNK juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Riau. Gubernur Riau, Abdul Wahid, menilai proyek ini sebagai simbol kebangkitan ekonomi daerah.
“Kami menyambut baik penemuan cadangan ini. Ini langkah besar bagi Riau dan bagi Indonesia. Kami berharap keberhasilan ini membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan kombinasi pengalaman mengelola lapangan tua dan keberanian menjelajah teknologi baru, Blok Rokan kini menjelma menjadi laboratorium energi nasional.
Direktur Utama PHR, Ruby Mulyawan, mengatakan di luar aspek teknis, makna terdalam dari seluruh perjalanan ini adalah kemandirian. Menurutnya, Blok Rokan bukan hanya lapangan minyak, ia adalah simbol kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Selama lebih dari 70 tahun, Rokan menjadi saksi bagaimana energi membentuk sejarah ekonomi nasional. Kini, di tangan generasi baru Pertamina, ia kembali menjadi saksi bagaimana bangsa ini berupaya mewujudkan swasembada energi.
“Kami tidak hanya menjaga produksi, tapi juga menjaga martabat bangsa. Swasembada energi bukan mimpi, tapi proses panjang yang sedang kami jalani,” ujar Ruby.
Rokan bukan sekadar blok migas; ia adalah simbol ketangguhan dan tekad. Dari lapangan tua yang terus dirawat hingga lapisan shale yang mulai terbuka, Indonesia sedang membuktikan bahwa mimpi swasembada energi bukan retorika, ia sedang tumbuh nyata di tanah air Indonesia.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56