Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memperkenalkan Dr. Satria Antoni sebagai calon Dirut PT Bumi Siak Pusako, berfokus pada peningkatan produksi minyak nasional. [494] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, secara terbuka memperkenalkan Dr. Satria Antoni sebagai calon Direktur Utama PT Bumi Siak Pusako (BSP) dalam acara peresmian Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) Lapangan Minas di Kantor Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rumbai, Riau, beberapa waktu lalu.
Sebagai informasi, Satria Antoni merupakan teknokrat energi dengan rekam jejak akademik internasional dan pengalaman kebijakan di sektor hulu migas. Ia menyelesaikan pendidikan magister (S2) dan doktoral (S3) di King Abdulaziz University, Arab Saudi, dengan fokus kajian di bidang energi dan perminyakan. Latar belakang akademik tersebut memperkuat perannya dalam perumusan kebijakan strategis sektor migas nasional.
Saat ini, menjabat sebagai Asisten Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Satria juga terlibat aktif dalam isu tata kelola hulu migas, optimalisasi lapangan migas mature, serta strategi peningkatan produksi minyak nasional dalam menjaga ketahanan energi Indonesia.
Peresmian proyek Chemical EOR tersebut merupakan bagian dari strategi jangka menengah pemerintah dan SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk menahan laju penurunan produksi minyak nasional akibat faktor penurunan alamiah (natural decline), terutama pada lapangan-lapangan migas matang di Blok Rokan.
Dalam sambutannya, Djoko menegaskan bahwa peningkatan lifting minyak nasional menjadi salah satu prioritas utama sektor energi, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional sebagaimana tertuang dalam agenda Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Yang kami hormati Pak Dr. Satria Antoni, Asisten Tenaga Ahli Menteri ESDM yang juga akan mendaftar sebagai calon Direktur Utama PT Bumi Siak Pusako,” ujar Djoko dalam sambutannya di kegiatan tersebut.
Penyebutan nama Satria Antoni dalam forum resmi tersebut mencerminkan perhatian SKK Migas terhadap pentingnya kepemimpinan yang profesional dan teknokratik dalam pengelolaan badan usaha milik daerah (BUMD) migas strategis. BSP, sebagai KKKS yang mengelola Blok Coastal Plains and Pekanbaru (CPP), dinilai memiliki peran signifikan dalam mendukung target peningkatan produksi minyak nasional menuju 1 juta barel per hari.
Peresmian Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Stage 1 Lapangan Minas tersebut turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan strategis, antara lain Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto, serta perwakilan legislatif pusat dan daerah, termasuk anggota Komisi XII DPR RI Dapil Riau Yulisman dan Ketua DPRD Riau Kaderismanto. Hadir pula Bupati Siak Afni Zulkifli, jajaran komisaris dan direksi subholding hulu Pertamina, mulai dari Komisaris PT Pertamina Hulu Energi Stella Christie, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Awang Lazuardi, hingga Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Pertamina Hulu Rokan, Susilo Widhyantoro dan Muhammad Arifin.
Adapun Proyek Chemical EOR Minas diproyeksikan menjadi game changer dalam upaya meningkatkan recovery factor Lapangan Minas—salah satu lapangan minyak terbesar dan tertua di Indonesia melalui penerapan teknologi injeksi kimia untuk memproduksikan minyak sisa yang tidak dapat diangkat dengan metode konvensional.
SKK Migas berharap keberhasilan proyek Chemical EOR Minas dapat menjadi model pengembangan EOR nasional, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan lifting minyak nasional dalam jangka panjang guna memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Pertamina menjaga Blok Rokan dengan strategi inovatif, mengatasi penurunan produksi alami, dan mengeksplorasi minyak non-konvensional untuk kemandirian energi Indonesia. [1,907] url asal
Bisnis.com, PEKANBARU-- Menjaga Blok Rokan ibarat merawat orang tua, meski usia telah lanjut, di tubuhnya masih mengalir kekuatan yang memberi kehidupan bagi banyak orang.
Dengan strategi berlapis yang dijalankan secara disiplin, Pertamina terus menjaga agar energi dari lapangan tua tak lekas padam, sambil menyiapkan generasi baru lewat eksplorasi minyak non-konvensional yang mulai tumbuh sebagai harapan baru bangsa.
Upaya itu sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia menuju kemandirian dan swasembada energi, di mana setiap tetes minyak dari bumi sendiri menjadi simbol kedaulatan.
Selama lebih dari tujuh dekade, di jantung Provinsi Riau, di antara hamparan rig yang tak pernah benar-benar tidur, Blok Rokan berdiri sebagai saksi sejarah energi nasional.
Ketika Pertamina lewat PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) resmi mengambil alih pengelolaan Blok Rokan dari operator sebelumnya pada Agustus 2021, skeptisisme sempat muncul. Namun tiga tahun berlalu, data berbicara sendiri, PHR tidak hanya mampu menjaga produksi, tetapi juga memperbaikinya.
Blok Rokan kini menjadi tulang punggung utama ketahanan energi nasional, dengan produksi di kisaran 159.000 hingga 161.000 barel per hari (BOPD) dan menyumbang sekitar 26% dari total lifting nasional.
Namun, dibalik kontribusinya yang besar, ia juga menyimpan tantangan paling berat dalam industri migas Indonesia, yakni laju penurunan alamiah produksi minyak atau natural decline rate.
Bagi para Perwira PHR, mengelola Rokan berarti menghadapi hukum alam setiap hari. Tanpa intervensi apa pun, produksi dari lapangan-lapangan tua bisa merosot hingga 35% per tahun. Bahkan dengan well service dan perawatan rutin tanpa pengeboran baru, laju penurunannya tetap sekitar 11% per tahun.
Angka itu menunjukkan betapa beratnya mempertahankan lifting di lapangan tua yang sudah lama beroperasi, tetapi disinilah inovasi menemukan jalanya.
“Kami berhadapan dengan decline rate alami yang tinggi. Karena itu, inovasi bukan pilihan, tapi keharusan. Setiap teknologi yang kami terapkan bertujuan satu, memastikan energi negeri ini tetap mengalir,” ujar Andre Wijanarko, General Manager PHR Zona Rokan baru-baru ini.
Strategi Berlapis: Dari Efisiensi ke Inovasi
Program base optimization menjadi langkah pertama dan paling mendasar dari seluruh strategi PHR. Prinsipnya sederhana,memastikan setiap sumur eksisting bekerja seefisien mungkin. Namun pelaksanaannya jauh dari sederhana, melibatkan ratusan tim teknik, teknologi sensor digital, serta pengawasan operasi 24 jam penuh.
Semua itu dikendalikan melalui Digital & Innovation Center for Excellence (DICE), yaitu pusat pengendali berbasis data yang memungkinkan ribuan sensor lapangan bekerja secara terintegrasi dan real-time.
Lewat DICE, tim operasional dapat memantau tekanan, suhu, dan laju aliran minyak secara presisi. Bila dulu keputusan teknis diambil setelah laporan manual datang dari lapangan, kini tindakan bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit.
“Dengan sistem digital, kami tidak lagi menunggu sumur bermasalah. Kami bisa memprediksi lalu memperbaiki sebelum gangguan terjadi,” jelas Andre.
Namun menjaga yang ada saja tidak cukup. PHR harus mampu menggali potensi baru dari perut bumi Riau yang masih menyimpan energi tersisa. Di sinilah strategi infill drilling memainkan peran penting.
Melalui pemetaan ulang menggunakan data seismik 3D dan simulasi reservoir berbasis kecerdasan buatan, tim geosains menemukan “kantong-kantong minyak” yang belum pernah tersentuh sebelumnya.
Program infill drilling ini dilakukan untuk mengebor sumur-sumur tambahan di antara sumur lama, sehingga minyak yang masih terperangkap di antara lapisan tipis bisa terangkat ke permukaan.
Aktivitas pengeboran masif ini tentu menuntut efisiensi tinggi.
Karena itu, PHR memperkenalkan metode batch drilling, yaitu pengeboran beberapa sumur dalam satu lokasi (pad) secara simultan dengan tahapan kerja berulang.
Metode ini memungkinkan rig bekerja secara sistematis, sehingga seluruh sumur di satu lokasi dibor tahap awal (surface section) bersamaan, lalu berlanjut ke tahap menengah (intermediate section), dan terakhir tahap produksi (production section). Pendekatan ini menurunkan waktu siklus pengeboran hingga 30% lebih cepat dan menekan biaya operasional hingga 25%, tanpa mengurangi standar keselamatan kerja.
“Batch drilling mempercepat pekerjaan tanpa kompromi terhadap keselamatan. Inilah cara kami menjaga efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan operasi di saat yang bersamaan,” kata Andre.
Menyelamatkan yang Tua
Menjaga produksi lapangan tua ibarat seni mempertahankan kehidupan di bawah tanah. Di saat tekanan alamiah menurun dan minyak semakin kental, teknologi menjadi satu-satunya jalan untuk membuat energi terus mengalir.
Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjawab tantangan itu melalui tiga pendekatan utama di bawah permukaan: Enhanced Oil Recovery (EOR), Chemical EOR (CEOR), dan Low Quality Reservoir (LQR).
Ketiganya menjadi bukti bahwa inovasi bisa menghidupkan kembali lapangan tua, bahkan di titik yang dulu dianggap tidak mungkin lagi berproduksi.
Di Lapangan Duri misalnya, teknologi steamflood atau injeksi uap panas menjadi tulang punggung keberlanjutan produksi.
Setiap hari, ribuan barel air dipanaskan hingga lebih dari 300°C dan disuntikkan kembali ke dalam formasi reservoir, memanaskan minyak berat yang kental agar lebih mudah mengalir ke permukaan. Proses ini tidak hanya meningkatkan viskositas minyak, tetapi juga menjaga tekanan reservoir tetap stabil.
Pada Februari 2025, PHR mencatat sejarah baru dengan memulai injeksi steamflood pertama di area North Duri NDD-14, lebih cepat dari jadwal yang ditargetkan. Program ini diharapkan menambah produksi sebesar 2.000–3.000 barel per hari, sekaligus memperpanjang umur produksi Lapangan Duri lebih dari satu dekade ke depan.
Sementara itu di Lapangan Minas, strategi yang digunakan berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu menambah umur lapangan tua. Sebagai informasi, lapangan Minas dulu dikenal sebagai lapangan minyak paling produktif di Asia Tenggara, kini menghadapi kenyataan baru, yakni watercut mencapai 99,5%.
Artinya, dari setiap 100 liter fluida yang diproduksi, hanya 0,5 liter di antaranya adalah minyak, sisanya air. Namun, di balik angka yang tampak suram itu, masih tersimpan potensi cadangan raksasa hingga separuh dari total 8,6 miliar barel minyak yang belum terangkat.
Melihat hal tersebut, PHR menerapkan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Metode CEOR bekerja dengan prinsip sederhana, yakni mengurangi tegangan antara air dan minyak di dalam batuan reservoir agar minyak yang terperangkap bisa “lepas” dan mengalir ke permukaan.
Prosesnya dilakukan dengan menyuntikkan campuran kimia khusus yaitu Alkali, Surfactant, dan Polymer (ASP) ke dalam reservoir pada kedalaman sekitar 2.000 kaki.
“Kalau kita bayangkan, minyak di dalam batuan itu seperti kopi yang menempel di butiran boba. Tanpa sabun, air tidak bisa melepaskannya. Tapi ketika surfactant masuk, minyak mulai lepas dari pori batuan dan ikut mengalir ke atas,” terang Senior Petroleum Engineering PHR, Medika Wilsa.
Simulasi lapangan menunjukkan potensi tambahan produksi hingga 2.000 BOPD dan penambahan cadangan sekitar 2,1 juta barel minyak. Medika mengatakan, keberhasilan CEOR di Minas mendorong penerapan uji coba serupa di lapangan lain.
Di Balam South, tim PHR menggunakan metode Simple Surfactant Flood, yang terbukti menambah produksi 40–70 barel per hari per pola injeksi.
Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Jika EOR dan CEOR adalah cara untuk menambah napas pada lapangan tua, maka Low Quality Reservoir (LQR) adalah seni membangkitkan yang lemah.
Reservoir dengan permeabilitas rendah dan tekanan tak stabil selama ini dianggap tak ekonomis untuk dikembangkan. PHR mengubah pandangan itu melalui penerapan teknologi fracturing dan horizontal drilling berpresisi tinggi yang mampu membuka kembali jalur minyak dari formasi keras.
Hingga September 2025, tercatat 376 sumur LQR aktif di Blok Rokan, dengan kontribusi tambahan produksi mencapai 9.046 barel per hari. Formasi seperti di Kotabatak dan Minas kini menjadi laboratorium inovasi bawah permukaan PHR.
Salah satu pencapaian monumental adalah keberhasilan multi-stage fracturing horizontal pertama di Indonesia melalui sumur Kotabatak KB525,yang menghasilkan produksi awal hingga 580 barel per hari (BOPD).
Melahirkan yang Baru
Sementara inovasi di lapangan tua menjadi upaya merawat energi yang sudah ada, di sisi lain, Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah menapaki perjalanan yang lebih berani, yakni melahirkan energi baru dari kedalaman bumi.
Di bawah lapisan batuan lempung (shale) yang selama ini dianggap tak mungkin ditembus, tersimpan harapan baru yaitu Migas Non-Konvensional (MNK). Langkah PHR menjelajahi lapisan shale bukan hanya bagian dari eksplorasi, tapi juga wujud nyata dari transformasi strategi energi nasional.
Program MNK Blok Rokan dimulai dengan dua sumur pionir, yaitu Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1, keduanya berada di area North Aman, Kabupaten Rokan Hulu. Tahapan awal meliputi akuisisi data geologi, pengambilan core sample, serta uji rekahan terbatas (limited fracturing test).
Hasilnya menggembirakan, minyak berhasil keluar dari lapisan yang selama ini dianggap terlalu rapat dan keras. Temuan ini menandai keberhasilan pertama eksplorasi MNK di Indonesia yang sepenuhnya dikelola oleh anak bangsa.
“Kalau migas konvensional itu ibarat makan di restoran, semuanya sudah tersaji, tapi di nonkonvensional, kita harus masuk ke dapurnya dan mengolah sendiri bahan mentahnya,” ujar Ahli Geologi Eksplorasi MNK PHR, Purwantoko Mahagyo.
Keberhasilan ini membawa proyek MNK Rokan memasuki tahap berikutnya: Appraisal Stage (2025–2027). Tahap ini menjadi momen krusial karena di sinilah pembuktian konsep dilakukan untuk menentukan apakah minyak dari lapisan shale benar-benar bisa diproduksikan secara ekonomis.
“Tahap appraisal menjadi momen pembuktian bagi PHR. Kalau berhasil, kita bukan hanya menemukan minyak, tapi juga membuka model eksplorasi baru untuk Indonesia,” jelas Purwantoko.
Mengembangkan MNK bukan pekerjaan satu entitas. PHR bekerja erat dengan SKK Migas, Kementerian ESDM, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pertamina, dan Universitas Islam Riau (UIR) untuk menciptakan ekosistem riset dan teknologi dalam negeri.
Kolaborasi ini melahirkan pendekatan baru dalam memahami karakter batuan shale Indonesia yang berbeda dengan Amerika Serikat atau Argentina. Lapisan shale Rokan dikenal keras, padat, dan tidak permeabel, artinya minyak di dalamnya tidak bisa mengalir bebas seperti di lapangan konvensional.
Untuk menembusnya, PHR menggunakan kombinasi dua teknologi paling canggih dalam industri migas modern, yakni long horizontal drilling dan multi-stage hydraulic fracturing (MSHF).
Di Rokan, panjang lateral setiap sumur bisa mencapai 2.500 meter, dengan delapan titik rekahan buatan di sepanjang lintasan. Sementara MSHF menciptakan jalur-jalur baru di batuan padat, membuat minyak bisa mengalir menuju sumur produksi.
“Setiap rekahan adalah peluang baru bagi minyak untuk keluar, kami bekerja di kondisi high pressure, high temperature (HPHT) dengan tekanan lebih dari 10.000 psi dan suhu mencapai 180 derajat Celsius,” tutur Purwantoko.
Seluruh proses dikendalikan secara digital dari ruang DICE di Rumbai, menjadikan operasi MNK di Rokan sebagai salah satu proyek digitally integrated drilling pertama di Indonesia. Pengembangan supply chain lokal juga dilakukan, agar peralatan, bahan kimia, dan jasa pendukung dapat dipasok dari dalam negeri.
“Dengan pendekatan ini, kami menargetkan penurunan biaya pengeboran dari US$12 juta per sumur menjadi sekitar US$8 juta, biar keekonomisanya tercapai,” ujar Purwantoko.
Berdasarkan studi internal, lapisan shale di wilayah Rokan memiliki potensi sumber daya hingga 724 juta barel setara minyak (BOE). Angka ini menjadikan Blok Rokan sebagai salah satu area dengan potensi MNK terbesar di Asia Tenggara.
Jika tahap appraisal dan demonstrasi berjalan sesuai rencana, proyek ini akan memasuki fase pengembangan (development stage) pada 2030. Tahap itu akan menjadi tonggak sejarah baru,yang artinya Indonesia memproduksi minyak dari lapisan shale-nya sendiri.
Proyek MNK juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Riau. Gubernur Riau, Abdul Wahid, menilai proyek ini sebagai simbol kebangkitan ekonomi daerah.
“Kami menyambut baik penemuan cadangan ini. Ini langkah besar bagi Riau dan bagi Indonesia. Kami berharap keberhasilan ini membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan kombinasi pengalaman mengelola lapangan tua dan keberanian menjelajah teknologi baru, Blok Rokan kini menjelma menjadi laboratorium energi nasional.
Direktur Utama PHR, Ruby Mulyawan, mengatakan di luar aspek teknis, makna terdalam dari seluruh perjalanan ini adalah kemandirian. Menurutnya, Blok Rokan bukan hanya lapangan minyak, ia adalah simbol kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Selama lebih dari 70 tahun, Rokan menjadi saksi bagaimana energi membentuk sejarah ekonomi nasional. Kini, di tangan generasi baru Pertamina, ia kembali menjadi saksi bagaimana bangsa ini berupaya mewujudkan swasembada energi.
“Kami tidak hanya menjaga produksi, tapi juga menjaga martabat bangsa. Swasembada energi bukan mimpi, tapi proses panjang yang sedang kami jalani,” ujar Ruby.
Rokan bukan sekadar blok migas; ia adalah simbol ketangguhan dan tekad. Dari lapangan tua yang terus dirawat hingga lapisan shale yang mulai terbuka, Indonesia sedang membuktikan bahwa mimpi swasembada energi bukan retorika, ia sedang tumbuh nyata di tanah air Indonesia.
Pertamina dan Daqing Oilfield Co. menandatangani MOU untuk pengembangan Chemical EOR dan tingkatkan produksi minyak hingga 1 juta barrel per hari pada 2030. [374] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan minyak dan gas Daqing Oilfield Co., Ltd., guna memperkuat bisnis Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) atau peningkatan produksi minyak dengan menggunakan injeksi bahan kimia (chemical) ke dalam lapisan batuan yang memiliki kandungan minyak dan gas bumi (reservoir).
Sinergi keduanya ditandai oleh penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) yang diselenggarakan di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti mengungkapkan, Chemical EOR menjadi salah satu usaha Pertamina untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina. Sebab, sumur-sumurnya sudah mature, sehingga perlu ada usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Untuk itu, injeksi pertama diharapkan dapat dilakukan tahun ini di Pertamina Hulu Rokan.
"Daqing Oilfield memiliki rekam jejak dan kompetensi di bidang chemical EOR, sehingga kerja sama ini diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi minyak di wilayah kerja Pertamina," ujar Hana dalam keterangan tertulis, Jumat (17/10/2025).
Penandatanganan ini dilakukan oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti dengan Vice President of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling. MOU akan berlangsung selama lima tahun.
"Pengembangan EOR butuh waktu supaya diperoleh hasil yang sesuai dengan target. Semoga dengan adanya kerja sama ini nanti ke depannya bisa memberikan hasil yang optimal terhadap penambahan produk minyak Pertamina," tutur dia.
VP of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling mengungkapkan, setelah lebih dari 60 tahun melakukan eksplorasi dan perkembangan, Daqing Oilfield telah menciptakan sejumlah teknologi. Sehingga diharapkan dengan teknologi ini, Daqing Oilfield mampu bersinergi dengan Pertamina untuk mencapai tujuan produksi 1 juta barrel minyak per hari pada 2030 mendatang.
"Kami ingin berbagi teknologi dan kemampuan untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan menaikkan produksi migas dengan 1 juta barrel per hari pada tahun 2030. Kami percaya teknologi Daqing sangat sesuai dengan kebutuhan pengembangan minyak di Indonesia dan berharap akan mengembangkan nilai manfaat bersama," pungkas dia.
Pertamina menggandeng perusahaan minyak dan gas, Daqing Oilfield Co., Ltd., untuk memperkuat bisnis Chemical EOR dalam upaya meningkatkan produksi minyak. [343] url asal
IDXChannel - PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan minyak dan gas, Daqing Oilfield Co., Ltd., untuk memperkuat bisnis Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) atau peningkatan produksi minyak dengan menggunakan injeksi bahan kimia (chemical) ke dalam lapisan batuan yang memiliki kandungan minyak dan gas bumi (reservoir).
Kerja sama kedua perusahaan diwujudkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti dengan Vice President of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling yang diselenggarakan di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa, 14 Oktober 2025. MOU akan berlangsung selama lima tahun.
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti mengungkapkan, Chemical EOR menjadi salah satu usaha perseroan untuk meningkatkan produksi minyak. Itu karena sumur-sumur yang dikelola Pertamina sudah mature, sehingga upaya lebih untuk meningkatkan produksi minyak bumi.
Adapun injeksi pertama diharapkan dapat dilakukan tahun ini di Pertamina Hulu Rokan.
“Daqing Oilfield memiliki rekam jejak dan kompetensi di bidang chemical EOR, sehingga kerja sama ini diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi minyak di wilayah kerja Pertamina,” ujar Hana.
“Pengembangan EOR butuh waktu supaya diperoleh hasil yang sesuai dengan target. Semoga dengan adanya kerja sama ini nanti ke depannya bisa memberikan hasil yang optimal terhadap penambahan produk minyak Pertamina,” tambahnya.
VP of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling mengungkapkan, setelah lebih dari 60 tahun melakukan eksplorasi dan perkembangan, Daqing Oilfield telah menciptakan sejumlah teknologi. Sehingga diharapkan dengan teknologi ini, Daqing Oilfield mampu bersinergi dengan Pertamina untuk mencapai tujuan produksi 1 juta barrel minyak per hari pada 2030 mendatang.
“Kami ingin berbagi teknologi dan kemampuan untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan menaikkan produksi migas dengan 1 juta barrel per hari pada 2030. Kami percaya teknologi Daqing sangat sesuai dengan kebutuhan pengembangan minyak di Indonesia dan berharap akan mengembangkan nilai manfaat bersama,” ujarnya.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Pertamina gandeng Daqing Oilfield kembangkan teknologi Chemical EOR untuk tingkatkan produksi minyak dan dukung target 1 juta barel per hari pada 2030. [264] url asal
PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama dengan Daqing Oilfield Co., Ltd. untuk memperkuat penerapan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR), sebagai upaya meningkatkan produksi minyak dari sumur-sumur tua.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa (14/10/2025).
Kesepakatan tersebut akan berlaku selama lima tahun dan menjadi bagian dari strategi Pertamina dalam memperkuat kapabilitas teknologi EOR berbasis kimia.
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti menjelaskan, kerja sama ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan produksi minyak di tengah tantangan lapangan migas yang semakin menua.
“Daqing Oilfield memiliki rekam jejak dan kompetensi di bidang chemical EOR, sehingga kerja sama ini diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi minyak di wilayah kerja Pertamina,” ujar Hana.
Pertamina menargetkan injeksi kimia pertama dapat dilakukan tahun ini di wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan (PHR). Hana menambahkan, pengembangan EOR membutuhkan waktu agar hasilnya sesuai target.
“Pengembangan EOR butuh waktu supaya diperoleh hasil yang sesuai dengan target. Semoga dengan adanya kerja sama ini nanti ke depannya bisa memberikan hasil yang optimal terhadap penambahan produk minyak Pertamina,” tambahnya.
Sementara itu, Vice President of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling menyatakan, Daqing siap berbagi teknologi dan pengalaman untuk mendukung Indonesia mencapai target produksi minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari pada 2030.
“Kami ingin berbagi teknologi dan kemampuan untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan menaikkan produksi migas dengan 1 juta barrel per hari pada tahun 2030. Kami percaya teknologi Daqing sangat sesuai dengan kebutuhan pengembangan minyak di Indonesia dan berharap akan mengembangkan nilai manfaat bersama,” tutur Fang.
Pertamina dan Daqing Oilfield menandatangani MOU untuk memperkuat bisnis EOR guna meningkatkan produksi minyak, dengan target 1 juta barrel per hari pada 2030. [344] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan minyak dan gas Daqing Oilfield Co., Ltd., untuk memperkuat bisnis Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) atau peningkatan produksi minyak dengan menggunakan injeksi bahan kimia (chemical) ke dalam lapisan batuan yang memiliki kandungan minyak dan gas bumi (reservoir). Sinergi ditandai oleh penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) yang diselenggarakan di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti mengungkapkan, Chemical EOR menjadi salah satu usaha Pertamina untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina. Karena sumur-sumurnya sudah mature, sehingga perlu ada usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Injeksi pertama diharapkan dapat dilakukan tahun ini di Pertamina Hulu Rokan.
“Daqing Oilfield memiliki rekam jejak dan kompetensi di bidang chemical EOR, sehingga kerja sama ini diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi minyak di wilayah kerja Pertamina,” ujar Hana.
Penandatanganan ini dilakukan oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti dengan Vice President of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling. MOU akan berlangsung selama lima tahun.
“Pengembangan EOR butuh waktu supaya diperoleh hasil yang sesuai dengan target. Semoga dengan adanya kerja sama ini nanti ke depannya bisa memberikan hasil yang optimal terhadap penambahan produk minyak Pertamina,” tambahnya.
VP of Daqing Oilfield Co., Ltd., CNPC Fang Jungling mengungkapkan, setelah lebih dari 60 tahun melakukan eksplorasi dan perkembangan, Daqing Oilfield telah menciptakan sejumlah teknologi. Sehingga diharapkan dengan teknologi ini, Daqing Oilfield mampu bersinergi dengan Pertamina untuk mencapai tujuan produksi 1 juta barrel minyak per hari pada 2030 mendatang.
“Kami ingin berbagi teknologi dan kemampuan untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan menaikkan produksi migas dengan 1 juta barrel per hari pada tahun 2030. Kami percaya teknologi Daqing sangat sesuai dengan kebutuhan pengembangan minyak di Indonesia dan berharap akan mengembangkan nilai manfaat bersama,” tutupnya.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56