#30 tag 24jam
Adaro Andalan (AADI) Mau Buyback Saham, Siap Guyur Rp5 Triliun
PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) berencana buyback saham senilai Rp5 triliun pada 2026 untuk meningkatkan likuiditas dan harga saham. [553] url asal
#adaro-andalan #buyback-saham #adaro-andalan-buyback #buyback-saham-2026 #adaro-andalan-indonesia #saham-adaro-andalan #buyback-saham-adaro #buyback-saham-rp5-triliun #buyback-saham-2025 #buyback-saham
(Bisnis.Com - Market) 16/04/26 09:42
v/192938/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menyiapkan dana hingga Rp5 triliun untuk aksi pembelian kembali saham, meski rencana buyback pada 2025 belum dijalankan hingga awal 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (16/4/2026), rencana tersebut kembali diajukan perseroan untuk memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Mei 2026. Jika disetujui, pelaksanaan buyback dapat dimulai sehari setelahnya dan berlangsung hingga 12 bulan ke depan.
Langkah ini muncul di tengah belum terealisasinya program pembelian kembali saham periode 2025 yang saat itu sebesar Rp4 triliun. Perseroan mencatat tidak ada pelaksanaan buyback sejak 23 Mei 2025 hingga 31 Maret 2026, meskipun telah mengantongi restu pemegang saham sebelumnya.
Manajemen menyebutkan, aksi korporasi ini bertujuan menjaga likuiditas perdagangan saham sekaligus mendorong harga saham agar mencerminkan nilai fundamental perseroan. Selain itu, buyback diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan tingkat pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.
Perseroan memastikan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kondisi keuangan. Dana yang digunakan seluruhnya berasal dari kas internal, dengan dukungan saldo laba dan arus kas yang dinilai memadai.
Secara proforma, aksi ini diperkirakan akan meningkatkan laba per saham. Dengan asumsi penggunaan dana maksimal Rp5 triliun, laba per saham dasar naik dari 0,09762 menjadi 0,10401, meski total aset dan ekuitas akan tergerus masing-masing sekitar US$292 juta.
Perseroan juga menegaskan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melampaui 10% dari modal ditempatkan dan tidak mengurangi kekayaan bersih di bawah batas minimum yang dipersyaratkan regulasi.
Dalam pelaksanaannya, buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia di pasar reguler dengan menunjuk satu perusahaan efek. Harga pembelian ditetapkan tidak lebih tinggi dari harga transaksi sebelumnya, sesuai ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, Selasa (14/4/2026), AADI berencana menjual 720,38 juta saham di Kestrel Coal Group Pty Ltd.
Nilai dari rencana transaksi ini yaitu sebesar US$1,85 miliar untuk upfront cash consideration atau pembayaran tunai awal, dan maksimum US$550 juta untuk contingent cash consideration atau pembayaran tambahan.
Sekretaris Perusahaan AADI Ray Aryaputra menjelaskan berdasarkan sale and purchase agreement (SPA), Adaro Capital Limited (ACL) akan menjual seluruh saham Kestrel milik ACL sejumlah 720,38 juta saham (720.385.220) biasa yang telah disetor penuh dalam modal Kestrel atau setara dengan 47,99% dan waran milik ACL.
“Penyelesaian rencana transaksi akan dilaksanakan setelah dipenuhinya seluruh persyaratan pendahuluan sebagaimana disepakati oleh para pihak dalam SPA,” tulis Ray, Selasa (14/4/2026).
Adapun total nilai rencana transaksi terdiri atas upfront cash consideration sebesar US$1,85 miliar yang akan dibayarkan pada saat penyelesaian transaksi dan tunduk pada penyesuaian berdasarkan syarat dan ketentuan dalam SPA.
Lalu contingent cash consideration sebesar maksimum total hingga US$550 juta, yang akan dibayarkan tahunan selama periode lima tahun sejak tanggal penyelesaian transaksi.
Pembayaran ini memiliki ketentuan untuk setiap tahun, pembayaran hanya dilakukan apabila rata-rata harga harian yang dipublikasikan untuk indeks Platts Premium Low Vol Hard Cooking Coal FOB Australia (PLVHA00) dalam tahun penilaian melebihi batasan tertentu.
Ray menuturkan nilai rencana transaksi yang akan diperoleh ACL akan dihitung berdasarkan proporsi kepemilikan ACL di Kestrel.
“Tujuan rencana transaksi adalah untuk mendukung pelaksanaan strategi bisnis dan investasi perseroan,” kata Ray.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Siasat Buyback Saham Emiten Berkocek Tebal ASII, UNTR, BBCA, hingga ITMG
ASII, UNTR, ITMG, dan BBCA mengumumkan buyback saham untuk stabilisasi harga dan meningkatkan kepercayaan investor, memanfaatkan kas internal yang kuat. [1,573] url asal
#buyback-saham #emiten-buyback #strategi-buyback #buyback-asii #buyback-untr #buyback-itmg #buyback-bbca #buyback-saham-2025 #buyback-saham-indonesia #buyback-saham-emiten #buyback-saham-astra #buyback
(Bisnis.Com - Market) 04/11/25 08:14
v/26449/
Bisnis.com, JAKARTA – Sederet emiten berkocek tebal merancang strategi pembelian kembali saham atau buyback di tengah fluktuasi tinggi pasar modal menjelang akhir tahun ini.
Terbaru, aksi buyback saham diumumkan oleh PT Astra Internasional Tbk. (ASII), PT United Tractors Tbk. (UNTR), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).
Rencana buyback saham oleh emiten batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) senilai Rp2,49 triliun baru saja disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan, Senin (3/11/2025).
Dalam keterangan resminya, manajemen ITMG menuturkan RUPSLB telah menyetujui rencana buyback dengan jumlah sebesar-besarnya Rp2,49 triliun yang berasal dari kas internal perseroan sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya, dengan asumsi buyback dilaksanakan secara keseluruhan.
Pembelian saham kembali akan dilakukan melalui Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lambat 12 bulan dari tanggal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
Menurut manajemen ITMG, terdapat tiga pertimbangan perseroan untuk melakukan buyback. Pertama, ITMG memandang bahwa harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental dan prospek jangka panjang perseroan.
Nilai fundamental tersebut mencakup posisi keuangan yang solid serta kemampuan ITMG untuk mempertahankan kinerja operasional yang berkelanjutan. Selain itu, ITMG memiliki strategi pengembangan usaha yang diyakini dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang, sehingga pelaksanaan buyback ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif kepada pasar.
Kedua, pelaksanaan buyback diharapkan dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik bagi pemegang saham, meningkatkan kepercayaan investor, serta mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek usaha ITMG di masa mendatang.
“Ketiga, pelaksanaan buyback juga diharapkan dapat mendukung stabilitas harga saham perseroan di Bursa Efek,” tulis manajemen, Senin (3/11/2025).
ITMG berkeyakinan pelaksanaan buybacktidak akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap kinerja dan pendapatan perseroan karena saldo laba dan arus kas yang tersedia saat ini mencukupi untuk kebutuhan dana pelaksanaan buyback.
Hingga 30 Juni 2025, ITMG mengantongi kas dan setara kas US$1,04 miliar. Adapun, saldo laba ITMG yang belum dicadangkan mencapai US$1,41 miliar.
Buyback Saham ASII & UNTR
Aksi serupa juga dilaksanakan oleh dua entitas usaha Grup Astra setelah menyampaikan laporan keuangan per 30 September 2025. PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) kompak menggulirkan program pembelian kembali saham (buyback) dengan total nilai anggaran maksimal Rp4 triliun.
Manajemen ASII menyampaikan pembelian kembali saham dilakukan dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Program tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Peraturan OJK No.13/2023, Surat OJK No. S-102/D.04/2025 tanggal 17 September 2025, dan Peraturan OJK No.29/2023.
“Jumlah nilai pembelian kembali saham sebanyak-banyaknya Rp2 triliun,” tulis manajemen Astra dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (3/11/2025).
Dana tersebut berasal dari internal Astra dan bukan dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum. Lebih lanjut, program buyback saham ASII akan berjalan dalam 3 bulan dengan perkiraan jadwal dimulai pada 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026.
“Perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan perseroan, karena perseroan pada saat ini memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk membiayai pembelian kembali saham dan kegiatan usaha perseroan.”
Hingga 30 September 2025, ASII tercatat memiliki kas dan setara kas Rp54,69 triliun. Sementara itu, saldo laba yang belum dicadangkan mencapai Rp214,17 triliun.
Senada dengan induk usahanya, PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun.
Berdasarkan keterbukaan informasi, jumlah saham yang akan dibeli tersebut tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan, serta tetap memperhatikan ketentuan free float saham tidak akan menjadi kurang dari 7,5%.
Pembelian kembali saham UNTR akan dilaksanakan pada 31 Oktober 2025 hingga 30 Januari 2026. Sesuai ketentuan yang berlaku, pembelian kembali saham hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 bulan setelah keterbukaan informasi.
Perseroan dapat menghentikan pelaksanaan buyback saham sewaktu-waktu atas pertimbangannya sendiri, dalam hal terdapat kondisi-kondisi antara lain seperti telah terpenuhinya jangka waktu 3 bulan, dana yang telah dikeluarkan perseroan mencapai Rp2 triliun, atau keputusan perseroan untuk menghentikan buyback saham.
"Dalam pelaksanaan pembelian kembali saham, perseroan akan menggunakan dana internal perseroan dan bukan dari pinjaman atau dana hasil penawaran umum," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Kamis (30/10/2025).
Per akhir September 2025, total aset dan total ekuitas UNTR masing-masing tercatat sebesar Rp178,7 triliun dan Rp102,6 triliun. Keduanya meningkat secara tahunan, masing-masing dari Rp169,48 triliun dan Rp98,17 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Manajemen juga menyatakan bahwa perseroan meyakini pelaksanaan buyback saham ini tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan karena pada saat ini UNTR memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk membiayai buyback saham dan membiayai kegiatan usaha perseroan.
Tak hanya itu, emiten perbankan berkocek tebal juga melaksanakan aksi buyback saham di tengah tingginya volatilitas pasar. Salah satunya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
BCA mengumumkan akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback senilai maksimal Rp5 triliun. Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera Haryn mengatakan aksi buyback sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Periode buyback saham dimulai sejak 22 Oktober 2025 sampai dengan 19 Januari 2026 yaitu maksimum selama 3 bulan sejak tanggal keterbukaan informasi," kata Hera dalam paparan kinerja keuangan kuartal III/2025 pada Senin (20/10/2025).
Hera menambahkan jumlah nilai shares buyback adalah sebesar-besarnya Rp5 triliun. Pelaksanaan shares buyback ini, lanjutnya, tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan.
Lebih lanjut, Hera menyebutkan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, BCA senantiasa mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan mematuhi segala peraturan/ketentuan yang berlaku.
Hingga kuartal III/2025, BBCA tercatat meraih laba bersih senilai Rp43,4 triliun. Nilai itu tumbuh 5,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp41,1 triliun.
Senada, PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) berencana kembali melakukan pembelian kembali alias buyback saham yang telah dikeluarkan dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Manajemen Allo Bank menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan setelah perseroan masih memiliki sisa dana sebesar Rp119,38 miliar dari program buyback sebelumnya. Rencana ini merupakan kelanjutan dari pembelian kembali saham yang telah diselesaikan perseroan sejak 30 Juli hingga 29 Oktober 2025.
Allo Bank menegaskan bahwa pelaksanaan buyback ini sesuai dengan ketentuan Peraturan OJK No.13/2023, POJK No.29/2023, serta Surat OJK No.S-102/D.04/2025 tentang kebijakan pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.
Buyback akan dilakukan secara bertahap mulai 30 Oktober 2025 hingga 29 Januari 2026, dengan pembiayaan menggunakan saldo laba ditahan. Total nilai pembelian kembali saham diperkirakan sebesar-besarnya Rp119,38 miliar, yang merupakan bagian dari total alokasi dana buyback sebesar Rp200 miliar.
Manajemen menjelaskan, langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja fundamental perseroan. Selain itu, buyback diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor serta menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental Allo Bank.
"Perseroan berencana untuk menyimpan saham yang telah dibeli kembali untuk dikuasai sebagai saham treasury untuk jangka waktu sebagaimana diatur dalam POJK 29/2023," sebutnya.
Di sektor teknologi, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) melanjutkan aksi buyback tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Buyback saham akan dilaksanakan secara bertahap maupun sekaligus mulai 24 Oktober 2025 hingga 23 Januari 2026.
Rencana tersebut merupakan lanjutan dari buyback saham perseroan pada 7 Juli sampai 6 Oktober 2205. Dari total anggaran Rp1,13 triliun, masih tersisa anggaran sebesar Rp420,79 miliar.
Sebelumnya, manajemen BUKA menegaskan bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang memadai untuk melaksanakan aksi korporasi ini tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap kinerja keuangan. Manajemen juga berharap buyback saham ini dapat memperkuat struktur modal dan mencerminkan keyakinan perseroan terhadap nilai intrinsik saham BUKA.
“Perseroan berkomitmen untuk menjaga keyakinan terhadap nilai pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini diambil untuk menjaga kestabilan antara fundamental perseroan dan fluktuasi kondisi pasar,” tulis manajemen BUKA.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai buyback merupakan langkah yang bisa sangat positif, khususnya bila dilakukan saat kinerja perusahaan sehat dan kas berlebih, karena dapat menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
"Namun perlu dicermati, jika buyback terjadi di tengah arus kas yang ketat atau ketika perusahaan masih membutuhkan dana besar untuk ekspansi, pasar dapat menilai langkah ini sebagai minimnya peluang pertumbuhan organik atau bahkan penggunaan kas yang kurang optimal," ujarnya kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Dari sisi perdagangan, Ekky menjelaskan buyback dapat mengurangi free float sehingga likuiditas turun apabila porsi pembelian cukup besar. Namun, untuk emiten berkapitalisasi besar seperti BBCA, menurutnya dampaknya sangat terbatas karena volume dan basis investor yang luas.
"Bagi emiten dengan kapitalisasi kecil hingga menengah, penurunan free float dapat meningkatkan volatilitas harga dan membuat pergerakan saham lebih mudah dipengaruhi oleh akumulasi pihak tertentu," tandasnya.
Ekky menjelaskan bahwa secara umum alasan utama emiten melakukan buyback adalah karena manajemen menilai valuasi saham sudah terlalu murah, baik dilihat dari rasio price earning ratio (PER), price to book value (PBV), maupun dibandingkan harga wajarnya.
Dengan begitu, buyback lebih merupakan upaya menangkap peluang undervaluation, bukan karena earning per share (EPS) atau return on equity (ROE) yang sudah meningkat.
"Indikator profitabilitas justru biasanya membaik setelah aksi buyback dilakukan akibat jumlah saham beredar yang berkurang," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Daftar Aksi Buyback Saham Bank pada 2025, dari BBCA hingga BBRI
Sejumlah bank besar Indonesia melakukan aksi buyback saham pada 2025 untuk meningkatkan kepercayaan investor. [572] url asal
#buyback-saham #buyback-saham-bank #buyback-saham-2025 #bank-buyback-saham #buyback-saham-bbca #buyback-saham-bbri #buyback-saham-bni #buyback-saham-mandiri #buyback-saham-btpn-syariah #buyback-saham-b
(Bisnis.Com - Finansial) 21/10/25 15:53
v/11101/
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank besar di Tanah Air kompak mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buybackpada 2025.
Aksi korporasi ini umumnya bertujuan memperkuat kepercayaan investor sekaligus menegaskan keyakinan terhadap nilai jangka panjang saham perbankan di tengah tekanan pasar modal. Terbaru, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang mengumumkan aksi buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun.
Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera Haryn mengatakan program ini sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Periode buyback saham dimulai sejak 22 Oktober 2025 sampai dengan 19 Januari 2026, yaitu maksimum selama 3 bulan sejak tanggal keterbukaan informasi,” kata Hera dalam paparan kinerja keuangan kuartal III/2025, Senin (20/10/2025).
Menurut Hera, pelaksanaan buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. “BCA senantiasa mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan seluruh ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Sebagai informasi, saham BCA sempat menyentuh level Rp7.250 per saham, terendah sejak 2022, sebelum kembali bergerak di kisaran Rp7.000-an.
Adapun, selain BCA berikut sederet bank yang melakukan aksi buyback tahun ini:
Bank Mandiri Siapkan Rp1,17 Triliun
Sebelum BCA, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga telah menyetujui program buyback senilai Rp1,17 triliun, sebagaimana diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 25 Maret 2025.
“Sebagai upaya menyeimbangkan kondisi pasar serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perseroan, maka Bank Mandiri melaksanakan program buyback,” demikian disampaikan dalam RUPST tersebut.
Dana untuk buyback berasal dari kas internal, mencakup biaya pembelian kembali saham, komisi pedagang perantara, serta biaya terkait lainnya. Pelaksanaan buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun di luar bursa dan diselesaikan paling lambat 12 bulan setelah RUPS.
BNI Alokasi Dana Buyback Rp1,5 Triliun
Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menaikkan alokasi buyback saham menjadi Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp905 miliar.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan langkah ini diambil untuk meredam tekanan jual di pasar saham dan menunjukkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perseroan.
“Buyback akan dilakukan paling lama 12 bulan setelah tanggal RUPST,” tulis Okki dalam keterbukaan informasi kepada BEI, Selasa (18/2/2025).
Menurutnya, BNI menggunakan arus kas bebas (free cash flow) untuk membiayai buyback sehingga tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional maupun target laba perseroan.
BRI Siapkan Rp3 Triliun
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga akan melaksanakan buyback saham senilai Rp3 triliun, sesuai hasil RUPST pada 24 Maret 2025 di Menara BRILiaN, Jakarta Selatan.
Manajemen BRI menyebut, aksi ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan.
“Buyback dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lama 12 bulan setelah tanggal RUPST,” tulis manajemen dalam keterangan resmi.
BTPS Batalkan Buyback
Namun, tidak semua bank merealisasikan rencana serupa. PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS) justru membatalkan rencana buyback meski telah menyiapkan dana hampir Rp1 triliun.
Direktur BTPS Fachmy Achmad mengungkapkan pihaknya tidak melaksanakan buyback karena harga saham sudah naik signifikan sepanjang periode 11 Juni hingga 9 September 2025.
“Hingga batas akhir, kami tidak melaksanakan buyback karena harga saham bergerak dengan baik,” ujarnya dalam paparan publik virtual, Rabu (10/9/2025)
Bank | Nilai Buyback | Periode | Keterangan |
BCA | Maks. Rp5 triliun | 22 Okt 2025 – 19 Jan 2026 | Tidak berdampak material |
Mandiri | Rp1,17 triliun | Maks. 12 bulan setelah RUPS | Dana dari kas internal |
BNI | Rp1,5 triliun | Maks. 12 bulan setelah RUPS | Darifree cash flow |
BRI | Rp3 triliun | Maks. 12 bulan setelah RUPS | Dukungan program kepemilikan saham karyawan |
BTPN Syariah | Rp927 miliar (batal) | 11 Jun – 9 Sep 2025 | Dibatalkan karena harga saham naik |
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56