Bisnis.com, MEDAN – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara (Sumut) menyebut kinerja ekspor karet alam dari wilayah ini kembali melemah pada November 2025, terkontraksi sedalam 7,3% (month-over-month/ MoM) jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan total volume ekspor karet dari Sumut pada November tercatat 19.182 ton, turun hingga 1.512 ton dari posisi Oktober 2025 yang mencapai 20.694 ton.
“Secara bulanan, volume ekspor karet Sumatera Utara pada November 2025 mengalami penurunan −7,3% (MoM) dibanding Oktober 2025,” kata Edy, Senin (5/1/2026).
Secara tahunan, ekspor karet tercatat −9,4% (YoY) dibandingkan November 2024 yang tercatat sebesar 21.162 ton. Edy mengatakan struktur pasar ekspor karet Sumatra Utara pada November 2025 masih sangat terkonsentrasi.
Jepang disebutnya tetap menjadi tujuan utama dengan pangsa 36,67%; diikuti Amerika Serikat 21,78%; Cina 11,61%; Brasil 5,43%; dan Spanyol 2,99%.
Kelima negara tersebut menyerap lebih dari 78% total ekspor yang semakin menegaskan ketergantungan pada pasar-pasar utama tradisional.
Adapun ekspor ke kawasan Eropa pada November 2025 melibatkan 11 negara dengan total kontribusi sekitar 13,4% terhadap keseluruhan ekspor.
Meski pengapalan masih dilakukan ke 23 negara tujuan, Edy menyebut penurunan volume ekspor karet menunjukkan aktivitas perdagangan yang belum pulih secara signifikan.
Dia mengatakan pelemahan ekspor karet Sumut pada November 2025 terutama dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan global yang hingga saat ini masih menjadi faktor dominan. “Sejumlah negara importir utama masih menahan pembelian seiring perlambatan industri hilir, khususnya sektor otomotif, serta tingginya stok di tingkat manufaktur,” tambahnya.
Adapun penundaan penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) selama satu tahun disebutnya memberi ruang penyesuaian bagi pelaku usaha, meski belum cukup untuk mendorong pemulihan permintaan secara cepat.
Sementara dari sisi pasokan, Edy mengungkap bahwa ketersediaan karet alam Sumatra Utara masih tergolong rendah. Penurunan produksi kebun karet yang terjadi sejak Oktober berlanjut hingga November, terutama dipengaruhi oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan banyak petani tidak melakukan penyadapan.
Selain faktor produksi, volume ekspor November juga tertekan oleh delay shipment akibat gangguan logistik.
Bencana banjir yang terjadi pada 27-28 November 2025 di sejumlah wilayah produsen karet turut mengakibatkan terganggunya operasional sejumlah pabrik karet dan membuat pasokan bahan olah karet terbatas akibat akses jalan yang tergenang air banjir bahkan terputus.
Di samping itu, bencana juga telah membuat depo kontainer di kawasan pelabuhan mengalami hambatan aktivitas, serta akses jalan menuju pelabuhan tidak dapat dilalui secara optimal akibat genangan.
“Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan pengiriman dan sebagian volume ekspor tertunda ke periode berikutnya,” ujar Edy.