#30 tag 24jam
Inflasi AS 4,2% Picu Potensi The Fed Naikkan Suku Bunga, Gimana Nasib Indonesia?
Inflasi AS naik ke 4,2% pada Mei 2026. Kondisi ini memicu potensi kenaikan suku bunga The Fed dan menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. [573] url asal
#inflasi-as #the-fed #suku-bunga-the-fed #rupiah #bank-indonesia #inflasi-amerika-serikat #cpi-as #suku-bunga-bi #pasar-emerging-markets #inflasi-as-2026 #kebijakan-moneter-as #nilai-tukar-rupiah #capi
(Bisnis.Com - Ekonomi) 12/06/26 18:06
v/248627/
Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) mencatatkan inflasi hingga 4,2% (YoY) pada Mei 2026 dibandingkan Mei 2025. Inflasi ini dikhawatirkan mendorong Bank Sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan dan berpengaruh ke pasar keuangan negara-negara emerging markets.
Berdasarkan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis Biro Statistik Ketenagakerjaan AS, inflasi tahunan Mei lalu lebih tinggi dari April sebesar 3,8% (YoY). Sementara itu, inflasi bulanan juga tercatat 0,5% pada Mei 2026 meski lebih rendah dari April yaitu 0,6% (MoM).
Secara tahunan, inflasi 4,2% (YoY) ini didorong oleh seluruh indeks harga. Adapun inflasi inti yang mengecualikan harga makanan dan energi mencapai 2,9% (YoY) pada bulan lalu setelah inflasi 2,8% (yoy) pada April.
Indeks harga energi merupakan yang tertinggi, yaitu tembus 23,5% (YoY) pada Mei. Sementara itu, inflasi harga makanan mencapai 3,1% (YoY).
Untuk harga energi, inflasi sebesar 23,5% dibandingkan dengan Mei 2025 ini didorong oleh indeks harga BBM sebesar 40,5% (YoY). Sementara itu, harga listrik mengalami inflasi 5,9% (YoY) dan gas alam 3% (YoY).
Secara bulanan, indeks harga energi naik 3,9% (MoM) pada Mei 2026. Meski inflasi bulanan secara umum sedikit lebih rendah dari April, indeks harga energi pada Mei meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 3,8% (MoM).
Kenaikan harga energi secara bulanan tercatat mengalami inflasi jauh lebih tinggi, 10,9% (MoM) pada Maret 2026.
Secara umum, indeks harga di luar energi dan makanan pada Mei 2026 mengalami inflasi bulanan 0,2% (MoM). Harga-harga pendorongnya adalah komunikasi, tiket pesawat, perawat pribadi, dan rekreasi.
Sebaliknya, harga asuransi kendaraan bermotor, perabotan rumah dan operasinya, serta kendaraan baru turun alias deflasi.
Era suku bunga tinggi di AS bisa semakin memberikan tekanan ke pasar keuangan negara-negara emerging markets seperti Indonesia. Investor berpeluang mencari aset yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia bisa mendorong pengetatan lebih lanjut oleh Bank Indonesia (BI). Pada Selasa (9/6/2026) saja, BI telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.
Langkah BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan bukanlah hal yang tidak mungkin. Apalagi, fokus bank sentral saat ini adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
"Sementara itu dengan sudah naiknya harga BBM Pertamax dan juga potensi dampak rambatan dari depresiasi nilai tukar terhadap imported goods, maka tepat jika BI melakukan penyesuaian suku bunga acuan untuk meredam potensi kenaikan inflasi yang melebihi target," terang ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).
Proyeksi yang sama turut disampaikan oleh Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. Faisal Rachman. Dia menilai BI masih memiliki ruang untuk menaikkan lagi suku bunga acuan sampai dengan penghujung 2026.
Proyeksi ini didasari oleh tantangan global dan domestik yang terus berlanjut ke depannya. Faisal memprakirakan BI bisa mengerek lagi suku bunga ke 5,75% pada kuartal III/2026
"Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps lagi menjadi 5,75% pada kuartal III/2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian yang terus meningkat," ujarnya melalui keterangan tertulis.
Faisal turut melihat semakin tingginya sinyal hawkish The Fed untuk menaikkan kebijakan suku bunga acuan pada Desember 2026. Dampaknya, BI juga akan mempertahankan sikap pro-stabilitas guna menjaga perbedaan suku bunga Indonesia dan AS agar aset keuangan domestik tetap menarik bagi investor global.
Inflasi AS Melonjak, Trump Malah Senang
Inflasi AS melonjak ke 4,2% akibat perang Iran. Trump mengaku senang dan yakin harga energi akan turun setelah konflik berakhir. [802] url asal
#inflasi-as #trump #donald-trump #inflasi-amerika-serikat #cpi-as #inflasi-as-mei-2026 #perang-iran-as #harga-minyak-dunia #harga-bensin-as #the-fed #suku-bunga-as #inflasi-energi-as #selat-hormuz #eko
(Bisnis.Com - Ekonomi) 11/06/26 13:40
v/247078/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya senang dengan data inflasi yang melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Data Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi AS pada Mei 2026 mencapai 4,2% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 3,8% pada April 2026. Lonjakan tersebut terutama dipicu kenaikan biaya energi setelah pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran.
“Saya menyukainya. Angkanya sangat bagus. Tahu apa yang benar-benar saya suka? Saya suka inflasi,” ujar Trump di Gedung Putih, seperti dikutip BBC, Kamis (11/6/2026).
Meski demikian, Trump menegaskan tekanan harga akan turun setelah konflik dengan Iran berakhir. Pada hari yang sama, militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran.
Menanggapi data inflasi tersebut, Trump mengatakan pasukan AS melakukan operasi malam hari untuk mengambil “jutaan barel” minyak dari Iran, yang menurutnya turut memicu sedikit penurunan harga minyak.
“Ketika konflik ini selesai… Anda akan melihat harga minyak turun ke level sebelum perang,” katanya kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump juga menyinggung kunjungannya ke Iowa pada awal 2026, ketika harga bensin disebut berada di level US$1,85 per galon. Dia menilai harga energi akan kembali ke level tersebut dalam waktu dekat.
Namun, harga minyak acuan global Brent crude masih diperdagangkan jauh di atas level sebelum perang.
Dalam wawancara terpisah dengan New York Post, Trump mengatakan pernyataannya telah diambil di luar konteks. Menurutnya, yang dimaksud adalah inflasi “jauh lebih rendah dari perkiraan” meskipun perang Iran berlangsung.
Kenaikan inflasi Mei 2026 menandai tiga bulan berturut-turut indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS mengalami peningkatan. Rumah tangga AS semakin merasakan tekanan akibat konflik berkepanjangan antara AS, Israel, dan Iran.
Trump sebelumnya berulang kali menyebut lonjakan inflasi hanya bersifat sementara dan akan cepat mereda setelah perang berakhir.
Meski meningkat, inflasi AS masih jauh di bawah puncak 9,1% yang terjadi pada pertengahan 2022 di era pemerintahan Joe Biden.
Kendati demikian, lonjakan harga tetap menjadi persoalan politik bagi Trump, mengingat isu ekonomi menjadi perhatian utama pemilih menjelang pemilu sela AS pada November mendatang.
Inflasi yang lebih tinggi juga meningkatkan peluang bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk menekan belanja masyarakat.
Tagihan energi, termasuk gas dan listrik, tercatat hampir seperempat lebih tinggi pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga bensin menjadi faktor utama pendorong inflasi energi.
Berdasarkan data terpisah dari asosiasi otomotif AAA, rata-rata harga bensin reguler di AS saat ini mencapai US$4,15 per galon, melonjak dari US$2,98 per galon pada 28 Februari 2026 ketika Trump mulai melancarkan serangan ke Iran.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi itu mempersempit suplai energi global.
Pada Rabu malam waktu setempat, militer AS menyatakan kembali meluncurkan serangan ke Iran untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir.
Kedua pihak terus saling melancarkan serangan sepanjang pekan ini meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak April. Konflik tersebut telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Data BLS juga menunjukkan kenaikan biaya tiket pesawat, layanan perawatan pribadi dan kesehatan, rekreasi, serta komunikasi.
Bertolak Belakang
CPI merupakan indikator yang mengukur kenaikan harga barang dan jasa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. The Fed memiliki target inflasi jangka panjang sebesar 2%.
Ekonom memperingatkan bahwa sekalipun perang Iran berakhir dalam waktu dekat, pemulihan normal arus distribusi barang melalui Selat Hormuz kemungkinan baru terjadi pada 2027.
Trump dari Partai Republik sebelumnya menjadikan pengendalian inflasi sebagai agenda utama kampanye pemilihan presiden 2024.
Namun, pernyataannya yang terkesan menerima kenaikan harga langsung dimanfaatkan lawan politiknya. Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menulis di platform X, “Penghinaannya terhadap rakyat tidak mengenal batas.”
Trump juga menuai kritik bulan lalu setelah mengatakan dirinya “sama sekali tidak dipengaruhi” oleh kondisi keuangan warga AS dalam upaya memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Tekanan inflasi turut menjadi tantangan bagi Gubernur baru The Fed, Kevin Warsh, menjelang keputusan suku bunga pertamanya pekan depan.
Ketika inflasi berada jauh di atas target The Fed, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan itu akan meningkatkan biaya pinjaman dan membatasi peredaran uang di perekonomian guna menahan kenaikan harga lebih lanjut.
Menjelang pengangkatan Warsh, Trump berulang kali mendesak pendahulunya, Jerome Powell, serta The Fed untuk memangkas suku bunga.
Ekonom memperkirakan suku bunga acuan AS akan tetap berada di kisaran 3,5% hingga 3,75% pada bulan depan. Namun, bukti tambahan bahwa inflasi masih bertahan tinggi dapat memaksa The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Chief North America Economist Capital Economics, Stephen Brown, mengatakan kenaikan inflasi Mei “belum cukup besar untuk memberikan amunisi” bagi anggota komite penentu suku bunga yang ingin mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Sementara itu, Investment Manager Wealth Club, Isaac Stell, menilai kenaikan suku bunga menjadi “kesimpulan paling logis dari data hari ini ditambah laporan tenaga kerja yang solid pekan lalu.”
Rupiah melemah seiring pasar "wait and see" rilis data CPI AS
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Jumat melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level ... [265] url asal
#rupiah #rupiah-hari-ini #kurs-rupiah #cpi-as #geopolitik-di-timur-tengah
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Jumat melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see pasar jelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.
“Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Data CPI AS diperkirakan meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan menopang penguatan dolar AS.
Di samping itu, lanjutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah.
Melihat sentimen domestik, intervensi Bank Indonesia (BI) disebut menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Dia mengatakan bahwa Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
“Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore,” kata Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga bergerak melemah ke level Rp17.112 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.082 per dolar AS.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
IHSG Berpeluang Menguat ke 8.300, Sentimen The Fed dan Perjanjian Dagang RI-AS Jadi Katalis
IHSG diproyeksikan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran 8.150–8.300, didorong oleh sentimen global dan domestik. [408] url asal
#ihsg #ihsg-menguat #ihsg-8-300 #sentimen-the-fed #perjanjian-dagang-ri-as #inflasi-cpi-as #risalah-fomc #suku-bunga #nilai-tukar-rupiah #yield-us-treasury #efisiensi-anggaran #investasi-rp90-triliun
(Bisnis.Com - Market) 18/02/26 08:22
v/139138/
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran 8.150–8.300 dalam perdagangan hari ini Rabu (18/2), di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang saling tarik-menarik.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal, IHSG sebelumnya ditutup melemah 0,64% ke level 8.212,27 menjelang libur panjang. Namun, indikator mulai menunjukkan peluang perbaikan.
“IHSG hari ini [18/2/2026] diperkirakan bergerak konsolidasi pada kisaran level 8.150 hingga 8.300,” tulis tim riset yang dikutip, Rabu (18/2/2026).
Dari eksternal, data inflasi CPI AS yang dirilis pada Jumat (13/2) lebih rendah dari perkiraan, menyusul data tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan. Investor akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai inflasi dari indeks PCE Prices yang akan dirilis Jumat (20/2).
Pelaku pasar kini menanti risalah FOMC yang akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga lanjutan.
Dari dalam negeri, pasar mencermati agenda Presiden Prabowo yang dijadwalkan menandatangani Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan Presiden AS pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini memuat tarif resiprokal 19% terhadap sejumlah produk Indonesia (kecuali CPO, kopi, dan kakao), serta rencana impor migas dari AS senilai US$15 miliar.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim telah melakukan efisiensi anggaran hingga Rp380 triliun pada tahun pertama, yang dialokasikan untuk program prioritas dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, komitmen investasi Rp90 triliun hasil kunjungan luar negeri sebelumnya turut menjadi bantalan sentimen domestik.
Meski demikian, nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.825 per dolar AS tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai, terutama jika yield US Treasury kembali menanjak.
Dalam kondisi konsolidasi, strategi yang disarankan adalah akumulasi selektif pada saham dengan pola teknikal yang mulai membentuk rebound serta memiliki dukungan fundamental sektoral.
Sejumlah saham yang layak dicermati dari Tim Phintraco SEkuritas adalah:
PT Harum Energy Tbk (HRUM)
Rekomendasi: Trading Buy
Entry: 1.120
Stop-loss: 1.080
Target Harga:
- Target 1: Rp1.200
- Target 2: Rp1.250
- Target 3: Rp1.285
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)
Rekomendasi: Trading Buy
Entry: Rp830–840
Stop-loss: Rp 810
Target Harga:
Target 1:Rp 880–900
Target 2:Rp 940
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG)
Rekomendasi: Trading Buy
Entry: Rp1.730
Stop-loss: Rp1.675
Target Harga:
- Target 1: Rp1.825
- Target 2: Rp1.900
- Target 3: Rp2.000
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sentimen Rilis Data Inflasi AS, Kurs Rupiah Pekan Depan Risiko Melemah
Rupiah berpotensi melemah pekan depan akibat rilis data inflasi AS dan penguatan dolar, dengan rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS. [487] url asal
#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #inflasi-as #dolar-as #suku-bunga-the-fed #pasar-tenaga-kerja-as #indeks-harga-konsumen #cpi-as #inflasi-inti-as #ekonomi-indonesia #ekspor-indonesia #ketegangan-geo
(Bisnis.Com - Market) 14/02/26 09:43
v/136708/
Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan rupiah pada pekan depan berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis, seiring sikap pelaku ke depan dalam merespons rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Direktur Traze Andalan Features Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah cenderung volatil mengikuti respons terhadap rilisnya data inflasi Amerika Serikat atau AS pada pekan depan.
“Pada perdagangan pekan depan Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS,” ujarnya dikutip, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, secara keseluruhan, arah rupiah pekan depan akan sangat ditentukan oleh dinamika dolar AS dan ekspektasi suku bunga global. Selama belum ada kejutan besar dari eksternal, pelemahan diperkirakan masih terbatas.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup terkoreksi 0,25% ke level Rp16.828 per dolar AS pada Jumat (14/2/2026). Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS bergerak menguat 0,01% ke level 96,84.
Ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi sentimen utama pasar. Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid, sehingga memicu penguatan dolar AS dari posisi terendah mingguannya. Kondisi ini memberi tekanan tambahan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS Januari. Inflasi dan kekuatan tenaga kerja merupakan dua indikator utama yang menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Melansir Bloomberg, Inflasi inti AS sedikit meningkat pada awal tahun, sesuai dengan perkiraan, karena kenaikan biaya jasa lebih dari mengimbangi harga barang yang stabil.
Indeks harga konsumen (IHK) inti, tidak termasuk biaya makanan dan energi yang sering fluktuatif, meningkat 0,3% dari Desember, tertinggi sejak Agustus, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja yang dirilis pada Jumat (13/2/2026). Pada saat yang sama, IHK inti naik dari tahun lalu dengan kenaikan terkecil sejak 2021.
Meski pasar memperkirakan inflasi mulai melandai, data Januari dalam beberapa tahun terakhir kerap lebih tinggi dari ekspektasi. Jika kembali terjadi kejutan kenaikan inflasi, dolar AS berpotensi menguat dan menekan rupiah lebih lanjut.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah muncul sinyal negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Namun, situasi di Eropa kembali memanas menyusul serangan drone terhadap fasilitas kilang minyak Rusia.
Meski kondisi tersebut belum berdampak signifikan pada pasar keuangan, ketidakpastian global tetap membayangi sentimen investor.
Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026, meski menghadapi perlambatan ekonomi Asia dan global. Tren inflasi global yang mulai menurun juga membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap.
Selain itu, Indonesia dinilai memiliki daya saing ekspor yang kuat, dengan potensi besar dalam kapasitas manufaktur dan tenaga kerja. Berdasarkan sejumlah indikator potensi ekspor global, Indonesia berada di peringkat lima, menunjukkan peluang jangka menengah yang tetap positif.
Rupiah menguat seiring data inflasi AS lebih lemah dari perkiraan
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.710 per dolar AS dari sebelumnya ... [266] url asal
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.710 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.723 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan kurs rupiah menguat seiring data inflasi AS lebih lemah dari perkiraan.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.680-Rp16.730 dipengaruhi oleh sentimen global data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Mengutip Anadolu, tercatat Consumer Price Index (CPI) tahunan AS sebesar 2,7 persen pada bulan November 2025 atau lebih rendah dari proyeksi pasar 3,1 persen dan turun dari 3 persen pada bulan September 2025.
Adapun tingkat inflasi bulanan adalah 0,2 persen pada bulan November, turun dari 0,3 persen pada bulan September. Pada bulan Oktober, data inflasi tidak dirilis karena penutupan pemerintah federal.
Menurut Rully, pelemahan inflasi AS menguatkan kembali harapan penurunan bunga oleh Federal Reserve pada Januari 2026.
"Angka tersebut belum sepenuhnya meyakinkan The Fed karena ada jeda penarikan data oleh pemerintah AS akibat shutdown (penutupan pemerintahan AS). Jadi, The Fed butuh data inflasi Desember, namun pelaku pasar sudah yakin The Fed akan menurunkan bunga tiga kali tahun depan, termasuk penurunan di awal tahun," ungkap dia.
Meninjau sentimen domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga tetap berada di level 4,75 persen, menambah kekhawatiran terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Mengacu pada target pertumbuhan ekonomi Indonesia, sebaiknya suku bunga diupayakan serendah mungkin. Namun, ada kepentingan BI menjaga stabilitas rupiah," ujar Rully.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025
Inflasi AS Turun di Bawah Ekspektasi, Beban Biaya Hidup Masih Tinggi
Inflasi AS turun di bawah ekspektasi pada November 2025, namun biaya hidup tetap tinggi karena harga kebutuhan pokok seperti daging dan listrik meningkat. [769] url asal
#inflasi-as #inflasi-amerika-serikat #inflasi-as-2025 #inflasi-as-turun #biaya-hidup-tinggi #harga-kebutuhan-pokok #indeks-harga-konsumen #consumer-price-index #cpi-as #penutupan-pemerintahan-federal
(Bisnis.Com - Ekonomi) 19/12/25 06:18
v/78193/
Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi Amerika Serikat melambat di bawah perkiraan hingga November 2025, tetapi lonjakan harga kebutuhan pokok seperti daging sapi dan listrik tetap menekan daya beli rumah tangga.
Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dilansir dari Reuters pada Jumat (19/12/2025) mencatat, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada November 2025 naik 2,7% (year on year/YoY). Catatan tersebut melambat dibandingkan kenaikan 3,0% dalam 12 bulan hingga September 2025.
Angka tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,1%. Adapun, CPI tercatat meningkat 0,2% dalam periode dua bulan hingga November 2025.
BLS menyatakan tidak dapat memberikan panduan spesifik kepada pengguna data untuk menavigasi hilangnya observasi pada Oktober 2025.
Sebagai informasi, data CPI umumnya dikumpulkan sepanjang bulan. Namun, penutupan pemerintahan federal (government shutdown) selama 43 hari menyebabkan pengumpulan data tertunda hingga paruh kedua November 2025, bertepatan dengan periode diskon musim liburan.
Penutupan pemerintahan juga membuat BLS tidak dapat merilis perubahan inflasi bulanan untuk November karena sebagian besar data Oktober 2025 tidak terkumpul. Bahkan, rilis CPI Oktober dibatalkan sepenuhnya, menjadi kali pertama BLS tidak menerbitkan data CPI bulanan.
Para ekonom memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan berlebihan dari laporan yang dinilai “berlubang-lubang” tersebut. Diskon akhir tahun untuk produk seperti pakaian dan peralatan rumah tangga diduga turut memberi bias penurunan pada data inflasi.
“Laporan ini tidak hanya berisik dan penuh celah, tetapi juga memberikan gambaran inflasi yang bias ke bawah,” kata Kepala Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan para pembuat kebijakan akan mencermati data ekonomi yang tertunda dengan hati-hati dan sikap skeptis, mengingat gangguan pengumpulan data selama penutupan pemerintahan
Meski demikian, pejabat Gedung Putih segera merespons rilis laporan tersebut. Penasihat ekonomi utama Trump menyebut data CPI sangat bagus, beberapa jam setelah presiden menyampaikan pidato nasional yang menyoroti isu keterjangkauan harga.
Biaya Hidup Jadi Tantangan Trump
Biaya hidup diperkirakan tetap menjadi isu politik menjelang 2026, ketika Trump dan Partai Republik berupaya mempertahankan kendali atas Kongres AS.
Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi akan kembali meningkat pada Desember, seiring pelaku usaha masih meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor kepada konsumen. Selain itu, pertumbuhan pesat pusat data kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan mendorong permintaan listrik.
Kebijakan tarif impor Trump telah mendorong kenaikan harga sejumlah barang, meski dampaknya berlangsung bertahap.
Kepala Ekonom AS Pantheon Macroeconomics, Samuel Tombs, memperkirakan sekitar 40% tarif telah diteruskan ke konsumen hingga September dan angka tersebut berpotensi naik menjadi 70% pada Maret.
Harga daging sapi melonjak 15,8% (YoY) pada November—kenaikan terbesar sejak Juni 2020—dengan harga daging giling naik 14,9%. Harga kopi melonjak 18,8%.
Sementara itu, Trump telah memangkas tarif pada sejumlah komoditas, termasuk daging sapi, pisang, dan kopi, meski penurunan harga di tingkat konsumen diperkirakan membutuhkan waktu.
Harga listrik naik 6,9%, tertinggi sejak April 2023. Sebaliknya, harga telur turun 13,2%, sedangkan harga bensin naik 0,9%. Harga kendaraan baru naik tipis 0,6% karena produsen menyerap sebagian biaya terkait tarif.
“Meski inflasi inti terlihat positif, konsumen kemungkinan masih merasa tertekan karena harga banyak kebutuhan pokok di luar perumahan tetap naik cepat,” ujar Kepala Ekonom Comerica Bank, Bill Adams.
Trump, yang memenangkan pemilu presiden 2024 dengan janji menurunkan inflasi, dalam beberapa pekan terakhir bergantian meremehkan isu keterjangkauan harga, menyalahkan Mantan Presiden Joe Biden, dan menjanjikan manfaat kebijakan ekonominya mulai tahun depan.
Pekan lalu, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50%—3,75%, namun memberi sinyal biaya pinjaman tidak akan turun lebih jauh dalam waktu dekat sambil menunggu kejelasan arah pasar tenaga kerja dan inflasi.
Di luar komponen pangan dan energi, inflasi inti naik 2,6% (YoY) pada November, terendah sejak Maret 2021. Inflasi inti tercatat naik 0,2% pada periode September hingga November.
The Fed sendiri menjadikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai acuan target inflasi 2%.
Sementara itu, biaya perumahan—yang mencakup sewa dan tarif hotel—naik 0,2% dalam periode yang sama, angka yang dinilai sebagian ekonom kurang realistis mengingat komponen ini menyumbang lebih dari 40% inflasi inti.
Kendati demikian, para ekonom menilai inflasi berpeluang melambat pada 2026 seiring meredanya dampak tarif dan melunaknya pasar tenaga kerja, yang turut menahan pertumbuhan upah dan inflasi jasa.
Dalam laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim awal tunjangan pengangguran turun 13.000 menjadi 224.000 pada pekan yang berakhir 13 Desember, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil.
“Inflasi memang melambat secara tren, meski data terbaru ini cenderung melebihkan perlambatan tersebut. Dikombinasikan dengan pasar tenaga kerja yang melunak, kami masih nyaman dengan peluang pemangkasan suku bunga pada Maret dan Juni tahun depan," kata Ekonom Senior Wells Fargo, Michael Pugliese.
Pelemahan rupiah diiringi sentimen ketidakpastian perekonomian AS
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.723 per dolar AS dari sebelumnya ... [209] url asal
#rupiah #rupiah-hari-ini #kurs-rupiah #cpi-as #nilai-tukar-rupiah #the-fed
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.723 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.694 per dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi ketidakpastian mengenai perekonomian AS yang meningkat pada pekan ini.
“(Hal ini) terutama karena data resmi pemerintah memberikan sinyal yang beragam mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve juga memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Kini, pasar disebut menantikan inflasi inflasi indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) untuk mendapatkan petunjuk mengenai perekonomian di AS.
Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat, sementara CPI inti diprediksi tetap stabil di angka 3 persen per tahun.
“Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Fed untuk menyesuaikan kebijakan. Namun, selain suku bunga, pasar juga khawatir tentang potensi periode stagflasi bagi perekonomian AS – sebuah skenario di mana pengangguran meningkat seiring dengan inflasi,” kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.722 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.698 per dolar AS.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.621 saat Dolar AS Menguat Tipis
Rupiah melemah ke Rp16.621 saat dolar AS menguat tipis. Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5% di 2025 meski ada pelemahan domestik. [382] url asal
#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #dolar-as-menguat #kurs-rupiah-hari-ini #rupiah-terhadap-dolar #indeks-dolar-as #mata-uang-asia #kesepakatan-perdagangan-as-china #cpi-as #suku-bunga-as #pertumbuhan
(Bisnis.Com - Market) 27/10/25 15:28
v/17207/
Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke posisi Rp16.621 pada perdagangan hari ini, Senin (27/10/2025). Di sisi lain, greenback mengalami penguatan.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,11% ke Rp16.621 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat tipis 0,01% menjadi 98,95.
Sementara itu, mata uang di Asia ditutup bervariasi. Won Korea, semisal, terapresiasi 0,29% bersama yuan China sebesar 0,15%. Adapun, yen Jepang dan rupee India masing-masing melemah 0,10% dan 0,51% terhadap dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa kerangka kesepakatan perdagangan yang tengah disusun dapat mencegah kenaikan tarif AS hingga 100% atas barang-barang China.
“Presiden Donald Trump optimistis dapat mencapai kesepakatan dengan Beijing dan akan mengadakan pertemuan di China maupun di AS,” ucapnya dalam keterangan tertulis pada Senin (27/10/2025).
Selain itu, laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin. Investor, lanjut Ibrahim, kini menunggu panduan lebih lanjut terkait kemungkinan pelonggaran moneter tambahan hingga akhir tahun.
Di sisi domestik, dia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 sebesar 4,9% secara tahunan (year on year/YoY) atau melambat dibandingkan kuartal II/2025 yang mencapai 5,12%.
Pelemahan pertumbuhan terutama berasal dari sisi domestik, tecermin dari turunnya Indeks Kepercayaan Konsumen pada September 2025.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat pada kuartal IV/2025 karena faktor musiman, belanja pemerintah yang lebih tinggi, serta penyaluran Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam paket stimulus ekonomi.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 diproyeksikan bakal mencapai 5%. Menurut Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), proyeksi pertumbuhan Indonesia juga dinaikkan menjadi 4,9% atau lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Juni 2025 sebesar 4,7%.
Ibrahim menuturkan bahwa proyeksi kenaikan tersebut didorong oleh kebijakan pro pertumbuhan Bank Indonesia (BI) dan akselerasi investasi.
Di tengah kondisi ini, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi melemah di rentang Rp16.620 – Rp16.650 pada Selasa (25/10/2025).
Harga Minyak Mendidih Lagi, Dunia Tunggu Sinyal Genting dari AS
IHSG ditutup naik 1,3% ke 8.258,34, didukung oleh sektor konsumer. Rupiah melemah ke Rp16.615/US$, sementara yield SBN tenor 10 tahun menurun. [3,061] url asal
#ihsg #saham #pasar-modal #investasi #suku-bunga #rupiah #obligasi #inflasi #sektor-saham #analisis-pasar #dolar #minyak-mentah #sbn #data-cpi-as #pasar-saham #newsletter
(CNBC Indonesia - Research) 23/10/25 16:25
v/14027/
- Pasar keuangan Indonesia kembali ditutup beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street bangkit setelah ambruk, ditopang membaiknya laporan kinerja keuangan perusahaan
- Musim laporan keuangan, harga minyak yang kembali mendidih, serta inflasi AS akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali bergerak beragam pada perdagangan kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatile pada hari ini, Jumat (24/10/2025). Selengkapnya mengenai sentimen pasar keuangan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,49% atau 121,8 poin ke 8274,35 pada perdagangan, Kamis (23/10/2025).
Indeks bergerak pada rentang 8.179,61-8.268,79. Sebanyak 405 saham naik, 254 turun, dan 152 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 21,1 triliun, melibatkan 31,3 miliar saham. Asing mencatat net buy sebesar Rp 1,08 triliun.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona hijau. Konsumer primer memimpin penguatan dengan kenaikan 3,33%. Kemudian diikuti oleh properti 2,45% dan teknologi 2,1%.
Hanya utilitas dan energi yang berada di zona merah dengan penurunan masing-masing -0,34% dan -0,67%.
Sementara itu, saham Telkom (TLKM) menjadi penopang utama IHSG kemarin dengan kontribusi 25,18 indeks poin. TLKM melanjutkan penguatan kembali kemarin, naik 6,98% ke level 3.370.
Kemudian saham-saham bank jumbo mengalami rebound siang ini setelah koreksi pada perdagangan kemarin, sesaat setelah Bank Indonesia mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) masing-masing menyumbang 9,93 indeks poin, 7,023 indeks poin, dan 6,79 indeks poin. Pun sejumlah saham konglomerat kembali bergeliat.
Pradiksu Gunatama (PGUN) milik Haji Isam pada sesi I kemarin sudah naik 19,97% dan menyumbang 3,21 indeks poin. Begitu pula dengan saham Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) milik Hermanto Tanoko kembali naik hingga menyentuh auto reject atas (ARA) dan menyumbang 6,92 indeks poin.
Sementara itu, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (23/10/2025).
Melansir data Refinitiv, rupiah tercatat turun 0,27% ke posisi Rp16.615/US$. Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 0,09% pada perdagangan Rabu (22/10/2025).
Pergerakan rupiah kemarin dibayangi sejumlah sentimen, terutama keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG BI), Rabu (22/10/2025), BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 4,75% pada Oktober ini.
Selain itu, shutdown belum juga berakhir karena Partai Demokrat di Senat menolak untuk menyetujui rancangan undang-undang pendanaan sementara pemerintah yang diajukan Partai Republik, karena tidak mencakup tambahan anggaran untuk layanan kesehatan dan ketentuan lainnya.
DXY juga tengah mengalami penguatan ke level 99.026 atau naik 12 basis poin dari hari sebelumnya di level 99.014
Di tengah gejolak eksternal dan sentimen kenaikan harga minyak mentah, pasar Surat Berharga Negara (SBN) justru menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari yield (imbal hasil) SBN tenor 10 tahun yang melandai sedikit ke level 5,993%.
Penurunan yield mengindikasikan harga obligasi sedang naik karena diburu investor kemarin.
Pergerakan SBN yang berlawanan arah dengan Rupiah ini mengindikasikan dua hal. Pertama, pasar mengapresiasi sinyal stabilitas dari BI yang menahan suku bunga, membuat yield SBN saat ini dianggap menarik untuk lock-in.
Kedua, ancaman inflasi dari kenaikan harga minyak mentah global. Kenaikan harga minyak adalah 'musuh utama' bagi aset pendapatan tetap seperti obligasi. Jika harga minyak naik, ekspektasi inflasi akan melonjak.
Hal ini berpotensi merubah arah kebijakan oleh The Fed sehingga pasar secara menyeluruh berada pada kondisi wait and see terhadap instrumen investasi obligasi terutama instrumen obligasi di negara berkembang di kacamata investor asing yang masih menyimpan resiko yang bisa terjadi pada negara tersebut.
Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street bangkit pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 naik terdorong oleh saham-saham teknologi, saat investor masuk untuk membeli setelah serangkaian laporan laba yang kuat.
Indeks S&Pmenguat 0,58% dan ditutup pada 6.738,44, sementara Dow Jones Industrial Average diperdagangkan naik 144,20 poin, atau 0,31%, ke 46.734,61.
Indeks Nasdaq Composite menanjak 0,89% ke 22.941,80, didukung oleh kenaikan saham-saham seperti Nvidia, Broadcom, dan Amazon.
Lonjakan hampir 3% saham Oracle, pemain lain di sektor kecerdasan buatan, juga membantu mengangkat pasar lebih tinggi.
Rata-rata indeks mencapai level tertinggi sesi setelah juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan dalam konferensi pers bahwa Presiden Donald Trump akan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, Kamis depan di Korea Selatan. Pengumuman ini meredakan kekhawatiran investor mengenai hubungan AS-China yang sebelumnya menekan pasar pada hari Rabu.
Kenaikan S&P 500 menandai pemulihan penuh dari kerugian signifikan pada sesi sebelumnya, ketika indeks turun sekitar 0,5%. Dow mengalami penurunan sekitar 334 poin, atau 0,7%, sementara Nasdaq turun 0,9% saat investor mengalihkan dana dari aset yang lebih berisiko.
Saham-saham sempat ditutup lebih rendah pada Rabu setelah Menteri Keuangan Scott Bessent memastikan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan rencana pembatasan ekspor ke China yang dibuat dengan perangkat lunak AS.
Rencana ini akan menindaklanjuti pernyataan Trump hampir dua minggu lalu bahwa AS akan memberlakukan pembatasan ekspor pada semua perangkat lunak kritis mulai 1 November.
"Jangan abaikan pasar bullish hanya karena adanya fluktuasi," kata Giuseppe Sette, salah satu pendiri dan presiden Reflexivity., kepada CNBC Interntaional.
Investor terus memantau laporan laba dari perusahaan-perusahaan besar AS, yang banyak diyakini bisa menjadi penentu bagi reli pasar bullish saat ini. Saham Honeywell memimpin kenaikan Dow blue-chip, naik hampir 7% pada Kamis setelah mencatat hasil kuartal yang lebih baik dari perkiraan dan meningkatkan proyeksi tahunan. American Airlines naik 6% setelah melaporkan kerugian kuartal ketiga yang lebih rendah dari perkiraan dan panduan yang optimistis.
Pasar mampu mengatasi titik-titik lemah selama hari perdagangan. Tesla yang memulai laporan dari "Magnificent Seven" naik 2% setelah kembali pulih dari kerugian sebelumnya menyusul laporan kuartal ketiga yang campuran.
Saham IBM juga menutup kerugian setelah melampaui perkiraan Wall Street, meski pendapatan perangkat lunaknya sesuai ekspektasi. Sementara itu, harga minyak naik setelah pemerintahan Trump memberlakukan sanksi baru pada dua perusahaan minyak terbesar Rusia karena kurangnya komitmen serius terhadap proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Lebih dari 80% perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan sejauh ini melampaui ekspektasi laba.
"Meskipun beberapa saham individu mengalami penurunan setelah meleset dari ekspektasi, kami memperkirakan laba secara keseluruhan cukup kuat untuk menjaga harga saham tetap tinggi dalam jangka pendek," kata Emily Bowersock Hill, CEO dan founding partner Bowersock Capital Partners.
Selain laporan laba, data inflasi yang akan dirilis pada Jumat diperkirakan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kondisi ekonomi, khususnya menjelang pertemuan The Federal Reserve akhir Oktober. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga lagi sebesar seperempat poin persentase.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan menggerakkan pasar hari ini, baik dari dalam ataupun luar negeri. Laporan kinerja keuangan dan kebijakan dalam negeri menjadi salah satu penggerak sentimen yang diharapkan bisa memberi angin segar.
Pelaku pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat hari ini.
Musim Laporan Keuangan
Musim laporan keuangan sudah tiba dan sejumlah perusahaan sudah menyampaikan kinerja mereka untuk kuartal III-2025.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan laba bersih Rp1,2 triliun, meningkat 117% secara tahunan dan 28,5% secara kuartalan. Penjualan bersih mencapai Rp9,4 triliun, tumbuh 12,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan laba bersih Rp1,65 triliun, naik 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan total mencapai Rp32,4 triliun.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat laba bersih tercatat Rp2,3 triliun, tumbuh 10,6% secara tahunan.
PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) membukukan laba bersih mencapai Rp554,12 miliar, meningkat 309,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan tumbuh 56,84% menjadi Rp1,49 triliun. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatatkan pendapatan Rp5,05 triliun hingga Juni 2025.
Mulai membaiknya kinerja perusahaan di kuartal III-2025 diharapkan bisa menjadi sentiment positif IHSG.
Tim Khusus Disiapkan Selamatkan Proyek Whoosh dari Lilitan Utang
Pemerintah mengambil langkah serius untuk mengatasi pembengkakan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Danantara mengonfirmasi bahwa sebuah tim khusus restrukturisasi utang akan segera dibentuk.
Langkah ini menjadi krusial mengingat beban kewajiban jumbo yang ditanggung oleh PT KCIC, terutama pinjaman dari China Development Bank (CDB). Pembentukan tim ini mengindikasikan bahwa arus kas (cash flow) operasional Whoosh saat ini belum mampu menutupi cicilan pokok dan bunga utang yang fantastis.
Foto: Peningkatan volume penumpang Whoosh di momen libur dalam rangka Maulid Nabi yang berdekatan dengan akhir pekan mulai terlihat sejak Kamis 4 September 2025. (Dok. KCIC) |
Tim khusus ini diperkirakan akan fokus pada beberapa opsi negosiasi ulang. Skenario yang paling mungkin adalah meminta perpanjangan tenor pinjaman, meminta masa tenggang (grace period) tambahan, atau bahkan negosiasi ulang tingkat suku bunga.
Mengingat ini adalah pinjaman antar-pemerintah (G2G), proses restrukturisasi ini tidak hanya melibatkan aspek korporasi (KCIC) tetapi juga diplomasi tingkat tinggi antara Jakarta dan Beijing.
Sanksi Baru AS ke Raksasa Migas Rusia Bikin Harga Minyak Mendidih
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 5% ke level tertinggi dalam dua minggu, menyusul pengumuman sanksi AS terhadap perusahaan-perusahaan minyak utama Rusia.
AS melarang dua raksasa milik negara, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, dalam langkah yang bertujuan menambah tekanan terhadap Kremlin terkait kurangnya komitmen Moskow terhadap perdamaian di Ukraina. Rosneft, yang dipimpin sekutu Putin, Igor Sechin, dan Lukoil bersama-sama menyumbang hampir setengah dari ekspor minyak Rusia, sekitar 2,2 juta barel per hari, dengan pendapatan dari minyak dan gas menyumbang sekitar seperempat anggaran federal.
Setelah sanksi diumumkan, Trump menyatakan bahwa ia akan menekan pembeli besar, dan berencana membahas impor minyak Rusia dengan Presiden China Xi Jinping minggu depan, setelah menegaskan kembali bahwa India akan mengurangi pembeliannya.
Sanksi ini langsung memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya pengetatan pasokan (supply disruption) minyak mentah global. Rusia adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia, sehingga gangguan pada alur ekspornya berdampak signifikan.
Reaksi pasar instan yaitu harga minyak mentah (seperti Brent dan WTI) langsung "mendidih". Bagi Indonesia, ini adalah kabar buruk.
Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia akan melebarkan defisit neraca dagang migas, mengerek biaya subsidi energi (BBM dan LPG) dalam APBN, dan menjadi bahan bakar utama inflasi.
Namun, kenaikan harga minyak ini akan menjadi berkah bagi sejumlah emiten. Di antaranya PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), dan PT Elnusa Tbk (ELSA).
Uni Eropa Luncurkan 'Bom' Sanksi Baru, Targetnya 'Memiskinkan' Putin
Agresi ekonomi terhadap Rusia berlanjut. Uni Eropa (UE) dilaporkan baru saja menjatuhkan "bom" sanksi baru yang menargetkan langsung lingkaran dalam kekuasaan Presiden Vladimir Putin.
Berbeda dari sanksi sektoral, paket terbaru ini bersifat lebih personal dan tajam, dirancang untuk "memiskinkan" para elite dan oligarki yang menopang rezim Kremlin. Tujuannya adalah menciptakan tekanan internal.
Sanksi ini mencakup pembekuan aset besar-besaran-mulai dari rekening bank, properti mewah, hingga superyacht-yang dimiliki oleh kroni-kroni Putin di wilayah yurisdiksi Eropa.
Strategi ini ditempuh UE untuk menutup celah yang selama ini dimanfaatkan para elite Rusia untuk menyembunyikan kekayaan mereka. Dengan membekukan aset-aset tersebut, UE berharap dapat menggerogoti loyalitas para elite dan memperlemah kemampuan finansial Putin untuk mendanai perang.
Pasar Global Menanti Data Inflasi Inti AS, Arah The Fed Ditentukan
Fokus utama pasar keuangan global pada akhir pekan ini akan tertuju pada satu data yaitu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan besok, Jumat.
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) ini akan menjadi penentu arah kebijakan Bank Sentral AS, The Fed. Investor tidak hanya akan melihat inflasi utama, tetapi akan membedah angka inflasi inti (Core CPI), yang tidak termasuk harga pangan dan energi.
Angka inti ini dianggap sebagai cerminan terbaik dari tekanan harga yang 'lengket' (sticky inflation), yang menjadi kekhawatiran utama The Fed.
Data ini krusial karena akan menjawab pertanyaan pasar: kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga? Jika data rilis 'panas' dari ekspektasi, harapan pemangkasan bunga bisa pupus, memicu penguatan Dolar AS dan menekan Rupiah.
Disaksikan Prabowo, 8 MoU RI-Brasil Diteken Senilai US$ 5 Juta Lebih
Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Brasil membuahkan hasil bisnis konkret. Dalam forum bisnis yang digelar, telah ditandatangani 8 Memorandum of Understanding (MoU) antara pelaku usaha Indonesia dan Brasil, dengan nilai komitmen awal dilaporkan mencapai lebih dari US$ 5 juta (sekitar Rp 83 miliar).
Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo, menandakan adanya dukungan politik penuh untuk memperkuat kerja sama ekonomi Selatan-Selatan.
Nilai ini adalah komitmen awal yang diharapkan berkembang. Kesepakatan ini mencakup berbagai sektor strategis, mengingat Brasil adalah raksasa ekonomi di Amerika Latin.
Bagi Indonesia, 8 MoU ini menjadi langkah penting untuk diversifikasi mitra dagang dan investasi, mengurangi ketergantungan pada pasar-pasar tradisional dan membuka gerbang bagi produk RI ke pasar Amerika Latin.
Purbaya OJK Akui Kredit Seret Meski Likuiditas Bank Tembus Rp 200 T
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara mengenai anomali di industri perbankan: kredit tumbuh seret di tengah likuiditas yang melimpah ruah.
Purbaya menyoroti bahwa guyuran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari Bank Indonesia yang mencapai Rp 200 triliun, ternyata belum cukup 'nendang' untuk mendorong pertumbuhan kredit. Ini mengindikasikan adanya masalah dalam transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.
Menurut Purbaya, masalahnya ada di sisi suplai dan permintaan.
Dari sisi suplai, perbankan cenderung sangat berhati-hati (prudent) dengan risk appetite rendah akibat ketidakpastian global, sehingga lebih memilih memarkir dana di SBN. Dari sisi permintaan, banyak korporasi yang juga masih wait and see untuk berekspansi.
Di Luar Migas, Pertamina Garap Ketahanan Pangan & Energi di Banten
PT Pertamina (Persero) terus memperluas perannya di luar bisnis inti minyak dan gas. Melalui program pemberdayaan masyarakat di Lebak Gede, Banten, BUMN energi ini secara aktif mendorong program ketahanan pangan sekaligus ketahanan energi di level komunal.
Ini adalah bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang kini diarahkan untuk mendukung target SDGs. Program di Banten ini menjadi model bagaimana BUMN hadir mengatasi masalah fundamental masyarakat.
Program ketahanan energi diwujudkan melalui pengembangan energi terbarukan skala kecil, seperti biogas dari limbah ternak atau panel surya. Energi bersih ini kemudian disinergikan untuk mendukung ketahanan pangan, misalnya untuk mengaliri listrik ke pompa irigasi atau mesin pengolah hasil panen.
Pemerintah Siapkan Karpet Merah 'Legalisasi' Penambang Ilegal
Pemerintah menyiapkan jurus baru untuk menuntaskan masalah klasik penambangan ilegal (PETI) yang telah merugikan negara triliunan rupiah.
Alih-alih hanya mengandalkan pendekatan represif, pemerintah kini merancang sarana hukum untuk melegalkan atau memformalkan para penambang liar tersebut. Alasan utamanya adalah masifnya kerugian negara.
Aktivitas PETI tidak hanya gagal menyumbang penerimaan negara (pajak dan royalti), tetapi juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan sering menjadi sumber konflik sosial.
Dengan payung hukum baru ini, pemerintah berupaya menarik mereka ke dalam sistem. Skema yang disiapkan kemungkinan besar adalah melalui penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang dipermudah perizinannya, atau skema kemitraan wajib dengan pemegang IUP resmi.
Ini adalah langkah pragmatis untuk mengubah masalah menjadi sumber pendapatan negara.
Foto: Dirtipidter Bareskrim Polri, Brigjen Moh. Irhamni saat menyampaikan paparan dalam CNBC Indonesia Coffee Morning di Queens Head Kemang, Jakarta, Kamis (23/10/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Bos Bulog Beberkan Target Serapan Beras 2026, Ini Angkanya
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian iklim dan gejolak harga pangan global, Direktur Utama Perum Bulog membeberkan strategi dan target jangka menengah untuk ketahanan beras nasional.
Bos Bulog tersebut memaparkan target serapan gabah/beras petani serta level stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang harus dicapai pada tahun 2026. Penetapan target ini krusial untuk memberikan kepastian dan mengelola ekspektasi pasar, serta menghindari kebijakan impor reaktif saat harga global melambung.
Tantangan Bulog sangat berat. Di satu sisi, Bulog ditugaskan menyerap hasil panen petani dengan harga yang menguntungkan. Di sisi lain, Bulog harus menjaga stok CBP di level aman (di atas 1 juta ton) dan siap menggelontorkan beras SPHP untuk meredam inflasi.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda dan rilis data pada hari ini :
Menteri Koordinator Bidang Pangan memimpin Rapat Koordinasi Terbatas terkait pengelolaan sampah menjadi energi listrik di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri ESDM dan CEO Danantara Indonesia
Konferensi pers Sekretaris Kementerian Koperasi terkait program Koperasi Merah Putih di Aroem Resto & Cafe, Jakarta Pusat
Media Briefing National University Singapore di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Pusat
Inflasi Jepang
- Retail Sales Inggris
- Inflasi Amerika
- Penjualan rumah baru di Amerika
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini :
- RUPS Duta Pertiwi Nusantara Tbk
- RUPS Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Astra Agro Lestari Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Cisadane Sawit Raya Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim United Tractors Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Pinago Utama Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Astra Graphia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Astra Otoparts Tbk
- Tanggal DPS dividen tunai interim Plaza Indonesia Tbk
- Tanggal ex dividen tunai interim Central Omega Resources Tbk
- Tanggal cum dividen tunai interim Graha Mitra Asia Tbk
- Tanggal ex saham bonus Multi Medika Internasional Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
Foto: Peningkatan volume penumpang Whoosh di momen libur dalam rangka Maulid Nabi yang berdekatan dengan akhir pekan mulai terlihat sejak Kamis 4 September 2025. (Dok. KCIC)
Foto: Dirtipidter Bareskrim Polri, Brigjen Moh. Irhamni saat menyampaikan paparan dalam CNBC Indonesia Coffee Morning di Queens Head Kemang, Jakarta, Kamis (23/10/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)