Bisnis.com, JAKARTA - Transformasi digital kini menjadi kebutuhan mendasar dalam industri perbankan. Persaingan tidak lagi hanya terjadi di segmen ritel, tetapi juga semakin ketat di segmen korporasi. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit korporasi tumbuh 14,88% year-on-year (YoY) per April 2026, menunjukkan besarnya potensi pasar tersebut.
Enterprise Banking & Financial Institution Director PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Thomas Sudarma, mengatakan, perkembangan digitalisasi perbankan didorong perubahan kebutuhan nasabah yang menginginkan layanan cepat, efisien, real-time, aman, dan nyaman.
“Hal ini sejalan dengan blueprint transformasi digital perbankan OJK yang menempatkan pemanfaatan teknologi, termasuk Application Programming Interface [API], sebagai salah satu pilar utama,” ujarnya.
Menurut Thomas, kebutuhan digital nasabah korporasi memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan nasabah perorangan. Korporasi membutuhkan pengelolaan transaksi dalam volume besar, manajemen likuiditas, integrasi dengan Enterprise Resource Planning (ERP), serta mekanisme otorisasi berlapis.
Karena itu, korporasi membutuhkan solusi yang tidak hanya cepat, tetapi juga terintegrasi dan andal. Sebagai bagian dari MUFG Bank, Ltd., salah satu grup jasa keuangan terbesar di dunia, Danamon didukung jaringan global MUFG untuk menghadirkan solusi finansial dan digital yang relevan bagi nasabah korporasi di Indonesia.
“Klien korporasi membutuhkan solusi yang mampu mengotomatisasi proses manual, mengurangi kesalahan, dan menyederhanakan alur kerja,” kata Thomas.
Riset McKinsey & Company menunjukkan bahwa lebih dari 90% lembaga keuangan global telah atau berencana memanfaatkan API untuk meningkatkan pendapatan dari nasabah eksisting sekaligus memperkuat integrasi ERP korporasi. Transformasi digital juga memungkinkan bank menekan biaya operasional hingga 20%–40%.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Danamon menghadirkan berbagai solusi korporasi mulai dari pembiayaan usaha, manajemen tunai, trade finance, invoice financing/factoring, pembiayaan distributor, treasury, hingga layanan bank kustodian. Danamon juga menghadirkan API Central yang mengintegrasikan aplikasi pihak ketiga, billing, EDC merchant, merchant QR, dan internet banking dalam satu ekosistem.
Sebagai bagian dari penguatan layanan korporasi, Danamon menghadirkan Danamon Cash Connect sebagai platform cash management terintegrasi yang dilengkapi Danamon Trade Connect untuk kebutuhan trade finance. Platform ini dapat diakses 24 jam dan terhubung dengan BI-FAST, RTGS, SKN, transfer internasional, serta pembayaran pajak secara real-time.
Sepanjang 2025, Danamon Cash Connect mencatat pertumbuhan jumlah transaksi sebesar 11% YoY dengan nilai transaksi meningkat 16% YoY.
FONDASI DIGITAL YANG KUAT
Di tengah meningkatnya transaksi digital, keamanan siber menjadi fondasi penting. Thomas menilai hal ini krusial karena transaksi korporasi melibatkan volume besar, banyak pihak, serta berisiko terhadap ancaman seperti cyber fraud, phishing, dan penyalahgunaan otorisasi. Regulasi OJK melalui POJK No. 21/2023 juga mewajibkan penerapan minimal two-factor authentication (2FA) dalam verifikasi transaksi keuangan.
Danamon menerapkan lapisan perlindungan yang konsisten di seluruh ekosistem digital korporasinya, termasuk Danamon Cash Connect, API Central, mobile banking, EDC merchant, dan kanal digital lainnya. Setiap kanal dilengkapi enkripsi data dan 2FA melalui kombinasi password serta security token.
Selain itu, sistem otorisasi multi-level memungkinkan korporasi mengatur matriks persetujuan transaksi sesuai struktur internal perusahaan sehingga setiap transaksi melewati mekanisme kontrol yang tepat sebelum dieksekusi.
Dengan pendekatan terintegrasi yang memadukan perlindungan menyeluruh dan solusi digital yang komprehensif, Danamon terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi nasabah korporasi di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis.