#30 tag 24jam
Esensi sensus ekonomi membaca denyut perekonomian
Setiap kebijakan ekonomi yang baik selalu lahir dari satu pondasi yang sama, yakni data yang akurat.Pemerintah dapat menyusun arah pembangunan, dunia usaha ... [1,243] url asal
Masih terdapat anggapan bahwa pendataan ekonomi berkaitan langsung dengan perpajakan atau penyaluran bantuan pemerintah.
Jakarta (ANTARA) - Setiap kebijakan ekonomi yang baik selalu lahir dari satu pondasi yang sama, yakni data yang akurat.
Pemerintah dapat menyusun arah pembangunan, dunia usaha mampu membaca peluang pasar, dan masyarakat memperoleh manfaat pembangunan yang lebih merata apabila seluruh keputusan tersebut berpijak pada informasi yang lengkap dan dapat dipercaya.
Sebaliknya, ketika data tidak mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan, kebijakan berisiko kehilangan presisi dan efektivitas.
Dalam konteks itulah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi sangat strategis. Sensus ini bukan sekadar kegiatan statistik yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali, melainkan sebuah upaya nasional untuk memotret denyut perekonomian Indonesia secara menyeluruh.
Melalui pendataan terhadap seluruh kegiatan usaha di luar sektor pertanian, pemerintah memperoleh gambaran mengenai struktur ekonomi, karakteristik dunia usaha, perkembangan ekonomi digital, hingga arah transformasi ekonomi yang sedang berlangsung. Data tersebut diharapkan menjadi dasar perencanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan yang semakin tepat sasaran.
Momentum pelaksanaan SE2026 juga bertepatan dengan fase penting perjalanan pembangunan Indonesia. Pemerintah tengah mengakselerasi hilirisasi industri, memperluas digitalisasi ekonomi, memperkuat investasi, mendorong transisi menuju ekonomi hijau, sekaligus mempersiapkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Seluruh agenda besar tersebut membutuhkan basis data yang mutakhir agar kebijakan tidak hanya didasarkan pada asumsi, melainkan pada realitas ekonomi yang benar-benar terjadi.
Selama satu dekade terakhir, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Meskipun menghadapi pandemi COVID-19, ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok global, dan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia mampu kembali mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen.
Namun angka pertumbuhan tersebut sesungguhnya hanya menggambarkan kondisi makro. Di baliknya terdapat dinamika yang jauh lebih kompleks: lahirnya jutaan usaha digital, berkembangnya ekonomi kreatif, perubahan pola konsumsi masyarakat, hingga munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Dinamika inilah yang perlu dipotret secara lebih komprehensif melalui sensus ekonomi.
Kualitasdata
Dalam teori ekonomi publik dikenal adagium sederhana bahwa good data produce good policy. Artinya, kualitas kebijakan sangat bergantung pada kualitas data yang dimiliki pemerintah. Semakin akurat data yang tersedia, semakin tepat pula intervensi kebijakan yang dapat diberikan.
Pengalaman pelaksanaan Sensus Ekonomi 2016 membuktikan pentingnya prinsip tersebut. Hasil sensus tidak berhenti sebagai kumpulan angka statistik, tetapi dimanfaatkan sebagai kerangka sampel berbagai survei ekonomi nasional, penyusunan statistik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), statistik perdagangan, industri, jasa, hingga menjadi referensi penyusunan indikator pembangunan ekonomi nasional maupun daerah.
Data tersebut juga digunakan oleh kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, investor, serta pelaku usaha dalam menyusun berbagai kebijakan dan strategi pembangunan.
Sensus Ekonomi 2016 juga memperlihatkan bahwa struktur dunia usaha Indonesia didominasi oleh usaha mikro dan kecil yang tersebar hampir di seluruh wilayah. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan berbagai program pemerintah, mulai dari perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR), digitalisasi UMKM, pengembangan kewirausahaan nasional, hingga penyusunan kebijakan pembinaan usaha yang lebih terarah.
Dari perspektif fiskal, data sensus juga memiliki nilai strategis. Basis data usaha yang semakin lengkap memungkinkan pemerintah memperluas basis ekonomi nasional secara sehat. Kebijakan perpajakan tidak lagi semata-mata berorientasi pada peningkatan penerimaan, tetapi juga pada penciptaan sistem perpajakan yang lebih adil, efisien, dan mampu mengikuti perubahan struktur ekonomi.
Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika aktivitas ekonomi digital berkembang sangat cepat dan menciptakan model-model bisnis baru yang sebelumnya belum banyak teridentifikasi.
Lebih dari itu, data sensus juga membantu pemerintah mengukur efektivitas berbagai program pembangunan. Apakah bantuan kepada UMKM benar-benar meningkatkan kapasitas usaha? Apakah kawasan industri mampu menciptakan pusat pertumbuhan baru? Apakah pembangunan infrastruktur berhasil mendorong aktivitas ekonomi masyarakat? Jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut memerlukan data yang komprehensif, bukan sekadar indikator makro.
Transformasi usaha
Apabila menengok perjalanan sejak Sensus Ekonomi 2006 hingga Sensus Ekonomi 2016, terlihat bahwa struktur ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada periode tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar lima persen bahkan ketika dunia menghadapi krisis keuangan global 2008–2009. Namun di balik stabilitas tersebut terjadi transformasi besar dalam struktur dunia usaha.
Kontribusi sektor jasa terus meningkat, perdagangan modern berkembang pesat, teknologi informasi mulai mengubah pola bisnis, sementara ekonomi digital tumbuh menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru. Dalam satu dekade terakhir, perubahan tersebut berlangsung jauh lebih cepat. Platform digital mempertemukan jutaan pelaku usaha dengan konsumen, transaksi elektronik meningkat tajam, dan ekonomi kreatif berkembang sebagai sumber nilai tambah baru.
Transformasi ini juga diperkuat oleh kebijakan hilirisasi industri yang menjadi salah satu agenda strategis pemerintah. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas nasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya kawasan industri baru, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat daya saing ekspor Indonesia.
Namun transformasi ekonomi tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Sebagian pelaku usaha mampu beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi, sementara sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan modal, akses pembiayaan, literasi digital, maupun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah memerlukan gambaran yang jauh lebih rinci mengenai kondisi dunia usaha agar intervensi kebijakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sektor.
SE2026 dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Selain memotret jumlah dan persebaran usaha, sensus juga akan menghasilkan informasi mengenai struktur ekonomi, karakteristik usaha, tingkat pemanfaatan teknologi digital, ekonomi hijau, ekonomi biru, investasi, hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
Data tersebut akan membantu pemerintah memahami sektor mana yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi, wilayah mana yang memerlukan dukungan lebih besar, serta bagaimana arah transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan demikian, sensus ekonomi bukan sekadar menghitung jumlah perusahaan, melainkan membaca perubahan wajah perekonomian Indonesia secara utuh.
Kepercayaan publik
Keberhasilan sensus ekonomi pada akhirnya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan dunia usaha. Semakin tinggi tingkat partisipasi responden, semakin lengkap pula gambaran ekonomi nasional yang dapat disusun.
Masih terdapat anggapan bahwa pendataan ekonomi berkaitan langsung dengan perpajakan atau penyaluran bantuan pemerintah. Padahal, BPS menegaskan bahwa data yang dikumpulkan digunakan semata-mata untuk kepentingan statistik dan dijamin kerahasiaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Informasi individu maupun perusahaan tidak dipublikasikan, melainkan diolah menjadi gambaran umum mengenai kondisi perekonomian nasional.
Pemerintah menaruh harapan besar terhadap hasil SE2026. Kepala Badan Pusat Statistik mengibaratkan sensus ekonomi sebagai general check-up bagi perekonomian Indonesia. Melalui sensus ini pemerintah ingin mengetahui kondisi terkini dunia usaha, mendeteksi gejala-gejala dini yang memerlukan perhatian, sekaligus membangun basis data usaha yang paling lengkap untuk mendukung perumusan kebijakan nasional maupun daerah.
Harapan tersebut sangat beralasan. Indonesia tengah memasuki era transformasi ekonomi yang ditandai oleh berkembangnya ekonomi digital, meningkatnya investasi, percepatan hilirisasi, serta komitmen menuju ekonomi rendah karbon. Seluruh agenda tersebut membutuhkan data yang akurat agar kebijakan yang diambil benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Hasil SE2026 juga diharapkan mampu memetakan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional, mengidentifikasi karakteristik ekonomi digital, memotret perkembangan ekonomi lingkungan, hingga menyediakan kerangka data baru bagi berbagai survei ekonomi pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, maupun investor memiliki pijakan yang sama dalam membaca arah perkembangan ekonomi Indonesia.
Pada akhirnya, esensi sensus ekonomi bukanlah sekadar mencatat jumlah usaha atau menyusun tabel statistik. Esensinya adalah memastikan bahwa setiap aktivitas ekonomi masyarakat mulai dari warung kecil di desa, usaha keluarga, UMKM, perusahaan rintisan berbasis digital, hingga industri besar terlihat dalam peta pembangunan nasional. Apa yang tidak tercatat akan sulit diperhitungkan; apa yang tidak diperhitungkan berisiko terabaikan dalam kebijakan publik.
Oleh karena itu, keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 sesungguhnya merupakan tanggung jawab bersama. Dari data yang berkualitas lahir kebijakan yang presisi; dari kebijakan yang presisi tumbuh dunia usaha yang semakin produktif; dan dari produktivitas yang meningkat akan lahir pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, tangguh, dan berkeadilan.
Itulah hakikat sesungguhnya dari membaca denyut ekonomi nasional: memastikan bahwa setiap langkah pembangunan benar-benar berpijak pada realitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
*) Dr M Lucky Akbar, ASN Kemenkeu dan Dosen Praktisi Kebijakan Publik
Copyright © ANTARA 2026
Video: Defisit Neraca Dagang India Capai Rekor Tertinggi USD 41,7 M
Defisit perdagangan barang India mencapai rekor tertinggi USD 41,7 miliar, pada Oktober [43] url asal
#ekonomi-india #neraca-dagang-india #data-ekonomi
(CNBC Indonesia - News) 18/11/25 13:56
v/41933/
Jakarta, CNBC Indonesia- Defisit perdagangan barang India mencapai rekor tertinggi USD 41,7 miliar, pada Oktober. Lonjakan impor emas saat musim festival dan anjloknya ekspor ke AS menjadi pemicu utama.
Selengkapnya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia (Selasa, 15/11/2025) berikut ini.
IHSG Sesi 2 Ditutup Naik 0,55% ke 8.416, Saham Ini Jadi Penopang
IHSG menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada 17 November 2025. Sektor energi dan properti memimpin penguatan, sementara kesehatan melemah. [437] url asal
#pasar-saham #ihsg #bumi-resources #bank-central-asia #sektor-energi #transaksi-saham #rapat-dewan-gubernur #data-ekonomi #nasdaq-composite #geopolitik-asia-pasifik
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 16:26
v/40702/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan hari ini, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi.
Pada perdagangan hari ini, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG hari ini termasuk DSSA, BBCA dan RISE. Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG hari ini adalah AMMN, GOTO dan BRMS.
Adapun fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif.
Sementara itu, pasar Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Senin karena investor menantikan serangkaian data ekonomi regional, termasuk PDB kuartal ketiga Thailand dan neraca perdagangan Singapura.
Jumat lalu di AS, Nasdaq Composite rebound karena investor memborong saham-saham teknologi utama, sehari setelah grup tersebut memimpin Wall Street ke hari terburuknya dalam lebih dari sebulan.
Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, menguat 0,13% dan ditutup pada level 22.900,59, mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut. S&P 500 ditutup mendekati garis datar, turun hanya 0,05% di level 6.734,11, sementara Dow Jones Industrial Average turun 309,74 poin, atau 0,65%, dan ditutup pada level 47.147,48.
Ketiga indeks tersebut bangkit kembali secara signifikan dari level terendah mereka di awal hari, yang membuat Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun 1,9% dan sekitar 1,4%. Dow Jones telah turun hampir 600 poin, atau sekitar 1,3%.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Kolaps, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41308/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Ambyar, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41288/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
IHSG Dibuka Naik 0,33%, Sedikit Lagi Balik ke Level 8.400
IHSG dibuka menguat 0,33% di level 8.397,83. Fokus pasar pekan ini pada RDG Bank Indonesia dan data ekonomi regional. Simak perkembangan selanjutnya! [471] url asal
#pasar-saham #ihsg #indeks-harga-saham #transaksi-saham #bumi-resources #bank-indonesia #ekonomi-jepang #pasar-asia-pasifik #data-ekonomi #investasi-saham
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 08:42
v/40161/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona hijau pagi ini, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,33% atau menguat 27,39 poin ke level 8.397,83.
Sebanyak 211 saham naik, 78 turun, dan 355 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 249 miliar, melibatkan 360 juta saham dalam 46.000 kali transaksi.
Pada awal perdagangan hari ini, saham Bumi Resources (BUMI), Sinergi Inti Andalan Prima (INET) dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham CRSN, PBSA dan PURI mencatatkan kenaikan terbesar.
Adapun fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif.
Sementara itu, pasar Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Senin karena investor menantikan serangkaian data ekonomi regional.
Indeks acuan Jepang turun 0,63% setelah ekonomi Negeri Sakura mengalami kontraksi sebesar 0,4% atau lebih kecil dari perkiraan, pada kuartal yang berakhir September, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Indeks Topix turun 0,44%.
Indeks acuan Kospi Korea Selatan melonjak 1,78% sementara Kosdaq berkapitalisasi kecil naik 0,68%. Lalu Harga berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.500, sedikit lebih rendah dari penutupan terakhir di 26.572,46. Kemudian Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 tercatat turun 0,26%.
Pelaku pasar di regional Asia Pasifik hari ini juga akan mencermati PDB kuartal ketiga Thailand dan neraca perdagangan Singapura.
Jumat lalu di AS, Nasdaq Composite rebound karena investor memborong saham-saham teknologi utama, sehari setelah grup tersebut memimpin Wall Street ke hari terburuknya dalam lebih dari sebulan.
Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, menguat 0,13% dan ditutup pada level 22.900,59, mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut. S&P 500 ditutup mendekati garis datar, turun hanya 0,05% di level 6.734,11, sementara Dow Jones Industrial Average turun 309,74 poin, atau 0,65%, dan ditutup pada level 47.147,48.
Ketiga indeks tersebut bangkit kembali secara signifikan dari level terendah mereka di awal hari, yang membuat Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun 1,9% dan sekitar 1,4%. Dow Jones telah turun hampir 600 poin, atau sekitar 1,3%.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Pasar Putar Arah, 60% Yakin The Fed Tak Pangkas Bunga Desember 2025
Peluang pemangkasan suku bunga Desember mengecil, dipengaruhi komentar pejabat bank sentral dan data ekonomi. [558] url asal
#the-fed #suku-bunga #pemangkasan-suku-bunga #ekonomi-as #inflasi #pasar-keuangan #kebijakan-moneter #trader #data-ekonomi
(CNBC Indonesia - Market) 16/11/25 18:50
v/39990/
Jakarta, CNBC Indonesia — Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat berbalik tajam pada akhir pekan lalu. Pelaku pasar kini menilai peluang The Fed untuk kembali memangkas suku bunga pada Desember semakin kecil, seiring menguatnya sikap sejumlah pejabat bank sentral dan belum pulihnya publikasi data ekonomi akibat penutupan pemerintahan AS.
Pada Jumat malam waktu AS, kontrak berjangka suku bunga jangka pendek menunjukkan bahwa trader memperkirakan sekitar 60% peluang The Fed tidak akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada pertemuan 9-10 Desember mendatang.
Sehari sebelumnya, probabilitas itu masih seimbang, dan bahkan selama beberapa pekan sebelumnya pasar cenderung yakin pemangkasan akan tetap dilakukan setelah keputusan penurunan suku bunga dua bulan berturut-turut pada September dan Oktober.
Pergeseran cepat ini dipengaruhi oleh komentar tiga pejabat The Fed yang kembali menegaskan kekhawatiran atas inflasi. Presiden Fed Kansas Jeffrey Schmid, Presiden Fed Dallas Lorie Logan, serta Presiden Fed Cleveland Beth Hammack kompak menyatakan bahwa kondisi saat ini belum cukup kuat untuk mendukung penurunan bunga lanjutan.
"Tidak jelas apakah kebijakan moneter harus melakukan lebih banyak hal saat ini," ujar Hammack dalam acara Pittsburgh Economic Club, mengutip Reuters dari Refitiv, Minggu (16/11/2025).
Logan memberikan pandangan serupa dalam konferensi energi yang digelar bank sentral wilayah Dallas dan Kansas City.
"Menjelang pertemuan bulan Desember, saya rasa akan sulit untuk mendukung penurunan suku bunga lagi kecuali kita mendapatkan bukti yang meyakinkan bahwa inflasi memang turun lebih cepat dari ekspektasi saya atau bahwa kita melihat lebih dari sekadar pendinginan bertahap yang selama ini kita lihat di pasar tenaga kerja," katanya.
Schmid, yang sebelumnya menolak pemangkasan pada Oktober, menegaskan bahwa pandangannya belum berubah.
"Saya rasa pemotongan suku bunga lebih lanjut tidak akan banyak membantu menambal keretakan di pasar tenaga kerja, tekanan yang kemungkinan besar muncul akibat perubahan struktural dalam teknologi dan kebijakan imigrasi," ujar Schmid.
"Pemotongan suku bunga dapat berdampak lebih lama pada inflasi karena komitmen kita terhadap target 2 persen semakin dipertanyakan," lanjutnya
Di sisi lain, suara dovish tetap muncul dari Gubernur Fed Stephen Miran. Dalam dua penampilan televisi, Miran menyampaikan bahwa data ekonomi justru mendukung perlunya pemangkasan suku bunga tambahan.
Miran, yang sempat menginginkan pemangkasan lebih besar dibanding seperempat poin pada Oktober, kembali menegaskan pandangan tersebut. Ia juga dikenal selaras dengan pandangan Presiden Donald Trump yang menilai suku bunga The Fed masih terlalu tinggi.
Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menyatakan bahwa langkah pemangkasan yang sudah dilakukan merupakan upaya "asuransi" untuk mengantisipasi potensi pelemahan pasar tenaga kerja.
Namun dengan publikasi data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan, Powell menilai The Fed perlu berhati-hati hingga. Ia juga menegaskan bahwa keputusan pemangkasan pada Desember tidak dapat dianggap sebagai suatu kepastian.
Pasar pun tampaknya mulai sejalan dengan pesan tersebut. Walau arah sentimen bisa kembali berubah ketika publikasi data ekonomi dimulai pekan depan dan lebih banyak pejabat The Fed menyampaikan pandangannya, untuk saat ini para trader memilih mengambil posisi yang lebih konservatif: The Fed kemungkinan besar menahan suku bunga pada pertemuan Desember.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Sesi 1 Naik 0,25%, Dua Saham Jadi Incaran
IHSG naik 0,25% ke level 8.415,60 pada sesi 1, didorong sektor utilitas dan saham GOTO. Pasar bersiap hadapi data ekonomi penting pekan ini. [531] url asal
#bursa-efek-indonesia #ihsg #pasar-modal #saham #sektor-utilitas #investasi #goto #bren #data-ekonomi
(CNBC Indonesia - Market) 10/11/25 12:20
v/33640/
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau sepanjang sesi 1 hari ini, Senin (10/11/2025). Pada akhir sesi pertama, indeks ditutup naik 0,25% atau 21,01 poin ke level 8.415,60.
Hingga jeda makan siang, indeks bergerak di rentang 8.401,59–8.478,15. Pada perdagangan intraday, indeks sempat lompat naik 1%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sebanyak 391 saham naik, 279 turun, dan 286 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga siang ini mencapai Rp 11,65 triliun, melibatkan 22,87 miliar saham dalam 1,55 juta kali transaksi.
Mengutip Refinitiv, utilitas menjadi sektor yang naik paling kencang, yakni 3,76%. Kemudian diikuti oleh teknologi (0,93%) dan properti (0,66%).
Sektor utilitas menguat seiring dengan pergerakan positif saham Barito Renewables Energy (BREN). Emiten milik Prajogo Pangestu ini naik 3,76% ke level 10.350 dan menyumbang 16,21 indeks poin.
BREN dalam tren positif seiring dengan saham tersebut yang menjadi calon penghuni baru indeks MSCI November 2025.
Selain BREN, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) juga menjadi penopang utama IHSG. Setelah mendapat stimulus positif dari laporan keuangan September 2025, harga saham GOTO kini tersengat dengan isu penggabungan dengan Grab yang kembali muncul.
Kali ini kabar tersebut berhembus dari Istana. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa penggabungan GOTO dan Grab menjadi satu isu yang dibahas dalam pembicaraan mengenai penyempurnaan Peraturan Presiden (Perpres) tentang ojek online (ojol).
Saham GOTO naik 8,2% ke level 66 siang ini dan berkontribusi 10,78 indeks poin.
Sementara itu, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) kembali meninggalkan level 100.000. Emiten milik Sinar Mas ini turun 9,47% ke level 90.525 dan memberatkan IHSG sebanyak 37,51 indeks poin.
Adapun IHSG naik 2,83% sepanjang pekan lalu ke level 8.394,59 atau kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Capaian ini membuat kinerja pasar modal Tanah Air menjadi yang terkuat di kawasan.
Pekan ini pasar global dan domestik bersiap menghadapi periode yang padat data ekonomi. Setelah minggu lalu relatif tenang, bursa, obligasi, dan nilai tukar berpotensi bergerak dinamis akibat rilis penting dari Amerika Serikat, China, dan Jepang.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga akan merilis dua data yang mencerminkan kekuatan konsumsi masyarakat. Sorotan utama tetap tertuju pada inflasi Amerika Serikat yang akan keluar Kamis malam, penentu arah kebijakan The Fed berikutnya. Sementara pada Jumat, data dari China akan menjadi barometer utama apakah pemulihan ekonomi negara itu benar-benar berlanjut atau mulai kehilangan tenaga.
Mayoritas data yang dirilis pekan ini adalah terkait penjualan ritel dan inflasi yang terkait dengan kemampuan daya beli. Setelah China mengumumkan data inflasi di luar dugaan pekan lalu maka pekan ini terdapat rilis sejumlah penjualan dari Indonesia ataupun IHK dari Amerika Serikat.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Pesta IHSG & Rupiah Terancam Bubar Karena Serbuan Data AS & China
Pelaku pasar akan menantikan rilis data cadangan devisa dan uang primer periode Oktober 2025 yang diumumkan Bank Indonesia hari ini. [3,012] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #sbn #investasi #data-ekonomi #obligasi #yield #dolar-as #bank-indonesia
(CNBC Indonesia - Research) 06/11/25 15:34
v/30503/
- Pasar keuangan Tanah Air bergerak beragam. IHSG mencetak rekor tertinggi, rupiah menguat, namun SBN kembali dijual investor
- Wall Street ambruk berjamaah karena kekhawatiran terhadap valuasi AI yang sangat tinggi
- Pelaku pasar akan menantikan rilis data cadangan devisa dan uang primer periode Oktober 2025 yang diumumkan Bank Indonesia hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bergerak tak senada pada perdagangan kemarin, Kamis (5/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, rupiah mampu menguat terhadap dolar AS, namun yield Surat Berharga Negara (SBN) kembali naik seiring tekanan jual oleh pelaku pasar.
Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu kembali bergerak positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/11/2025). Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman3 pada artikel ini.
IHSG kembali mencetak level penutupan tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) pada perdagangan Kamis (6/11/2025). IHSG ditutup menguat 18,53 poin atau 0,22% ke level 8.337,06, menandai rekor baru.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 8.289,89 hingga 8.362,91 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,48 triliun. Total saham yang diperdagangkan mencapai 25,97 miliar lembar dari 2,39 juta transaksi, di mana 394 saham menguat, 259 melemah, dan 158 stagnan.
Sementara itu, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual dengan total net sell sebesar Rp113,4 miliar.
Secara sektoral, energi menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan 3,05 persen, disusul oleh utilitas yang naik 1,68 persen, industri sebesar 1,13 persen, serta barang konsumsi siklikal yang menguat 1,08 persen.
Sementara itu, pelemahan terjadi pada sektor konsumsi non-siklikal yang turun 0,67 persen, kesehatan turun 0,53 persen, serta keuangan yang terkoreksi 0,39 persen.
Dari sisi emiten, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi penyumbang terbesar terhadap penguatan IHSG dengan bobot penguatan 30,07 indeks poin, diikuti oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 6,67 poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 3,34 poin.
Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penahan laju kenaikan dengan beban 10,76 indeks poin, disusul oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 6,87 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 6,76 poin.
Beralih ke nilai tukar, rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/11/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.690/US$ atau menguat 0,06%, sekaligus mematahkan tren pelemahan tiga hari beruntun.
Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sempat dibuka naik tipis 0,03% di posisi Rp16.680/US$, lalu melemah hingga sempat menembus level Rp16.700/US$ sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan.
Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia mengalami koreksi setelah reli panjang sejak akhir Oktober lalu.
Pelemahan dolar menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset berdominasi dolar, memberikan ruang penguatan bagi mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Sebelumnya, dolar AS sempat menyentuh level tertingginya dalam lima bulan terakhir, terdorong oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang kuat. Laporan ADP private payrolls menunjukkan sektor swasta AS menambah 42.000 lapangan kerja pada Oktober, sementara indeks aktivitas jasa ISM juga melampaui ekspektasi pasar.
Namun, data tersebut justru menimbulkan keraguan terhadap peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve pada Desember mendatang, setelah sebelumnya Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan nada hati-hati dalam memberi sinyal pelonggaran kebijakan lebih lanjut.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau naik 0,21% ke level 6,171%. Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield naik berarti harga obligasi turun, hal ini menandakan bahwa investor tampak melakukan aksi jual.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa ambruk karena perusahaan-perusahaan yang diuntungkan dari perdagangan kecerdasan buatan (AI) kembali mendapat tekanan di tengah kekhawatiran terhadap valuasi mereka yang sangat tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 398,70 poin atau 0,84%, menutup perdagangan di 46.912,30.
Indeks S&P 500 jatuh 1,12% menjadi 6.720,32, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,9% menjadi 23.053,99.
Indeks Nasdaq 100 turun lebih dari 2% sejak penutupan Jumat lalu dan menuju minggu terburuknya sejak awal April. Dampak penurunan terbesar datang dari Nvidia, Microsoft, Palantir Technologies, Broadcom, dan Advanced Micro Devices (AMD).
Saham AI bergerak tidak merata sejak awal November, dan tren ini berlanjut pada sesi Kamis.
Qualcomm turun hampir 4% setelah pembuat chip ini melaporkan hasil kuartalan lebih baik dari perkiraan, namun memperingatkan potensi kehilangan bisnis dengan Apple di masa depan.
AMD, yang menonjol pada Rabu, turun 7%, sementara Palantir dan Oracle masing-masing turun hampir 7% dan 3%. Saham favorit AI Nvidia dan anggota "Magnificent Seven" lainnya, Meta Platforms, juga ikut merosot.
Mike Mussio, presiden di FBB Capital Partners, menunjukkan dari sisi valuasi, banyak hal ini sudah sangat tinggi dan dihargai untuk kesempurnaan.
Ada dikotomi di pasar antara perusahaan yang melampaui ekspektasi dan menaikkan panduan dibandingkan mereka yang mungkin melampaui pendapatan tetapi memberikan panduan yang lemah pada laba bersih atau laba operasional.
"Itulah perbedaan antara beberapa perusahaan yang labanya naik dua digit versus turun dua digit, dan hampir tidak ada tengah-tengahnya." kata Mike Mussio, kepada CNBC International.
Koreksi pada Kamis juga diperparah oleh kekhawatiran mengenai kondisi pasar tenaga kerja, karena Oktober mencatat pengumuman pemutusan kerja yang signifikan.
Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah pemutusan kerja pada bulan itu mencapai lebih dari 153.000, hampir tiga kali lipat tingkat September dan 175% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Ini adalah level tertinggi yang tercatat untuk Oktober dalam 22 tahun, di tahun yang diprediksi menjadi terburuk untuk pemutusan kerja sejak 2009.
Data ini menggambarkan gambaran ekonomi AS yang goyah, terutama mengingat minimnya laporan ekonomi akibat penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung. Shutdown telah berlangsung lebih dari sebulan dan menjadi yang terpanjang dalam sejarah.
"Kita mulai mendapatkan potongan-potongan data ekonomi... yang tidak terkait pemerintah, dan itu tidak terlalu menggembirakan," kata Mussio.
Dia percaya bahwa jika pemerintah dibuka kembali dan data setelahnya menunjukkan konsumen "tidak benar-benar mati" saat musim liburan berlangsung, kemungkinan terjadi reli khas akhir tahun masih terbuka.
Investor juga menantikan kabar dari Washington pada Kamis, setelah Mahkamah Agung mendengar argumen pro dan kontra terhadap kebijakan tarif pemerintahan Trump. Dalam sesi tanya jawab Rabu, para hakim Mahkamah Agung menunjukkan skeptisisme terhadap legalitas pajak perdagangan tersebut, yang membuat banyak investor memperkirakan putusan akan menentang tarif tersebut.
Pada perdagangan hari ini, Jumat (7/11/2025), pasar keuangan domestik diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada rilis data cadangan devisa dan uang primer (M0) periode Oktober 2025 yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Kedua data tersebut akan memberikan gambaran terkini mengenai kekuatan eksternal dan likuiditas sistem keuangan nasional. Dari sisi eksternal, pelaku pasar juga mencermati hasil keputusan Bank of England (BoE) yang kembali menahan suku bunga acuannya di level 4%.
Terdapat juga kabar penting mengenai lonjakan PHK Amerika serta akan ada data perdagangan dari China. Keduanya bisa berdampak besar terhadap Indonesia dan dikhawatirkan bisa merusak tren positif IHSG dan rupiah.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Cadangan Devisa RI Oktober
Pada hari ini, Jumat (6/11/2025) Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan posisi cadangan devisa periode Oktober 2025.
Sebagai catatan, pada akhir September 2025, posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$148,7 miliar atau turun sebesar US$2 miliar dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$150,7 miliar.
Cadev menjadi salah satu indikator penting bagi perekonomian nasional karena berfungsi sebagai penopang stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi antara lain oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
"Posisi cadangan devisa akhir September 2025 tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujar Denny dalam rilis resmi BI, Selasa (7/10/2025).
Di sisi lain, pemerintah dan BI saat ini tengah mengevaluasi efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan aturan tersebut akan mengalami sedikit revisi, menyusul hasil evaluasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Meski begitu, Purbaya mengaku belum bisa mengungkapkan detail dari revisi yang akan dilakukan terhadap PP 8/2025. PP itu sebelumnya meningkatkan kewajiban penempatan DHE SDA dari para eksportir sebesar 100% ke dalam sistem keuangan Indonesia.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menilai bahwa meski tingkat kepatuhan eksportir terhadap kewajiban penempatan DHE telah mencapai 95%, dampaknya terhadap peningkatan cadangan devisa masih terbatas.
Pasalnya, mayoritas dolar hasil ekspor yang ditempatkan di rekening khusus (reksus) langsung dikonversi ke rupiah untuk kebutuhan pasar valas domestik, sehingga tidak menambah cadangan devisa secara langsung.
Uang Primer (M0) RI Oktober 2025
Selain cadangan devisa, Bank Indonesia (BI) juga akan mengumumkan posisi uang primer (M0) adjusted periode Oktober 2025 pada hari ini.
Sebagai catatan, pada September 2025, posisi uang primer tercatat sebesar Rp2.152,4 triliun, tumbuh 18,6% (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,3% (yoy).
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 37,0% (yoy) serta uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5% (yoy).
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 37,0% (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5% (yoy)," ujar Denny dalam rilis resmi BI, Selasa (7/10/2025).
Berdasarkan data BI, uang kartal yang beredar di masyarakat per September 2025 mencapai Rp1.204 triliun, sedangkan uang kartal yang disimpan bank umum dan BPR tercatat sebesar Rp1.062,7 triliun.
Uang primer, atau yang juga dikenal sebagai base money, merupakan uang yang diterbitkan oleh bank sentral, terdiri dari uang kartal (koin dan uang kertas) serta simpanan bank umum di BI. Indikator ini berfungsi sebagai fondasi bagi penciptaan uang dan likuiditas dalam sistem keuangan nasional.
Rebalancing MSCI
indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja melakukan review terhadap daftar saham dalam indeksnya, dan langsung mendapatkan respon pasar berupa volatilitas harga pada sejumlah emiten yang terdampak, baik yang masuk maupun yang dikeluarkan dari indeks MSCI.
Pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI periode November 2025 ini sejatinya baru akan efektif berlaku mulai 25 November 2025, setelah dilakukan penyesuaian portofolio pada penutupan perdagangan 24 November 2025. Namun, seperti biasa, pasar sudah lebih dulu merespons hasil pembaruan tersebut.
Hal ini terlihat dari pergerakan harga saham emiten yang masuk dan keluar dari indeks. Dua saham baru yang resmi masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), langsung menunjukkan arah berlawanan.
Saham BRMS terkoreksi tajam 5,88% ke level Rp960 per saham, sementara BREN justru berhasil naik 1,79% ke level Rp9.925 per saham.
Sebaliknya, dua emiten yang dikeluarkan dari daftar indeks global utama, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), kompak melemah masing-masing 1,44% dan 5,30% pada perdagangan Kamis (6/11/2025).
Dari daftar MSCI Small Cap Indexes, saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,38%, sedangkan PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menjadi yang terlemah dengan penurunan 4,52%.
Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga
Bank Sentral Inggris (BoE) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 4% pada pertemuan Kamis (6/11/2025). Keputusan ini diambil dengan suara ketat 5 banding 4, di mana sebagian anggota komite menilai kondisi ekonomi Inggris belum cukup kuat untuk mendukung penurunan suku bunga lebih cepat.
Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan bank sentral lebih memilih menunggu dan melihat perkembangan inflasi sebelum melakukan langkah pelonggaran lebih lanjut.
Ia menegaskan bahwa inflasi Inggris dinilai telah mencapai puncaknya, namun masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%, yakni di kisaran 3,8% pada September.
BoE menilai perlambatan pertumbuhan upah dan penurunan harga jasa menjadi alasan utama menahan suku bunga saat ini. Meski demikian, bank sentral memperkirakan inflasi akan turun mendekati 3% pada awal 2026, sebelum kembali menuju target 2% pada 2027.
Keputusan ini melanjutkan kebijakan penahanan suku bunga yang sebelumnya dilakukan pada rapat Oktober 2025, setelah periode pemangkasan bertahap yang dimulai pertengahan tahun lalu.
Dalam pernyataannya, BoE menegaskan bahwa biaya pinjaman kemungkinan besar akan tetap berada pada jalur penurunan bertahap, seiring ekspektasi inflasi yang kian terkendali.
Purbaya Bongkar Dugaan Pelanggaran Ekspor Produk Turunan CPO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Kementerian Perindustrian dan Kepolisian Republik Indonesia menggelar Konferensi Pers Operasi Gabungan DJBC-DJP Kemenkeu dan Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara Polri, di Buffer Area MTI NPCT 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (6/11/2025).
Dalam konferensi pers tersebut, Purbaya bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap dugaan pelanggaran ekspor produk turunan crude palm oil (CPO) oleh PT MMS di Pelabuhan Tanjung Priok.
Sebanyak 87 kontainer dengan total berat bersih 1.802 ton senilai Rp28,7 miliar dilaporkan dalam tujuh Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Barang-barang tersebut diberitahukan sebagai Fatty Matter, yaitu kategori yang tidak dikenakan bea keluar dan tidak termasuk larangan dan pembatasan ekspor (Lartas).
Namun, hasil pemeriksaan tim gabungan mengindikasikan bahwa barang tersebut sebenarnya tergolong produk turunan CPO, yang semestinya dikenakan bea keluar. Berdasarkan data ekspor 2025, terdapat 25 wajib pajak, termasuk PT MMS, yang melaporkan komoditas serupa dengan nilai PEB mencapai Rp2,08 triliun.
Operasi gabungan ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperkuat pengawasan penerimaan negara dan menekan potensi kebocoran fiskal, sejalan dengan arahan Kementerian Keuangan untuk mengoptimalkan penerimaan ekspor dan mencegah praktik manipulasi dokumen perdagangan internasional.
PHK AS Melonjak
Perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 153.074 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober 2025, jumlah tertinggi untuk bulan tersebut sejak 2003, dibandingkan 54.064 PHK pada September. Mayoritas PHK terjadi di sektor pergudangan (47.878), teknologi (33.281), makanan (10.662), dan pemerintahan (7.883).
Kecepatan PHK pada Oktober jauh lebih tinggi dibanding rata-rata bulan ini. Beberapa industri sedang menyesuaikan diri setelah lonjakan perekrutan selama pandemi, namun hal ini terjadi bersamaan dengan adopsi AI, melambatnya pengeluaran konsumen dan korporasi, serta meningkatnya biaya yang mendorong penghematan dan pembekuan perekrutan.
Mereka yang terkena PHK sekarang lebih sulit mendapatkan pekerjaan baru dengan cepat, yang bisa semakin melonggarkan pasar tenaga kerja.
Hingga Oktober, perusahaan-perusahaan telah mengumumkan 1.099.500 PHK, jumlah tertinggi sejak pandemi, meningkat 44% dibandingkan 761.358 PHK yang diumumkan sepanjang 2024. Tahun ini, sektor pemerintahan mencatat PHK terbanyak (307.638), disusul sektor teknologi (141.159).
Neraca Perdagangan China
China akan mengumumkan data neraca perdagangan Oktober 2025 pada hari ini Jumat (7/11/2025). Data ini sangat penting bagi Indonesia yang menggantungkan sekitar 27% ekspornya ke China.
Sebagai catatan, ekspor China meningkat 8,3% (yoy) menjadi US$ 328,6 miliar pada September 2025, juga merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan, melampaui perkiraan kenaikan 6% dan mempercepat pertumbuhan dari revisi 4,3% pada Agustus. Ini menandai laju pengiriman ke luar negeri tercepat sejak Maret, seiring para produsen berhasil menemukan pasar baru di luar Amerika Serikat, sementara kesepakatan tarif dengan Presiden Donald Trump masih belum tercapai.
Impor China melonjak 7,4% (yoy) pada September 2025, mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan sebesar US$ 238,1 miliar dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,5%. Data terbaru ini juga menunjukkan percepatan tajam dari pertumbuhan yang direvisi pada Agustus sebesar 1,2%, sekaligus menjadi kenaikan bulanan keempat berturut-turut dan laju ekspansi tercepat sejak April 2024.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Media Briefing bersama Menteri Sekretaris Negara di kantor Kementerian Sekretariat Negara, Kota Jakarta Pusat
Konferensi pers Menteri Pertanian terkait pupuk di kantor Kementerian Pertanian, Kota Jakarta Selatan
Taklimat Media Bank Indonesia yang akan membahas Pendalaman Pasar Uang untuk Mendukung Penguatan Operasi Moneter Pro-market di Press Room, Kantor Pusat Bank Indonesia, Kota Jakarta Pusat
Konferensi pers virtual Otoritas Jasa Keuangan terkait hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Oktober 2025
- Cadangan Devisa Oktober Bank Indonesia
- Uang Primer (M0) Oktober Bank Indonesia
- Neraca Perdagangan China Oktober
- Indeks Sentimen Konsumen AS Michigan
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : HRME
-Cum Dividen Interim : ESIP, SMSM, TSPC, SPMA
-Ex Dividen Interim : CNMA, NSSS, BUAH, MLPT
-DPS Dividen Interim : MARK
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
IHSG Cetak Rekor ATH Baru Lagi, Melesat 1,36% ke Level 8.275
IHSG melonjak 1,36% ke rekor tertinggi 8.275,08 pada 3 November 2025. Sektor utilitas dan konsumer non-primer memimpin penguatan. [518] url asal
#rekor-ath #ihsg #pasar-saham #investasi #bursa-efek-indonesia #kapitalisasi-pasar #data-ekonomi #msci #pertumbuhan-ekonomi #volatilitas-saham
(CNBC Indonesia - Market) 03/11/25 16:17
v/25633/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan hari ini, Senin (3/11/2025). Indeks menguat 1,36% atau naik 111,21 poin ke level 8.275,08 pada penutupan perdagangan sesi pertama.
Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sebelumnya dicatatkan pada 23 Oktober silam.
Sebanyak 353 saham naik, 291 turun, dan 169 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 15,87 triliun, melibatkan 23,40 miliar saham dalam 2,1 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali menembus Rp 15.000 triliun.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona penguatan. Utilitas dan konsumer non-primer memimpin dengan kenaikan masing-masing 2,99% dan 1,35%. Hanya sektor properti dan konsumer primer yang melemah.
Sementara itu, saham milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) menguat 6,63% ke level 9.250 menjelang pengumuman indeks MSCI. BREN menjadi penopang utama IHSG pagi ini dengan bobot 21,91 indeks poin.
Kemudian ada sejumlah emiten lain yang ikut jadi penopang IHSG termasuk TLKM, BRPT, DSSA dan BBRI.
Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sederet rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dari domestik, fokus utama akan tertuju pada inflasi Oktober, PMI manufaktur, neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/11/2025).
Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Selain itu, data ini juga akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada sisa 2025.
Adapun terdapat beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi volatilitas pergerakan IHSG di sepanjang November.
MSCI akan mengumumkan bahwa tinjauan reguler (Index Review) untuk November 2025 pada 5 November 2025. Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025. Sehingga, periode menjelang pengumuman dan dekat hari efektif bisa menjadi momen volatilitas bagi saham-saham yang menjadi kandidat masuk/keluar indeks.
Beberapa saham Indonesia yang disebut sebagai kandidat kuat untuk masuk indeks atau naik kelas dalam periode November 2025, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diperkirakan telah memenuhi beberapa syarat free float dan likuiditas untuk masuk indeks MSCI. Kemudian PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga disebut akan masuk.
Sementara itu, ada saham yang disebut berisiko keluar atau turun kelas dalam indeks MSCI, yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makulah Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Baca artikel CNBC Indonesia "IHSG Melesat 1,16% OTW Dekati Level 8.300" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/market/20251103120603-17-681704/ihsg-melesat-116-otw-dekati-level-8300
Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Video: IHSG Ditutup Menguat 1,36% Hingga Capaian Ekonomi Q3-2023
IHSG Ditutup Menguat 1,36% Hingga Capaian Ekonomi Q3-2023 [53] url asal
#ihsg #rupiah #prajogo-pangestu #data-ekonomi #inflasi #neraca-dagang
(CNBC Indonesia - Market) 03/11/25 16:13
v/25726/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,36% atau di level 8.275,08 pada perdagangan Senin (3/11). Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis sederet data ekonomi.
Saksikan dialog Dina Gurning dan Safina Nasution dalam Market Focus di Program Closing Bell CNBC Indonesia, Senin (03/11/2025).
IHSG Melesat 1,16% OTW Dekati Level 8.300
IHSG melonjak 1,16% ke 8.258,83 pada 3 November 2025. Sektor utilitas dan konsumer non-primer memimpin penguatan. Data ekonomi penting akan dirilis pekan ini. [472] url asal
#pasar-modal #ihsg #ekonomi-indonesia #saham #kapitalisasi-pasar #indeks-msci #data-ekonomi #investasi #volatilitas-pasar #sektor-saham
(CNBC Indonesia - Market) 03/11/25 12:06
v/25234/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan hari ini, Senin (3/11/2025). Indeks menguat 1,16% atau naik 94,96 poin ke level 8.258,83 pada penutupan perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 345 saham naik, 288 turun, dan 175 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 9,12 triliun, melibatkan 13,86 miliar saham dalam 1,28 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali menembus Rp 15.000 triliun.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona penguatan. Utilitas dan konsumer non-primer memimpin dengan kenaikan masing-masing 2,99% dan 1,35%. Hanya sektor properti dan kesehatan yang melemah.
Sementara itu, saham milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) menguat 6,63% ke level 9.250 menjelang pengumuman indeks MSCI. BREN menjadi penopang utama IHSG pagi ini dengan bobot 21,91 indeks poin.
Kemudian ada sejumlah emiten lain yang ikut jadi penopang IHSG termasuk TLKM, BRPT, BBRI dan ASII.
Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sederet rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dari domestik, fokus utama akan tertuju pada inflasi Oktober, PMI manufaktur, neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/11/2025).
Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Selain itu, data ini juga akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada sisa 2025.
Adapun terdapat beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi volatilitas pergerakan IHSG di sepanjang November.
MSCI akan mengumumkan bahwa tinjauan reguler (Index Review) untuk November 2025 pada 5 November 2025. Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025. Sehingga, periode menjelang pengumuman dan dekat hari efektif bisa menjadi momen volatilitas bagi saham-saham yang menjadi kandidat masuk/keluar indeks.
Beberapa saham Indonesia yang disebut sebagai kandidat kuat untuk masuk indeks atau naik kelas dalam periode November 2025, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diperkirakan telah memenuhi beberapa syarat free float dan likuiditas untuk masuk indeks MSCI. Kemudian PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga disebut akan masuk.
Sementara itu, ada saham yang disebut berisiko keluar atau turun kelas dalam indeks MSCI, yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makulah Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56