Digital Realty Bersama (DRB) menyiapkan infrastruktur yang mampu menampung beban kerja berat dari perangkat Graphics Processing Unit atau GPU yang menjadi otak di balik teknologi AI. Persiapan ini untuk menyambut permintaan dari konsumen seiring tren adopsi kecerdasan buatan atau AI yang semakin meningkat.
Direktur Business and Commercial Digital Realty, A. Yudha Permana, mengungkapkan fasilitas pusat data mereka dirancang untuk melayani kebutuhan public cloud dan hyperscaler. Namun, seiring dengan pergeseran teknologi dari sekadar alat inferensi menjadi pemrosesan data yang masif, DRB melakukan adaptasi cepat.
“Jadi memang Infrastruktur yang kami siapkan sebetulnya sudah bisa mengakomodasi peralatan AI atau GPU, hanya butuh sedikit modifikasi," kata Yudha saat ditemui di Gedung Pusat Data CGK 11, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).
Saat ini DRB memiliki dua lokasi utama pusat data yaitu CGK10 di Jakarta Barat dan CGK11 di Jakarta Pusat. Untuk pusat data di CGK11, Yudha memastikan perusahaan hanya butuh waktu kurang lebih sekitar empat bulan untuk melakukan modifikasi fasilitas agar menjadi sepenuhnya siap mendukung kebutuhan AI atau AI Ready.
Tantangan utama dalam mengakomodasi AI terletak pada konsumsi daya dan panas yang dihasilkan. Jika pusat data tradisional biasanya menangani beban rendah, server AI membutuhkan sumber daya yang sangat besar.
"Kalau sudah bicara AI, kita bicara minimum 20 kilowatt sampai 100 kilowatt per rak,” ujarnya.
Menurutnya panas yang dihasilkan pusat data begitu ekstrem. Dengan begitu, sistem pendinginan udara presisi atau precision aircon yang umum digunakan kini mulai ditinggalkan untuk beban kerja AI tertentu.
Sebagai solusinya, DRB menggunakan teknologi Liquid Cooling atau pendinginan berbasis cairan. Yudha mengatakan modifikasi yang dilakukan mencakup teknologi pendinginan hingga ke tingkat komponen terkecil.
“Bisa dibilang sekarang namanya tuh cooling to chip, jadi sampai dengan chip-nya itu dikasih cooling atau ada cairan yang mengalir di dalam raknya,” ujarnya.
Sistem cooling-to-chip ini memastikan suhu pada prosesor GPU tetap terjaga meski sedang melakukan komputasi berat, sehingga performa tetap stabil dan efisien.
AI Butuh Daya Komputasi Masif
Chief Financial Officer DRB Krishna Worotikan mengatakan banyak orang hanya melihat produk akhir AI tanpa menyadari beban berat yang dipikul oleh pusat data. Komputasi AI membutuhkan daya komputasi yang masif yang secara otomatis memicu lonjakan kebutuhan energi listrik.
"Tantangan lebih besar lagia dalah daya komputasi AI itu biasanya sepuluh kali lipat dari komputasi tradisional. Jika biasanya hanya butuh dua sampai lima kilowatt per rak, untuk AI kita bicara 20 kilowatt ke atas," ujar Krishna.
Kishna mengatakan perusahaan melihat AI sebagai katalis utama yang akan mengubah lanskap bisnis secara fundamental. Ia mengatakan perusahaan menangani beban kerja AI berskala besar, termasuk teknologi pendingin cair dan kolokasi berdensitas tinggi melalui integrasi ServiceFabric dan keahlian global Digital Realty.
“Kami memastikan perusahaan di Indonesia memiliki jalur ekspansi yang lebih mudah untuk terhubung dengan ekosistem global,” kata Krishna.
Digital Realty Bersama menggabungkan keandalan Tier 4 dengan konektivitas global ServiceFabric untuk mendorong ekonomi digital Indonesia dengan tidak hanya menghadirkan lebih dari sekadar pusat data. Tetapi juga infrastruktur, konektivitas, dan kapasitas yang dibutuhkan bisnis untuk bersaing di tingkat global.
Digital Realty Bersama memproyeksikan kebutuhan data center AI di Indonesia meningkat dua kali lipat tahun ini, mencapai 1.000 MW, meski masih tertinggal dari negara tetangga. [634] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Digital Realty Bersama, perusahaan patungan (joint venture) penyedia solusi infrastruktur data center, kolokasi, dan interkoneksi, memperkirakan pertumbuhan data center yang siap dukung kecerdasan buatan (AI) meningkat hingga dua kali lipat pada tahun ini.
Saat ini kapasitas data center AI yang telah terpakai diprediksi sekitar 500 megawatt (MW). Artinya, akan ada peningkatan lagi menjadi 1.000 MW.
Director Business & Commercial Digital Realty Bersama Andha Yudha Permana, mengatakan perkembangan ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Johor Bahru, Malaysia, yang lebih dulu mengalami booming AI dengan kapasitas mencapai lebih dari 1.000 MW.
Yudha menjelaskan sebagian besar data center yang mengadopsi AI di Indonesia justru berada di luar Jakarta, seperti di Cibitung, Karawang, dan kawasan lainnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lahan dan struktur bangunan di dalam kota yang tidak mendukung kebutuhan infrastruktur AI.
“Untuk menjalankan AI workload dibutuhkan ruang yang besar. Satu rack GPU beratnya bisa mencapai sekitar 2 ton, sehingga jika ditumpuk ke atas akan terlalu berat,” jelas Yudha dalam acara media gathering eksklusif di fasilitas data center CGK11, Rabu (22/4/2026).
Dia juga menambahkan, kapasitas 500 MW tersebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat pada akhir tahun ini seiring dengan meningkatnya permintaan.
Sementara itu, data center yang berada di dalam kota seperti Jakarta akan lebih difokuskan untuk melayani pelanggan enterprise, seperti sektor perbankan dan layanan keuangan yang membutuhkan latensi rendah.
“Kenapa harus di dalam kota? Karena membutuhkan latensi yang rendah,” ujarnya.
Latensi rendah menjadi krusial agar aplikasi dapat berjalan dengan cepat. Lokasi data center yang dekat dengan pengguna akan meningkatkan kualitas pengalaman pengguna, terutama untuk layanan yang bersifat real time.
Secara umum, prospek bisnis data center di Indonesia kini mulai bergeser ke workload besar, khususnya kebutuhan di atas 20 kilowatt yang hampir pasti digunakan untuk AI. Selain itu, sekitar 60% pengguna baik individu maupun perusahaan telah mulai mengadopsi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Chief Financial Officer Digital Realty Bersama Krishna Worotikan, menyebutkan tantangan utama terletak pada ketersediaan daya listrik dan kesiapan infrastruktur untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan.
Kebutuhan daya untuk AI jauh lebih besar dibandingkan komputasi tradisional. Selain konsumsi listrik yang tinggi, data center AI juga memerlukan sistem pendinginan yang lebih canggih, seperti liquid cooling.
“AI compute power itu bisa sampai sepuluh kali lipat dibandingkan komputasi tradisional,” ujar Krishna.
Di negara yang lebih maju, AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, tetapi juga telah dimanfaatkan dalam proses kreatif hingga pengambilan keputusan.
Sementara di Indonesia, adopsi AI masih berada pada tahap awal dengan tingkat kepercayaan yang belum sepenuhnya tinggi. Oleh karena itu, edukasi pasar menjadi penting agar pemanfaatan AI dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas.
Tingkat Utilisasi dan Rencana Ekspansi
Dari sisi operasional, fasilitas data center Digital Realty Bersama di CGK11 memiliki kapasitas total 5 MW dengan tingkat utilisasi saat ini sekitar 60%. Melihat tingginya permintaan, perusahaan berencana melakukan ekspansi dengan menambah kapasitas sekitar 27 MW di area yang telah disiapkan.
Terkait kesiapan AI, infrastruktur yang ada pada dasarnya sudah mampu mendukung kebutuhan tersebut termasuk penggunaan GPU, meskipun masih memerlukan beberapa penyesuaian.
Data center ini mulai dibangun pada 2023 dan rampung pada Oktober 2024, di mana pada saat itu fokus teknologi masih pada layanan public cloud dan hyperscaler. Adopsi AI khususnya layanan GPU, saat itu masih berada pada tahap awal.
Ke depan, fasilitas ini akan ditingkatkan menjadi AI ready dengan waktu penyesuaian sekitar empat bulan. Perubahan utama terletak pada sistem pendinginan, di mana kebutuhan daya AI berkisar antara 20 hingga 100 kilowatt per rack.
Karena itu, sistem pendinginan tidak lagi menggunakan AC konvensional, melainkan liquid cooling yang mampu mendinginkan hingga ke tingkat chip dengan cairan yang mengalir langsung di dalam rack.
Dalam aspek keberlanjutan, Digital Realty Bersama juga telah bekerja sama dengan PLN dan memperoleh Renewable Energy Certificate (REC). Sertifikat ini menjamin sumber listrik yang digunakan berasal dari energi ramah lingkungan. (Nur Amalina)
Digital Realty Bersama siap melakukan ekspansi kapasitas pusat data atau data center yang saat ini sudah dimilikinya. Saat ini perusahaan joint venture itu memiliki dua lokasi pusat data yang ada di Jakarta Barat yakni CGK10 dan di Jakarta Pusat yaitu CGK11.
Director of Business and Commercial Digital Reality Bersama, A. Yudha Permana, mengatakan saat ini pusat data di Jakarta Barat dengan total kapasitas 1,4 megawatt (MW) sudah terisi 95%. Sementara itu, pusat data di Jakarta Pusat dengan total kapasitas 5 MW sudah terisi 60%.
“Jadi karena sudah menyentuh angka 60%, maka kami berencana untuk ekspansi dan menambah kapasitas yang nanti akan ada dibangun sebelah CGK11,” kata Yudha saat ditemui di Gedung Pusat Data CGK11, Rabu (22/4).
Yudha memastikan Commercial Digital Reality Bersama sudah menyiapkan lahan untuk ekspansi tersebut. Dalam ekspansi ini, perusahaan menargetkan ada tambahan kapasitas pusat data sebesar 27 MW.
Ekspansi kapasitas di CGK11 itu akan dilakukan pada tahun ini. Perusahaan memprediksi pembangunan pusat data akan memakan waktu satu setengah tahun hingga dua tahun.
Dengan ekspansi tersebut Yudha mengatakan total kapasitas yang bisa disediakan Digital Reality Bersama bisa menyentuh sekitar 63 MW dari sisi beban teknologi informasi. “Ini dengan kapasitas rak 9 ribu dan total area di 20 ribu meter persegi,” ujarnya.
Platform ServiceFabric
Yudha menambahkan, Digital Realty Bersama akan meluncurkan ServiceFabric yang merupakan solusi interkoneksi generasi terbaru pada semester II 2026. Melalui peluncuran ini, fokus perusahaan adalah memastikan setiap inovasi yang dihadirkan berpijak pada nilai-nilai keamanan.
“Kami sangat antusias untuk dapat segera meluncurkan ServiceFabric di Indonesia. Platform terbuka ini mendorong ekosistem yang kolaboratif dan terhubung dengan baik yang menjadi kunci dalam mendukung kebutuhan kecerdasan buatan atau AI dan komputasi berkinerja tinggi,” kata Yudha.
Dengan ServiceFabric, Yudha mengatakan pelanggan dapat mengelola konektivitas secara mandiri. Selain itu juga menghubungkan infrastruktur lokal ke hub internasional dalam hitungan menit, serta memperoleh fleksibilitas interkoneksi untuk mempercepat transformasi digital, tanpa mengorbankan standar keamanan yang telah ada.
Digital Realty Bersama yang terafiliasi dengan Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA), bagian dari Grup Saratoga bekerja sama dengan pengelola infrastruktur kabel laut Matrix NAP Info. [361] url asal
Digital Realty Bersama yang terafiliasi dengan Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA), bagian dari Grup Saratoga bekerja sama dengan pengelola infrastruktur kabel laut PT NAP Info Lintas Nusa alias Matrix NAP Info.
Grup Saratoga melalui BDIA bekerja sama dengan raksasa global di bidang data center, Digital Realty membentuk perusahaan patungan atau joint ventures bernama Digital Realty Bersama atau PT Rumah Data Kita.
Digital Realty Bersama akan menjadi mitra strategis dalam mendukung ekspansi interkoneksi Matrix NAP Info di Jakarta. Kemitraan ini akan meningkatkan rute, kapasitas, dan stabilitas konektivitas ekosistem data center.
Matrix NAP Info adalah perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Jakarta, Indonesia dan didirikan pada 2000. Perusahaan mengoperasikan Matrix Cable System (MCS), akses jaringan independen pertama di Indonesia untuk sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Jakarta - Singapura sejak 2008.
Selain itu, menyediakan Matrix Cable Internet eXchange (MCIX) yang menyasar penyedia jaringan domestik. Selain itu, menghadirkan ekosistem terintegrasi sebagai Network & Managed Service Provider.
Business & Commercial Director Digital Realty Bersama Andha Yudha Permana menyampaikan kerja sama dengan Matrix NAP Info, akan memperkuat peran perusahaan sebagai pusat konektivitas yang menghubungkan pelanggan ke solusi digital canggih dan andal di seluruh dunia.
“Dengan PlatformDIGITAL® sebagai fondasinya, kami memastikan bahwa mitra seperti Matrix NAP Info dapat memanfaatkan standar global untuk menghadirkan rute data yang lebih efisien dan stabil bagi pelanggan mereka,” kata Andha dalam keterangan pers, Rabu (10/12).
Vice President of Sales Matrix NAP Info Ilhami Efendi Zainuddin menambahkan perusahaan ingin memperluas jaringan, meningkatkan interkoneksi, dan memperkuat kolaborasi strategis. “Supaya dapat menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang,” kata dia.
Melalui kemitraan itu, Matrix NAP Info menambah lapisan nilai baru pada portofolio layanan, terutama untuk menghadirkan konektivitas yang lebih andal, efisien, dan siap mendukung kebutuhan komputasi modern, termasuk pertumbuhan data center, cloud, dan AI.
Perusahaan memprioritaskan perluasan kapasitas lintasan data, peningkatan kualitas rute jaringan, serta penyediaan opsi interkoneksi yang fleksibel bagi industri.
Melalui kerja sama dengan Digital Realty Bersama, Matrix NAP Info memperkuat interkoneksi strategis di Jakarta. Kawasan ini disebut sebagai pusat utama pertumbuhan data, cloud, dan layanan digital di Indonesia.
Penguatan interkoneksi di Jakarta memungkinkan Matrix NAP Info menghadirkan rute yang lebih efisien, kapasitas lebih besar, serta ketersediaan layanan yang lebih tinggi untuk pelanggan enterprise dan institusi teknologi.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56