Bisnis.com, JAKARTA — Standard Chartered Indonesia menjadikan kolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) sebagai senjata strategis dalam mempercepat transformasi digital layanan treasury dan perbankan korporasi.
Strategi ini disebut menjadi kunci bagi bank untuk menghadirkan solusi keuangan yang lebih efisien, adaptif terhadap kebutuhan pasar lokal, serta tetap sejalan dengan regulasi dan praktik global.
Chief Executive Officer Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro mengatakan kemitraan strategis dengan fintech memungkinkan bank untuk mengembangkan inovasi berbasis teknologi yang mendukung efisiensi pembayaran, rekonsiliasi otomatis, hingga integrasi sistem keuangan korporasi melalui platform Straight2Bank Pay.
“Kami satu-satunya bank asing di Indonesia yang meluncurkan solusi omnichannel collections bersama fintech,” ujarnya dalam Standard Chartered Treasury Leadership Forum 2025, di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Donny menambahkan, strategi digitalisasi ini telah memberikan hasil konkret. Saat ini, 99,8% klien korporasi Standard Chartered telah memanfaatkan platform digital untuk transaksi harian, sementara 86% sudah beralih ke solusi digital trade seperti penerbitan bank garansi, letter of credit, dan loan drawdown yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Dia juga menyebut seluruh kliennya juga telah mengintegrasikan kanal digital untuk pembiayaan pemasok, sehingga memperkuat ekosistem rantai pasok dan meningkatkan efisiensi operasional.
Upaya ini menempatkan Standard Chartered sebagai salah satu pionir dalam transformasi digital perbankan korporasi di Indonesia.
Donny turut menyampaikan perusahaan tersebut terus berinvestasi pada platform berbasis application programming interface (API), AI-driven insights, serta konektivitas pembayaran instan lintas negara, guna mendukung manajemen likuiditas dan arus kas klien secara real-time di berbagai zona waktu dan mata uang.
Adapun, Standard Chartered Indonesia menyampaikan Indonesia merupakan salah satu ekonomi paling dinamis di dunia dengan potensi ekonomi digital yang diproyeksikan menembus US$360 miliar pada 2030.
Donny menilai bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu pemimpin regional dalam ekonomi dan sistem pembayaran digital di Asia. Transformasi digital yang pesat di sektor keuangan dan korporasi disebut menjadi fondasi penting bagi efisiensi dan daya saing ekonomi nasional.
Dia menyebut ekonomi digital Indonesia memiliki prospek yang sangat kuat dan akan terus tumbuh seiring dengan percepatan digitalisasi lintas sektor.
“Indonesia adalah salah satu ekonomi paling dinamis, tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia. Ekonomi digital kita diproyeksikan mencapai US$360 miliar pada 2030, meningkat signifikan dari sekitar US$90 miliar pada 2024,” tutur Donny.
Menurut Donny, percepatan digitalisasi sejak pandemi Covid-19 telah mendorong perubahan mendasar dalam operasional bisnis, mulai dari e-commerce, otomatisasi proses, hingga pemanfaatan analitik data dan API untuk meningkatkan ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan.
Namun demikian, dia menegaskan transformasi tersebut tidak terjadi dalam ruang hampa. Pemerintah dan regulator, khususnya Bank Indonesia (BI), berperan penting dalam menyiapkan infrastruktur pembayaran digital nasional.