Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten yang merancang rights issue pada akhir 2025 diperkirakan akan berlanjut pada 2026. Aksi serupa juga tengah dirancang sejumlah perusahaan dengan investor yang lebih selektif.
Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menjelaskan, aktivitas penghimpunan dana melalui skema rights issue masih akan berlanjut, namun dengan pendekatan yang lebih selektif dan berorientasi pada kualitas.
“Jika pada 2024-2025 cukup banyak rights issue berukuran jumbo, ke depan pasar akan semakin menekankan pada tujuan penggunaan dana, fundamental emiten, serta kredibilitas eksekusi bisnis pasca-rights issue,” kata Chory, Selasa (23/12/2025).
Menurut Chory, pada 2026 rights issue akan lebih menarik bagi emiten yang memiliki proyek ekspansi yang jelas dan terukur, menunjukkan rekam jejak kinerja dan tata kelola yang baik, serta mampu menjaga dilusi earnings per share (EPS) dan return on equity (ROE) dalam batas yang dapat diterima investor.
Ia menambahkan, di tengah era suku bunga yang cenderung lebih rendah, rights issue masih menjadi alternatif pendanaan yang relevan. Meski suku bunga rendah biasanya membuat pinjaman bank atau penerbitan obligasi menjadi lebih murah, rights issue tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Salah satunya karena rights issue dapat memperbaiki struktur permodalan. Emiten dengan rasio utang yang relatif tinggi cenderung memilih rights issue untuk memperkuat ekuitas tanpa menambah beban bunga, meskipun tingkat suku bunga sedang rendah. Selain itu, dana hasil rights issue bersifat lebih fleksibel karena tidak memiliki kewajiban jatuh tempo maupun biaya bunga tetap, sehingga menjadi modal permanen.
“Ini sangat krusial bagi perusahaan yang fokus pada ekspansi jangka panjang atau restrukturisasi,” ucap Chory.
Ia juga menyoroti skema injeksi aset atau inbreng yang dapat dilakukan dalam rights issue. Menurutnya, rights issue tidak selalu berupa dana tunai, tetapi dapat dilakukan melalui penyertaan aset, seperti yang dilakukan oleh GMFI. Skema tersebut dinilai masih akan menarik pada 2026 karena dapat memperkuat neraca perusahaan secara instan.
Dari sisi investor, kondisi ini mendorong pergeseran alokasi dana ke aset berisiko seperti saham. Namun, minat investor tidak bersifat otomatis karena valuasi, prospek pertumbuhan, serta komunikasi manajemen tetap menjadi faktor penentu.
“Ke depan, kami menilai pasar akan memberikan apresiasi lebih besar kepada rights issue yang bersifat value-accretive, bukan sekadar penambahan modal. Dengan kata lain, kualitas story dan eksekusi akan jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar besaran dana yang dihimpun,” tutur Chory.
Adapun berdasarkan catatan Bisnis, sejumlah emiten yang melakukan rights issue pada 2025 merancang aksi dengan nilai emisi jumbo. Salah satunya PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) yang menargetkan penghimpunan dana sebesar Rp5,9 triliun.
Sementara itu, rencana rights issue terbaru diumumkan oleh PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 48 miliar saham baru. Juga terdapat INET yang mengincar Rp3,2 triliun.