Bisnis.com, GARUT - Pemerintah Kabupaten Garut mulai mengarahkan penguatan sektor pangan berbasis kedelai melalui skema hilirisasi, dengan melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari rantai pasok program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung program gizi pemerintah pusat, tetapi juga untuk membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, hilirisasi kedelai menjadi kunci agar UMKM tidak lagi terjebak pada persoalan klasik, seperti keterbatasan bahan baku, lemahnya standar produksi, dan minimnya jaminan keamanan pangan.
“UMKM perlu didorong masuk ke sistem yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga produk akhir yang memenuhi standar pangan. Dengan begitu, mereka tidak hanya berproduksi, tetapi juga punya kepastian pasar,” kata Syakur, Kamis (22/1/2026).
Pemkab Garut, lanjut dia, tengah menyiapkan langkah administratif dengan mengajukan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar UMKM lokal memperoleh akses prioritas sebagai pemasok dalam program MBG. Skema ini akan diselaraskan dengan peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat daerah, yang menjadi pelaksana distribusi pangan bergizi.
Dari sisi hulu, Garut juga diarahkan menjadi salah satu wilayah pengembangan kedelai nasional. Pemerintah daerah menilai kondisi agroklimat di Garut relatif sesuai untuk budidaya kedelai, di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas tersebut. Saat ini, kebutuhan kedelai nasional sebagian besar masih dipenuhi dari luar negeri dengan volume jutaan ton per tahun.
“Kedelai adalah bahan pangan strategis. Hampir semua lapisan masyarakat mengonsumsinya dalam berbagai bentuk. Karena itu, hilirisasi tidak bisa dilepaskan dari upaya memperkuat produksi lokal, teknologi, dan permodalan,” ujarnya
Upaya tersebut mendapatkan dukungan dari pelaku industri pengolahan. Pimpinan PT Mandala 525 (MDL 525), Haris Kalicman, menyatakan kesiapan perusahaannya untuk berperan sebagai mitra industri dalam ekosistem hilirisasi kedelai di Garut.
Perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan susu bubuk kedelai itu menilai kualitas kedelai lokal tidak kalah dibandingkan produk impor, sepanjang didukung proses pascapanen dan teknologi yang memadai.
Menurut Haris, industri berperan penting dalam menjembatani produksi petani dan kebutuhan pasar berskala besar, termasuk program gizi pemerintah.
“Kami memastikan aspek kualitas dan keamanan pangan melalui teknologi, kapasitas pabrik, serta kepatuhan terhadap regulasi, termasuk perizinan dan sertifikasi,” ujarnya.