Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mengungkap alasan di balik pemangkasan jumlah anak usaha dari saat ini 67 entitas menjadi tersisa 19 entitas.
Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini menjelaskan bahwa pengurangan jumlah anak usaha tersebut merupakan bagian dari mandat Danantara Indonesia selaku pemegang saham institusi milik negara. Untuk mencapainya, perseroan menerapkan skema divestasi maupun likuidasi.
“Kami harus menyederhanakan portofolio bisnis yang sekarang tumpang tindih, dan merampingkan jumlah anak perusahaan menjadi di bawah 20 anak perusahaan,” ujar Dian di Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Hingga Juni 2026, perseroan telah melepas dua anak usahanya di bidang layanan kesehatan, yakni AdMedika dan Telkomedika, melalui skema divestasi kepada perusahaan asal Singapura, Fullerton Health.
Selain itu, Telkom juga telah menutup enam anak usaha yang dinilai berada di luar kompetensi utama serta minim kontribusi terhadap profitabilitas grup.
Keenam perusahaan yang dilikuidasi tersebut adalah PT Citra Sari Makmur, PT Media Nusantara Data Global, PT Omni Inovasi Indonesia, Sigma AIT Bhd, PT Alam Pesona Wisata, dan PT Pojok Celebes Mandiri.
“Untuk streamlining ini kami sudah menutup beberapa perusahaan yang juga di luar dari core strength kami dan juga tidak memberikan value, atau bahkan menggerus value atau hasil dari Telkom Group,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyatakan langkah efisiensi portofolio yang diambil Telkom Group merupakan instrumen penting untuk merespons dinamika industri digital global yang bergerak sangat dinamis.
“Transformasi ini penting untuk memperkuat fokus bisnis dan memastikan Telkom Group bergerak lebih agile dalam menjawab kebutuhan ekosistem digital nasional,” ujar Dony dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (27/5/2026).
Selain memangkas jumlah entitas anak, agenda transformasi di bawah pengawasan BP BUMN dan Danantara juga berfokus pada akselerasi sejumlah program prioritas di sektor infrastruktur telekomunikasi nasional.
Beberapa proyek strategis yang masuk dalam daftar konsolidasi tersebut meliputi penggabungan jaringan serat optik lintas BUMN (FiberCo BUMN), ekspansi pusat data (Data Center), optimalisasi menara telekomunikasi (TowerCo), serta penguatan perusahaan infrastruktur (InfraCo).
Paralel dengan aksi tersebut, Telkom juga melakukan penataan ulang lisensi operasional di internal grup agar operasional bisnis menjadi lebih adaptif.
______
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.