Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) buka suara ihwal proyeksi ekspor nasional pada 2026, di tengah tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan tarif Trump tidak menjadi penghalang pertumbuhan ekspor nasional pada 2026 mendatang.
“Oh nggak, nggak [tarif Trump tidak mengganggu ekspor pada 2026]. Jadi kami optimis terus. Kan itu sudah ada, kami kan bikin 5 tahun itu, yang [pertumbuhan ekspor] tahun ini 7,1%, tahun sekian sampai tahun 2029 itu 9%," kata Budi saat ditemui di Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025).
Budi menyebut proyeksi ekspor hingga lima tahun ke depan itu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%.
"Jadi itu kami sudah ada hitung-hitungannya, dan kami optimis. Optimis tercapai," imbuhnya.
Namun demikian, Budi menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menyelesaikan target ekspor di tahun ini.
Di sisi lain, Budi menuturkan pemerintah masih menunggu perkembangan resmi dari AS terkait negosiasi tarif Trump. “Belum, masih nunggu ya. Mudah-mudahan ya, masih nunggu," tuturnya.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kemendag menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 7,10% pada 2025 dengan nilai yang mencapai US$294,45 miliar.
Pada tahun berikutnya, Kemendag menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 7,09% menjadi US$315,31 miliar pada 2026. Pemerintah kembali memasang target tinggi terhadap pertumbuhan ekspor, yakni sebesar 7,89% dengan nilai US$340,2 miliar pada 2027.
Selanjutnya, ekspor Indonesia kembali ditargetkan tumbuh 8,77% dengan nilai ekspor US$370,04 miliar pada 2028, dan naik hingga 9,64% dengan nilai US$405,69 miliar pada 2029 mendatang.
Untuk diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan ekspor tahun ini sebesar US$294,45 miliar atau tumbuh 7,1% year-on-year (yoy) dapat tercapai. Hal ini seiring kinerja perdagangan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Dengan nilai ekspor mencapai US$234 miliar per Oktober, maka realisasinya baru 79,5% dari target tahun ini.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2025 mencapai US$24,24 miliar, turun 2,31% dibanding periode sama tahun lalu. Penurunan terutama dipicu oleh melemahnya ekspor bahan bakar mineral (BBM) dan tembaga.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan BBM menjadi komoditas ekspor yang mengalami penurunan terbesar.
“Secara tahunan, komoditas ekspor yang mengalami penurunan terbesar itu yang pertama adalah bahan bakar mineral atau HS27, nilainya turun 19,04% dan volumenya turun 7,26%,” kata Pudji dalam Rilis BPS, Senin (1/12/2025).