EKONOMI Jepang tengah mengalami kelesuan. Pertumbuhan ekonomi Jepang diberitakan pada kuartal ketiga tahun 2025 minus 1,85 persen (year on year atau tahun ke tahun) dan minus 0,4 persen (quarter to quarter atau dari kuartal ke kuartal).
Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disebabkan turunnya komponen permintaan domestik 1,8 persen, investasi perumahan yang anjlok 32 persen (year on year atau tahun ke tahun) dan 9,4 persen (quarter to quarter atau kuartal ke kuartal), serta ekspor yang turun 4,5 persen sebagai akibat tarif Donald Trump (Cnbcindonesia.com, 24/11/2025).
Di sisi lain, tingkat inflasi Jepang mengalami kenaikan 3 persen di Oktober 2025 (year on year atau dari tahun ke tahun).
Sumber utama dari inflasi Jepang adalah pangan. Inflasi pangan dipicu kenaikan harga beberapa bahan makanan: harga makanan non-perishables (tidak mudah busuk) naik 7,2 persen, harga kopi naik 53,4 persen, harga cokelat naik 36,9 persen.
Sementara harga beras komoditas paling sensitif turut meningkat 40,2 persen (year on year atau tahun ke tahun).
Guna mendongkrak ekonomi Jepang, PM Jepang Sanae Takaichi menggulirkan paket stimulus senilai 21,3 triliun yen setara 135 miliar dolar AS, terbesar sejak pandemi Covid 19.
Stimulus tersebut terdiri dari: subsidi listrik dan gas, penghapusan sementara pajak bensin, bantuan sekitar 7.000 yen bagi rumah tangga, serta pembentukan dana jangka panjang untuk memperkuat industri perkapalan.
Pemerintah juga menegaskan komitmen meningkatkan belanja pertahanan menuju 2 persen PDB pada 2027.
Namun, stimulus ini turut menimbulkan kekhawatiran karena pendanaannya sebagian akan berasal dari penerbitan obligasi baru.
Penerbitan obligasi tersebut dilakukan di saat utang Jepang sudah melampaui 200 persen PDB, angka tertinggi di antara negara-negara maju.
Kecemasan investor langsung tercermin di pasar keuangan. Obligasi pemerintah Jepang (JGB atau Japan Government Bond) mengalami aksi jual besar-besaran.
Imbal Hasil atau yield JGB dengan jatuh tempo 10 tahun untuk menarik pembeli melonjak hingga 1,817 persen, level tertinggi sejak 2008. Sementara yield tenor panjang seperti 20 tahun, 30 tahun, hingga 40 tahun juga mencetak rekor tertinggi.
Potensi dampak bagi Indonesia
Ada beberapa potensi dampak melesunya ekonomi Jepang bagi Indonesia. Pertama, ekspor Indonesia ke Jepang berpotensi menurun. Padahal, selama ini Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia.
Dalam 10 tahun terakhir, ekspor Indonesia ke Jepang bernilai antara 16 - 25 miliar dolar AS. Tahun 2022, ekspor Indonesia ke Jepang mencapai 24,85 miliar dolar AS, kemudian menurun menjadi 20,78 miliar dolar AS pada 2023 dan 20,72 miliar dolar AS pada 2024.
Salah satu sektor yang perlu diwaspadai adalah perikanan, terutama ekspor ikan segar (HS 0302). Berdasarkan data Oktober 2024-Oktober 2025, Jepang masih menjadi pasar penting dengan nilai ekspor sekitar 7,6 juta dollar AS, menempatkannya di posisi ke-6 tujuan utama ekspor ikan segar Indonesia setelah China, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.
Dampak potensal kedua pada sumber pembiayaan dari obligasi yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan denominasi Yen yang dikenal dengan Samurai Bonds.
Sejak pertama kali diterbitkan pada 2015, Indonesia konsisten masuk pasar Samurai Bonds setiap tahun, dengan total penerbitan mencapai 1,266 triliun yen hingga Mei 2025.
Tahun 2024 bahkan menjadi salah satu yang terbesar, mencapai 200 miliar yen, disusul penerbitan terbaru di Mei 2025 senilai 103,2 miliar yen.
Dinamika ekonomi domestik di Jepang membuat pemerintah Indonesia terus menaikkan bunga atau kupon Samurai Bonds.
Imbal Hasil atau Yield dari Samurai Bonds juga terus mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat Samurai Bonds yang dulunya merupakan sumber pembiayaan yang murah bagi Indonesia nantinya tidak lagi seperti itu.
Di lain pihak, ada kemungkinan kenaikan kupon atau bunga JGB di dalam negeri Jepang akan menggeser preferensi pemegang uang Jepang untuk beralih dari Samurai Bonds yang diterbitkan Indonesia ke JGB.
Dampak ketiga terhadap utang luar negeri Indonesia yang berasal dari Jepang. Per Juni 2025, utang luar negeri Indonesia dari Jepang sebesar 21,26 miliar Yen.
Utang luar negeri Indonesia dari Jepang yang cukup besar kemungkinan besar di masa depan akan dikurangi jumlahnya atau dinaikkan suku bunganya. Dampaknya akan menimbulkan kesulitan bagi Indonesia dalam mencari sumber pembiayaan dari Jepang.
Ada beberapa implikasi kebijakan dari ketiga dampak potensial melemahnya ekonomi Jepang bagi Indonesia seperti telah dipaparkan di depan.
Pertama, diversifikasi negara tujuan ekspor Indonesia. Banyak negara yang sebenarnya bisa digarap sebagai tujuan ekspor Indonesia antara lain negara-negara Arab.
Kedua, dibutuhkan juga diversifikasi penerbitan obligasi dalam denominasi mata uang asing selain Yen dan bagaimana memasarkannya ke berbagai negara.
Ketiga, perlu kemandirian sumber pembiayaan sehingga ketergantungan terhadap utang luar negeri- antara lain dari Jepang- bisa dikurangi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang