Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menilai dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat terhadap kinerja perseroan masih dapat dikelola. Hal ini seiring dengan dominasi eksposur rupiah dalam struktur neraca bank.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka terkoreksi 30 poin atau 0,18% menjadi Rp16.985 per dolar AS. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS atau indeks dolar AS (DXY) juga tercatat lesu dengan terkoreksi 0,34% ke level 99,05.
Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa mayoritas balance sheet perseroan berada dalam denominasi rupiah, sehingga tekanan langsung dari pelemahan mata uang terhadap pendapatan maupun laba relatif terbatas.
Dari sisi penyaluran kredit, CIMB Niaga juga menyatakan terus melakukan komunikasi aktif dengan nasabah yang memiliki pinjaman dalam valuta asing, khususnya dolar AS. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kemampuan bayar tetap terjaga di tengah volatilitas nilai tukar.
“Kami terus berkomunikasi aktif dengan para nasabah yang memiliki pinjaman dalam USD dan sejauh ini ter-manage dengan baik,” ujar Lani kepada Bisnis.com, Senin, (19/1/2026).
Sementara itu, terkait potensi tekanan pada beban bunga dari sisi simpanan valas maupun instrumen pendanaan berdenominasi asing, Lani menegaskan bahwa likuiditas perseroan juga didominasi oleh rupiah.
“Mayoritas likuiditas kami di rupiah,” jelasnya.
Adapun, tren pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan berlanjut hingga pekan depan hingga menembus level Rp17.000 seiring dengan sedikit meredanya tensi geopolitik global.
Direktur Utama PT Forexindo Laba Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pelemahan mata uang dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik sentimen eksternal maupun internal. Sentimen eksternal di antaranya yakni dinamika tensi geopolitik, konflik perpolitikan di AS, dan data ekonomi AS.
Selain itu melemahnya nilai tukar rupiah juga terjadi seiring dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang mencatatkan all time high.
"Nilai tukar rupiah diperkirakan minggu depan bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga tembus Rp17.000 per dolar AS. Semakin, tinggi IHSG semakin lemah rupiah," ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Dia memaparkan sejauh ini tensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar karena otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera.
Sentimen lainnya masih datang dari Trump juga mengatakan dia tidak berencana untuk memecat Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung, meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.
Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk Oktober menunjukkan, harga produsen jauh dari target 2% Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026.