Bisnis.com, JAKARTA — Upaya Co-founder Advance Intelligence Group Jefferson Chen dalam membangun perusahaan berbasis AI yang berfokus pada solusi identitas digital, pencegahan fraud, serta credit decisioning bagi institusi keuangan dan fintech, berbuah manis.
Jefferson resmi menjadi Endeavor Entrepreneur ke-111 dari Indonesia melalui International Selection Panel (ISP) yang digelar di Singapura pada Februari 2026. Pengakuan ini menempatkannya dalam jaringan global High-Impact Entrepreneurs yang dinilai mampu mendorong transformasi ekonomi di pasar berkembang.
“Kami sangat bangga menyambut Advance Intelligence Group sebagai bagian dari komunitas Endeavor,” ujar Managing Director Endeavor Indonesia, Monika Rudijono, dikutip Bisnis, Selasa (3/3/2026).
Endeavor dikenal memiliki proses seleksi ketat dengan melibatkan investor dan founder global. Dalam tahap akhir, Jefferson terpilih bersama 15 perusahaan dari berbagai negara dan memperoleh enam suara “Yes” dari panelis internasional, termasuk Matt Hariss (Partner, Bain Capital Ventures), Rajat Bhargava (CEO & Co-founder, JumpCloud), hingga Tiger Fang (CEO & Co-founder, Kargo).
Sebagai bagian dari jaringan Endeavor, Jefferson akan memperoleh akses mentorship dari founder, operator, dan investor global. Ia juga diharapkan berperan sebagai peer mentor bagi entrepreneur lain, khususnya dalam membangun perusahaan teknologi berbasis AI dari Asia Tenggara agar mampu bersaing di tingkat internasional.
“Di tengah berkembangnya teknologi AI secara global, kami percaya Jefferson tidak hanya akan mendapatkan akses mentorship dari jaringan Endeavor di seluruh dunia, tetapi juga dapat menjadi peer bagi para founder lainnya dalam mendukung perjalanan startup mereka hingga mampu melakukan scale-up bisnis dengan lebih cepat,” tutur Monika.
Tidak dipungkiri, Asia Tenggara tengah mengalami pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, didorong oleh lonjakan transaksi keuangan online dan penetrasi layanan pembiayaan digital. Namun, di balik ekspansi tersebut, risiko fraud global dalam pembayaran digital diproyeksikan melampaui US$40 miliar per tahun.
Menjawab tantangan itu, Jefferson Chen, mengembangkan sistem analitik dan pemodelan risiko berbasis AI yang diklaim mampu meningkatkan tingkat deteksi fraud hingga 90–95%. Di saat bersamaan, teknologi itu menurunkan tingkat false positive sebesar 30–60%, sehingga lembaga keuangan dapat menyetujui lebih banyak pengguna legitimate tanpa mengorbankan aspek keamanan.
Dari sisi operasional, otomatisasi onboarding dan monitoring transaksi juga mampu mengurangi kebutuhan manual review hingga 40%–70% serta menekan biaya operasional tim fraud management sebesar 30%–50%. Dengan pendekatan tersebut, Jefferson menilai institusi keuangan dapat memperluas akses kredit secara lebih presisi dan inklusif, sembari tetap menjaga kualitas portofolio risiko.
Didirikan pada 2016, Advance Intelligence Group kini beroperasi di lebih dari 80 pasar global melalui dua lini bisnis utama, yakni ADVANCE.AI dan Atome Financial. Secara kolektif, grup ini melayani lebih dari 58 juta pengguna dan mendukung lebih dari 1.000 klien korporasi di sektor perbankan, fintech, hingga e-commerce.
Atome Financial memanfaatkan infrastruktur data dan manajemen risiko yang sama untuk menyediakan layanan kredit konsumen seperti buy now pay later (BNPL), kartu kredit digital, pinjaman pribadi, hingga produk tabungan. Integrasi antara teknologi identitas digital dan credit scoring berbasis AI menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas penyaluran kredit.
“Melalui Advance Intelligence Group, kami membangun infrastruktur berbasis AI yang memungkinkan institusi keuangan memperluas akses kredit secara aman dan inklusif,” sebut Jefferson.
Dia menegaskan, kepercayaan adalah fondasi dari ekonomi digital. Tanpa sistem yang mampu mengelola risiko secara akurat dan real-time, pertumbuhan yang ada tidak akan berkelanjutan.
“Bergabung dengan jaringan Endeavor menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi global dan mempercepat inovasi dari Asia Tenggara ke pasar internasional,” tegasnya.