Bisnis.com, JAKARTA — Migrain masih kerap disalahartikan sebagai sakit kepala biasa, padahal kondisi ini dapat berdampak serius pada kualitas hidup karena nyeri yang intens dan berlangsung lama hingga menghambat aktivitas harian.
Secara medis, migrain merupakan jenis sakit kepala yang menimbulkan nyeri berdenyut atau berdenyut kuat, biasanya di satu sisi kepala. Kondisi ini sering disertai mual, muntah, serta sensitivitas berlebihan terhadap cahaya dan suara.
Serangan migrain dapat berlangsung selama beberapa jam hingga berhari-hari. Pada sebagian orang, rasa sakitnya cukup berat hingga mengganggu pekerjaan, aktivitas sosial, dan waktu istirahat.
Pada beberapa kasus, migrain diawali atau disertai dengan gejala yang disebut aura. Aura dapat berupa gangguan penglihatan, seperti kilatan cahaya atau titik buta, hingga sensasi kesemutan dan kesulitan berbicara.
Mengutip dari BBC, peneliti genetika dari Queensland University of Technology, Australia, Dale Nyholt, menjelaskan bahwa faktor keturunan memegang peran besar dalam migrain. Dia menyebut migrain bukan hanya dipicu lingkungan, tetapi juga dipengaruhi susunan genetik seseorang.
“Studi pada anak kembar menunjukkan komponen genetik yang kuat, dan jika orang tua atau kakek-nenek memiliki migrain, risiko menurun ke generasi berikutnya cukup tinggi,” ujar Dale Nyholt, Peneliti genetika dari Queensland University of Technology, Australia dikutip dalam BBC Jumat (30/1/2026).
Menurut Nyholt, faktor genetik diperkirakan berperan pada sekitar 30–60 persen kasus migrain. Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan, riwayat hidup, dan perilaku sehari-hari.
Dalam penelitiannya, Nyholt menganalisis data genetik dari lebih dari 100 ribu penderita migrain dan membandingkannya dengan ratusan ribu orang tanpa migrain. Hasilnya, dia mengidentifikasi lebih dari 100 penanda genetik yang berkaitan dengan risiko migrain.
“Kami menemukan bahwa migrain melibatkan banyak variasi gen kecil, bukan satu gen tunggal,” tambahnya.
Dia menambahkan, sejumlah penanda genetik tersebut juga berkaitan dengan kondisi lain seperti depresi dan diabetes. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa migrain berkaitan erat dengan cara kerja otak dan sistem saraf.
Meski begitu, Nyholt mengakui penelitian ini masih panjang. Hingga kini, belum ada gen spesifik yang bisa langsung dijadikan dasar pengembangan obat baru.
Selain faktor genetik, migrain juga memiliki tahapan yang berbeda pada setiap serangan. Tidak semua penderita mengalami seluruh tahapan tersebut.
Secara umum, migrain dapat berkembang melalui empat fase, yakni prodrom, aura, serangan, dan postdrom. Fase prodrom biasanya muncul satu hingga dua hari sebelum nyeri kepala terjadi.
Pada fase prodrom, tubuh sering memberikan sinyal awal yang kerap tidak disadari. Gejala ini menjadi tanda bahwa serangan migrain akan segera datang.
Mengutip dari Mayo Clinic, berikut gejala prodrom migrain:
- Perubahan suasana hati, dari mudah sedih hingga sangat bersemangat.
- Keinginan makan tertentu atau ngidam.
- Leher terasa kaku.
- Frekuensi buang air kecil meningkat.
- Penumpukan cairan dalam tubuh.
- Sering menguap tanpa sebab jelas.
Pengobatan migrain dapat dilakukan dengan obat-obatan untuk mencegah atau mengurangi nyeri. Perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres juga dinilai penting untuk membantu mengendalikan frekuensi serangan.